Pengertian dan Karakteristik Aktiva Tetap
Menurut Abdul Halim dan Bambang Supomo (2001: 154) aktiva tetap adalah
“Aktiva tetap adalah kekayaan yang dimiliki dan digunakan untuk beroperasi dan memiliki masa manfaat dimasa yang akan datang lebih dari satu periode anggaran serta tidak dimaksudkan untuk dijual.”
Adapun definisi lain yang dikemukakan Horngren & Harison (1997: 502) adalah :
“Aktiva yang dapat digunakan dalam jangka yang lama dan bentuk fisiknya memberikan kegunaan dari aktiva tersebut.”
Dari definisi aktiva tetap di atas dinyatakan bahwa aktiva tetap tersebut mempunyai masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi, digunakan dalam bentuk operasi perusahaan, dan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam kegiatan normal perusahaan. Aktiva tetap mempunyai usia yang terbatas kecuali tanah, dan aktiva tetap bersifat non moneter dalam artian masa manfaatnya diterima dari penggunaan atau penjualan jasa-jasa dan bukan dari pengubahannya menjadi sejumlah uang tertentu.
“Aktiva tetap adalah kekayaan yang dimiliki dan digunakan untuk beroperasi dan memiliki masa manfaat dimasa yang akan datang lebih dari satu periode anggaran serta tidak dimaksudkan untuk dijual.”
Adapun definisi lain yang dikemukakan Horngren & Harison (1997: 502) adalah :
“Aktiva yang dapat digunakan dalam jangka yang lama dan bentuk fisiknya memberikan kegunaan dari aktiva tersebut.”
Dari definisi aktiva tetap di atas dinyatakan bahwa aktiva tetap tersebut mempunyai masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi, digunakan dalam bentuk operasi perusahaan, dan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam kegiatan normal perusahaan. Aktiva tetap mempunyai usia yang terbatas kecuali tanah, dan aktiva tetap bersifat non moneter dalam artian masa manfaatnya diterima dari penggunaan atau penjualan jasa-jasa dan bukan dari pengubahannya menjadi sejumlah uang tertentu.
Aset tetap mempunyai karakteristik :
1. Aset itu diperoleh untuk digunakan dalam operasi (tidak dijual belikan)
2. Aset itu berumur lebih dari satu periode akuntansi dan disusutkan.
3. Aset itu mempunyai substansi fisik dan memiliki manfaat ekonomi di masa depan.
Penilaian Aset Tetap
Aset tetap dinilai berdasarkan harga perolehan (at cost). Harga perolehan (at cost) adalah semua pengeluaran yang dilakukan untuk memperoleh aset tetap tersebut sampai dengan aset tersebut siap untuk digunakan. Harga perolehan ini juga disebut dengan biaya historis (historical cost).
Pertimbangan dalam menetapkan nilai aset yang diperoleh berdasarkan biaya historis, adalah: (1) pada tanggal akuisisi biaya mencerminkan nilai pasar yang wajar; (2) biaya historis melibatkan transaksi yang sebenarnya; (3) keuntungan dan kerugian tidak boleh
diantisipasi tetapi harus diakui ketika harta itu dijual.
Harga pokok (harga perolehan) merupakan dasar yang digunakan pada tanggal akuisisi karena kas atau harga ekuivalen kas adalah yang paling baik untuk mengukur nilai harta tersebut pada saat itu. Harga pembelian, biaya angkutan, dan biaya instalasi dipandang sebagai bagian dari harga pokok aset tetap.
Akun-akun yang Tergolong Aset Tetap
Banyak jenis akun dalam perusahaan yang tergolong dalam aset tetap. Namun, klasifikasi aset tetap yang dibuat oleh perusahaan biasanya terdiri dari:
1. Tanah
2. Gedung
3. Kendaraan
4. Peralatan kantor
5. Mesin-mesin pabrik
Semua jenis aset tetap di atas adalah aset yang digunakan untuk perusahaan dalam melaksanakan kegiatannya sehari-hari. Kepemilikan aset tetap tersebut tidak untuk diperjual belikan, namun untuk memperlancar kegiatan perusahaan.
Sebagai contoh tanah. Tanah yang dimaksud disini adalah tanah dimana perusahaan itu berada, begitu pula kendaraan dan gedung. Kendaraan dan gedung yang dimaksud adalah kendaraan dan gedung yang digunakan untuk operasional perusahaan. Tanah kapling untuk perusahaan real estate bukan aset tetap, demikian juga kendaraan yang ada di show room mobil juga bukan aset tetap bagi perusahaan. Aset-aset tersebut diperlakukan sebagai persediaan, karena dimaksudkan untuk diperjualbelikan.
