WARALABA
DAN WIRAUSAHAWAN
Waralaba merupakan suatu sistem
distribusi di mana pemilik bisnis yang semi-mandiri (terwaralaba) membayar
iuaran dan royalti kepada induk perusahaan pewaralaba untuk mendapatkan hak
menggunakan merek dagang induk perusahaan, menjual barang atau jasanya, dan
sering kali menggunakan format dan sistem bisnisnya.
Terwaralaba, tidak seperti pemilik
bisnis yang mandiri, tidak memiliki kebebasan untuk mengubah cara-cara
menjalankan bisnis, sebagai contoh mengubah strategi periklanan atau mengubah
liniproduk, tetapi mereka mendapatkan cara-cara kesuksesan yang telah
dibuktikan oleh pewaralaba.
Waralaba didasarkan pada hubungan
terus-menerus antara pewaralaba dan terawalaba. Pewaralaba memberikan layanan
seperti penelitian pasar, sistem bisnis yang telah teruji, nama yang telah
dikenal, dan banyak lagi; sebagai imbalannya, terwaralaba membayar biaya awal
waralaba, dan terus-menerus membayar royalti yang merupakan persentase tertentu
dari penjualan serta setuju menjalankan gerainya sesuai dengan sistem dari
pewaralaba.
1. Jenis-jenis waralaba
Waralaba
nama dagang (tradename franchising)
meliputi suatu merek seperti True Value Hardware atau Western Auto. Disini, terwaralaba
membeli hak untuk memakai nama dari pewaralaba tanpa pembatasan bahwa ia hanya mendistribusikan
produk-produk tertentu dengan nama pewaralaba tersebut. Waralaba distribusi produk (product
distribution franchising), artinya pewaralaba memberikan hak kepada
terwaralaba untuk menjual produk-produk tertentu dengan nama merek dan merek
dagang pewaralaba melalui jaringan yang selektif dan terbatas. Kedua metode
waralaba ini mengizinkan terwaralaba menggunakan menggunakan beberapa identitas induk
perusahaan.
Waralaba
murni (pure franchising) dikenal
juga sebagai waralaba komprehensif (comprehensive franchising) atau waralaba format bisnis (business format franchising), meliputi pemberian format bisnis secara
lengkap kepada terwaralaba termasuk izin menggunakan nama dagang, produk atau
jasa untuk dijual, fisik pabrik, metode pengoperasian, rencana pemasaran,
proses pengendalian kualitas, sistem komunikasi dua arah, dan layanan-layanan
lain yang diperlukan untuk mendukung bisnis. Singkatnya, terwaralaba memiliki
hak untuk sepenuhnya menggunakan semua elemen operasi bisnis terpadu.
2. Keuntungan Membeli Waralaba
Terwaralaba
mendapatkan peluang untuk memiliki bisnis kecil dengan relatif cepat dan karena
menggunakan produk dan nama dagang yang sudah terkenal, suatu waralaba biasanya
mencapai titik impas lebih cepat daripada bisnis mandiri.
Terwaralaba juga memanfaatkan
pengalaman pewaralaba. Pada kenyataanya pengalaman itulah yang dibeli
terwaralaba dari pewaralaba. Dalam perjanjian waralaba, pewaralaba telah
mengatasi rumitnya sistem melalui coba dan gagal (trial and eror), dan terwaralaba memperoleh manfaat dari
pengalaman ini. Terwaralaba telah berpengalaman dan dapat membagikan pengalaman
itu kepada para terwaralaba mengenai rahasia kesuksesan yang mereka temui dalam
industri tersebut. Terwaralaba mengungkapkan bahwa keuntungan waralaba adalah
sebagai berikut:
1.
Dukungan dan pelatihan manajemen, biasanya pewaralaba
memberikan pelatihan manajemen kepada terwaralaba sebelum membuka gerai baru.
Ini dilakukan agar terwaralaba mengetahui cara menjalankan bisnis.
2.
Daya tarik merek, terwaralaba berlisensi membeli hak
untuk menggunakan nama merek yang sudah terkenal dan diiklankan secara nasional
untuk suatu produk dan jasa. Dengan demikian, terwaralaba mendapatkan
keuntungan dengan mengidentifikasikan bisnisnya dengan merek dagang yang sudah
dikenal dan biasanya memiliki daya tarik yang tinggi, terutama bila seseorang
membeli waralaba sistem yang sudah mapan. Namun, para terwaralaba dan
pewaralaba harus sadar bahwa tindakan-tindakan negatif mereka dapat merusak
nilai nama merek dan berpengaruh negative terhadap toko-toko sejaringan.
