Asyiknya
Mendidik di Tanah Papua
Jika
Anda seorang sarjana pendidikan, tentu sudah tidak asing lagi dengan program
SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Ini
merupakan salah satu Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia ditujukan
kepada para Sarjana Pendidikan yang belum bertugas sebagai guru, baik sebagai
Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun Guru Tetap Yayasan (GTY) untuk ditugaskan
selama 1 tahun di daerah 3T. Seorang sarjana muda yang memiliki semangat
mengabdi yang tinggi maka cocok sekali untuk mengikuti program SM-3T ini.
Untuk
bisa mengikuti program ini, maka perlu mengikuti serangkaian tes yang diadakan
oleh LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) penyelenggara dari beberapa
Universitas Pendidikan yang ditunjuk oleh Dikti (Direktur Jenderal Pendidikan
Tinggi). LPTK penyelenggara ditunjuk untuk menyeleksi peserta, memberikan
pembekalan sebelum diterjunkan ke daerah sasaran dan melaksanakan PPG
(Pendidikan Profesi Guru) setelah peserta SM-3T selesai mengabdi di berbagai
daerah 3T yang ada di Indonesia.
Saya
sebagai seorang sarja pendidikan tentu saja juga tertarik untuk mengikuti
program SM-3T ini. Saya pun mengikuti proses seleksi melalui LPTK Universitas
Negeri Malang yang juga merupakan tempat saya kuliah sebelumnya. Setelah
mengikuti serangkaian tes akhirnya nama “Eko Putri Setiani, S. Pd” berhasil
lolos dan diminta untuk mengikuti pembekalan pada tanggal 04-15 September 2013 yang
bertempat di Pangkalan Angkatan Laut (LANAL) Malang. Di LANAL Malang kami
dibekali berbagai model pembelajaran yang menarik yang sesuai dengan daerah 3T
dan juga dilatih fisik kita agar siap diterjunkan ke daerah 3T.
Proses
prakondisipun berhasil terlalui, saat yang ditunggu-tunggu pun telah tiba yaitu
pengumuman penempatan di daerah mana kita ditugaskan. “Sorong Selatan” adalah tempat
mengabdi saya, merupakan sebuah kabupaten yang ada di Papua Barat. “Papua”,
pulau paling timur Indonesia yang tentu saja belum pernah saya kunjungi. Ada
sebersit perasaan takut karena banyak diberitakan di telivisi bahwa di papua
sering terjadi perang suku, OPM dan terkenal dengan masyarakat yang masih
primitif.
Dengan
semangat mengabdi yang ada dalam diri dan dukungan dari berbagai pihak maka
saya membulatkan tekad untuk melaksanakan pengabdian di tanah papua. Akhirnya
23 peserta SM-3T yang ditempatkan di Sorong Selatan pada tanggal 17 September
2013 pukul 06.00 WIT untuk pertama kali menginjakkan kaki di tanah papua, tepatnya
di Bandara Kota Sorong. Untuk sampai di Kabupaten Sorong Selatan, kami harus
melalui jalan darat dengan medan yang cukup berat karena jalan belum diaspal
semuanya. Namun kami disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan, yaitu hutan
yang masih belum terjamah, sungai-sungai yang masih sangat jernih dan beberapa
burung atau binatang lain yang ada disekitar jalan.
Setelah
perjalanan selama kurang lebih 6 jam, akhirnya kami sampai di Sorong Selatan tepatnya
di distrik Teminabuan. Distrik Teminabuan merupakan pusat kota dari Kabupaten
Sorong Selatan dan satu-satunya distrik yang sudah ada listrik 24 jam juga
sudah terdapat signal telkomsel dan indosat. Sorong Selatan memiliki 13
distrik, 3 distrik diantaranya tidak dapat dilalui dengan jalan darat sehingga
untuk sampai ke distrik yang paling jauh memakan waktu 14 jam. Kami tinggal di
Distrik Teminabuan selama dua minggu sebelum disalurkan ke sekolah-sekolah yang
ada di pelosok Sorong Selatan. Waktu 2 minggu tersebut kami manfaatkan
sebaik-baiknya untuk mengenal masyarakat, budaya dan bahasa masyarakat yang ada
di Teminabuan.
Masyarakat
papua tidak seperti yang kami bayangkan sebelumnya, mereka sangat ramah dan
bersahabat dengan para pendatang. Kesan yang keras, seram dan menakutkan hilang
seketika. Walaupun tidak saling mengenal kita saling bersapa “selamat pagi”,
“selamat siang”, “selamat sore” dan “selamat malam.” Istilah “mutiara hitam”
memang benar, orang papua yang memiliki kulit hitam, keriting rambut tapi
memiliki hati yang mulia. Mereka hidup saling menghormati antar suku setempat
dan suku pendatang yaitu dari jawa, bugis, makasar, maluku, ambon dan suku-suku
yang lain.
