A.
PENDAHULUAN
Perusahaan-perusahaan
besar atau yang sedang berkembang, selalu berusaha untuk meningkatkan volume
penjualan. Aspek pemasaran merupakan aspek penting dalam usaha pencapaian tujuan
ini. Oleh karena itu, bagian pemasaran yang merupakan ujung tombak keberhasilan
suatu perusahaan.
Dalam rangka
memperluas daerah pemasaran, perusahaan melakukan pemetaan wilayah sehingga
dapat diketahui pasar potensial bagi produk atau jasa yang dihasilkan atau
ditawarkan. Dengan penggunaan cara ini, dapat diketahui market share ( bagian
pasar yang dapat dimasuki) dari produk atau jasa yang dihasilkan atau
ditawarkan perusahaan. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menangkap
peluang dari market share yang sudah diketahui ini antara lain dengan cara
membuka kantor agen atau bahkan membuka kantor cabang.
Pada dasarnya
kantor agen berbeda dengan kantor cabang. Kantor cabang hanya berfungsi mencari
pembeli atau memperoleh order. Penjualan kepada konsumen dilakukan langsung
oleh kantor pusat. Pemabayarannya juga diterima langsung dari konsumen ke
kantor pusat. Kantor cabang mempunyai kewenangan yang lebih luas dibandingkan
kantor agen, karena selain berfungsi mencari pembeli kantor cabang dapat melakukan
transaksi penjualan secara langsung kepada konsumen. Wewenang yang lebih besar
lagi adalah kantor cabang dapat membeli barang dagangan dari luar negeri.
B.
HUBUNGAN KANTOR PUSAT DENGAN AGEN & KANTOR CABANG
1.
Agen
dan Kantor Cabang
Tabel 1: Perbedaan Kareateristik Kantor Cabang dan Agen
|
Kantor
Cabang
|
Agen
|
|
·
Struktur organisasi dan kegiatan tidak terlepas dari
kantor pusat. Sehingga kantor cabang
bertanggungjawab penuh atas segala aktivitasnya ke manajemen kantor pusat.
·
Kegiatan
kantor cabang tidak terbatas pada usaha untuk memperoleh pesanan saja
tetapi juga usaha untuk memenuhi pesanan yang dapat diambil dari persediaan
sendiri maupun persediaan kantor pusat.
·
Investasi kantor pusat ke cabang tidak hanya sebatas
modal kerja saja tetapi semua fasilitas yang dibutuhkan dalam mendirikan
kantor cabang dan permulaan operasinya kantor cabang
|
· Struktur organisasi dan kegiatan terlepas dari
kantor pusat atau berdiri sendiri.
Oleh karena itu satu kantor agen dapat mengageni beberapa perusahaan. Sehingga kantor agen tidak bertanggungjawab ke
kantor pusat tetapi bertanggungjawab
pengelola agen.
· Kegiatan
kantor agen terbatas pada usaha untuk memperoleh pesanan dan calon
pembeli saja. Dengan demikian agen hanya sebagai fungsi pemasarnya saja.
· Investasi kantor pusat ke agen hanya sebatas modal
kerja saja.
|
Tabel 2:
Perbedaan Kegiatan Penjualan Kantor Cabang dan Agen
|
Keterangan
|
Kantor Cabang
|
Agen
|
|
Persediaan barang dagang
|
Ada, baik dibeli dari luar
maupun kiriman dari kantor pusat
|
Tidak ada, tapi hanya ada
sampel barang dari kantor pusat
|
|
Penjualan kepada pihak ke-3,
|
Dilakukan sendiri
|
Dilakukan oleh Kantor pusat
|
|
Syarat penjualan
|
Ditentikan sendiri (desentralisasi)
|
Ditentukan Kantor pusat
|
|
Beban operasional dan modal
kerja ditentukan oleh :
|
Kantor cabang
|
Kantor pusat, agen hanya
mengurus kas kecil
|
2.
Hubungan Kantor Pusat dan Agen
a. Usaha dari Suatu Agen
Agen yang berkerja sebagai suatu
unit organisasi penjualan lokal (daerah tertentu) berada di bawah pengawasan kantor
pusat dan biasanya tidak mengadakan persediaan selain dari contoh atau sample
daripada barang yang akan ditawarkan untuk dijual. Agen diberi modal kerja dari
kantor pusat guna pembayaran ongkosongkos penjualan dan penyelesaian kewajiban
agen dalam melaksanakan tugasnya. Pesanan yang diterima agen dikirimkan
langsung ke kantor pusat untuk dimintakan persetujuan, setelah disetujui maka
kantor pusat dapat mengirimkan barang langsung kepada langganan.