Dokumen Akuntansi Aktiva Tetap
Menurut Mulyadi (2001: 3) formulir merupakan dokumen yang digunakan untuk merekam terjadinya transaksi. formulir sering disebut dengan istilah dokumen, karena dengan formulir ini peristiwa yang terjadi dalam organisasi direkam (didokumentasikan) di atas secarik kertas. Formulir sering pula disebut dengan istilah media, karena formulir merupakan media untuk mencatat peristiwa yang terjadi dalam organisasi ke dalam catatan.
Dokumen yang digunakan untuk merekam data transaksi yang mengubah harga pokok aktiva tetap dan akumulasi depresiasi aktiva tetap yang bersangkutan. (Mulyadi, 2001: 600)
1. Surat Permintaan Otorisasi Investasi (Expenditure Authorization Request atau Authorization For Expenditure)
Karena investasi dalam aktiva tetap meliputi jumlah rupiah yang relatif besar dan mencakup keterikatan dana dalam jangka waktu yang relatif panjang, maka pengendalian aktiva tetap dilakukan melalui perencanaan yang matang. Perencanaan pengeluaran investasi dalam aktiva tetap dimulai dengan diajukannya usulan investasi kepada manajemen puncak. Dokumen yang digunakan untuk meminta persetujuan pelaksanaan investasi dalam aktiva tetap disebut surat permintaan otorisasi investasi.
2. Surat Permintaan Reparasi (Authorization For Repair)
Dokumen ini berfungsi sebagai perintah dilakukannya reparasi yang merupakan pengeluaran modal.
3. Surat Permintaan Transfer Aktiva Tetap
Dokumen ini berfungsi sebagai dokumen permintaan dan pemberian otorisasi transfer aktiva tetap.
4. Surat Permintaan Penghentian Pemakaian Aktiva Tetap
Dokumen ini digunakan sebagai permintaan dan pemberian otorisasi penghentian pemakaian aktiva tetap.
5. Surat Perintah Kerja (Work Order)
Dokumen ini memiliki dua fungsi yaitu sebagai perintah dilaksanakannya pekerjaan tertentu mengenai aktiva tetap dan sebagai catatan yang dipakai untuk mengumpulkan biaya pembuatan aktiva tetap. Dokumen ini digunakan sebagai perintah kerja pemasangan aktiva tetap yang dibeli, pembongkaran aktiva tetap yang dihentikan pemakaianya.
6. Surat Order Pembelian
Dokumen ini diterbitkan oleh fungsi pembelian yang merupakan surat untuk memesan aktiva tetap kepada pemasok. Untuk pembelian aktiva tetap yang melibatkan jumlah investasi yang besar umumnya penilaian pemasok dilakukan melalui proses tender terbuka.
7. Laporan Penerimaan Barang
Dokumen ini diterbitkan oleh fungsi penerimaan setelah fungsi ini melakukan pemeriksaan kuantitas, mutu dan spesifikasi aktiva tetap yang diterima dari pemasok.
Penentuan Harga Pokok Berbagai Jenis Aset Tetap dengan Cara Membeli
Perhitungan harga pokok berbagai jenis aset tetap dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Harga pokok tanah
Perhitungan harga pokok tanah dilakukan untuk semua biaya-biaya yang dikeluarkan yang mencakup (a)harga pembelian, (b)biaya pengacara dan biaya pencatatan, (c) biaya yang dikeluarkan sampai tanah siap digunakan (misal pengurukan). Apabila tanah akan
digunakan untuk pembangunan gedung maka semua biaya yang dikeluarkan pembongkaran gedung lama, pembersihan, perataan dan pengurukan, sampai penggalian untuk gedung baru dianggap sebagai harga pokok tanah.
2. Harga pokok gedung
Perhitungan harga pokok gedung dilakukan dari semua biaya yang dikeluarkan mulai dari (1) bahan bangunan, tenaga kerja, overhead bangunan, selama pembangunan (2)biaya tenaga kerja profesional dan izin bangunan, sampai akuisisi bangunan, diperhitungkan
sebagai harga pokok gedung.
3. Harga pokok kendaraan
Perhitungan harga pokok kendaraan dilakukan dari semua pengeluaran yang terjadi untuk mengakuisisi kendaraan tersebut. Perhitungan ini meliputi harga beli, biaya perakitan (assembling), biaya pengurusan surat kendaraan, biaya makelar jika ada.
