BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tujuan Pendidikan
Nasional Indonesia telah dirumuskan dalam
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Bab II Pasal 3 yang berbunyi: “Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.”
Untuk mewujudkan tujuan
pendidikan tersebut, perlu adanya kerja sama antara sekolah, keluarga,
masyarakat dan pemerintah. Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal
merupakan lingkungan hidup kedua sesudah rumah dimana anak didik untuk sekian
jam tiap-tiap hari mengisi hidupnya (Partowisastro, 1982: 13). Di sekolah
selain melakukan kewajiban untuk belajar, siswa juga melakukan interaksi dengan
warga sekolah lainnya seperti guru, sesama siswa, karyawan sekolah dan lainnya.
Tidak jarang di sekolah ditemui siswa yang mengalami kesulitan, seperti
kesulitan dalam pelajaran, penyesuaian diri dengan lingkungan ataupun
kesulitan-kesulitan lainnya, bahkan mungkin lingkungan keluarga dan lingkungan
masyarakat ikut menimbulkan masalah bagi siswa di sekolah. Masalah-masalah
tersebut dapat menjadi penghambat bagi siswa untuk mencapai prestasi yang
optimal di sekolah.
Untuk mengatasi
kesulitan-kesulitan tersebut terkadang dibutuhkan bantuan orang lain untuk ikut
menyeleseikannya karena tidak semua siswa mampu menyeleseikan masalahnya
sendiri. Sekolah menyediakan konselor untuk membantu siswa mengatasi
kesulitan-kesulitan yang dialaminya.
Selain konselor, guru sebagai salah satu komponen penting dalam proses belajar
mengajar mempunyai tanggung jawab besar terhadap anak didiknya. Guru mengemban
tugas ganda yaitu sebagai pengajar dan pendidik. Salah satu tugas guru sebagai
pendidik dalam hal ini adalah membantu siswa dalam memecahkan masalah yang
dihadapi sehingga diperlukan seorang guru yang profesional agar tujuan
pendidikan dapat tercapai.
Permasalahan yang dihadapi siswa merupakan masalah
penting yang harus diketahui guru yang sangat berpengaruh langsung terhadap
keberhasilan siswa dalam studinya. Untuk itu siswa perlu diberi pengarahan dan
bimbingan oleh pihak yang lebih berpengalaman dan dalam hal ini diwakili oleh
guru BK, wali kelas ataupun guru mata pelajaran yang bersangkutan. Salah satu
bentuk bimbingan tersebut melalui
program bimbingan siswa yang memberikan bantuan dan penanganan secara intensif
terhadap masalah-masalah yang dihadapi siswa.
Layanan bimbingan merupakan bagian dari faktor
yang mempengaruhi belajar siswa dan dikategorikan sebagai faktor eksternal. Hal
ini karena layanan bimbingan dilakukan oleh orang lain dan merupakan faktor
yang mempengaruhi siswa dari luar dirinya. Layanan bimbingan tidak dapat
dipisahkan dari proses belajar, motivasi belajar, bahkan hasil belajar yang
dicapai sehingga hal tersebut merupakan bagian integral dari pendidikan dan
pengajaran. Dengan layanan bimbingan yang tepat diharapkan dapat memberikan
pengaruh terhadap peningkatan motivasi belajar siswa.
Selama bimbingan berlangsung, hendaknya siswa
memang mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara optimal sesuai dengan
kemampuan, kecerdasan, bakat dan minatnya sebab setiap siswa mempunyai
kemampuan, minat dan bakat yang berbeda (Ruffendi, 1980: 107). Seorang guru
dalam memberikan bantuan kepada anak didiknya harus memperhatikan aspek-aspek
yang ada pada pribadi siswa tersebut, antara lain kematangan, bakat, lingkungan
dan sebagainya agar siswa yang diberi bantuan dapat menyelesaikan masalah
yang dialaminya secara tepat.
Dalam layanan bimbingan ini, penulis memilih salah
satu siswa kelas X Akuntansi SMK Negeri
1 Malang karena penulis adalah praktikan PPL yang mengajar di kelas X Akuntansi
sehingga praktikan bisa mengamati secara langsung pada waktu mengajar di kelas
tersebut.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka
praktikan memilih judul “Layanan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar Siswa Kelas X Akuntansi SMK Negeri 1 Malang Tahun
Ajaran 2012/2013”.
B.
Pengertian Layanan Bimbingan
Layanan bimbingan memegang
peranan penting bagi siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehingga
dengan adanya layanan bimbingan, perkembangan siswa berjalan sesuai dengan harapan.
Para pakar telah mendefinisikan pengertian layanan
bimbingan, diantaranya adalah:
1.
Menurut
Djumhur (1975: 25), bimbingan adalah suatu proses
pemberian
bantuan kepada
siswa atau individu yang dilakukan secara terus-menerus supaya individu
tersebut itu dapat memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarahkan dirinya dan
bertindak wajar sesuai dengan tuntutan dan dan keadaan sekolah, keluarga, dan
masyarakat”. Dengan demikian dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi
kehidupan masyarakat pada umumnya.
2.
Menurut
Wingkel (1997: 15), bimbingan merupakan suatu proses
pemberian bantuan kepada seseorang atau kelompok orang dalam membuat pikiran
secara bijak dan dalam menyesuaikan diri terhadap tuntutan hidup yang bersifat
psikologis.
3.
Menurut
Walgito dalam Soetjipto dan Kosasi (1994: 57), bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu
atau sekumpulan individu-individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan
dalam hidupnya, agar individu atau sekumpulan individu-individu itu dapat
mencapai kesejahteraan hidupnya.
4.
Menurut Mohammad Surya (1988: 12), bimbingan adalah
suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang
dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri dan perwujudan diri,
dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan
lingkungannya.
5.