b. Pembukuan untuk suatu Agen
Agen cukup menyelenggarakan buku
kas untuk mencatat penerimaan modal kerja dari kantor pusat dan
pengeluaranpengeluaran untuk berbagai macam biaya. Pada saat modal kerja
habis, agen mengirimkan copy (tembusan) catatan pengeluaran kas atau ringkasannya
berikut bukti pengeluarannya kepada kantor pusat untuk mendapatkan penggantian
kembali modal kerja.
c. Pembukuan pada
kantor pusat
Pembukuan yang diselenggarakan oleh
Kantor Pusat, tergantung pada tujuan yang dikehendaki, yaitu mengenai laba atau rugi yang
didapat dari aktivitas penjualan agen tersebut:
1. Laba
(rugi) yang didapat dari aktivitas penjualan melalui agen (tiap agen) tidak
ditentukan secara terpisah. Laba (rugi) yang didapat dari penjualan melalui
agen akan dilaporkan tergabung dengan transaski penjualan reguler. Semua
transaksi penjualan dan biayabiaya yang terjadi melalui agen yang
bersangkutan, dicatat dalam rekening rekening pembukuan yang ada seperti
halnya transaksi yang terjadi di kantor pusat.
2. Laba (rugi) diperoleh
dari aktivitas penjualan melalui ahen ditentukan secara terpisah. Dibuat
rekeningrekening pembukuan khusus untuk agen, terutama untuk pendapatan dan biayabiaya
yang bersangkutan harus diselenggarakan. Apabila perusahaan mempunyai beberapa agen,
maka rekeningrekening pendapatan dan biayabiaya pada agen dapat
diselenggarakan sebagai rekening kontrol. Sedang rekening pendapatan dan biaya
untuk tiap agen diselenggarakan sebagai rekening pembantunya.
3.
Hubungan
Kantor Pusat dengan Kantor Cabang
Hubungan
kantor
pusat dan kantor cabang yaitu
hubungan antara kantor pusat (utama) dengan kantor
pengembangan/perwakilan yang skala
usahanya lebih kecil dan merupakan bagian dari kantor pusat tersebar di daerah-daerah lain.
Sifat dan jenis
usahanya operasi kantor cabang, biasanya berada di bawah pengelolaan seorang
manajer cabang yang bertanggung jawab langsung kepada top manajemen di kantor
pusat. Administrasi yang lengkap terhadap aktiva yang ditempatkan dan
hutanghutang atau kewajiban yang timbul di cabang juga diperlukan seperti
halnya di kantor pusat. Meskipun cabang berusaha dan bekerja sebagai unit yang
berdiri sendiri, tetapi tetap dikontrol oleh kantor pusat. Tingkat kebebasan
berdiri sendiri yang diberikan kepada suatu cabang ditetapkan oleh kantor
pusat. Garis besar bekerjanya suatu cabang adalah sebagai berikut:
a. Cabang
diberi modal kerja, baik berupa uang kas, barangbarang dagangan maupun aktiva
lainnya oleh kantor pusat.
b. Cabang
dapat membeli barang dagangan dari pihak ketiga untuk memenuhi kebutuhan
permintaan barang-barang lokal yang tidak dapat terpenuhi oleh kantor pusat.
c. Cabang
melakukan aktivitas penjualan, mulai dari usahausaha untuk mendapatkan
pembeli, mengirimkan barang atau menyerahkan jasa kepada langganan, membuat
faktur penjualan, menagih piutang dan menyimpam uangnya di dalam rekening
banknya sendiri.
C.
SISTEM
AKUNTANSI HUBUNGAN KANTOR PUSAT DAN CABANG
Ada
dua sistem yang digunakan dalam pencatatan sistem akuntansi hubungan kantor
pusat dengan kantor cabang, yaitu:
1. Sistem
Sentralisasi
Pembukuan di kantor
cabang diselenggarakan sepenuhnya oleh kantor pusat. Kantor cabang cukup
mengumpulkan dokumen-dokumen dasar atau bukti lain yang mendukung terjadinya
transaksi. Sistem
sentralisasi dilakukan dalam rangka penghematan biaya administrasi, menjamin
adanya keseragaman prosedur dan metode-metode pembukuan yang diterapkan baik
untuk kantor pusat maupun kantor cabang. Sistem ini cocok dipakai apabila kantor cabang letaknya
dekat dengan kantor pusat dan kegiatan
kantor cabang masih terbatas/kantor cabang masih relative kecil.
2.
Sistem
Desentralisasi
Dalam
sistem ini, setiap cabang menyelenggarakan pembukuan atas transaksi yang
terjadi pada cabang yang bersangkutan secara lengkap. Biasanya susunan dan
klasifikasi rekeningrekening pembukuan pada tiap-tiap kantor cabang mengikuti
dan sesuai dengan susunan dan klasifikasi yang dipakai pada kantor pusatnya.
Proses akuntansi pada kantor cabang diselenggarakan seperti halnya pada
perusahaan yang berdiri sendiri, kecuali bahwa kantor cabang tidak menyelenggarakan
rekening modal.