4. Harga pokok peralatan kantor
Perhitungan harga pokok peralatan (perabotan, mebel, peralatan) dilakukan mulai dari harga pembelian, biaya pengangkutan,biaya perakitan, biaya makelar jika ada, dan biaya lain yang mungkin ada dalam proses pengakuisisian peralatan kantor tersebut.
5. Harga pokok mesin-mesin pabrik
Perhitungan harga pokok mesin-mesin pabrik dilakukan mulai dari harga pembelian, biaya angkut, biaya perakitan, biaya uji coba pemakaian peralatan, biaya ahli yang melatih cara penggunaan mesin dan biaya makelar jika ada, semua dimasukkan sebagai biaya akuisisi
mesin-mesin pabrik.
Berikut ini berbagai cara untuk memperoleh aset tetap dengan cara membeli, yaitu :
a. Kontrak pembayaran yang ditangguhkan
Pembelian aset tetap ada juga yang berdasarkan kredit jangka panjang seperti (wesel, hipotik). Untuk menggambarkan secara tepat aset yang dibeli berdasarkan kontrak jangka panjang harus diperhitungkan pada nilai sekarang dari pertimbangan yang dipertukarkan diantara pihak-pihak yang mengadakan kontrak pada tanggal transaksi.
Sebagai contoh: pada tanggal 1 Januari 2008 aset yang dibeli dengan wesel tanpa bunga empat tahun dari sekarang senilai Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah), maka aset tersebut tidak boleh dicatat senilai Rp 100.000.000. Asumsi tingkat bunga yang sesuai 12% / tahun untuk mendiskontokan nilai Rp100.000.000,00 selama 4 tahun (empat tahun), maka nilai aset tersebut dapat dihitung sebagai berikut :
Untuk mempermudah perhitungan bisa menggunakan tabel bunga. (Lihat periode 4 tahun dengan tingkat bunga 12% diperoleh nilai 0,63552). Dengan demikian nilai aset dapat dihitung sebagai berikut:
Nilai aset = (Rp100.000.000 x 0,63552) = Rp. 63.552.000,00.
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal | |||||
Tanggal | Uraian | Ref | Debet | Kredit | |
2008 | 1 | Aset Tetap | 63.552.000 | ||
Januari | Potongan Wesel Bayar | 36.448.000 | |||
Wesel Bayar | 100.000.000 | ||||
b. Pembelian dalam jumlah sekaligus
Pembelian aset tetap sekaligus (lebih dari satu jenis aset) sering dijumpai dalam dunia bisnis dan prakteknya banyak perusahaan yang mengalokasikan total biaya diantara berbagai aset tersebut atas dasar nilai pasar wajar relatifnya, sebenarnya untuk menentukan nilai pasar wajar dapat digunakan suatu taksiran dengan melakukan perhitungan
seperti dibawah ini:
Sebagai contoh: pada tanggal 1 Januari 2008 PT. Abadi membeli beberapa aset (tanah, rumah, kendaraan) seharga Rp 800.000.000,00. Aset-aset tersebut mempunyai nilai buku dan harga pasar wajar sebagai berikut :
Nilai Buku | Harga pasar Wajar | |
Tanah | Rp. 300.000.000,- | Rp. 250.000.000,- |
Truk | Rp. 200.000.000,- | Rp. 250.000.000,- |
Rumah | Rp. 350.000.000,- | Rp. 500.000.000,- |
Rp. 850.000.000,- | Rp. 1.000.000.000,- |
Bedasarkan identifikasi nilai buku dan harga pasar wajar dari ketiga aset tersebut, maka nilai yang dapat ditetapkan sebagai harga perolehan aset masing-masing sebagai berikut:
Tanah = Rp. 250.000.000,- x Rp. 800.000.000,- = Rp. 200.000.000,-
Rp. 1.000.000.000,-
Truk = Rp. 250.000.000,- x Rp. 800.000.000,- = Rp. 200.000.000,-
Rp. 1000.000.000,-
Rumah = Rp. 500.000.000,- x Rp. 800.000.000,- = Rp. 400.000.000,-
Rp. 1000.000.000,-
Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah:
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal | |||||
Tanggal | Uraian | Ref | Debet | Kredit | |
2008 | 1 | Tanah 200.000.000 | 200.000.000 | ||
Januari | Truk | 200.000.000 | |||
Rumah | 400.000.000 | ||||
Kas/Hutang | 800.000.000 | ||||
c. Pembelian diperoleh dengan menerbitkan saham
Aset yang diperoleh dengan menerbitkan saham dapat dinilai atas dasar nilai pari ataupun nilai tetapan saham tersebut. Nilai pasar dari saham yang diterbitkan merupakan petunjuk yang layak atas harga pokok dari harta yang diakuisisi karena saham itu merupakan ukuran yang baik atas harga ekuivalen kas masa berjalan.
