2.1 PUNYUSUNAN INSTRUMEN TES KOGNITIF
Tes
kognitif terdiri dari tes objektif dan tes
esai. Baik tes objektif maupun tes esai yang berbentuk tertulis dan bermanfaat
untuk mengukur semua tujuan pembelajaran. Kedua bentuk tes tersebut dapat
mendorong siswa untuk mempelajari konsep dasar dan untuk mencari solusi
permasalahan. Di samping itu, bentuk tes tersebut dapat menghasilkan skor yang
nilainya tergantung pada objektivitas dan keterhandalan (reliability)
tes tersebut (Gronlund, 1996).
Dalam hubungan dengan satuan
pelajaran, ranah kognitif memegang peranan paling utama. Tujuan pengajaran di
SD, SMP, dan SMA pada umumnya adalah peningkatan kemampuan siswa dalam aspek
kognitif.
Aspek kognitif dibedakan atas enam
jenjang menurut taksonomi Bloom (1995) yang diurutkan secara hierarki piramida.
Berikut klasifikasi menurut Bloom:
1.
Pengetahuan
(Knowledge)
Pengetahuan adalah aspek yang
paling dasar dalam taksonomi Bloom, seringkali
disebut aspek ingatan (recall). Dalam jenjang kemampuan ini seseorang
dituntut untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, fakta atau
istilah-istilah, tanpa harus mengerti atau menggunakannya.
Contoh soal yang mengukur
pengetahuan (kemampuan ingatan) adalah sebagai berikut:
1. Orang
pertama yang menemukan telepon adalah.
a. Bell
b. Morse
c. Edison
d. Marconi
Kunci
: a
2. B-S
Prinsip kapilarisasi menjelaskan tentang cairan yang permukaannya lebih tingi
dalam pipa saluran yang lebih halus.
Kunci
: B
Pengetahuan atau kemampuan
mengingat ini dapat dirinci sebagai berikut:
a. Terminologi
Kemampuan
paling besar adalah mengetahui arti tiap kata. Anak selalu bertanya kepada
orang tuanya arti kata-kata yang ditemuinya dalam buku atau dalam percakapan
dengan teman-temannya.
b. Fakta-fakta
Lepas (Isolated Facts)
Setelah
memahami prinsip-prinsip atau konsep-konsep bahasa, anak menanjak pada
pengetahuan akan fakta-fakta lepas. Fakta yang dimaksud adalah fakta yang
diketahuinya tetap berdiri sendiri tanpa dihubungkan dengan fakta atau gejala
lainnya. Misalnya, pengetahuan tentang tanggal dan tempat peristiwa-peristiwa
bersejarah, dan nama-nama tokoh.
c. Cara-cara
Mempelajari Fakta
Cara
mempelajarinya antara lain dengan jalan mempertimbangkan, mengkritik atau
mengorganisasikan fakta-fakta lepas tersebut.
Konvensi
Mempelajari
berbagai peraturan, baik peraturan pemerintah, agama, peraturan khusus dalam
mansyarakat, maupun peraturan yang dikenal sebagai etik pergaulan
Trend dan urut-urutan perkembangan
Anak
dituntut mengetahui proses, arah, serta gerakan fenomena (kejadian) dalam
hubungan dengan waktu.
Kriteria
Siswa
dapat menyebut standar untuk mengevaluasi atau mengukur sesuatu tanpa sampai
pada hasil evaluasi atau pengukuran dengan berpedoman standar tersebut.
Metodologi
Siswa
diminta mengetahui macam-macam pendekatan yang dipakai untuk
mempelajari
dirinya dan lingkungan hidup.
d. Universal
dan Abstraksi
Pengetahuan
akan bagan-bagan dan pola-pola utama yang dipakai untuk mengorganisasikan
fenomena-fenomena. Kelompok ini adalah sebagai berikut:
Prinsip-prinsip dan generalisasi
Siswa
diharuskan menguasai prinsip-prinsip atau generalisasi tertentu yang
berhubungan dengan bahan pengetahuan lain.
Teori
Teori
merupakan perumusan-perumusan yang paling abstrak, dan dapat menunjukkan saling
berhubungan dan organisasi dari hal-hal yang khusus.