3.
Standardisasi kualitas barang dan jasa, pewaralaba
biasanya menuntut agar terwaralaba tunduk pada standar kualitas dan pelayanan
yang seragam di seluruh jaringan agar tidak ada terwaralaba memiliki kualitas
barang dan jasa di bawah standar dan
dapat merusak citra suatu merek dagang.
4.
Program periklanan nasional, program periklanan yang
efektif baik secara regional maupun nasional akan sangat bermanfaat bagi semua
waralaba dan sebagian besar pewaralaba yang melakukannya. Kegiatan tersebut
biasanya dikendalikan oleh pewaralaba, namun secara aktual kegiatan itu
dibiayai oleh terwaralaba.
5.
Bantuan keuangan. Sebuah penelitian melaporkan bahwa
sepertiga dari pewaralaba menawarkan bantuan keuangan kepada terwaralabanya.
Dalam kebanyakan kondisi, bantuan keuangan dari pewaralaba bisa berupa bentuk
lain selain pinjaman langsung, sewa-beli, atau kredit jangka pendek. Para
pewaralaba biasanya bersedia membantu para terwaralaba yag berkualifikasi
tinggi agar bisa berhubungan dengan dengan bank, lembaga non-bank pemberi
pinjaman, serta berbagai dana lainnya.
6.
Produk dan format bisnis yang sudah terbukti. Pada
intinya, terwaralaba membeli pengalaman pewaralaba dalam bentuk sistem bisnis.
Terwaralaba tidak harus membangun bisnis dari awal. Prosedur dan operasi yang
distandardisasi akan meningkatkan peluang kesuksesan dan menghindari
inefisiensi dalam belajar-coba dan gagal.
7.
Pemusatan daya beli. Keunggulan yang mencolok dari
terwaralaba dibandingkan dengan pemilik perusahaan kecil mandiri adalah keikutsertaannya
dalam daya beli pewaralaba yang terpusat dalam volume besar.
8.
Pemilihan tempat dan proteksi territorial. Pemilihan
lokasi yang tepat sangat penting untuk kesuksesan bisnis kecil maupun waralaba.
Walaupun pemilihan lokasi merupakan tanggung jawab terwaralaba, namun
pewaralaba biasanya memiliki hak untuk menyetujui lokasi akhir sesuai analisis
pewaralaba. Beberapa pewaralaba memberikan terwaralaba proteksi territorial
yang memberikan terwaralaba hak untuk memasarkan barang dan jasa dengan merek
tertentu di daerah tertentu. Klausul yang menetapkan zona proteksi yang
melarang dibukanya gerai lain. Hal ini bertujuan untuk mencegah perebutan
wilayah terwaralaba yang sudah ada dan berkurangnya penjualan sebagai
akibatnya.
9.
Peluang sukses lebih besar. Menanamkan modal di
waralaba bukannya tanpa resiko. Namun, data statistik menunjukkan bahwa
waralaba resikonya lebih kecil dibandingkan dengan membangun bisnis dari awal.
3. Kerugian Membeli Waralaba
Calon terwaralaba harus menelaah
beberapa keterbatasan lain sebelum memilih bentuk kepemilikan ini.
1.
Iuran Waralaba Dan Royalti Yang Terus Menerus.
Biasanya setiap waralaba akan menetapkan iuran dan pembagian hasil dari produk
yang di jual sebagai imbalan menggunakan nama, produk dan sistem bisnis. Iuran
dan pembagian hasil akan berbeda dari setiap waralaba. Kesesuaian yang kaku
dengan standar waralaba terkadang menjadi beban seperti permintaan laporan
keuangan yang memakan waktu ataupun terdapat perarturan yang di paksakan kepada
si pembeli waralaba.
2.
Batasan Dalam Pembelian. Untuk menerapakan standar
kualitas, terwaralaba (pembeli waralaba) biasanya di haruskan membeli produk
atau bahan dari perusahaan yang di tentukan oleh perusahaan waralaba tersebut.
Misalnya waralaba Burger akan mengharuskan pewaralaba membeli roti saralee.
3.
Lini Produk Terbatas. Dalam banyak kasus biasanya
pewaralaba akan menetapkan barang apa saja yang bisa di jual oleh terwaralaba.