Sebagai contoh: pada tanggal 1 Mei 2008 PT. Abadi membeli tanah dengan mengeluarkan saham sebanyak 5000 lembar, nilai pari @ Rp. 10.000,- yang mempunyai harga pasar wajar saham @ Rp 8.000,-. maka perhitungan dapat dilakukan sebagai berikut:
Nilai nominal saham (5000 x Rp. 10.000,-) = Rp. 50.000.000,-
Harga pasar wajar (5000 x Rp. 8.000,-) =(Rp. 40.000.000,-)
Selisih lebih nilai nominal diatas harga
Pasar wajar (Disagio) Rp.10.000.000,00
Jurnal untuk mencatat transaksi di atas sebagai berikut:
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal | |||||
Tanggal | Uraian | Ref | Debet | Kredit | |
2008 | 1 | Tanah | 40.000.000 | ||
Mei | Disagio saham | 10.000.000 | |||
Saham Biasa | 50.000.000 | ||||
Penentuan harga pokok Aset Tetap dengan cara membangun sendiri
Terdapat dua situasi dalam penentuan harga pokok aset tetap dengan membangun sendiri, yaitu :
1) Aset tetap yang dibangun sendiri dengan dana yang berasal dari dalam perusahaan.
Aset tetap yang dibangun sendiri, adalah bangunan yang timbul karena tidak ada harga pembelian, ataupun harga kontrak pembangunan, maka perusahaan harus mengalokasikan semua biaya yang dikeluarkan yang ditelusuri dari biaya (bahan, tenaga kerja, overhead) yang berkaitan dengan pembangunan tersebut. Biaya overhead biasanya mencakup listrik, asuransi, peralatan pabrik, pengawas pabrik. Cara yang boleh dipilih dalam mengalokasikan biaya overhead pabrik :
a. Tidak mengalokasikan overhead pada biaya pembangunan
b. Mengalokasikan sebagian overhead pada biaya pembangunan
c. Mengalokasikan atas dasar produksi yang hilang
2) Aset tetap yang dibangun sendiri dengan dana yang diperoleh dari pinjaman.
Untuk situasi ini terdapat satu hal yang perlu diperhatikan yaitu perlakuan biaya pinjaman selama pembangunan. Perhitungan biaya pinjaman selama pembangunan dalam mengakuisisi aset tetap boleh mengunakan alternatif cara berikut ini:
a. Tidak mengkapitalisasi biaya pinjaman selama pembangunan.
b. Mengkapitalisasi hanya biaya pinjaman sebenarnya terjadi hanya
selama pembangunan.
c. Membebankan pembangunan dengan semua biaya dana yang
digunakan, baik yang dapat didentifikasi ataupun tidak.
PENGHENTIAN AKTIVA TETAP
Pemakaian aktiva tetap bisa diakhiri karena hal-hal berikut :
1.Dihentikan dari pemakaian – aktiva tetap dijadikan barang tak terpakai.
2.Dijual – aktiva tetap dijual kepada pihak lain.
3.Ditukarkan – aktiva tetap ditukarkan dengan aktiva tetap lain.
Apabila suatu aktiva tetap akan dihentikan, maka pertama-tama harus ditentukan dahulu nilai buku aktiva tetap tersebut. Nilai buku adalah selisih antara harga perolehan aktiva tetap dengan akumulasi depresiasi pada tanggal yang bersangkutan. Apabila penghentian terjadi pada suatu tanggal tertentu pada suatu tahun, maka depresiasinya harus dihitung sampai dengan saat penghentian terjadi. Selanjutnya nilai buku aktiva tetap harus dihapus dari pembukuan dengan mendebet rekening Akumulasi Depresiasi dan mengkredit aktiva tetap yang bersangkutan sebesar harga perolehannya.
Pemakaian aktiva tetap bisa diakhiri karena hal-hal berikut :
1.Dihentikan dari pemakaian – aktiva tetap dijadikan barang tak terpakai.
2.Dijual – aktiva tetap dijual kepada pihak lain.
3.Ditukarkan – aktiva tetap ditukarkan dengan aktiva tetap lain.