Buku Pedoman Praktek Pengalaman Lapangan (2011: 35),
layanan bimbingan adalah upaya mengenal, memahami, dan menetapkan siswa yang
mengalami kesulitan belajar, khususnya kesulitan belajar bidang studi, dengan
kegiatan mengidentifikasi, mendiagnosis, memprognosis, dan memerikan
pertimbangan pemecahan masalah.
Jadi dari beberapa
pengertian yang telah dikemukakan oleh pakar di atas maka dapat disimpulkan
bahwa bimbingan merupakan proses pemberian bantuan kepada seseorang atau
sekelompok orang secara terus menerus dan sistematis oleh guru pembimbing agar
individu atau sekelompok individu menjadi generasi yang mandiri. Layanan
bimbingan siswa dimaksudkan untuk melaksanakan suatu kegiatan dengan memberikan
upaya bantuan dan pertolongan kepada siswa agar permasalahan dan kesulitannya
dalam belajar dapat diatasi.
C.
Tujuan Layanan Bimbingan
1.
Tujuan Umum
Tujuan layanan bimbingan secara umum adalah
kegiatan yang dilakukan oleh pembimbing atau guru untuk mengenal latar belakang
pribadi siswa yang mengalami kesulitan belajar serta memahami dan menetapkan
jenis sifat kesulitan belajar, faktor-faktor penyebab dan penetapan kemungkinan
bagaimana pemecahannya, baik secara pencegahan maupun penyembuhan.
2.
Tujuan Khusus
Secara khusus layanan bimbingan bertujuan untuk
membantu agar siswa mampu melakukan atau meraih hal-hal berikut:
a.
Mengembangkan
pemahaman diri sesuai dengan kecakapan, minat, pribadi hasil belajar, sehingga
tercapai kemajuan pengajaran yang berarti.
b.
Memiliki
motivasi dalam pengarahan diri, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan
keterlibatan diri dalam proses pendidikan.
c.
Memperoleh
kepuasan pribadi dalam penyesuaian diri secara maksimal terhadap masyarakat.
d.
Meningkatkan
prestasi belajar siswa dalam semua bidang pelajaran.
D.
Pentingnya Layanan Bimbingan
Layanan bimbingan siswa sangat penting dilakukan karena layanan ini
diperlukan bagi pengembangan intelektual siswa. Dengan adanya layanan ini, siswa diharapkan
dapat mengetahui arah dan tujuan pengembangan dirinya dan dapat secara
bijaksana menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Layanan bimbingan ini sangat penting bagi
pihak-pihak, antara lain:
1.
Siswa yang
bersangkutan
Layanan bimbingan sangat penting sebagai informasi
untuk memperoleh alternatif yang memungkinkan untuk menyelesaikan masalah yang
dihadapinya, sekaligus sebagai acuan dalam upaya menggali dan memahami dirinya,
yaitu mengetahui kelemahan dan kelebihan yang dimilikinya, sehingga siswa
tersebut dapat mencapai prestasi yang memuaskan.
2.
Guru PPL
Layanan bimbingan dapat digunakan sebagai latihan
dalam memperoleh pengalaman dalam membantu memecahkan masalah siswa tersebut,
sehingga apabila kelak terjun dalam dunia pendidikan, guru telah memiliki
pengalaman yang selanjutnya dapat dikembangkan secara maksimal.
3.
Wali kelas
Layanan bimbingan siswa ini dapat digunakan
sebagai masukan berupa informasi perkembangan siswanya, sehingga dapat
memberikan bimbingan kepada siswanya yang mengalami kesulitan belajar.
4.
Guru BK
a.
Bagi guru BK
adanya layanan bimbingan siswa ini akan mempermudah untuk mengadakan pengawasan
terhadap siswa dan dapat segera memberikan solusi yang terbaik bagi siswa.
b.
Dapat
digunakan sebagai masukan yang berupa informasi tentang perkembangan siswa.
5.
Kepala
sekolah
a.
Informasi
layanan bimbingan siswa dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menentukan dan
menetapkan kebijakan sekolah, khususnya yang berkaitan dengan program
bimbingan.
b.
Dapat
digunakan untuk mengawasi keadaan siswa dan kemampuan guru dalam memberikan
layanan bimbingan.
c.
Dijadikan
upaya dalam menentukan cara-cara yang baik untuk meningkatkan prestasi siswa.
E.
Metode dan Alat Pengumpulan Data
Agar diperoleh pemecahan yang baik, maka diperlukan teknik
pengumpulan data yang yang tepat dan relevan. Adapun teknik pengumpulan data tersebut
adalah sebagai berikut:
- Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan
pengamatan langsung terhadap siswa yang dilakukan didalam dan diluar kelas,
menyangkut berbagai perilaku dan kegiatan yang dilakukan siswa.
- Angket
Angket merupakan teknik pengumpulan data yang berupa suatu daftar
yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan dikerjakan oleh
responden, dalam hal ini adalah siswa yang bersangkutan. Siswa diberikan
Problem Check List untuk diisi sesuai keadaan siswa, sehingga dapat diketahui
data masalah atau kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapinya. Check list ini
antara lain berisi kesehatan, keadaan kehidupan,penyesuaian terhadap sekolah,
hubungan sosial, kebiasaan belajar dan masa depan yang berhubungan dengan
karier.
- Studi Dokumenter
Teknik ini merupakan teknik pengumpulan data dengan cara
mengumpulkan data dari sumber-sumber tertulis. Teknik dokumenter dilakukan
dengan cara mempelajari dokumen-dokumen yang dijadikan sumber data yaitu:
daftar nilai, buku catatan pelanggaran tata tertib, buku presensi kelas, buku
catatan pelajaran.
- Wawancara
Metode ini merupakan teknik pengumpulan
data dengan cara mengadakan wawancara dengan siswa yang bersangkutan, teman
siswa, guru dan juga pihak lain yang mengetahui tentang diri siswa.