Bila terwaralaba memaksa menjual produk yang tidak di inginkan oleh pewaralaba
hal ini dapat beresiko pencabutan lisensi. Hal ini akan membatasi terwaralaba
untuk ,menyesuaikan produk dengan lingkungannya. Namun ada waralaba yang
menanyakan inovasi kepada terwaralabanya
4.
Syarat Kontrak Dan Pembaruannya. Kontrak waralaba akan
di tulis didepan notaris dan isinya akan selalu melindungi perwaralaba.
Sebagian perwaralaba ada yang mau bernegosiasi ada juga yang tidak. Kontrak
waralaba sangatlah penting karena mengatur hubungan selama kerjasama
berlangsung. Terwaralaba harus mengatur pembaruan kontrak sebelum masa kontrak
habis.
5.
Program Pelatihan Yang Tidak Memuaskan. Setiap pembeli
waralaba akan di berikan pelatihan khusus oleh pewaralaba tentang bisnis yang
akan dijalankannya. Namun terkadang pelatihan yang di berikan sangat buruk dan
lebih mirip kursus singkat 1 minggu menurut Marko Grunhagen ahli waralaba dari
Soutern Illinois University, ada baiknya setiap terwaralaba mencari tahu
pelatihan yang disediakan demi menghindari hal hal yang tidak di inginkan.
Calon terwaralaba harus waspada terhadap pewaralaba yang menawarkan pelatihan.
6.
Kejenuhan Pasar. Sistem waralaba memiliki sistem yang
cepat berkembang dalam meraup keuntungan. Semakin cepat berkembang semakin
cepat pula mengalami penurunan yang di akibatkan oleh strategi pertumbuhan
pewaralaba yang agresif yang dapat menyebabkan kejenuhan pasar. Kejenuhan pasar
merupakan bahaya yang nyata. Contohnya perusahaan subway diawali dengan 166
gerai pada tahun 1981 menjadi hampir 25000 gerai saat ini. Gerai yang semakin
banyak akan menyebabkan jarak antar gerai semakin dekat dan menyebabkan akan
saling memakan penjualan hal inilah yang akan menyebabkan kejenuhan pasar
karena kesulitan mencari lokasi
7.
Kurangnya Kebebasan. Setelah menandatangani kontrak
pihak terwaralaba akan sangat terikat dengan pihak pewaralaba. Pihak pewaralaba
akan terus mendikte terwaralaba agar selalu sesuai dengan spsifikasi waralaba.
Hal ini akan sangat membuat frustasi wirausahawan yang ingin mandiri kerna akan
terkekang terus oleh peraturan pewarlaba
4. Waralaba dan Hukum
Waralaba dipelopori oleh McDonald sekitar akhir tahun 1950. Akan
tetapi ledakan penjualan waralaba mengundang waralaba dadakan yang menipu
terwaralaba. Pada era tahun 1970-an, kegiatan waralaba dipenuhi oleh tindakan
curang sehingga menimbulkan kerugian terhadap pihak terwaralaba. Untuk
mengatasi peluang penipuan yang mungkin saja terjadi dalam kerja sama waralaba,
California pada tahun 1971 memberlakukan
undang-undang waralaba yang pertama, yaitu Franchise Investment Law.
Undang-undang ini, (serta enam belas negara bagian lain yang telah meloloskan
undang-undang yang sejenis) mengharuskan
pewaralaba mendaftarkan Uniform Franchise Offering
Circular (UFOC) dan mengirimkan salinan informasi
mengenai calon-calon terwaralaba sebelum menawarkan atau menjual waralaba
apapun.. UFOC menetapkan petunjuk pengungkapan penuh untuk perusahaan waralaba.
Pada bulan Oktober 1979, Federal
Trade Commision (FTC) memberlakukan Trade Regulation Rule, yang mensyaratkan
pewaralaba untuk membuka informasi rinci mengenai informasi mereka pada
pertemuan yang pertama atau paling lambat 10 hari sebelum kontrak
ditandatangani atau sebelum ada pembayaran apapun. Tujuan dari peraturan ini
adalah untuk membantu calon terwaralaba terhadap perjanjian waralaba dan untuk
memperkenalkan konsistensi ke dalam dokumen pengungkapan (disclosure
statement) waralaba.