Transaksi keuangan kantor cabang
di dalam system desentralisasi
dikelompokkan menjadi 2 transaksi, yaitu:
a.
Transaksi antara kantor
cabang dengan kantor
pusat. Transaksi ini
akan mempengaruhi hubungan kantor cabang dengan kantor pusat sehingga
transaksi ini dicatat baik oleh kantor
cabang maupun kantor pusat. Oleh
karena itu, diperlukan rekening yang bersifat Resiprokal (timbal balik) antara
kantor pusat dan kantor cabang untuk menampung transaksi yang bersifat resiprokal
ini, kantor pusat menggunakan nama rekening kantor cabang, sebaliknya kantor
cabang menggunakan rekening kantor pusat. Rekening kantor cabang merupakan hak
kantor pusat sedangkan rekening kantor pusat merupakan kewajiban kantor cabang.
Dalam membuat laporan konsolidasi rekening resiprokal harus dieleminasi.
b.
Transaksi antara kantor
cabang dengan pihak
ketiga. Transaksi ini
tidak mempengaruhi hubungan
kantor cabang dengan kantor pusat sehingga transaksi ini tidak dicatat oleh kantor pusat.
Transaksi antara Kantor Cabang dan Kantor Pusat
|
No
|
Keterangan
|
Kantor Pusat (KP)
|
Kantor Cabang (KC)
|
|
1.
|
Pengiriman
kas (aktiva) dari kantor Pusat ke kantor cabang
|
Kantor Cabang xxx
Kas xxx
|
Kas xxx
Kantor
Pusat xxx
|
|
|
Pengiriman kas
(aktiva) dari kantor cabang ke kantor pusat
|
Kas xxx
Kantor
Cabang xxx
|
Kantor Pusat xxx
Kantor
Cabang xxx
|
|
2.
|
Pengiriman barang dagang
dari kantor Pusat ke cabang
|
Sistem Fisik
Kantor Cabang xxx
Pengiriman
Barang Dagang ke KC xxx
Sistem Perpetual
Kantor Cabang xxx
Persediaan
Barang Dagang xxx
|
Sistem Fisik
Pengiriman Barang Dagang dari KP xxx
Kantor
Pusat xxx
Sistem Perpetual
Persediaan Barang Dagang xxx
Kantor
Pusat xxx
|
|
Pengembalian barang dagang
dari Kantor Cabang ke Pusat
|
Sistem Fisik
Pengiriman Barang Dagang ke KC xxx
Kantor
Cabang xxx
Sistem Perpetual
Persediaan Barang Dagang xxx
Kantor
Cabang xxx
|
Sistem Fisik
Kantor Pusat xxx
Pengiriman
Barang Dagang dari KP xxx
Sistem Perpetual
Kantor Pusat xxx
Persediaan
Barang Dagang xxx
|
|
|
3.
|
Pembebanan biaya
oleh Kantor Pusat
kepada kantor cabang
|
Kantor Cabang xxx
Biaya
.... xxx
|
Biaya .... xxx
Kantor
Pusat xxx
|
|
Pembebanan biaya oleh
kantor cabang kepada kantor
pusat:
|
Biaya .... xxx
Kantor
Cabang xxx
|
Kantor Pusat xxx
Biaya
.... xxx
|
|
|
4.
|
Penghitungan bunga
atas investasi Kantor Pusat di Kantor
Cabang
|
Kantor Cabang xxx
Pendapatan
Bunga xxx
|
Biaya Bunga .... xxx
Kantor
Pusat xxx
|
|
5.
|
Pembelian
aktiva oleh Kantor Cabang yg
akuntansinya diselenggarakan Kantor
Pusat
|
Aktiva .... xxx
Kantor
Cabang xxx
|
Kantor Pusat xxx
Kas/Utang xxx
|
|
5.
|
Pengakuan laba Kantor Cabang
|
Kantor Cabang xxx
Laba/Rugi
Kantor Cabang xxx
|
Laba/Rugi xxx
Kantor
Pusat xxx
|
|
Pengakuan rugi Kantor Cabang:
|
Laba/Rugi Kantor Cabang xxx
Kantor
Cabang xxx
|
Kantor Pusat xxx Laba/Rugi xxx
|
|
|
6.
|
Penagihan
piutang kantor pusat oleh
kantor cabang
|
Kantor Cabang xxx
Piutang xxx
|
Kas xxx
Kantor
Pusat xxx
|
|
Penagihan piutang
kantor Cabang oleh kantor
Pusat
|
Kas xxx
Kantor
Cabang xxx
|
Kantor Pusat xxx
Piutang xxx
|
Laporan Keuangan Konsilidasi Kantor Pusat dan cabang
Dipandang dari segi ekonomi kantor pusat dan kantor cabang
adalah satu kesatuan ekonomi dan dianggap oleh pihak eksternal sebagai satu
perusahaan. Oleh karena itu, sesuai dengan konsep enterprise (satu
kesatuan ekonomi) kantor pusat harus menyusun Laporan Keuangan Konsolidasi (Consolidated
Income Statement) yang merupakan laporan keuangan gabungan antara kantor
pusat dan kantor cabang.