F. Kerahasiaan/ Konfidensialitas
Seluruh data yang diperoleh dari layanan bimbingan siswa atau studi
kasus ini bersifat rahasia dan tidak boleh digunakan untuk kepentingan lain
tanpa seijin siswa kasus. Asas kerahasiaan ini dilakukan sesuai dengan kode
etik konselor
Bab II sub bab
Penyimpanan dan Penggunaan Informasi butir 1.1 yang menyatakan bahwa: “Catatan
tentang diri klien yang meliputi data hasil wawancara, testing, surat-menyurat,
perekaman, dan data lain, semuanya merupakan informasi yang bersifat rahasia
dan hanya boleh digunakan untuk kepentingan klien. Penggunaan data atau
informasi untuk keperluan riset atau pendidikan calon konselor dimungkinkan,
sepanjang identitas klien dirahasiakan.”
Oleh karena itu,
dalam laporan layanan bimbingan siswa ini, data diri siswa disamarkan atau
dibuat fiktif agar tidak diketahui orang lain. Akan tetapi, data yang berkaitan
dengan masalah yang dihadapi siswa ataupun data lain yang digunakan dalam studi
kasus ini tetap dijaga keutuhannya. Penyamaran nama, alamat, dan hal-hal lain
dalam laporan ini berdasarkan fiktif belaka dan tidak merujuk pada individu
lain.
BAB II
LAYANAN BIMBINGAN SISWA
Layanan bimbingan siswa merupakan suatu upaya untuk mengenal, memahami, dan membantu siswa
yang mengalami kesulitan belajar. Kegiatan layanan bimbingan siswa dapat dilaksanakan
melalui langkah-langkah berikut:
A.
Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah adalah suatu cara untuk
mencari, menetapkan dan mendapatkan siswa mana yang tergolong mengalami
kesulitan belajar. Langkah ini berusaha mencari siapa yang mengalami kesulitan
belajar, diperlukan adanya ukuran yang berupa kriteria atau norma tertentu,
sehingga dengan demikian siswa yang mengalami kesulitan belajar adalah
benar-benar siswa yang tidak mencapai kriteria yang ditentukan.
Sebagai ukuran bahwa siswa tergolong mengalami kesulitan belajar atau tidak,
dipakai kriteria antara lain sebagai berikut:
1. Apabila secara nyata siswa tidak dapat
mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan ini merupakan
tujuan formal yaitu tujuan kurikuler, tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus. Tujuan pembelajaran khusus
merupakan tujuan yang ingin dicapai pada setiap akhir pelajaran dengan cara
mengadakan post test yang dikerjakan siswa baik secara lisan maupun tertulis,
sehingga dapat diketahui siswa yang tergolong mengalami kesulitan belajar.
2. Siswa yang skor atau nilainya dibawah
rata-rata baik tes formatif maupun tes sumatif.
3. Siswa secara nyata tidak dapat memenuhi
harapan-harapan guru, harapan-harapan ini terutama berhubungan dengan sikap dan
tingkah laku, misalnya sikap yang jujur, rajin, bertanggung jawab, serta
menghargai orang lain.
Tahap analisis data adalah tahap pengumpulan data
dan pengorganisasian data dengan baik yang berupa data pribadi maupun data
tentang lingkungan sekitarnya secara menyeluruh. Semua
data yang telah diperoleh adalah dengan menggunakan metode observasi, angket
melalui problem check list, studi dokumenter dan wawancara.
1.
Observasi
Observasi ini dilaksanakan
dengan tujuan untuk mengetahui aktivitas siswa dan dilakukan tanpa
sepengetahuan siswa. Tingkah laku siswa yang diobservasi adalah tingkah laku
yang sebenarnya bukan dibuat-buat. Dari observasi yang
telah dilakukan diperoleh data sebagai berikut:
a
Konseli termasuk siswa yang pendiam dan sering melamun dalam proses belajar
mengajar.
b
Konseli sering menyendiri dalam mengerjakan
tugas, tidak membahasnya dengan teman dekat tempat duduknya.
c
Konseli agak
lambat dalam belajar.
2.
Angket
a. Identitas konseli
Nama : Sandara (fiktif)
Nama pangilan : Dara (fiktif)
Tempat, Tgl lahir : Malang, 01 Januari 1996 (fiktif)
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jalan MyCastle No. 101 Malang (fiktif)
b. Identitas orang tua
Nama Ayah : Duliam (Alm) (fiktif)
Nama Ibu : Minah (fiktif)
Pekerjaan Ibu : Pedagang
Pendidikan Ibu : SD
Agama : Islam
Alamat : Jalan MyCastle No. 101 Malang (Fiktif)
c. Data tentang keluarga
Konseli tinggal bersama : Orang Tua
Jumlah saudara :
3
Konseli anak ke :
1
Jumlah penghuni rumah : 4 orang
d. Riwayat
pendidikan
SD : MI Attaroqie Lulus tahun 2009
SMP : MTS Nurul Ulum Lulus tahun 2012
e. Keterangan Khusus
1) Konseli mengikuti kegiatan ekstrakurikuler BDI
seminggu 2 kali.