Pada tahun 1994 FTC memodifikasi peraturan UFOC sehingga informasi yang tersedia lebih banyak tersajikan untuk calon terwaralaba dan menjadikan dokumennya lebih mudah dibaca dan dipahami. Trade Regulation Rule mensyaratkan pewaralaba untuk mencantumkan 23 topik utama dalam dokumen pengungkapannya:
Pada tahun 1994 FTC memodifikasi peraturan UFOC sehingga informasi yang tersedia lebih banyak tersajikan untuk calon terwaralaba dan menjadikan dokumennya lebih mudah dibaca dan dipahami. Trade Regulation Rule mensyaratkan pewaralaba untuk mencantumkan 23 topik utama dalam dokumen pengungkapannya:
1.
Informasi yang mengidentifikasikan pewaralaba dan
afiliasinya, serta menguraikan pengalaman bisnis mereka serta waralaba yang
telah dijual.
2.
Informasi yang mengidentifikasikan dan menguraikan
pengalaman bisnis dari tiap pejabat, direktur, dan manager yang bertanggung
jawab terhadap program waralaba
3.
Uraian tentang tuntutan-tuntutan hukum yang pernah
melibatkan pewaralaba dan pejabat-pejabatnya, direktur serta managernya.
4.
Informasi yang mengenai kebangkrutan yang pernah
dialami pewaralaba dengan pejabatnya, direktur serta managernya
5.
Informasi tentang iuran awal waralaba dan pembayaran
lain yang diperlukan untuk memperoleh waralaba, termasuk penggunaan iuran
tersebut dan syarat-syarat yang diperlukan menyankut pengembalian iuran
tersebut
6.
Deskripsi tentang pembayaran berlanjut lainnya yang
disyaratkan bagi terwaralaba setelah memulai waralaba, termasuk royalti, iuran
jasa, iuran pelatihan, pembayaran biaya sewa, pembebanan periklanan, biaya
pemasaran dan lain-lain
7.
Deskrisi rinci mengenai pembayaran yang harus
dilakukan oleh terwaralaba untuk memenuhi investasi awal yang disyaratkan
8.
Informasi mengenai persyaratan barang dan jasa,
perlengkapan, pasokan, persediaan, dan berbagai hal lainnya
9.
Pernyataan (dalam bentuk tabel) mengenai kewajiban
pihak terwaralaba dibawah kontrak pihak terwaralaba
10. Uraian
tentang bantuan keuangan yang tersedia dari pewaralaba dalam pembelian waralaba
11. Deskripsi
tentang semua kewajiban yang harus dipenuhi oleh pewaralaba untuk membantu
terwaralaba dalam persiapan pembukaan dan pengoperasian waralaba
12. Deskripsi
tentang proteksi wilayah yang akan diberikan kepada terwaralaba dan pernyataan
tentang kemungkinan pewaralaba akan membuka toko sendiri atau waralaba bau di
daerah tersebut
13. Semua
informasi yang relevan tentang merek dagang, nama jasa, nama dagang, logo, dan
simbol komersial termasuk tempat semua itu didaftarkan. Cari merek dagang atau
jasa yang didaftarkan pada U.S Patent and Trademark Office
14. Informasi
serupa tentang paten dan hak cipta yang dimiliki pewaralaba dan hak untuk
memindahkannya kepada terwaralaba
15. Deskripsi
tentang keterlibatan terwaralaba secara pribadi dalam pengoperasian waralaba
16. Deskripsi
tentang segala pembatasan terhadap barang dan jasa yang boleh dijual dan dengan
siapa terwaralaba kiranya akan berurusan
17. Deskripsi
tentang syarat-syarat waralaba dapat dibeli kembali atau ditolak perpanjangannya
oleh pewaralaba
18. Deskripsi
tentang keterlibatan selebriti atau figur publik dalam waralaba
19. Uraian
lengkap mengenai dasar perhitungan pendapatan yang diklaimkan kepada
terwaralaba
20. Informasi
statistik tentang banyaknya terwaralaba
21. Laporan
keuangan dari penjualan waralaba
22. Salinan dari
semua kontrak waralaba dan kontrak lain (biaya sewa, perjanjian pembelian, dan
lain-lain) yang harus ditandatangani oleh terwaralaba
23. “Tanda
terima” standar yang tersendiri untuk membuktikan bahwa calon terwaralaba telah
menerima salinan UFOC tersebut
UFOC cukup banyak memberikan
informasi untuk memulai penyelidikan mendalam atas pihak pewaralaba dan
perjanjian pewaralaba terkait, dan para calon terwaralaba harus memanfaatkannya
semaksimal mungkin.