Apabila suatu aktiva tetap akan dihentikan, maka pertama-tama harus ditentukan dahulu nilai buku aktiva tetap tersebut. Nilai buku adalah selisih antara harga perolehan aktiva tetap dengan akumulasi depresiasi pada tanggal yang bersangkutan. Apabila penghentian terjadi pada suatu tanggal tertentu pada suatu tahun, maka depresiasinya harus dihitung sampai dengan saat penghentian terjadi. Selanjutnya nilai buku aktiva tetap harus dihapus dari pembukuan dengan mendebet rekening Akumulasi Depresiasi dan mengkredit aktiva tetap yang bersangkutan sebesar harga perolehannya.
Penghentian Pemakaian Aktiva Tetap
Untuk melukiskan akuntansi atas penghentian pemakaian aktiva tetap, misalkan CV Citarum menghentikan pemakaian printer komputer yang memiliki harga perolehan Rp 3.200.000,00. Pada saat dihentikan, akumulasi depresiasi aktiva tetap juga berjumlah Rp 3.200.000,00. Dalam hal seperti ini, dikatakan bahwa aktiva tetap tersebut telah didepresiasi penuh. Jurnal untuk mencatat penghentian pemakaian aktiva di atas adalah :
Untuk melukiskan akuntansi atas penghentian pemakaian aktiva tetap, misalkan CV Citarum menghentikan pemakaian printer komputer yang memiliki harga perolehan Rp 3.200.000,00. Pada saat dihentikan, akumulasi depresiasi aktiva tetap juga berjumlah Rp 3.200.000,00. Dalam hal seperti ini, dikatakan bahwa aktiva tetap tersebut telah didepresiasi penuh. Jurnal untuk mencatat penghentian pemakaian aktiva di atas adalah :
Akumulasi depresiasi – Peralatan Kantor 3.200.000
Peralatan Kantor 3.200.000
Apa yang harus dilakukan jika suatu aktiva tetap telah didepresiasi penuh, padahal aktiva tersebut masih terus digunakan? Dalam hal demikian, aktiva tetap dan akumulasi depresiasinya harus terus dilaporkan dalam neraca, walaupun sudah tidak didepresiasi lagi, sampai aktiva tersebut dihendikan dari pemakaian. Pelaporan aktiva tetap beserta akumulasi depresiasinya dalam neraca akan memberi informasi kepada pembaca, bahwa aktiva tetap tersebut masih digunakan dalam operasi perusahaan. Namun demikian, bila depresiasi telah dilakukan secara penuh, maka perusahaan sudah tidak perlu melakukan pencatatan depresiasi lagi. Jumlah akumulasi depresiasi tidak boleh melebihi harga perolehan aktiva tetap yang bersangkutan.
Apabila suatu aktiva tetap dihentikan dari pemakaian sebelum aktiva tersebut didepresiasi penuh dan aktiva bekas tersebut tidak laku dijual, maka perusahaan akan mengalami kerugian. Sebagai contoh, misalkan PT Raung menghentikan pemakaian sebuah mesin yang memiliki harga perolehan Rp 18.000.000,00. Pada saat dihentikan, mesin tersebut telah didepresiasi sebesar Rp 14.000.000,00. Jurnal untuk mencatat penghentian pemakaian mesin di atas adalah sebagai berikut :
Akumulasi Depresiasi – Mesin 14.000.000
Rugi Penghentian Aktiva Tetap 4.000.000
Mesin 18.000.000
(Untuk mencatat penghentian pemakaian mesin dan kerugiannya)
Rugi akibat penghentian pemakaian aktiva tetap dilaporkan dalam laporan rugi-laba pada bagian biaya dan kerugian lain-lain.
Penjualan Aktiva Tetap
Apabila suatu aktiva tetap dijual, maka nilai buku aktiva tersebut harus dibandingkan dengan hasil penjualannya. Perusahaan mendapat laba, jika hasil penjualan lebih tinggi dari nilai buku aktiva yang dijual. Sebaliknya, perusahaan menderita rugi, apabila hasil penjualan lebih kecil daripada nilai bukunya.
Timbulnya laba atau rugi dalam penjualan suatu aktiva tetap sangat umum terjadi. Apabila hasil penjualan sama dengan nilai buku, yang berarti perusahaan tidak mendapat laba atau rugi, maka hal itu hanya terjadi secara kebetulan.