Tanggal
30 September 2013 saya beserta 3 orang teman saya yang ditempatkan di SMK YAPIS
Teminabuan mulai melakukan observasi ke sekolah tempat mengabdi kami. SMK YAPIS
Teminabuan memiliki 3 jurusan, yaitu jurusan Komputer, Akuntansi dan
Perkantoran. SMK ini merupakan satu-satunya SMK yang ada di Distrik Teminabuan.
SMK ini terbilang baru karena masih memiliki 2 angkatan, yaitu kelas X dan
kelas XI. Kami tinggal di laboratorium milik SMP YAPIS Teminabuan beserta 2
orang teman yang ditempatkan di SMP YAPIS Teminabuan. SMP dan SMK YAPIS
Teminabuan bangunan sekolahnya berdampingan sehingga banyak kegiatan
dilaksanakan bersamaan. Walaupun sekolah ini YAPIS dimana merupakan Yayasan
Pendidikan Islam namun siswa-siswa yang bersekolah di sini 80% adalah umat
nasrani, 20% nya saja yang muslim. Ini karena mayoritas penduduk Sorong Selatan
beragama kristen protestan. Walaupun demikian, di sekolah ini juga diajarkan
pelajaran agama kristen untuk siswa nasrani. Antar siswa dan antar guru juga
saling menghormati walaupun berbeda agama.
Momen
yang saya tunggu akhirnya tiba, saya bertemu dengan siswa-siswa yang akan
belajar bersama dengan saya selama setahun kedepan. Karena saya merupakan
sarjana Pendidikan Akuntansi maka tentu saja saya akan belajar bersama
siswa-siswa jurusan Akuntansi. Pertama saya berkenalan dengan siswa kelas X
Akuntansi yang berjumlah 33 siswa, semuanya penduduk asli papua. “Hitam kulit,
keriting rambut, Aku PAPUA”, akhirnya saya bisa berinteraksi langsung di dalam
kelas dengan siswa-siswa Papua. Saya mulai memperkenalkan diri dengan susunan
bahasa yang telah saya pelajari beberapa hari sebelumnya, “Sa pu nama eko putri
setiani, dorang bisa panggil saya Ibu Puput .....” (saya punya nama eko putri
setian, kalian bisa panggil saya Ibu Putri atau Ibu Puput .....). Beberapa susunan kalimat di
daerah Papua berbeda dengan bahasa Indonesia pada umumnya, agar membaur dengan
mereka dan agar mereka mudah memahami penjelasan kita maka kami harus mampu
berbahasa seperti mereka.
Siswa-siswa
terkesan pendiam, maka saya sebagai guru harus pandai-pandai memancing mereka
agar lebih aktif di kelas. Rata-rata siswa papua memiliki kinestetik yang baik,
mereka hobi bermain bola kaki (sepak bola) dan bola voli. Siswa tidak betah
jika hanya duduk diam dan belajar, untuk itu perlu diselingi dengan
pembelajaran berbasis games, sehingga
mereka tidak akan bosan.
Selanjutnya,
saya berkenalan dengan siswa-siswa kelas XI Akuntansi yang berjumlah 24 siswa,
6 siswa merupakan pendatang sedangkan yang lain orang papua asli. Kelas yang
ada pendatangnya terkesan lebih ramai dibanding siswa yang tidak ada
pendatangnya. Kami pun saling memperkenalkan diri. Saya penasaran dengan
kemampuan akuntansi siswa kelas XI, untuk itu saya menanyakan hal-hal dasar
tentang akuntansi kepada mereka. Hasilnya ternyata mereka tidak menguasai,
mereka beralasan sudah beberapa bulan tidak ada guru akuntansi yang mengajar
mereka.
Di
SMK YAPIS Teminabuan memang tidak ada guru yang lulusan Akuntansi, sehingga
sebelumnya yang mengajar Akuntansi adalah guru lulusan jurusan lain yang tentunya
tidak begitu menguasai materi akuntansi. Dengan demikian dalam setahun kedepan
saya ditugaskan untuk mengajar materi akuntansi kelas X dan kelas XI. Tentu
saja perangkat dan buku paket tidak ada, sehingga perlu menyusun perangkat
sendiri dan juga perlu mengirim buku paket dari Jawa untuk memenuhi kebutuhan
dalam proses kegatan belajar mengajar.