2.
Pemahaman
(Comprehension)
Kemampuan pemahaman umumnya
mendapat penekanan dalam proses belajar-mengajar. Siswa dituntut memahami atau
mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan
dapat memanfaatkan isinya tanpa keharusan menghubungkannya dengan hal-hal lain.
Contoh soal untuk mengukur
pemahaman (comprehension) adalah sebagai berikut:
Harga akan naik apabila…
a. Penawaran
tetap, permintaan meningkat
b. Penawaran
meningkat, permintaan tetap
c. Penawaran
dan permintaan tetap
d. Penawaran
dan permintaan meningkat
Kunci
: a
3.
Penerapan
(Application)
Dalam jenjang kemampuan ini,
dituntut kesanggupan ide-ide umum, tata cara, ataupun metode-metode,
prinsip-prinsip, serta teori-teori dalam situasi baru dan konkret. Misalnya
mengenai penerapan suatu rumus, suatu contoh soal yang diapakai untuk penerapan
rumus, jangan disajikan lagi pada saat tes atau ulangan. Jika hal ini terjadi,
maka siswa dapat menjawab hanya berdasarkan ingatan, bukan melalui penerapan
kaidah atau rumus tertentu.
Pengkuran kemampuan ini umumnya
menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving). Melalui pendekatan
ini, siswa dihadapkan dengan suatu masalah, baik riil maupun hipotesis. Bentuk
soal yang sesuai untuk mengukur aspek penerapan antara lain pilihan ganda dan
uraian.
4.
Analisis
(Analysis)
Dalam jenjang kemampuan ini
sesorang dituntut untuk dapat menguraikan suatu situasi atau keadaaan tertentu
ke dalam unsur-unsur atau komponen komponen pembentukannya.
Kemampuan analisis diklasifikasikan
atas 3 kelompok, adalah sebagai berikut:
a. Analisis
unsur
b. Analisis
hubungan
c. Analisis
prinsip-prinsip yang terorganisasi
Contoh
soal analisis:
1. Percobaan
manakah berikut ini, yang mendukung pernyataan bahwa sifat cahaya adalah
mempunyai panjang gelombang tertentu..
a. Cahaya
dapat dipantulkan oleh suatu cermin
b. Berkas
cahaya akan tersebar bila melalui lubang kecil
c. Berkas
cahaya dapat diuraikan menjadi sejumlah warna cahaya tertentu melalui pembiasan
oleh kaca prisma
d. Cahaya
akan difokuskan oleh suatu lensa
Kunci
: c
Jawaban
atas soal tersebut hanya dapat diperoleh melalui analisis sifat-sifat cahaya
yang didukung oleh suatu percobaan.
2. Hubungan
telur dengan hewan sama dengan hubugan biji dengan…
a. Pohon
b. Tumbuhan
c. Buah
d. Bunga
Kunci
: b
Pemecahan
soal seperti ini membutuhkan kemampuan analisis relevansi hubungan antara telur
dengan hewan untuk menyimpulkan hubungan antara biji dengan tumbuhan.
5.
Sintesis
(Synthesis)
Pada jenjang ini, seseorang
dituntut untuk dapat menghasilkan sesuatu yang baru dengan jalan menggabungkan
berbagai faktor yang ada. Hasil yang diperoleh dari penggabungan ini dapat
diperoleh:
a. Tulisan
Contoh
: kekalahan Frank Bruno dari Mike Tyson tanggal 25/26 Februari 1989.
Dari
hal-hal yang sifatnya sporadic, tidak sistematis ataupun sistematis, kita coba
membuat kesimpulan melalui suatu analisis.
b. Rencana
atau mekanisme
Dengan
sintesis dapat pula dibuat suatu rencana atau mekanisme kerja. Semakin baik
sintesis itu dibuat, maka akan semakin baik pula rencana atau mekanisme kerja
itu.
6.
Penilaian
(Evaluation)
Dalam kemampuan ini seseorang
dituntut untuk dapat mengevaluasi situasi, keadaan, pernyataan, atau konsep
berdasarkan suatu kriteria tertentu.