2) Kegiatan di luar sekolah adalah Kegiatan Mengaji
3) Belajar di rumah dilakukan setiap harinya
jam 06.00 sampai jam 09.30
4) Tidak ada ruangan tersendiri untuk belajar
di rumah
5) Jika ada kesulitan dalam belajar dibahas
dengan teman
6) Ada perhatian dari orang tua terhadap
balajar siswa
7) Jarak rumah ke sekolah 30 menit dan ditempuh dengan angkot
Data yang diperoleh melalui problem check list:
- Kesehatan
·
Sering sakit waktu SD/SMP
·
Sering merasa
lelah tak bersemangat
·
Sering merasa
pening
- Rumah dan keluarga
·
Jumlah saudara banyak
·
Sudah tidak
berayah
·
Anak sulung
- Keadaan kehidupan
·
Penghasilan orang tua kurang
·
Ibu mencari
nafkah untuk keluarga
·
Tamat SMK
ingin bekerja
- Agama dan moral
·
Sering timbul sifat iri hati
- Hubungan sosial
·
Tidak senang
bermain kerumah teman
·
Merasa tidak
disenangi teman
·
Bersifat
pemalu
·
Kurang dapat mengeluarkan isi
hati
- Penyesuaian terhadap sekolah
·
Di dalam
kelas saya sering melamun
·
Sering merasa cemas bila
ulangan
·
Merasa bahan
pelajaran sulit dikuasai
·
Ada beberapa
pelajaran yang tidak disenangi
- Kebiasaan belajar
·
Belajar tidak
teratur waktunya
·
Sukar
memusatkan perhatian waktu belajar
·
Kalau belajar
sering mengantuk
·
Sering terganggu
saudara dalam belajar
·
Belajar
dengan cara membayangkan
- Masa depan berhubungan karier
·
Jurusan saya sekarang tidak
sesuai
·
Sering
berdebar bila mengingat masa depan
- Penggunaan waktu
·
Saya tidak
dapat memanfaatkan waktu luang
·
Lebih senang
dirumah dari pada kegiatan menyalurkan hobi
- Berhubungan dengan kurikulum
·
Sering
mendapat angka rendah
·
Sering khawatir kalau mendapat
giliran
·
Merasa sulit
pada pelajaran yang hitungan
- Masalah asmara
·
Bercinta
pada masa sekolah dapat mendorong
·
Mulai
tertarik dengan pada salah satu teman
·
Mulai tertarik pada lawan jenis
·
Pernah patah hati
3.
Studi Dokumenter
Hasil dari studi dokumenter (nilai
kelas ada di lampiran) yang
telah dilakukan sebagai berikut:
a. Pada pembelajaran Menerapkan Prinsip Profesional dalam
Bekerja, nilai Ulangan Harian mendapat dibawah KKM yaitu 50 (KKM: 80).
b. Nilai akuntansi yang merupakan kompetensi pokok jurusan konseli
mendapatkan dibawah KKM (KKM: 80).
4.
Wawancara
Berdasarkan
hasil wawancara yang kami lakukan dengan konseli diperoleh keterangan:
Konseli merasa sukar
memahami pelajaran terutama pelajaran yang bersifat hitungan, yaitu Akuntansi dan
Matematika. Ketika SMP ia ingin sekolah di salah satu SMA favorit di kotanya,
namun karena nilai ujian nasionalnya tidak mencukupi akhirnya batal, kemudian
ia daftar di SMK. Saat memilih jurusan ia sebetulnya ingin di jurusan Usaha
Pariwisata, namun karena tinggi badan tidak mencukupi dan ia diarahkan keluarga
dekatnya untuk memilih jurusan Akuntansi. Sehingga ia pada akhirnya ia merasa
salah jurusan dengan memilih Akuntansi tersebut.
Ia merasa
tidak suka pada salah satu temannya dikelas, karena ia sering dijahili dengan
ucapan olehnya, sehingga teman-teman yang lain juga ikut menjahili dia. Hal
tersebut mengganggu ketenangan hatinya.
Hasil
wawancara denga guru pengajar Akuntansi yang merupakan bidang keahliannya dapat
diketahui bahwa konseli termasuk siswa yang lambat dalam menangkap pelajaran,
perlu dijelaskan dengan pelan-pelan untuk dapat memahami materi.
B. Diagnosis
Diagnosis adalah suatu langkah untuk mencari,
menemukan dan menentukan faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah.
Tujuan diagnosis adalah untuk mengetahui letak kesulitan, jenis kesulitan dan
mengetahui latar belakang kesulitan siswa. Tahap
diagnosis ini terbagi menjadi 2 (dua) langkah yaitu:
1.
Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah merupakan kegiatan untuk
mengidentifikasikan atau menemukan permasalahan yang dihadari konseli. Dari data yang praktikan kumpulkan, maka dapat diambil suatu diagnosis
bahwa konseli saat ini mempunyai masalah yang meliputi:
a.
Masalah belajar
1)
Merasa kesulitan mengatur waktu belajar
2)
Cepat bosan dalam belajar
3)
Sulit berkonsentrasi dalam belajar
4)
Agak lambat dalam belajar
5) Tidak suka dengan pelajaran yang
bersifat hitungan
b.
Masalah rumah dan keluarga
1)
Konseli sudah tidak berayah, sehingga ibu yang menjadi kepala keluarga.
2) Mempunyai 2 adik yang perlu
bimbingannya ketika ibu tidak dirumah.
2. Menemukan Sumber Penyebab Masalah (Etiologi)
Dalam
kegiatan ini praktikan berusaha untuk menemukan faktor-faktor
penyebab timbulnya masalah yang dialami konseli. Berdasarkan data
yang sudah didapatkan. Faktor penyebab timbulnya masalah adalah sebagai
berikut:
a.
Faktor Internal
Faktor penyebab timbulnya masalah yang dihadapi konseli
antara lain:
1)
Minat terhadap pelajaran (interest)
Merasa bosan dan tidak berminat dalam belajar terutama dalam pelajaran yang
bersifat hitungan.
2) Kebiasaan belajar
Memiliki pola belajar yang tidak teratur, sering
belajar dan mengerjakan tugas didepan TV.
3) Kegiatan Belajar
Konseli agak lambat dalam belajar, nilainya banyak dibawah KKM, ia juga sering terlambat dalam mengumpulkan
tugas. Selain itu saat proses pembelajaran “Menerapkan Prinsip Profesional
Kerja” ketika guru beberapa kali mengajukan pertanyaan atas materi yang sudah
dijelaskan, ia lamban dalam menjawab. Menurut guru pengajar pelajaran akuntansi
yang merupakan kompetensi
kejuruannya nya, ia lamban dalam memahami materi yang disampaikan sehingga
perlu menerangkannya dengan pelan.
b.
Faktor Eksternal
Faktor
dari luar diri konseli yang menjadi penyebab timbulnya masalah antara lain:
1) Kurang dapat bekerjasama dengan temananya saat
mengerjakan soal.