Dengan
berlalunya waktu kami semakin dekat dengan siswa dan masyarakat sekitar, siswa
maupun masyarakat sekitar sering bercerita berbagai hal yang menarik. Siswa SMK
YAPIS Teminabuan bukan hanya dari distrik Teminabuan, tetapi dari berbagai
distrik yang ada di Sorong Selatan. Mereka yang memiliki kampung halaman yang
jauh maka mereka harus kos di dekat sekolah. Ada juga siswa dari kabupaten
tetangga yaitu kabupaten Maybrat yang merupakan kabupaten pemekaran dari Sorong
Selatan.
Saya
kagum dengan kegigihan siswa untuk bersekolah, mereka rela berjalan kaki cukup
jauh untuk sampai di sekolah. Medan jalan yang ditempuh berbukit, sehingga
tidak ada yang menggunakan kendaraan sepeda. Mereka juga sering membantu
mencari uang orang tua mereka dengan ikut mencari hasil laut seperti ikan,
kepiting dan udang, mencari hasil hutan seperti langsat, durian dan cempedak
serta ada beberapa siswa yang menjaga toko di pasar, menjadi tukang bangunan
dan menjadi tukang ojek. Kami para guru sering dibawakan hasil laut dan dan
hasil hutan oleh para siswa.
Hal
yang menarik dari masyarakat papua adalah masih berlakunya hukum adat, berbagai
hal banyak yang diputuskan secara adat. Salah satunya adalah aturan tentang
menabrak anjing. Jika kita secara tidak sengaja menabrak anjing sampai mati
maka kita akan mendapat denda yang cukup besar hingga Rp10.000.000,00
tergantung hasil keputusan kepala adat. Semakin banyak jumlah susu yang
dimiliki anjing tersebut maka akan semakin banyak nominal dendanya.
Misal
jika ada pertikaian antar keluarga, dalam keluarga atau dengan masyarakat
pendatang juga akan diselesaikan secara hukum adat. Dan pihak yang merasa
dirugikan akan menerima sejumlah uang sebagai denda dari pihak yang merugikan.
Di sekolah pun pernah terjadi pertikaian, dan tentu saja siswa yang memukul membayar
denda ke siswa yang dipukul. Yaa, kita sebagai guru juga harus hati-hati dalam
memperlakukan siswa, jangan sampai memukul siswa dan kemudian dipermasalahkan
secara adat.
Tentang pendidikan, siswa-siswa papua
kebanyakan memang tertinggal dibanding siswa-siswa dari daerah lain yang lebih
maju. Butuh waktu lebih banyak untuk dapat memahamkan mereka tentang suatu
materi. Dengan demikian tidak heran jika rencana pelaksanaan pembelajaran yang
telah dibuat tidak begitu sesuai dengan pelaksanaan di lapangan. Bahkan
beberapa siswa usia sekolah menengah membacanya masih sangat terbata-bata dan
belum lancar sehingga hal itu tentu saja akan berpengaruh terhadap pemahaman
siswa mengenai suatu materi. Apalagi materi-materi akuntansi yang banyak
hitungannya, mereka masih susah dalam berhitung. Untuk itu, saya perlu ekstra
sabar dalam mengajari mereka. Daya ingat kebanyakan mereka juga lemah, sehingga
kita perlu menemukan cara unik agar mereka tidak mudah melupakan materi
tersebut.
Sungai-sungai
di Sorong Selatan begitu jernih dan masih alami, saya bersama siswa-siswa dan
teman-teman sering mandi di sungai sambil menikmati suasana indah di sana.
Ketika ada acara-acara adat atau acara kenegaraan sering mereka memakai pakaian
adat dan melaksanakan tarian-tarian yang begitu mempesona. Kami terkadang juga
ikut menari bersama mereka. Saya berdoa semoga budaya mereka tetap terjaga, dan
tidak terpengaruh dengan budaya modern yang tentu kontra dengan budaya mereka.
Saya
sangat bersyukur bisa mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dan
mengesankan. Saya bangga sempat belajar bersama siswa siswi tanah papua dan
menikmati berbagai kegiatan yang kami lakukan bersama. Pasti akan terasa berat
saat berpisah dengan mereka, terlalu banyak kenangan indah dengan mereka. Saya
berharap masih banyak dari kita yang peduli pendidikan di tanah papua. Mereka
sangat membutuhkan kita semua untuk mengajarkan berbagai hal agar papua lebih
maju, agar bisa mengolah sendiri alam papua yang sangat kaya. Sehingga pada
akhirnya papua menjadi daerah yang lebih maju dan membanggakan. “Tanah Papua,
Tanah Leluhur, Surga Kecil, Jatuh ke bumi...” merupakan sepenggal lirik lagu
yang mengakhiri cerita saya ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen o yo rek,, *suwun