5. Cara Benar Membeli Waralaba
UFOC adalah alat tangguh yang
didesain untuk membantu calon terwaralaba dalam memilih waralaba yang cocok
untuknya dan menghindari pewaralaba yang tidak jujur.
Langkah-langkah berikut akan
membantu dalam membuat pilihan yang benar dalam membeli waralaba:
1. Mengevaluasi diri sendiri
Sebelum mencari waralaba sebaiknya calon
terwaralaba mempelajari sifat diri mereka sendiri, cita-cita, pengalaman,
kesukaan, ketidaksukaan, orientasi risiko, pendapatan yang diinginkan, komitmen
waktu dan keluarga, dan sifat-sifat lain. Tujuannya adalah untuk mendapatkan
waralaba yang cocok untuk Anda. Salah satu ciri dari kesuksesan waralaba adalah
terwaralaba menikmati pekerjaan mereka.
2. Teliti pasar Anda
Sebelum membeli waralaba, lakukan riset
dan penelitian terhadap tempat Anda ingin membuka usaha. Riset pasar juga harus
menegaskan bahwa waralaba tidak menjadi bagian dari mode yang cepat memudar.
Menjauhi mode dan masuk dalam kecenderungan jangka panjang adalah salah satu
cara untuk mempertahankan kesuksesan waralaba.
3. Pertimbangkan pilihan-pilihan waralaba Anda
Untuk mempertimbangkan pilihan waralaba
dapat dilakukan dengan melihat majalah-majalah tentang waralaba atau
mengunjungi situs web waralaba. Menghadiri salah satu dari berbagai pameran
waralaba merupakan cara nyaman dan efisien untuk mengumpulkan informasi
mengenai berbagai jenis peluang yang ada.
4. Dapatkan salinan UFOC dari pewaralaba
Setelah mempersempit pilihan waralaba,
Anda harus menghubungi masing waralaba untuk mendapatkan salinan UFOC-nya.
Dokumen ini merupakan alat penting untuk pencarian anda dalam mendapatkan
waralaba yang tepat dan anda harus melakukan hal ini sebaik-baiknya. Ketika
mengevaluasi peluang waralaba, berbagai karakteristik berikut dapat membantu
sebuah waralaba hidup dan berkembang:
Ø konsep
atau pendekatan pemasaran yang unik
Ø profitabilitas
Ø merek
dagang yang terdaftar
Ø sistem
bisnis yang berjalan
Ø program
pelatihan yang kokoh
Ø terjangkau
Ø hubungan
yang positif dengan terwaralaba
Salah
satu yang paling terlihat dari UFOC adalah tingkat perputaran terwaralaba (franchise turnover rate), tingkat dimana
terwaralaba meninggalkan sistem tersebut. Bila tingkat perputarannya kurang
dari 5% kemungkinan waralaba tersebut aman. Akan tetapi, tingkat perputaran waralaba
yang mendekati 20% merupakan tanda bahaya adanya masalah dalam waralaba
tersebut. Terwaralaba yang puas cenderung tidak akan meningglakan sistem yang
sukses.
5. Berbicara dengan pihak yang telah membeli waralaba
Salah satu cara terbaik untuk mengevaluasi
reputasi pewaralaba adalah dengan mewawancarai beberapa pihak yang telah
membeli waralaba tersebut, dan telah menjalankan minimal satu tahun tentang
hal-hal positif maupun negatif dari perjanjian tersebut dan apakah pewaralaba
menepati janji-janjinya. Mewawancarai mantan terwaralaba untuk mendapatkan
sudut pandang mereka mengenai hubungan antara pewaralaba dengan terwaralaba
juga sangat berguna.
6. Ajukan pertanyaan-pertanyaan sulit kepada pewaralaba
Luangkan waktu untuk menanyakan kepada
pewaralaba mengenai perusahaan dan hubungannya dengan terwaralabanya. Anda akan
berada dalam hubungan ini dalam waktu yang lama. Dan anda perlu tahu sebanyak
mungkin sebelumnya.
7. Tentukan pilihan Anda
Pelajaran pertama dari waralaba adalah
“Kerjakan pekerjaan rumah sebelum mengeluarkan buku cek Anda”. Setelah Anda
selesai melakukan penelitian, Anda telah mempunyai cukup informasi untuk dapat
menentukan waralaba yang cocok. Setelah itu, tibalah saatnya untuk merencanakan
usaha yang akan menjadi petunjuk jalan menuju kesuksesan dalam waralaba yang telah
Anda pilih. Rencana ini juga merupakan alat yang berharga pada saat anda
mengatur pendanaan waralaba Anda.