2) Tidak ada yang membimbing secara mendalam untuk
kegiatan belajarnya.
3) Ada beberapa temannya yang suka menjahili konseli
sehingga membuatnya merasa tidak nyaman.
C. Prognosis
Prognosis adalah langkah memprediksi kemungkinan yang akan terjadi
apabila siswa yang mempunyai masalah segera diberi bantuan dan apabila tidak
segera diberi bantuan. Alternatif
bantuan yang diberikan adalah Bimbingan Konseling (BK) dan hal-hal yang
disepakati bersama dengan siswa. Adapun prediksi terhadap konseli adalah sebagai berikut.
1. Apabila konseli tidak segera
diberi bantuan, maka:
a. Prestasi belajar konseli akan semakin menurun
b. Dimungkinkan konseli akan tinggal kelas
c. Konseli tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar
d. Konseli akan semakin kesulitan dalam
bersosialisasi dengan teman-temannya.
2. Apabila masalah konseli dapat segera
diatasi, maka:
a.
Pestasi konseli akan lebih membaik
b.
Konseli akan
lebih berkonsentrasi dalam belajar
c.
Konseli
akan mudah bersosialisasi dengan teman-temannya
3.
Rencana bantuan
Rencana bantuan yang akan diberikan kepada konseli adalah sebagai berikut.
a. Koseling:
·
Memberikan motivasi kepada konseli untuk lebih rajin
belajar untuk dapat meningkatkan prestasinya dan untuk menyukai pelajaran
Akuntansi karena merupakan kompetensi kejuruan yang harus dikuasainya.
·
Menyarankan
konseli untuk sering melakukan belajar kelompok dengan teman-temannya agar
dapat saling bertanya jika ada yang tidak dimengerti.
b. Membantu konseli membuat jadwal belajar
yang baik.
c. Memberikan pengertian pada teman-temannya agar
dapat saling menghargai dan menyayangi dalam satu kelas sehingga tidak ada yang
saling menjahili.
d. Memberikan buku referensi kepada konseli
agar konseli dapat mendapatkan materi
tambahan dan tidak
ketinggalan dengan teman-temannya.
e. Mengikutkan konseli dalam kegiatan tambahan
belajar di luar sekolah agar prestasinya dapat meningkat.
D. Treatment (Pemberian Bantuan)
Tahap pemberian bantuan ini merupakan langkah
lanjutan setelah melakukan prognosis. Tujuan dari tahap pemberian bantuan ini
adalah untuk memberikan bantuan kepada konseli agar dapat menyelesaikan masalah kesaulitan belajar sehingga dapat
mencapai hasil yang optimal dan penyesuaian yang baik.
Berdasarkan apa yang telah dijelaskan dalam
diagnosis terdapat masalah yang telah dihadapi oleh konseli diantaranya adalah kurangnya motivasi dan prestasi belajar serta masalah pergaulan dengan teman-temannya. Dengan adanya data seperti itu praktikan
perlu memberikan bantuan yang berupa bimbingan dalam belajar dan
dorongan semangat untuk meningkatkan motivasi belajar konseli.
Pemberian bantuan yang telah dilaksanakan adalah
sebagai berikut:
1. Konseling:
·
Memberikan motivasi kepada konseli untuk lebih rajin
belajar.
Untuk dapat meningkatkan prestasinya, konseli
diberikan arahan agar selalu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru
dan mempelajari materi-materi pelajaran. Selain itu konseli diberikan arahan
untuk menyukai pelajaran Akuntansi karena merupakan kompetensi kejuruan yang
harus dikuasainya.
·
Menyarankan
konseli untuk sering melakukan belajar kelompok.
Dengan adanya belajar kelompok dengan
teman-temannya diharapkan mereka dapat saling bertanya jika ada yang tidak
dimengerti, sehingga mereka bisa saling bantu-membantu dalam belajar.
2. Membantu konseli membuat jadwal belajar
yang baik.
Konseli dibantu dalam membuat jadwal belajar agar
waktu luang di rumah dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar, sehingga
konseli dapat mengurangi kebiasaan
menonton televisi.
3. Memberikan pengertian pada teman-temannya agar
dapat saling menghargai dan menyayangi dalam satu kelas sehingga tidak ada yang
saling menjahili. Hal ini diajarkan saat proses belajar mengajar di kelas,
dengan pemberian pengertian tersebut diharapkan kelas bisa lebih kompak dan
saling tolong-menolong ketika ada kesulitan dalam belajar maupun hal yang lain.
4. Memberikan buku referensi kepada konseli.
Dengan pemberian buku
referensi, konseli dapat mendapatkan materi tambahan yang bersumber dari
buku lain. Sehingga diharapkan konseli dapat mempelajari materi yang belum
dimengerti dari referensi tersebut dan diharapkan konseli lebih rajin dalam
belajar. Dalam hal ini konseli diberikan buku akuntansi dan matematika, yang
merupakan mata pelajaran yang tidak disukainya.
Sedangkan pemberian
bantuan yang belum dilaksanakan adalah:
·
Mengikutkan
konseli dalam kegiatan tambahan belajar di luar sekolah.
Misalnya, dengan mengikutkan
konseli pada suatu lembaga bimbingan belajar, sehingga konseli mendapatkan
tambahan pembelajaran. Dengan adanya tambahan belajar tersebut, diharapkan
prestasi konseli dapat meningkat.
E. Follow Up
Follow up adalah tahapan akhir dalam layanan bimbingan siswa yang bertujuan
untuk mengetahui perkembangan konseli setelah diberi bantuan. Kegiatan ini juga
sebagai alat ukur keberhasilan bantuan yang diberikan terhadap perkembangan
perilaku konseli. Follow up dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Memantau perkembangan tingkah laku konseli untuk
mengetahui sampai sejauh mana layanan bimbingan dapat memperbaiki kondisi
konseli.
2. Menganalisis data nilai pelajaran konseli apakah
ada kemajuan sebelum dan sesudah diberikan layanan bimbingan.