Prosedur penyusunan
Laporan Keuangan Konsolidasi:
1)
Membuat Jurnal Eliminasi
Jurnal eliminasi yang dibuat tidak akan mempengaruhi laporan keuangan
individual, baik kantor pusat maupun kantor cabang. Jurnal Eliminasi hanya
diposting pada kertas kerja yang dibuat dalam rangka penyusunan laporan
konsolidasi. Tujuan pembuatan jurnal eliminasi adalah menghilangkan
(mengeliminir) semua saldo rekening resiprokal. Caranya dengan mendebit
rekening yang dikredit dan mengkredit rekening yang didebet dari transaksi yang
bersifat resiprokal.
|
No.
|
Keterangan
|
Sistem Fisik
|
Sistem Perpetual
|
|
1.
|
Mengeliminasi saldo rekening KP dan KC
|
Kantor Pusat
xxx
Kantor
Cabang xxx
|
Kantor Pusat xxx
Kantor
Cabang xxx
|
|
2.
|
Mengeliminasi
Pengiriman Barang Dagang dari KP ke KC
|
Pengiriman BD ke KC xxx
Pengiriman
BD dari KP xxx
|
Tidak Dijurnal
|
|
3.
|
Eliminasi
bunga yang diperhitungkan atas
investasi KP di KC
|
Pendapatan Bunga xxx
Biaya
Bunga xxx
|
Pendapatan Bunga xxx
Biaya Bunga xxx
|
2)
Membuat Kertas Kerja
Prosedur yang harus
dilakukan dalam menyusun
kertas kerja:
a.
Memasukkan angka-angka
dari neraca saldo
atau laporan keuangan kantor pusat dan
kantor cabang.
b. Memasukkan angka-angka jurnal
eliminasi ke dalam
rekening debet-kredit yang sesuai.
c. Menghitung angka-angka yang
akan disajikan dalam
laporan keuangan konsolidasi yang
merupakan gabungan antara langkah 1
dan 2.
3)
Menyusun Laporan Keuangan Konsilidasi
Membuat laporan leuangan lonsolidasi
yang sumbernya berasal dari kolom terakhir kertas kerja sesuai dengan format
yang sesuai dengan PSAK No.1.
D.
PERMAALAHAN-PERMASALAHN
KHUSUS HUBUNGAN KANTOR PUSAT DENGAN KANTOR CABANG
Persoalan-persoalan
khusus di dalam akuntansi biasanya timbul (perusahaan menggunakan sistem desantralisasi),
apabila hubungan antara kantor pusat dan cabang menyangkut hal-hal berikut:
1. Pengiriman
aktiva antar cabang atas
perintah kantor pusat
Pengiriman aktiva antar cabang atas perintah
kantor pusat melibatkan tiga hal, yaitu: 1) kantor cabang pengirim, 2) kantor
cabang penerima dan 3) kantor cabang pusat. Transaksi yang tejadi dalam
kegiatan ini juga dicatat oleh tiga pihak. Pencatatan yang dilakukan oleh
masing- masing pihak akan tergantung pada jenis transaksi. Kegiatan ini
dikelompokkan mejadi tiga, yaitu:1) Pengiriman kas, 2) Pengiriman barang
dagangan yang dicatat atas dasar harga pokok dan 3) Pengiriman barang dagangan
yang dicatat di atas harga pokok.
2. Pengiriman
barang ke cabang di nota di atas harga pokok
Barang-barang yang dikirim oleh kantor pusat ke
cabang-cabang dinota di atas harga pokoknya, biasanya dilakukan salah satu dari
dua macam, yaitu dinota dengan tambahan % tertentu diatas harga pokok dan dinota dengan harga jual eceran.
3. Kantor cabang di luar
negeri
Apabila kantor cabang berada di luar negeri,
maka masalah khusus yang dihadapi akan menjadi semakin kompleks. Di samping
tiga masalah khusus di atas, beberapa tambahan masalah yang timbul berkenaan
dengan penjabaran laporan keuangan kantor cabang yang semula dijabarkan dalam
mata uang asing (dilihat dari kantor pusat) ke dalam mata uang domestik yang
digunakan oleh kantor pusat. Masalah tersebut timbul karena kurs suatu mata
uang terhadap mata uang lain selalu mengalami perubahan. Di dalam menjabarkan
laporan keuangan yang disajikan di dalam mata uang asing ke dalam mata uang
domestik tersebut terdapat beberapa metode, antara lain :
1.