Laba Penjualan Aktiva Tetap
Untuk melukiskan laba yang terjadi dalam suatu penjualan aktiva tetap, misalkan pada tanggal 1 Juli 1992, CV. Ciliwung menjual sebuah mobil dengan harga Rp 16.000.000,-. Mobil tersebut dibeli perusahaan dengan harga perolehan Rp 60.000.000,- dan sampai dengan tanggal 1 Januari 1992, telah didepresiasi sebesar Rp 41.000.000,-. Biaya depresiasi selama enam bulan untuk tahun 1992 berjumlah Rp 8.000.000,-. Jurnal untuk mencatat biaya depresiasi tersebut dan memutahirkan akumulasi depresiasi sampai dengan tanggal 1 Juli 1992 adalah :
Apabila suatu aktiva tetap dijual, maka nilai buku aktiva tersebut harus dibandingkan dengan hasil penjualannya. Perusahaan mendapat laba, jika hasil penjualan lebih tinggi dari nilai buku aktiva yang dijual. Sebaliknya, perusahaan menderita rugi, apabila hasil penjualan lebih kecil daripada nilai bukunya.
Timbulnya laba atau rugi dalam penjualan suatu aktiva tetap sangat umum terjadi. Apabila hasil penjualan sama dengan nilai buku, yang berarti perusahaan tidak mendapat laba atau rugi, maka hal itu hanya terjadi secara kebetulan.
Laba Penjualan Aktiva Tetap
Untuk melukiskan laba yang terjadi dalam suatu penjualan aktiva tetap, misalkan pada tanggal 1 Juli 1992, CV. Ciliwung menjual sebuah mobil dengan harga Rp 16.000.000,-. Mobil tersebut dibeli perusahaan dengan harga perolehan Rp 60.000.000,- dan sampai dengan tanggal 1 Januari 1992, telah didepresiasi sebesar Rp 41.000.000,-. Biaya depresiasi selama enam bulan untuk tahun 1992 berjumlah Rp 8.000.000,-. Jurnal untuk mencatat biaya depresiasi tersebut dan memutahirkan akumulasi depresiasi sampai dengan tanggal 1 Juli 1992 adalah :
(dalam rupiah) Jurnal Umum | |||||
Tanggal | Uraian | Ref | Debet | Kredit | |
1992 | 1 | Biaya Depresiasi Mobil | 8.000.000 | ||
Juli | Akumulasi Depr. Mobil | 8.000.000 | |||
(Untuk mencatat biaya depresiasi Selama 6 bulan pada tahun 1992) | |||||
Setelah saldo akumulasi depresiasi dimutahirkan, maka laba atau rugi penjualan dapat dihitung dengan cara berikut :
Harga perolehan mobil Rp 60.000.000,-
Kurangi : Akumulasi Depresiasi (Rp 41.000.000,- + Rp 8.000.000,-) Rp 49.000.000,-
Nilai buku pada tanggal penjualan Rp 11.000.000,-
Hasil penjualan mobil Rp 16.000.000,-
Laba penjualan mobil Rp 5.000.000,-
Jurnal untuk mencatat penjualan dan laba penjualan mobil adalah sebagai berikut :
Harga perolehan mobil Rp 60.000.000,-
Kurangi : Akumulasi Depresiasi (Rp 41.000.000,- + Rp 8.000.000,-) Rp 49.000.000,-
Nilai buku pada tanggal penjualan Rp 11.000.000,-
Hasil penjualan mobil Rp 16.000.000,-
Laba penjualan mobil Rp 5.000.000,-
Jurnal untuk mencatat penjualan dan laba penjualan mobil adalah sebagai berikut :
(dalam rupiah) Jurnal Umum | |||||
Tanggal | Uraian | Ref | Debet | Kredit | |
1992 | 1 | Kas | 16.000.000 | ||
Juli | Akumulasi Depr. Mobil | 49.000.000 | |||
Mobil | 60.000.000 | ||||
Laba penjualan aktiva tetap | 5.000.000 | ||||
(Untuk mencatat penjualan dan laba penjualan mobil) | |||||
Laba penjualan aktiva tetap dilaporkan dalam laporan rugi-laba pada bagian pendapatan dan keuntungan lain-lain.
Rugi Penjualan Aktiva tetap
Dengan penggunaan contoh di atas, dimisalkan bahwa CV Ciliwung menjual mobil tersebut dengan harga Rp 9.000.000,-. Dalam hal ini perusahaan menderita rugi sebesar Rp 2.000.000,- dengan perhitungan sebagai berikut :
Harga perolehan mobil Rp 60.000.000,-
Kurangi : Akumulasi Depresiasi
(Rp 41.000.000,- + Rp 8.000.000,-) Rp 49.000.000,-
Nilai buku pada tanggal penjualan Rp 11.000.000,-
Hasil penjualan mobil Rp 9.000.000,-
Rugi penjualan mobil Rp 2.000.000,-
Jurnal untuk mencatat penjualan mobil dan kerugiannya adalah sebagai berikut :
(dalam rupiah) Jurnal Umum | |||||
Tanggal | Uraian | Ref | Debet | Kredit | |
1992 | 1 | Kas | 90.000.000 | ||
Juli | Akumulasi Depr. Mobil | 49.000.000 | |||
Rugi Penjualan Aktiva tetap | 2.000.000 | ||||
Mobil | 60.000.000 | ||||
(Untuk mencatat penjualan dan rugi penjualan mobil) | |||||
Rugi penjualan aktiva tetap dilaporkan dalam laporan rugi-laba pada bagian biaya dan kerugian lain-lain.