Kriteria untuk mengevaluasi dapat
bersifat intern dan ekstern. Kriteria intern adalah yang berasal dari situasi atau
keadaan yang dievaluasi itu sendiri, sedangkan criteria ekstern adalah yang
berasal dari luar situasi atau keadaan yang dinilai.
Contoh dalam kemampuan penilaian
ini adalah sebagai berikut:
Berikut ini terdapat beberapa
tujuan yang harus dicapai aleh mahasiswa D3 Matematika dan Biologi suatu
universitas di Indonesia. Tentukan peringkatnya berdasarkan prioritas
kepentingannya.
1. Mahasiswa
D3 Biologi dan Matematika dapat mengembangkan keterampilannya dalam hal
konstruksi tes.
2. Mahasiswa
D3 Biologi dan Matematika dapat menguasai konsep-konsep statistik.
3. Mahasiswa
D3Biologi dan Matematika dapat memilih bentuk soal yang sesuai untuk mengukur
pencapaian TIK.
Urutan ideal : 3,1,2.
Adapun kata kerja yang digunakan
dalam domain kognitif dideskripsikan :
|
No
|
Jenis Hasil Belajar
|
Indikator-indikator
|
Cara Pengungkapan
|
|
1.
|
Pengetahuan
|
Dapat menyebutkan/ menunjukkan lagi.
|
Pertanyaan/tugas/tes
|
|
2.
|
Pemahaman
|
Dapat menjelaskan/ mendefinisikan.
|
Pertanyaan/soal/tugas
|
|
3.
|
Penerapan
|
Dapat memberi contoh/ memecahkan
masalah.
|
Tugas/persoalan/tes
|
|
4.
|
Analisis
|
Dapat menguraikan/ mengklasifikasikan
|
Tugas/menganalisis masalah
|
|
5.
|
Sintesis
|
Dapat menyimpulkan kembali,
menggeneralisasikan
|
Tugas/persoalan
|
Keenam jenis
perilaku ini bersifat runtut. Sebagai contoh, pengetahuan termasuk
perilaku yang paling rendah, sedangkan evaluasi tergolong perilaku
tertinggi. Perlu Anda ketahui bahwa perilaku yang gradasinya paling tinggi .
menurut Bloom selalu diawali dari yang terendah lebih dahulu baru ke yang lebih
tinggi.
Langkah-langkah Penyusunan Tes Kognitif
1.
Menentukan Standar
Kompetensi
Standar
kompetensi (SK) merupakan kemampuan dasar yang merujuk kepada klasifikasi
kemampuan minimal peserta didik pada aspek-aspek kemampuan dalam pengetahuan,
afektif dan keterampilan dari suatu program pendidikan tertentu, sebagaimana
terdapat dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Bentuk rumusan SK
dengan ketentuan sebagai berikut:
-
Komprehensif dengan
cakupan yang luas
-
Menggunakan kata
kerja dan objek/materi
-
Mencakup
aspek-aspek kognitif, afektif atau psikomotor,
-
Menunjang
tercapainya kompetensi yang harus dimiliki siswa.
2.
Menentukan Kompetensi
Dasar
Kompetensi
dasar (KD) adalah kualifikasi atau kemampuan dasar yang dimiliki oleh seorang
siswa sesuai dengan ketentuan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan
setelah mengikuti kesatuan materi ajar. Kompetensi dasar merupakan penjabaran
dari standar kompetensi, berisikan deskripsi dari isi tujuan yang terkandung di
dalamnya dan sebagai acuan pencapaian tujuan kegiatan pembelajaran dari program
tertentu.
3.
Menentukan
Indikator-indikator sesuai SK dan KD
Indikator
merupakan penjabaran dari kompetensi dasar (tujuan pembelajaran secara
operasional dan spesifik) berkaitan dengan topik pembahasan (materi) dari suatu
program pembelajaran tertentu. Indikator pencapaian KD adalah ciri-ciri khusus
atau hal-hal yang spesifik dari kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa
setelah mengikuti proses pembelajaran yang terjadi di sekolah.
4.