Current rate method (pemilihan tingkat kurs
sehingga rekening laporan keuangan dikelompokkan menjadi dua, yaitu rekening
timbal balik dan non timbal balik).
2.
Non-current rate method (sebelum laporan
keuangan perusahaan anak dijabarkan ke dalam mata uang domestik maka laporan
keuangan tersebut harus dinilai kembali dari mata uang non-fungsional ke dalam
mata uang fungsional, dilakukan berdasarkan FASB Statement no.52).
3.
Current/ non-current
method (penjabaran laporan keuangan kantor cabang dikelompokkan menjadi
tiga, yaitu rekening neraca lancar, rekening neraca tidak lancar dan rekening
laba rugi).
4.
Monetary /non-monetary
method ( penjabaraan laporan keuangan kantor cabang dikelompokkan menjadi
tiga, yaitu rekening moneter, rekening non-moneter dan rekening laba rugi).
5.
Temporar method (penjabaran rekening
laporan keuangan dikelompokkan mejadi tiga, yaitu : 1) rekening neraca yang
dinilai berdasar harga pokok historis akan dijabarkan berdasarkan kurs
historis, 2) ) rekening neraca yang dinilai berdasar nilai pasar atau nilai
masa yang akan datang akan dijabarkan berdasar kurs pada tanggal neraca, dan 3)
rekening laba rugi dijabarkan berdasarkan kurs rata-rata).
Contoh soal :
1. Sistem sentralisasi
Pada awal tahun 2011,
perusahaan tersebut membuka sebuah kantor cabang di Yogyakarta. Transaksi
kantor pusat dan kantor cabang selama tahun 2011:
1. Kantor pusat mengirim kassebesar Rp150.000 untuk
pembukaan cabang.
2. Kantor cabang membeli aktiva tetap seharga
Rp100.000 secara tunai. Akuntansi aktiva tetap kantor cabang diselenggarakan
oleh kantor pusat.
3. Pembelian barang dagangan, semuanya secara
kredit, yaitu :Kantor pusat : Rp1.250.000
dan Kantor cabang : Rp250.000
4. Pengiriman barang dagangan dari kantor pusat ke
kantor cabang Rp325.000.
5. Penjualan, semuanya ssecara kredit, kantor pusat
Rp 1.500.000 dan kantor cabang Rp750.000. Harga pokok atas barang dagangan yang
dijual tersebut masing- masing Rp1.000.000 dan Rp500.000.
Berikut ini neraca PT Delta per 31 Desember 2010
PT DELTA
Neraca
Per 31 Desember 2010 (dalam jutaan)
Kas Rp 250.000 Utang usaha Rp 100.000
Piutang dagang (neto) 125.000 Modal saham 500.000
Persediaan 275.000 Laba ditahan 400.000
Total aktiva
Rp 1.000.000
Total passiva Rp 1.000.000
6. Penagihan piutang dagang KP : Rp 1.400.000 dan KC
: Rp600.000
7. Pembayaran utang dagang : KP : Rp1.200.000 dan KC : Rp200.000
8. Pengeluaran kas untuk membayar biaya komersial: KP
: Rp275.000 dan KC : Rp100.000
9. Pembebanan biaya kantor pusat kepada kantor
cabang Rp50.000
10. Pengiriman kas dari kantor cabang ke kantor
pusat sebesar Rp 300.000
11. Penyusutan aktiva tetap: KP : Rp40.000 dan KC :
Rp10.000
12. Kantor pusat membagi dividen dalam bentuk kas
sebesar Rp100.000.