3. Memonitor atau mengawasi perkembangan konseli
secara terus menerus baik di dalam maupun di luar kelas.
Karena
keterbatasan waktu yang dimiliki praktikan dalam memberikan layanan bimbingan,
maka selanjutnya praktikan menyerahkan sepenuhnya pengawasan dan pengarahan
terhadap konseli kepada guru BK, wali kelas dan guru bidang studi.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
layanan bimbingan siswa yang dilaksanakan, maka dapat menarik kesimpulan
sebagai berikut:
a.
Layanan bimbingan
sangat penting artinya bagi siswa yang mengalami masalah, terutama masalah
dalam hal belajar.
b.
Berdasarkan
data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, analisis dokumen berupa
angket, problem
check list, bisa diketahui bahwa konseli
kurang menyukai pelajaran
akuntansi yang merupakan kompetensi kejuruan yang harus dikuasainya, prestasi
konseli kurang baik dan sosialisasi dengan temannya kurang.
c.
Solusi
yang ditawarkan kepada siswa adalah memberikan motivasi belajar kepada konseli, memberikan referensi buku sebagai tambahan materi, memberikan
pengarahan kepada konseli untuk lebih menyukai pelajaran akuntansi
dan memberikan motivasi kepada konseli
untuk lebih bisa berteman baik dengan teman-teman sekelasnya.
B.
Saran
Dalam
mengatasi kesulitan belajar siswa, dibutuhkan kerjasama antara siswa, orang
tua, dan pihak sekolah. Saran-saran yang dapat
diberikan dalam upaya perbaikan dan pemecahan masalah yang dihadapi oleh
konseli antara lain:
·
Konseli harus
memiliki semangat dan motivasi yang tinggi untuk belajar, sehingga diharapkan
prestasi belajarnya akan meningkat. Selain itu konseli harus dapat
bersosialisasi dengan baik sehingga ia akan merasa nyaman dengan teman-teman di
kelas.
·
Orang tua juga
berperan penting dalam pendidikan anak, orang tua harus selalu mengawasi,
membimbing dan memotivasi anaknya agar anak merasa diperhatikan sehingga
semangatnya belajar dapat meningkat.
·
Guru pengajar
bidang studi sebaiknya menggunakan model pembelajaran
yang dapat menciptakan suasana kelas yang baik agar siswa senantiasa merasa
nyaman dan tenang dalam mengikuti pelajaran.
·
Setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda-beda sehingga diharapkan agar guru bisa memberikan pelayanan inividu sesuai kemampuannya.
·
Guru BK yang
merupakan konselor siswa disekolah juga turut andil dalam membimbing siswa agar
siswa tidak melakukan hal-hal yang dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar
disekolah. Siswa juga perlu diberikan motivasi-motivasi untuk mendorongnya
dalam meningkatkan prestasi belajarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati dan
Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta: PT Rineka Cipta
Djumhur. 1975. Bimbingan dan Konseling.
Bandung : Angkasa Bandung
Endang, W.P. 1993. Dasar-dasar Penyelengaraan Bimbingan dan Konseling di
Sekolah. Malang: IKIP MALANG
Hamalik, Oemar. 2004. Psikologi
Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Hayinah. 1992/ 1993. Masalah Belajar dan Bimbingan. Malang: OPF IKIP Malang.
Sukardi, Dewa Ketut. 2000. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
UPT PPL Universitas Negeri Malang. 2012. Buku Petunjuk Pelaksanaan
Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Keguruan Universitas Negeri Malang.
Malang: UPT PPL Universitas Negeri Malang
Winkel, W. S. 1997. Bimbingan dan Konseling di
Institut Pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia
Widiarsarana Indonesia.
Lampiran 1: Problem Check List
|
CHECKLIST
TENTANG PROBLEM SISWA
NAMA : Sandara (fiktif)
KELAS :
X Akuntansi Th 2012/2013
I.
KESEHATAN
1. Saya sering sakit waktu SD/SLTP
2.
Jantung saya sering merasa
berdebar
3.
Kesehatan sering terganggu
4. Sering merasa lelah tak bersemangat
5.
Sering sukar tidur
6. Sering merasa pening
7. Kadang-kadang merasa
mengantuk
8.
Merasa kurang bergembira karena
cacat
9.
Kurang makanan yang bergizi
10.
Tidak cukup latihan jasmani
11.
Pernah menjadi bingung karena
sakit
12.
Pernah di operasi
13.
Lahir sebelum waktunya
(prematur)
14.
Lahir melalui operasi
15.
Pernah mengalami kecelakaan
II.
RUMAH DAN
KELUARGA
1. Saudara saya banyak
2. Saya tidak tinggal dengan
orang tua
3. Di rumah merasa tidak
kerasan
4. Jarang bergembira
5. Di rumah hampir tidak ada
waktu untuk diri sendiri
6. Tidak/kurang erat dengan
orang tua
7. Orang tua kurang
memperhatikan saya
8. Sukar menyesuaikan diri
dengan orang tua
9. Kurang senang dengan
tingkah laku orang di rumah
10. Ayah Ibu sering bertengkar
sehingga tidak tentram
11. Orang tu sering menekan dan keras
12.
Saya dibiasakan manja
13. Saya tidak berayah/beribu
14. Orang tua saya sering pergi
15. Saya
anak sulung/ bungsu/ tunggal
III.
KEADAAN KEHIDUPAN
1. Uang saku saya tidak
mencukupi
2. Tidak pernah mendapatkan
uang saku
3. Biaya sekolah selalu kurang
4.
Penghasilan orang tua saya kurang
5. Ibu/Kakak membantu
mencari tambahan
6. Keperluan sekolah saya
tidak terpenuhi
7. Saya terpaksa ikut bekerja
mencari nafkah
8.
Terpaksa sering menunggak uang sekolah
9. Tamat
SMK bekerja
10.
Keluarga kurang saling tolong-menolong
11.