Membuat Tabel
Spesifikasi Tes (Kisi-kisi) Pada Domaian Kognitif
Sebelum
pembuat tes menuliskan butir soal, terlebih dahulu disusun tabel spesifikasi
atau kisi-kisi. Kisi-kisi adalah rancangan yang berisikan tujuan-tujuan khusus
atau indikaor-indikator dan perilaku-perilaku khusus yang dijadikan dasar
penyususnan butir tes dalam suatu perangkat alat ukur. Tujan penyusunan
kisi-kisi ini adalah sebagai petunjuk atau panduan yang efektif dalam
merumuskanbutir tes stepat mungkin dengan ruang lingkup setiap aspek dan
masing-masing bagian.
5.
Membuat Butir Tes sesuai Dimensi dan Indikator
6.
Melakukan Uji Coba
Butir Tes
7.
Menguji Persyaratan Tes
dan Analisis Butir
Untuk keperluan tindak lanjut
pembelajaran, hasil pengukuran harus dianalisis (sistem pengujian
berkelanjutan). Analisis
dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan dasar
(artinya juga: indikator) mana saja yang sudah dikuasai siswa dan mana
yang belum. Berdasarkan
hasil telaah itu dapat ditentukan tindak lanjut yang perlu diambil: perlu
program remidial, penguatan/pengayaan, atau yang lain (akselerasi). Sebuah indikator dan KD
dinyatakan dikuasai oleh siswa jika tingkat penguasaannya minimal 75%.
8.
Menentukan Skor untuk
Tiap Butir
9.
Mengolah Skor Tes
dengan Menggunakan Interpretasi Norma atau Patokan dalam menentukan Nilai
Peserta Didik.
Pengembangan Instrumen Kognitif Mencakup Tes Objektif, Tes Nonobjektif, Tes Unjuk Kerja, dan Portofolio.
Ø
Tes objektif
Ø Pilihan ganda
Pedoman utama dalam pembuatan soal bentuk pilihan ganda adalah:
Pedoman utama dalam pembuatan soal bentuk pilihan ganda adalah:
- pokok soal harus jelas
- pilihan jawaban homogen dalam arti
isi
- panjang kalimat pilihan jawaban
relatif sama
- tidak ada petunjuk jawaban benar
- menghindari penggunaan pilihan
jawaban: semua benar atau semua salah
- pilihan jawaban angka diurutkan
- semua pilihan jawaban logis
- tidak menggunakan bentuk negatif
ganda
- kalimat yang digunakan sesuai dengan
tingkat perkembangan peserta tes
- menggunakan bahasa Indonesia yang
baku
- letak pilihan jawaban benar
ditentukan secara acak
Ø Uraian objektif
Bentuk soal uraian objektif sangat tepat digunakan untuk bidang Matematika dan IPA, karena kunci jawabannya hanya satu. Pengerjaan soal ini melalui suatu prosedur atau langkah-langkah tertentu. Setiap langkah ada skornya. Objektif di sini dalam arti apabila pekerjaan tes diperikasa oleh beberapa guru dalam bidang studi tersebut hasil penyekorannya akan sama. Pertanyaan pada bentuk soal ini di antaranya adalah: hitunglah, tafsirkan, buat simpulan dan sebagainya.
Bentuk soal uraian objektif sangat tepat digunakan untuk bidang Matematika dan IPA, karena kunci jawabannya hanya satu. Pengerjaan soal ini melalui suatu prosedur atau langkah-langkah tertentu. Setiap langkah ada skornya. Objektif di sini dalam arti apabila pekerjaan tes diperikasa oleh beberapa guru dalam bidang studi tersebut hasil penyekorannya akan sama. Pertanyaan pada bentuk soal ini di antaranya adalah: hitunglah, tafsirkan, buat simpulan dan sebagainya.