Penyelesaian :
Transaksi- transaksi akan dicatat oleh kantor pusat sebagai
berikut :
1. Kas – Kantor cabang Rp 150.000
Kas Rp
150.000
(mencatat pembukuan kantor cabang)
2. Aktiva tetap – Kantor cabang Rp 100.000
Kas –
Kantor cabang Rp
100.000
3. Persediaan Rp
1.250.000
Utang dagang Rp 1.250.000
(mencatat pembeliaan
yang dilakukan oleh kantor pusat)
Persediaan – Kantor
cabang Rp 250.000
Utang dagang Rp 250.000
(mencatat pembelian yang
dilakukan oleh kantor cabang)
4. Persediaan – Kantor cabang Rp
325.000
Persediaan Rp 325.000
(mencatat pengiriman
barang dagangan ke kantor cabang)
5. Piutang dagang Rp
1.500.000
Penjualan Rp1.500.000
Hpp Rp
1.000.000
Persediaan Rp
1.000.000
(mencatat penjualan dan
HPP kantor pusat)
Piutang dagang Rp 750.000
Penjualan Rp 750.000
HPP Rp 500.000
Persediaan Rp 500.000
(mencatat penjualan dan
HPP kantor cabang)
6. Kas Rp
1.400.000
Piutang dagang Rp 1.400.000
(mencatat penagihan
piutang dagang kantor pusat)
Kas – Kantor Cabang Rp 600.000
Piutang dagang Rp 600.000
(mencatat penagihan
piutang dagang kantor cabang)
7. Utang dagang Rp
1.200.000
Kas Rp
1.200.000
(mencatat pembayaran
utang dagang kantor pusat)
Utang dagang Rp 120.000
Kas –
Kantor Cabang Rp 120.000
(mencatat pembayaran
utang dagang kantor cabang)
8. Biaya komersial Rp 275.000
Kas Rp 275.000
(mencatat pengeluaran
kas untuk biaya komersial di kantor pusat)
Biaya komersial–Kantor
cabang Rp 100.000
Kas – Kantor cabang Rp 100.000
(mencatat pengeluaran
kas untuk biaya komersial di kantor cabang)
9. Biaya komersial – Kantor cabang
Rp 50.000
Biaya komersial Rp 50.000
(mencatat pembebanan
biaya kepada kantor cabang)
10. Kas Rp 300.000
Kas – Kantor cabang Rp 300.000
(mencatat pengiriman kas
dari kantor cabang)
11. Biaya komersial Rp
40.000
Aktiva tetap Rp
40.000
(mencatat penyusutan
aktiva tetap kantor pusat)
Biaya komersial Rp 10.000
Aktiva tetap Rp 10.000
(mencatat penyusutan
aktiva tetap kantor cabang)
12. Laba ditahan Rp 100.000
Kas Rp 100.000
(mencatat pembagian
dividen)
PT
DELTA
Neraca
Saldo
Kas Rp 225.000
Utang dagang Rp
150.000
Kas –Kantor cabang 130.000
Utang dagang- Kantor cabang 130.000
Piutang dagang 225.000
Modal saham 500.000
Piutang dagang–Kantor cabang 150.000
Laba ditahan 300.000
Persediaan 200.000 Penjualan 1.500.000
Aktiva tetap 310.000 Total
passiva Rp3.330.000
Aktiva tetap – Kantor cabang 90.000
HPP 1.000.000
HPP – Kantor cabang 500.000
Biaya komersial 265.000
Biaya komersial –Kantor cabang 160.000
Berdasarkan transakasi dan data di atas maka dapat dibuat laporan keuangan:
PT
DELTA
Laporan
Laba- Rugi
Tahun
2011
Penjualan 1.500.000 750.000 2.250.000
Laba kotor
500.000 250.000 750.000
Laba
bersih 235.000 90.000
325.000
Jurnal penutup :
Penjualan – Kantor cabang Rp750.000
HPP Kantor cabang Rp500.000
Biaya komersial – Kantor cabang 160.000
Laba rugi – Kantor cabang
90.000
(mencatat dan mengakui laba atau rugi kantor
cabang)
Penjualan Rp1.500.000
Laba rugi – Kantor cabang 90.000
HPP Rp1.000.000
Biaya komersial 265.000
Laba rugi 325.000
(mencatat dan mengakui laba rugi perusahaan)
PT
DELTA
Neraca
setelah Penutupan
Kas: Utang
dagang :
Kantor pusat Rp225.000 Kantor
pusat Rp150.000
Piutang dagang: Modal saham 500.000
Persediaan:
Jumlah aktiva Rp1.405.000
1. Sistem desentralisasi
Sesuai dengan contoh soal (termaksud transaksi dan kegiatan
perusahaan) pada sistem sentralisasi, maka pencatatan dilakukan.
Penyelesaian :
Transaksi tersebut akan dicatat oleh kantr pusat dan kantor
cabang.
|
No.
|
Kantor Pusat (KP)
|
Kantor Cabang (KC)
|
|
1.
|
Kantor cabang Rp150.000
|
Kas
Rp150.000
|
|
Kas Rp150.000
|
Kantor pusat Rp150.000
|
|
|
(mencatat pengiriman kas ke kantor
cabang dari kantor pusat)
|
||
|
2.
|
Aktiva tetap-KC Rp100.000
|
KP Rp100.000
|
|
Kantor cabang Rp100.000
|
Kas Rp100.000
|
|
|
(mencatat pembelian aktiva oleh kantor
cabang dan kantor pusat)
|
||
|
3.
|
Pembelian Rp1.250.000
|
Pembelian Rp1.250.000
|
|
Utang dagang Rp1.250.000
|
Utang dagang Rp1.250.000
|
|
|
(mencatat pembelian barang dagangan oleh kantor pusat dan
kantor cabang)
|
||
|
4.
|
Kantor cabang Rp350.000
|
Pengiriman barang dr KP Rp350.000
|
|
Pengiriman barang ke KC Rp350.000
|
KP Rp350.000
|
|
|
(mencatat pengiriman barang dagang ke
kantor cabang dari kantor pusat)
|
||
|
5.