Pertukaran Aset/Aktiva Tetap
Pertukaran aset tetap yang serupa
Pertukaran aset tetap harus didasarkan pada nilai wajar dari aset yang diserahkan atau nilai wajar dari aset yang diterima dengan keuntungan dan kerugian yang diakui. Pendapat lain mengemukakan bahwa dalam pertukaran tersebut didasarkan pada nilai tercatat (nilai buku) dari aset yang diserahkan tanpa ada keuntungan atau kerugian yang diakui. Pendapat lain mengemukakan nilai aset didasarkan dari nilai wajar aset yang diserahkan atau nilai wajar aset yang diterima mana yang lebih jelas.
Ada tiga situasi berkaitan dengan pertukaran aset yang sejenis. Situasi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Akuntansi pertukaran untuk aset yang sejenis dengan tombokan
Pertukaran ini dicatat pada nilai wajar dari aset yang diserahkan, keuntungan atau kerugian diakui. Nilai wajar dari harta yang diterima harus digunakan hanya jika lebih jelas daripada nilai wajar harta yang diserahkan.
Sebagai contoh: pada tanggal 1 Mei 2008 PT Trisna Purnama menukarkan beberapa truk nilai buku Rp. 420.000.000,-. Pada tanggal ini truk tersebut mempunyai harga pokok Rp. 640.000.000,- dan Akumulasi penyusutan Rp. 220.000.000,-. Harga pasar wajar truk-truk tersebut sebesar Rp. 490.000.000,-. Untuk pertukaran ini PT Trisna Purnama mengeluarkan uang kas sebagai tombokan sebesar Rp. 170.000.000,- Harga pasar wajar truk baru Rp. 660.000.000,-.
Perhitungan yang dapat dilakukan:
Perhitungan harga tanah
Nilai wajar truk-truk yang ditukar Rp. 490.000.000,-
Kas yang dibayarkan Rp. 170.000.000,-
Harga pasar wajar truk Rp. 660.000.000,-
Perhitungan keuntungan
Harga pasar wajar dari truk Rp. 490.000.000,-
Nilai buku dari truk (Rp. 420.000.000,-)
Keuntungan dari pelepasan truk Rp. 70.000.000,-
Jurnal untuk mencatat transaksi di atas sebagai berikut:
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal | |||||
Tanggal | Uraian | Ref | Debet | Kredit | |
2008 | 1 | Truk Baru | 660.000.000 | ||
Mei | Ak. Peny. Truk | 220.000.000 | |||
Truk | 640.000.000 | ||||
Keuntangan Pelep Truk | 70.000.000 | ||||
Kas | 170.000.000 | ||||
2. Akuntansi pertukaran untuk aset yang serupa-situasi kerugian
Pertukaran aset yang serupa dan menimbulkan kerugian maka kerugian itu harus segera diakui.
Sebagai contoh: tanggal 1 Maret 2008 PT Esa memperoleh mesin baru harga Rp. 160.000.000,- dengan cara menukar mesin lama yang dimiliki oleh PT Jaka Purnama. Pada tanggal 1 Maret 2008 Mesin lama mempunyai mempunyai nilai buku Rp. 80.000.000,- dengan harga pokok Rp. 120.000.000,-, akumulasi penyusutan Rp. 40.000.000,-. Harga pasar wajar mesin lama Rp. 60.000.000,- tombokan pertukaran disetujui Rp. 90.000.000,-.
Perhitungan yang dapat dilakukan:
Harga pokok mesin baru
Harga katalog mesin baru Rp. 160.000.000,-
Tombokan untuk mesin lama (Rp. 90.000.000,-)
Kas yang harus dibayarkan Rp. 70.000.000,-
Harga pasar wajar mesin lama Rp. 60.000.000,-
Harga pokok mesin baru Rp. 130,000.000,-
Perhitungan kerugian dari pelepasan mesin lama:
Perhitungan kerugian.