Ayah dan Ibu tidak hidup bersama
12.
Keluarga saya hidup berantakan
13.
Saya membiayai sekolah sendiri
14.
Saya tidak puas dengan keadaan saya sekarang
15.
Saya ikut orang lain karena orang tua tidak mampu
IV. AGAMA DAN MORAL
1.
Tidak dapat bersungguh-sungguh dalam menerima pelajaran agama
2.
Kadang-kadang timbul keinginan
untuk pindah agama lain
3.
Tidak dapat bersungguh-sunggh dalam menjalankan ibadah
4.
Sering berdusta
5.
Sering mengingkari janji
6.
Sering tidak sportif
7.
Sering tidak mampu mengakui kesalahan
8. Sering
timbul sifat iri hati
9.
Kurang dapat bertoleransi dengan agama lain
10.
Suka mempermainkan orang lain
11.
Kurang merasa iba terhadap penderitaan orang lain
12.
Kurang ada rasa imbang
13.
Sering lupa mengembalikan milik orang lain
14.
Kurang mempunyai rasa hormat terhadap wanita/orang lain
15.
Ada dorongan merasa senang menceritakan hal-hal yang menjurus ke porno
V.
HUBUNGAN SOSIAL
1. Tidak
senang bermain-main ke rumah teman
2.
Sering gagal dalam mencari teman
3. Marasa
tidak disenangi teman
4.
Enggan bergaul dengan teman
5.
Merasa rendah diri
6. Bersifat
pemalu
7.
Mudah tersinggung
8.
Sering ingin marah
9.
Tidak dapat menerima kritikan orang lain
10. Kurang
dapat mengeluarkan isi hati
11.
Dalam bergaul ingin memimpin
12.
Tidak dapat mengemukakan pendapat
13.
Tidak pernah diajak teman bermain bersama
14.
Sukar menerima kekalahan
VI. PENYESUAIAN
TERHADAP SEKOLAH
1.
Sering merasa malas masuk sekolah
2.
Sering meninggalkan pelajaran yang tidak saya sukai/takuti
3.
Saya sering membolos
4.
Saya ingin pindah sekolah
5. Di
dalam kelas saya sering melamun
6.
Tata tertib sekolah terlalu menekan
7.
Sering timbul dorongan untuk
melihat pekerjaan teman
8. Sering
merasa cemas bila ulangan
9.
Tidak senang dengan salah satu guru
10.
Merasa fasilitas pembelajaran di Sekolah kurang memadahi/lengkap
11. Merasa
bahan pelajaran sukar dipelajari
12.
Ingin menjadi pengurus OSIS tetapi tetapi tidak ada yang memilih
13. Ada
beberapa pelajaran yang tidak saya senangi
14.
Pelajaran di sekolah terlalu membosankan
15.
Merasa tak mampu mengikuti PRAKERIN
VII. KEBIASAAN BELAJAR
1.
Belajar kalau ada ulangan saja
2. Belajar
tidak teratur waktunya
3.
Belajar pada malam/siang hari
4. Sukar
memusatkan perhatian waktu belajar
5.
Sulit mengingat pelajaran yang telah dihafal
6.
Sulit untuk memulai belajar
7.
Sering merasa malas dalam belajar
8. Kalau
belajar sering mengantuk
9. Sering
terganggu oleh saudara dalam belajar
10.
Belajar dengan cara menghafal
11. Belajar
dengan cara membayangkan
12. Belajar dengan cara membuat
singkatan
13. Kurang ada
semangat dalam belajar
14. Tidak dapat
belajar secara efektif
15. Sering menyalin pekerjaan
teman
VIII. MASA DEPAN
BERHUBUNGAN DENGAN KARIER
1.
Cita-cita pendidikan tidak tercapai
2.
Merasa pesimis dalam mencari pekerjaan
3.
Khawatir nantinya tidak dapat kerja/berkarier
4.
Sulit memilih macam pekerjaan
5.
Sulit menentukan kelanjutan yang sesuai
6.
Ingin melanjutkan kependidikan tinggi tetapi orang tua tidak mampu
7.
Saya ingin
mengetahui bakat
8.
Cita-cita saya tidak sesuai dengan kemampuan
9.
Tidak tahu apa yang saya perbuat setelah lulus nanti
10.
Bingung dalam menentukan sikap
11.
Merasa canggung bila bekerja
12.
Merasa takut bekerja karena merasa bekal kurang
13. Jurusan
saya sekarang tidak sesuai
14. Sering
berdebar bila mengingat masa depan
15. Ayah/Ibu sangat keras dan berperan dalam mengarahkan cita-cita
IX. PENGGUNAAN WAKTU
1. Sebagian besar waktu saya
pakai kerja
2. Banyak waktu saya untuk
membantu orang tua
3.
Saya tidak dapat memanfaatkan waktu
luang
4.
Saya tidak dapat membagi waktu
5. Waktu saya banyak saya
pakai untuk mencari nafkah
6. Waktu saya banyak saya
pakai untuk pengembangan bakat
7.
Waktu saya banyak saya pakai
untuk menuruti keinginan pribadi
8. Waktu saya banyak saya
pakai untuk membaca komik/majalah
9. Tiap sore waktu saya banyak
saya pakai main
10. Waktu saya banyak
terhabiskan dengan teman
11. Waktu saya banyak untuk
ekstra kulikuler
12. Saya bingung mengisi waktu
luang
13. Banyak waktu saya untuk
rekreasi
14. Saya tidak senang rekreasi
15. Lebih
senang dirumah dari pada kegiatan menyalurkan hobi
X.
BERHUBUNGAN DENGAN KURIKULUM
1.
Pelajaran sekolah terlalu mudah
2.
Ada susunan pelajaran pada hari tertentu yang membosankan
3.
Sulit mendapatkan buku pelajaran
4.
Sulit untuk mamahami buku paket
5.
Sering mendapatkan nilai rendah
6.
Lebih senang pulang sore
7.