|
Piutang dagang Rp1.500.000
|
Piutang dagang Rp1.500.000
|
|
Penjualan Rp1.500.000
|
Penjualan Rp1.500.000
|
|
|
(mencatat penjualan barang dagangan
secara kredit oleh KP dan KC)
|
||
|
6.
|
Kas
Rp1.400.000
|
Kas
Rp1.400.000
|
|
Piutang dagang Rp1.400.000
|
Piutang dagang Rp1.400.000
|
|
|
(mencatat penagihan piutang dagang oleh
KP dan KC)
|
||
|
7.
|
Utang dagang Rp1.200.000
|
Utang dagang Rp1.200.000
|
|
Kas Rp1.200.000
|
Kas Rp1.200.000
|
|
|
(mencatat pelunasan utang dagang KP dan
KC)
|
||
|
8.
|
Biaya komersial Rp275.000
|
Biaya komersial Rp275.000
|
|
Kas Rp275.000
|
Kas Rp275.000
|
|
|
(mencatat pembayaran biaya komersial
oleh KP dan KC)
|
||
|
9.
|
KC
Rp50.000
|
Biaya komersial Rp50.000
|
|
Biaya komersial Rp50.000
|
KP Rp50.000
|
|
|
(mencatat alokasi biaya ke KC dari KP)
|
||
|
10.
|
Kas
Rp300.000
|
KP
Rp300.000
|
|
KC Rp300.000
|
Kas Rp300.000
|
|
|
(mencatat pengiriman kas dari KC ke KP)
|
||
|
11.
|
KC
Rp10.000
|
Biaya komersial Rp10.000
|
|
Aktiva tetap-KC Rp10.000
|
KP Rp10.000
|
|
|
(mencatat penyusutan aktiva tetap ke KC
dari KP)
|
||
|
Biaya komersial Rp40.000
|
-
|
|
|
Aktiva tetp Rp40.000
|
-
|
|
|
(mencatat penyusutan aktiva tetap KP)
|
||
|
12.
|
Laba ditahan Rp100.000
|
-
|
|
Kas Rp100.000
|
-
|
|
|
(mencatat pembagian dividen)
|
-
|
|
Neraca saldo
Aktiva
Kas 225.000 130.000
Piutang
dagang (neto) 225.000
150.000
Persediaan 275.000
-
Aktiva
tetap (neto) 310.000 -
Aktiva
tetap–KC 90.000 -
Pembelian
1.250.000
250.000
Pengiriman
barang dari KP
- 325.000
Biaya
komersial 260.000
160.000
Total aktiva 2.775.000 1.015.000
Passiva
Utang
dagang 150.000 130.000
Modal
saham 500.000 -
Laba
ditahan 300.000 -
Penjualan 1.500.000 750.000
Pengiriman
barang ke KC 325.000 -
Total passiva 2.775.000 1.015.000
Laporan keuangan akhir
tahun 2011 diketahui bahwa persediaan akhir pada kantor pusat sebesaar
Rp200.000 dan kantor cabang sebesar Rp75.000.
Dari neraca saldo dan
persediaan dilakukan penyusunan keuangan untuk:
1. Kantor Cabang
PT DELTA – KANTOR CABANG YOGYAKARTA
Laporan Laba/Rugi
Tahun 2011
Harga pokok penjualan :
Pembelian Rp250.000
Barang
tersedia dijual
Rp575.000
Laba kotor Rp250.000
Laba
bersih Rp 90.000
Dari laporan laba rugi di atas, kantor cabang
membuat jurnal penutup, yaitu:
1) Penjualan Rp750.000
Laba/rugi Rp750.000
(menutup pendapatan)
2) Laba rugi Rp660.000
HPP Rp500.000
Biaya komersial 160.000
(menutup biaya)
3) Laba rugi Rp 90.000
Kantor pusat Rp 90.000
(menutup laba bersih yang diperoleh dari KC yang
merupakan hak KP)
Kantor cabang Rp 90.000
Laba/rugi Kantor cabang Rp 90.000
(menutup laba kotor yang diakui oleh KC dan
dicatat oleh KP)
PT DELTA – KANTOR CABANG YOGYAKARTA
Neraca
Kas Rp130.000 Utang dagang Rp130.000
Piutang dagang (neto) 150.000
Kantor pusat 225.000
Jumlah
aktiva Rp355.000 Jumlah passiva Rp355.000
2. Kantor Pusat
PT DELTA – KANTOR CABANG YOGYAKARTA
Laporan Laba/Rugi
Tahun 2011
Harga pokok penjualan :
Persediaan
awal Rp 275.000
Rp1.525.000
Barang tersedia dijual Rp1.200.000
Laba kotor Rp 500.000
Biaya komersial 165.000
PT DELTA – KANTOR CABANG YOGYAKARTA
Neraca
Kas Rp225.000 Utang dagang Rp150.000
Piutang dagang (neto) 225.000
Modal saham 500.000
Persediaan 200.000 Laba ditahan 625.000
Jumlah aktiva Rp1.275.000 Jumlah passiva Rp355.000
3. Laporan keuangan konsolidasi
Diketahui jumlah
persediaan di kantor pusat sebesar Rp200.00 dan kantor cabang sebesar Rp75.000
dengan menggunakan peritungan fisik.