Harga pasar wajar dari mesin lama Rp. 60.000.000,-
Nilai buku dari mesin lama Rp. 80.000.000,-
Kerugian pelepasan mesin lama Rp. 20.000.000,-
Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah:
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal | |||||
Tanggal | Uraian | Ref | Debet | Kredit | |
2008 | 1 | Mesin Baru | 130.000.000 | ||
Maret | Ak. Peny.Mesin | 40.000.000 | |||
Kerugian pelep Mesin | 20.000.000 | ||||
Peralatan | 120.000.000 | ||||
Kas | 70.000.000 | ||||
3. Akuntansi pertukaran untuk aset yang serupa- situasi keuntungan (tetapi tidak ada kas yang diterima)
Pertukaran aset yang menimbulkan keuntungan biasanya lebih rumit, jika pertukaran ini belum menyelesaikan proses pencarian laba maka setiap keuntungan harus ditangguhkan.
Contoh: pada tanggal 1 Februari 2008 PT. Abadi menukarkan mobil lama nilai buku Rp. 135.000.000,- dari (harga pokok Rp. 150.000.000,-, akumulasi penyusutan Rp. 15.000.000,-) dan harga pasar wajar mobil lama Rp. 160.000.000,- .dan harus membayar uang kas sebesar Rp. 10.000.000,- yang ditukar dengan mobil baru dengan harga pasar wajar Rp. 170.000.000,-.
Perhitungan yang dapat dilakukan:
Perhitungan keuntungan
Harga pasar wajar mobil lama Rp. 160.000.000,-
Nilai buku mobil lama (Rp. 135.000.000,-)
Total keuntungan yang tidak diakui Rp. 25.000.000,-
Perhitungan lain yang dapat dilakukan:
Nilai buku mobil baru bagi PT.Abadi
Harga pasar wajar mobil baru Rp. 170.000.000,-
Keuntungan yang ditangguhkan (Rp. 25.000.000,-)
Dasar nilai yang dihitung Rp. 145.000.000,-
Atau dapat dilakukan juga dengan cara sebagai berikut:
Nilai buku dari mobil lama Rp. 135.000.000,-
Kas yang dibayarkan Rp. 10.000.000,-
Dasar nilai yang dihitung Rp. 145.000.000,-
Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah:
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal | |||||
Tanggal | Uraian | Ref | Debet | Kredit | |
2008 | 1 | Mobil Baru | 145.000.000 | ||
Februari | Ak. Peny.Mobil | 15.000.000 | |||
Mobil Lama | 150.000.000 | ||||
Kas | 10.000.000 | ||||
Pertukaran aset tetap yang tidak serupa
Pertukaran aset yang tidak serupa dihitung dari harga pasar wajar aset yang dipertukarkan mana yang lebih jelas.
Contoh: pada tanggal 1 Februari 2008 PT Cendekia mengadakan transaksi pertukaran tanah seluas 1.000 meter persegi dengan mobil seharga Rp 200.000.000,-. Untuk pertukaran ini PT Cendekia menerima kas sebesar Rp. 20.000.000,-.
Jurnal untuk mencatat transaksi di atas adalah:
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal | |||||
Tanggal | Uraian | Ref | Debet | Kredit | |
2008 | 1 | Mobil | 200.000.000 | ||
Februari | Kas | 20.000.000 | |||
Tanah | 220.000.000 | ||||
5. Akuisisi dan disposisi dari donasi atau hadiah
Pertukaran seperti aset yang berasal dari donasi dapat disebut transfer tanpa timbal balik (karena mentransfer aset pada satu arah). Perlakuan ini dihitung dari nilai buku aset itu yang akan dicatat dalam buku.
Contoh1: pada tanggal 1 Januari 2008 PT. Kartika menerima donasi sebidang tanah, harga pasar wajar dari tanah Rp. 150.000.000,-yang akan digunakan untuk pembangunan fasilitas umum.
Jurnal untuk mencatat transaksi di atas adalah:
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal | |||||
Tanggal | Uraian | Ref | Debet | Kredit | |
2008 | 1 | Tanah | 150.000.000 | ||
Januari | Modal Donasi | 150.000.000 | |||
Contoh 2: pada tanggal 1 Maret 2008 PT Wijaya menghibahkantanah seharga Rp. 80.000.000,- tetapi tanah itu mempunyai harga pasarwajar Rp. 110.000.000,-.
Jurnal untuk mencatat transaksi di atas adalah:
(dalam rupiah) Jurnal Umum Hal | |||||
Tanggal | Uraian | Ref | Debet | Kredit | |
2008 | 1 | Harta Donasi | 110.000.000 | ||
Tanah | 80.000.000 | ||||
Maret | Keuntungan | 30.000.000 | |||
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen o yo rek,, *suwun