6.
Tren-Tren
yang Membentuk Waralaba
Waralaba telah mengalami tiga
gelombang pertumbuhan utama sejak dimulainya gelombang pertama terjadi pada awal
tahun 1970-an ketika restoran cepat saji menggunakan konsep ini agar tumbuh
dengan cepat. Gelombang kedua terjadi pada pertengahan 1980-an ketika ekonomi
Amerika bergeser jauh ke sektor jasa. Gelombang ketiga dimulai diawal tahun
1990-an dan terus berlanjut sampai sekarang.
Tren lain yang memengaruhi waralaba
meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Perubahan
wajah waralaba
Waralaba
menarik para praktisi bisnis terlatih dan berpengalaman yang bertujuan memiliki
banyak gerai yang tersebar di seluruh negara bagian atau wilayah. Mereka
memiliki berbagai sunber daya keuangan, keahlian dan pengalaman manajemen,
serta motivasi untuk mengoperasikan secara sukses waralaba mereka.
2. Waralaba
Multipel-Unit
Dalam
waralaba multipel-unit (multiple-unit
franchising – MUF), seorang terwaralaba membuka lebih dari satu unit dalam
sebuah wilayah yang luas dalam periode waktu tertentu. Contohnya, untuk
mencapai tujuannya menambah 5.000 unit gerai baru dalam lima tahun, Allied
Domecq Quick Service Restaurant, perusahaan yang menjual waralaba
Baskin-Robbins, Dunkin’ Donuts, dan Togo, mulai merekrut para terwaralaba
multipel-unit dalam 17 pasar besar di Amerika Serikat.
3. Peluang
Internasional
Ketika
memasui pasar asing, para pewaralaba mengetahui bahwa adaptasi adalah salah
satu cara menuju kesuksesan. Walaupun keseluruhan format bisnis waralaba
mungkin tidak berrubah dalam pasar asing, beberapai detail operasi gerai
lokalnya harus berubah. Sebagai contoh, jaringan makanan cepat saji di beberapa
negara serring kali harus menyesuaikan menu mereka untuk memuaskan selera
setempet. Di Jepang, gerai-gerai McDonald’s (dikenal dengan nama
“Makudonarudo”) menjual burger teriyaki, burger nasi, dan burger katsu sebagai
tambahan dari menu tradisional Amerika Serikat.
4. Lokasi
Lebih Kecil dan Nontradisional
Berdasarkan
prinsip pemasaran jemput bola (intercept
marketing), idenya adalah untuk menempatkan produk atas waralaba langsung
di jalur pelanggan potensial tempat mereka berada. Waralaba menempatkan gerai
yang diperkecil ukurannya di kampus-kampus, kafetaria sekolah-sekolah, arena
olah raga, rumah sakit, lapangan udara, dan kebun binatang.
5. Waralaba
Konversi
Tren
akhir-akhir ini menuju ke waralaba konversi (conversion franchising) yaitu pemilik bisnis mandiri menjadi
terwaralaba untuk memanfaatkan nama yang sudah terkenal, akn terus berlanjut.
6. Waralaba
Utama
Waralaba
utama (master franchise) atau
subwaralaba (subfranchise) memberi
hak kepada terwaralaba untuk menciptakan usaha semi-mandiri di daerah tertentu
untuk menarik , menjual, dan mendukung terwaralaba lainnya. Waralaba utama
memberi hak untuk mengembangkan subwaralaba di daerah yang luas atau kadang
untuk seluruh negara.
7. Waralaba
Saling Dukung (Waralaba Kombinasi atau Multimerek)
Beberapa
pewaralaba juga mendapatkan cara baru untuk menjangkau pelanggan melalui kerja
sama dengan pewaralaba lain yang menjual produk atau jasa yang
salingmelengkapi. Semakin banyak perusahaan yang mengombinasikan gerai-gerainya
dengan menggabungkan dua atau lebih waralaba yang berbeda dibawah satu atap atau
disebut juga waralaba saling dukung (piggybacking).
“sistem Sobat” ini dapat berjalan dengan memuaskan apabila dua ide waralaba
saling melengkapi dan tampak serupa bagi pelanggan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen o yo rek,, *suwun