a. Jurnal eliminasi
1) Kantor pusat Rp135.000
Kantor cabang Rp135.000
(mengeliminasi rekening
koran KC dan KP)
2) Pengiriman barang ke KC Rp325.000
Pengiriman barang dari
KP Rp325.000
(mengeliminasi
pengiriman barang dari KP ke KC)
b. Kertas kerja
|
PT DELTA
|
||||||||
|
Kertas Kerja
|
||||||||
|
Tahun 2011 (dalam 000 Rp)
|
||||||||
|
Rekening
|
Neraca Saldo
|
Jurnal Eliminasi
|
L/R Konsolidasi
|
Neraca Konsolidasi
|
||||
|
KP (Rp)
|
KC (Rp)
|
Dr (Rp)
|
Kr (Rp)
|
Dr (Rp)
|
Kr (Rp)
|
Dr (Rp)
|
Kr (Rp)
|
|
|
Debit
|
|
|||||||
|
Kas
|
225
|
130
|
-
|
-
|
-
|
-
|
335
|
-
|
|
Piutang dagang (neto)
|
225
|
150
|
-
|
-
|
-
|
-
|
375
|
-
|
|
Persediaan awal
|
275
|
-
|
-
|
-
|
275
|
-
|
-
|
-
|
|
Aktiva tetap (neto)
|
310
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
310
|
-
|
|
Aktiva tetap -KC
|
90
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
90
|
-
|
|
Pembelian
|
1.250
|
250
|
-
|
-
|
1.500
|
-
|
-
|
-
|
|
Pengiriman barang dari KP
|
-
|
325
|
-
|
2)325
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Biaya operasi
|
265
|
160
|
-
|
-
|
425
|
-
|
-
|
-
|
|
Kantor cabang
|
135
|
-
|
-
|
1)135
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Persediaan akhir-neraca
|
200
|
75
|
-
|
-
|
-
|
-
|
275
|
-
|
|
|
2.975
|
1.190
|
|
|||||
|
Kredit
|
|
|||||||
|
Utang dagang
|
150
|
130
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
280
|
|
Modal saham
|
500
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
500
|
|
aba ditahan
|
300
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
300
|
|
Penjualan
|
1.500
|
750
|
-
|
-
|
-
|
2.250
|
-
|
-
|
|
Pengiriman barang ke KC
|
325
|
-
|
2)325
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Kantor pusat
|
-
|
135
|
1)135
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Persediaan akhir-Laba/Rugi
|
200
|
75
|
-
|
-
|
-
|
275
|
-
|
-
|
|
|
3075
|
1.190
|
460
|
460
|
2.200
|
2.525
|
-
|
-
|
|
Laba bersih konsolidasi
|
325
|
-
|
325
|
|||||
|
|
|
|
|
|
2.525
|
2.525
|
1.405
|
1.405
|
c. Laporan keuangan konsolidasi
|
PT DELTA
|
||
|
Laporan Laba/Rugi Konsolidasi
|
||
|
|
||
|
Penjualan
|
|
|
|
Harga pokok penjualan
|
Rp2.250.000
|
|
|
Persediaan awal
|
Rp
275.000
|
|
|
Pembelian
|
1.500.000
|
|
|
Barang tersedia dijual
|
|
|
|
Persediaan akhir
|
275.000
|
|
|
Harga pokok penjualan
|
|
Rp1.500.000
|
|
Laba kotor
|
|
|
|
Biaya operasi
|
|
|
|
Laba bersih
|
|
Rp
325.000
|
|
PT DELTA
|
|
|
Laporan Perubahan Laba Ditahan
|
|
|
|
|
|
Laba ditajan 1 Januari 2011
|
Rp400.000
|
|
Laba bersih
|
325.000
|
|
|
|
|
Pembagian dividen
|
100.000
|
|
Laba ditahan 31
Desember 2011
|
|
|
PT DELTA
|
|||
|
Neraaca Konsolidasi
|
|||
|
|
|||
|
Aktiva
|
Passiva
|
|
|
|
Kas
|
Rp 355.000
|
Utang dagang
|
Rp 280.000
|
|
Piutang dagang (neto)
|
375.000
|
Modal saham
|
500.000
|
|
Persediaan
|
275.000
|
Laba ditahan
|
625.000
|
|
Aktiva tetap (neto)
|
|
|
|
|
Total aktiva
|
Rp1.405.000
|
Total passiva
|
Rp1.405.000
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen o yo rek,, *suwun