Ø Menjodohkan
Soal bentuk menjodohkan terdiri atas suatu premis, suatu daftar kemungkinan jawaban dan suatu petunjuk untuk menjodohkan. Masing-masing premis itu dengan satu kemungkinan jawaban. Biasanya nama, tanggal/tahun, istilah, frase, pernyataan, bagian dari diagram, dan yang sejenis digunakan sebagai premis. Hal-hal yang sama dapat pula digunakan sebagai alternatif jawaban. Kaidah pokok penulisan soal jenis ini adalah sebagai berikut:
Soal bentuk menjodohkan terdiri atas suatu premis, suatu daftar kemungkinan jawaban dan suatu petunjuk untuk menjodohkan. Masing-masing premis itu dengan satu kemungkinan jawaban. Biasanya nama, tanggal/tahun, istilah, frase, pernyataan, bagian dari diagram, dan yang sejenis digunakan sebagai premis. Hal-hal yang sama dapat pula digunakan sebagai alternatif jawaban. Kaidah pokok penulisan soal jenis ini adalah sebagai berikut:
- soal harus sesuai dengan indicator
- jumlah alternatif jawaban lebih
banyak daripada premis
- alternatif jawaban harus “nyambung”
atau berhubungan secara logis dengan premisnya
- rumusan kalimat soal harus
komunikatif
- menggunakan bahasa Indonesia yang
baik dan benar
Ø Jawab singkat
Bentuk jawab singkat ditandai dengan adanya tempat kosong yang disediakan bagi peserta tes untuk menuliskan jawabannya sesuai dengan petunjuk. Ada 3 jenis soal bentuk ini yaitu: jenis pertanyaan, melengkapi, dan jenis identifikasi atau asosiasi. Kaidah utama penyusunan soal bentuk jawab singkat ini sebagai berikut:
Bentuk jawab singkat ditandai dengan adanya tempat kosong yang disediakan bagi peserta tes untuk menuliskan jawabannya sesuai dengan petunjuk. Ada 3 jenis soal bentuk ini yaitu: jenis pertanyaan, melengkapi, dan jenis identifikasi atau asosiasi. Kaidah utama penyusunan soal bentuk jawab singkat ini sebagai berikut:
- soal harus sesuai dengan indicator
- jawaban yang benar hanya satu
- rumusan kalimat harus komunikatif
- menggunakan bahasa Indonesia yang
baik dan benar
Ø
Tes non objektif: uraian non objektif
Tes
ini dikatakan nonobjektif karena penilaian dipengaruhi oleh subjektivitas
penilai. Peserta tes dituntut untuk menyampaikan, memilih, menyusun, dan
memadukan gagasan yang telah dimiliki dengan menggunakan kata-katanya sendiri.
Keunggulan tes ini mudah dibuat, dan dapat mengukur tingkat berpikir dari
tingkat rendah sampai tinggi, dari pengetahuan hafalan sampai evaluasi.
Meskipun perlu dihindari pertanyaan yang mengungkap hafalan yang menggunakan
pertanyaan: apa, siapa, di mana.
Kelemahan bentuk tes uraian nonobjektif adalah:
Kelemahan bentuk tes uraian nonobjektif adalah:
·
Penyekoran dipengaruhi oleh subjektivitas penilai
·
Pemeriksaan lembar jawaban memerlukan waktu yang lama
·
Cakupan materi yang diujikan sangat terbatas
·
Ada efek bluffing (gertakan!?)
Untuk
mengatasi kelemahan ini maka perlu diusahakan:
- Jawaban tiap soal tidak panjang,
sehingga dapat mencakup materi yang lebih banyak.
- Waktu pemeriksaan tidak melihat nama
peserta didik
- Memeriksa tiap butir secara
keseluruhan tanpa istirahat.
- Menyiapkan pedoman penyekoran.
Adapun
langkah-langkah menyusun tes nonobjektif adalah:
a)
Menulis soal berdasarkan kisi-kisi pada indicator
b)
Mengedit pertanyaan:
§ Apakah pertanyaan mudah
dimengerti?
§ Data yang digunakan benar?
§ Tata letak secara keseluruhan baik?
§ Pemberian bobot skor sudah
baik/tepat?
§ Kunci jawaban sudah benar?
§ Waktu untuk mengerjakan tes cukup?
Kaidah
penulisan tes nonobjektif adalah sebagai berikut:
a)
Menggunakan kata-kata: mengapa, uraikan, jelaskan,
bandingkan, tafsirkan, hitunglah, buktikan.
b)
Menghindari kata: apa, siapa, bila.
c)
Menggunakan bahasa Indonesia yang baku
d)
Menghindari penggunaan kata-kata yang dapat ditafsirkan
ganda
e)
Membuat petunjuk pengerjaan soal yang jelas
f)
Membuat kunci jawaban
g)
Membuat pedoman penyekoran.