Lebih senang mengikuti banyak ekstra
8.
Tidak senang belajar bersama
9.
Sering mendapatkan kesukaran
menyelesaikan tugas-tugas
10.
Sering khawatir kalau mendapat
giliran
11. Pelajaran di sekolah
terlalu rendah
12.
Pelajaran yang hitungan sangat sulit
bagi saya
13. Pelajaran hafalan tidak
saya senangi
14. Merasa segan membaca buku
pelajaran
15. Merasa bosan karena banyak
buku yang harus dipelajari
XI. MASALAH ASMARA
1.
Memikirkan masalah cinta adalah soal yang terlalu pagi buat saya
2.
Pacaran adalah bagian dari hidup saya
3.
Merasa tabu membicarakan soal cinta
4. Pacaran
dalam masa sekolah dapat menjadi dorongan
5.
Pacaran dalam masa sekolah
dapat menjadi hambatan
6. Saya
mulai tertarik pada salah satu teman
7. Saya
mulai tertarik pada lawan jenis
8.
Saya tertarik pada jenis yang sama
9. Saya
pernah patah hati
10.
Orang tua tidak setuju dengan pilihan saya
11.
Mudah terpengaruh dengan bacaan/adegan cinta
12.
Sering membayangkan adegan cinta
13.
Gemar membaca/menonton film adegan cinta
14.
Terpaksa pacaran dengan sembunyi-sembunyi karena orang tua menolak
15.
Merasa jijik apabila membicarakan soal cinta
ANGKET
STUDI KASUS
Lampiran 2: Angket Studi Kasus
|
Nama Siswa :
Sandara (fiktif)
Tempat tanggal lahir : Malang, 01 Januari 1996 (fiktif)
Alamat : Jl. MyCastle No. 101 Malang (fiktif)
Nama Ayah : Duliam (Alm) (fiktif)
Nama Ibu : Minah (fiktif)
Pekerjaan Ibu : Pedagang
Alamat Orang tua : Jl. MyCastle No. 101 Malang (fiktif)
Nama Wali (bagi yang
dibiayai wali) : Hubungan
Ppekerjaan :
Alamat Wali :
Pekerjaan :
Alamat Wali :
Anak ke : 1 dari
3 bersaudara
Memiliki saudara tiri/angkat: ya / tidak
Penyakit yang sering
dirasakan sekarang ini ialah: kepalas pusinh
Riwayat Pendidikan :
Ø SD : MI Attoroqie Lulus
Tahun 2009
Ø SMP : MTs Nurul Ulum Lulus Tahun 2012
Ekstrakulikuler yang diikuti:...... BDI ..................seminggu....
2 ....kali
.................................seminggu............kali
Kegiatan ekstra di rumah :
........ Mengaji
.........seminggu.... 7 ....kali
.................................seminggu............kali
Keterangan Khusus
Belajar di rumah dilakukan setiap harinya jam 06.00 s/d 09.30 dan jam…...s/d........
Apakah ada ruangan tersendiri untuk belajar
di rumah (tidak ada) dengan penerangan lampu - Watt
Kalau ada kesulitan belajar dibahas
dengan teman
Menurut anda bagaimana perhatian orang tua
terhadap belajar Anda orang tua cukup perhatian
Kalau diminta keperluan sekolah anda
bagaimana reaksi dari orang tua cepat/menunda/masa bodoh
Teman dekat Anda di
sekolah :Nama Minzy kelas X Ak alasan
dekat teman
SD
Teman dekat Anda di
sekolah :Nama............sekolah/bekerja...................................
Bila Anda memiliki
kesulitan dibicarakan dengan kakak sepupu
Alasannya: mengerti/care
Dari tempat tinggal ke
sekolah kira-kira memerlukan waktu 30
Menit
Sarana transportai yang
digunakan ke sekolah Angkot
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................. i
KATA PENGANTAR ...................................................................................... ii
DAFTAR ISI...................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang............................................................................... 1
B.
Pengertian
Layanan Bimbingan..................................................... 3
C.
Tujuan
Layanan Bimbingan .......................................................... 5
D.
Pentingnya
Layanan Bimbingan.................................................... 6
E.
Metode
Pengumpulan Data .......................................................... 8
F.
Kerahasiaan/Konfidensialitas
....................................................... 9
BAB II LAYANAN BIMBINGAN SISWA
A.
Identifikasi
Masalah ..................................................................... 10
B.
Diagnosis
...................................................................................... 16
C.
Prognosis
....................................................................................... 18
D.
Treatment (Pemberian Bantuan).................................................... 20
E.
Follow Up...................................................................................... 22
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
................................................................................... 23
B.
Saran ............................................................................................. 24
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 25
LAMPIRAN....................................................................................................... 26
tata annya berantakan
BalasHapuslumayan bermanfaat, saya ambil beberapa bagian buat referensi.
BalasHapusterima kasih.
Terima kasih sudah berbagi, banyak sekali manfaat yang saya peroleh dari artikel yang telah Anda share, tetap semangat dalam menulis dan jangan lupa kunjungan baliknya:
BalasHapusBagaimana tips dan trik mengerjakan Soal Psikotes dengan mudah seperti Contoh Soal Psikotes Gambar dan Soal Psikotes Pauli. Contoh soal tersebut berdasarkan trend Contoh Soal Psikotes yang beredar di Indonesia.
Sebelum mengikuti psikotes bisa mencoba Tes IQ Online ini utk mengetahui berapa nilai IQ anda.
Ada juga trik membuat Contoh CV Yang Baik agar cepat diterima di perusahaan.
Bagi pasangan muda yang ingin cepat memiliki momongan tak ada salahnya mencoba tips Cara Cepat Hamil dari dr. Rosdiana Ramli SpOG yang telah menolong pasangan muda agar segera memperoleh anak.
Bagus cukup Manfaat,tapi ko daftar isinya di belakang yaa? terus kalau conto kasus untuk klien yang terjangkita narkoba?
BalasHapus