Penyekoran
bentuk tes ini dapat dilakukan secara analitik dan global. Analitik
berarti penyekoran dilakukan secara bertahap sesuai kunci jawaban. Global
artinya dibaca secara keseluruhan untuk mengetahui ide pokok dari jawaban
soal, baru diberi skor.
Ø
Tes unjuk kerja
Penilaian
unjuk kerja sering disebut dengan penilaian autentik atau penilaian
alternatif. Tes unjuk kerja bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan
peserta didik dalam menyelesaikan masalah-masalah kehidupan nyata.
Penilaian unjuk kerja berdasarkan analisis pekerjaan. Hasilnya dapat digunakan
untuk perbaikan proses pembelajaran sehingga peserta didik mencapai tingkat
kemampuan yang diinginkan. Tes unjuk kerja banyak digunakan pada mata
pelajaran yang ada prakteknya.
Bentuk
tes ini digunakan untuk mengukur status peserta didik berdasarkan hasil
kerja dari suatu tugas. Pertanyaan pada tes unjuk kerja berdasarkan pada
tuntutan masyarakat atau lembaga lain yang terkait dengan pengetahuan yang
harus dimiliki peserta didik. Jadi pertanyaannya cenderung pada tingkat
aplikasi suatu prinsip atau konsep pada situasi yang baru. Walaupun uraian
namun batasnya harus jelas, dan ditentukan berdasarkan tuntutan kebutuhan
masyarakat.
Permasalahan
yang diujikan sedapat-dapatnya sama dengan masalah yang ada dalam masyarakat
atau dalam kehidupan nyata. Dan inilah yang menjadi ciri utama perbedaan antara
tes unjuk kerja dengan bentuk yang tradisional.
Ø
Portofolio
Portofolio
adalah kumpulan tugas-tugas peserta dididk. Portofolio merupakan salah satu
bentuk penilaian autentik, yaitu menilai keadaan yang sesungguhnya dari
peserta didik. Portofolio cocok digunakan untuk penilaian di kelas tetapi
tidak cocok untuk penilaian dalam skala yang luas. Hal yang penting pada
penilaian portofolio adalah: mampu mengukur kemampuan membaca dan menulis yang
lebih luas, peserta didik mampu menilai kemajuannya sendiri, mewakili sejumlah
karya seseorang.
Penilaian
portofolio pada dasarnya adalah menilai karya-karya individu untuk suatu mata
pelajaran tertentu. Semua tugas yang dikerjakan peserta didik dikumpulkan pada
akhir suatu program pembelajaran misalnya satu semester, kemudian diadakan
diskusi antara peserta didik dan guru untuk menentukan skornya. Prinsip
penilaian portofolio adalah peserta didik dapat melakukan penilaian sendiri
kemudian hasilnya dibahas. Bentuk ujian cenderung uraian dan tugas-tugas
rumah. Karya yang dinilai meliputi hasil ujian, tugas mengarang atau
mengerjakan soal.
Penilaian
dengan portofolio mempunyai karakteristik tertentu sehingga penggunaannya harus
sesuai dengan tujuan dan substansi yang diukur. Mata pelajaran yang memiliki
banyak tugas dan jumlah peserta didik sedikit, penilaian dengan cara portofolio
lebih cocok.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penilaian portofolio adalah:
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penilaian portofolio adalah:
- Memastikan karya yang dikumpulkan benar-benar karya yang bersangkutan
- Menentukan contoh pekerjaan yang harus dikumpulkan
- Mengumpulkan dan menyimpan hasil karya
- Menentukan kriteria untuk menilai portofolio
- Meminta peserta didik untuk menilai terus-menerus hasil portofolionya
- Merencanakan pertemuan dengan peserta didik yang dinilai
- Mengusahakan dapat melibatkan orangtua dalam menilai portofolio.
daftar pustakanya mana mbak, kok gak dicantumin
BalasHapus