JURUS JITU PENGAJAR HANDAL
Judul Buku : Kiat Nyaman Mengajar di Dalam Kelas
Penulis : Ronald L. Partin
Penerbit : PT Macanan Jaya Cemerlang
Tebal : 235 halaman
Bagi kami buku ini sangat menarik, karena buku ini
menunjang profesi kami di masa yang akan datang sebagai seorang guru. Setelah
membaca buku ini banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh. Banyak metode baru untuk diterapkan pada proses
belajar mengajar, agar tercipta suasana kelas yang menarik dan menyenangkan.
Hal tersebut diharapkan agar siswa dapat
berinteraksi dengan baik di dalam kelas dan tidak merasa terbebani untuk
mengikuti pelajaran yang kita berikan. Semua ini bertujuan agar para siswa dapat menyerap pelajaran dengan baik, sehingga
tercipta iklim pendidikan yang kondusif.
Dalam bab I dijelaskan tentang bagaimana cara menciptakan
lingkungan pembelajaran yang mendukung kelancaran proses belajar mengajar.
Dijelaskan bahwa keberhasilan mengajar ditentukan pada hari pertama di sekolah.
Semua yang dilakukan pada hari pertama akan menentukan sisa tahun itu. Nasihat
terbaik di hari pertama adalah “Bersiaplah”. Bersiap disini maksudnya adalah
kita harus menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam kegiatan tersebut
serta bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi pada saat itu.
Dalam
pembahasan ini banyak sekali hal-hal yang tidak pernah terpikirkan dalam benak
kita ternyata sangat penting untuk diperhatikan, antara lain mulai diri menyiapkan
peralatan yang diperlukan dalam proses belajar mengajar, pengaturan letak
bangku para siswa, pengaturan meja guru yang ditujukan agar dapat menjangkau
seluruh siswa, berkenalan dengan para siswa dan berusaha menghafal nama-nama
mereka, menjelaskan harapan-harapan yang kita inginkan dengan jelas, sampai
menyapa para siswa dengan senyum termanis. Dan dalam pembahasan ini ada sebuah
kalimat yang sangat berkesan dalam benak kami, yaitu “saya tidak mengharap agar
kamu sempurna. Saya memang berharap agar kalian mau berjuang untuk mencapai
keunggulan dan berupaya untuk meningatkan diri. Kita semua akan mencetak
kesalahan, namun yang terpenting adalah belajar dari kesalahan-kesalahan itu.”
Dalam pembahasan bab I ini juga sangat disarankan sentuhan
humor yang berukuran sedang sehingga mampu menghangatkan suasana di dalam
kelas. Sentuhan humor
merupakan tikar selamta datang antara pembicara dan hadirin. Cara tersebut sangat ampuh untuk memecahkan kekakuan
dan dapat mengambil perhatian dari hadirin. Banyak sekali manfaat yang dapat
diambil dari humor-humor yang kita lontarkan, antara lain menangkap kembali
perhatian siswa dan memantapkan daya ingat mereka, serta meningkatkan prestasi.
Selain itu, humor juga menjadikan siswa lebih kreatif, dapat meredakan situasi
yang tegang, dan dapat meredakan stress di dalam kelas. Kita dapat sepenuhnya
spontan atau direncanakan dalam menyampaikan humor. Beberapa orang memang
mempunyai bakat secara alami namun, beberapa orang tidak dapat menyampaikan
humor secara langsung, sehingga perlu merencanakan humor. Jika kita adalah
salah satu orang yang tidak mempunyai bakat alami untuk berhumor dalam buku ini
juga dicantumkan beberapa sumber humor di internet yang bisa kita akses,
diantaranya Humor in the Classroom (www.abbottcom.com/Humor_in_the_classroo.htm), Humor Matters (www.humormatters.com), HumorSource (www.humorsource.com).
Sebelum memulai proses belajar mengajar guru disarankan
menetapkan sejumlah norma atau aturan agar kelas selalu dalam keadaan yang
terkendali dan kondusif. Guru hendaknya melibatkan siswa dalam menetapkan
peraturan, sehingga tidak ada pihak merasa dirugikan dan tidak terjadi
kesalahpahaman.
Beberapa orang berpikir bahwa memberi imbalan kepada
siswa hanyalah bentuk penyuapan, namun pemikiran tersebut salah karena memberi
imbalan bertujuan meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan prestasi siswa.
Misalnya hadiah untuk para siswa yang berperilaku baik dan berprestasi akan
mempengaruhi siswa yang lain untuk juga mendapatkan hadiah. Selain itu, pujian
umum dari guru dianggap kebanyakan siswa sebagai konsekuensi yang menyenangkan
dan secara positif akan memotivasi perilaku meraka. Namun, bagi sebagian siswa
misalnya beberapa remaja pria, pujian umum itu merupakan boomerang atau
menjadikan bahan ejekan dari teman-temannya. Sehingga kita perlu mengetahui
kondisi pada saat menyampaikan pujian tersebut.
Sudah lazim bagi siswa untuk berpaling kepada guru dan
mendapat bantuan dikala mengalami stress, kekecewaan, frustasi dan kehilangan.
Nyaris setiap hari guru memiliki peluang untuk menanggapi minimal satu
kekacauan emosional siswa. Jadilah pendengar yang baik, dan dunia akan
berbondong-bondong mendatangi anda. Para pendengar yang efektif telah menguasai seni untuk mengundang orang
agar menceritakan tentang dirinya sendiri. Mendengarkan adalah salah satu dari
hadiah yang paling berharga yang bisa kita berikan kepada para siswa. Sebagai
pendidik janganlah hanya menggurui para siswa karena ada saatnya kita harus
menjadi pendengar yang baik bahkan bila perlu kita harus bisa bertindak sebagai
teman yang siap menolong kapan saja. Apabila kita tidak bersifat menggurui maka
para siswa akan merasa lebih diperhatikan sehingga akan tercipata suasana yang
lebih harmonis. Namun kita juga harus tetap bisa menempatkan diri kita sesuai
porsi kita sebagai pendidik agar para siswa tetap menghargai dan memiliki rasa
hormat kepada kita.
Pembahasan
menarik yang selanjutnya adalah cara memberikan hukuman bagi siswa. Hukuman
badaniah sudah lazim dilakukan di Negara maju, seperti Amerika. Namun
akhir-akhir ini sejumlah Negara membatasi hukuman badaniah karena tidak akan
menyelesaikan masalah justru akan menimbulkan masalah baru. Hukuman badaniah
akan merubah perilaku buruk siswa hanya dalam jangka pendek saja, namun dampak
buruk yang ditimbulkan dari perlakuan ini sangat fatal dan menimbulan rasa
dendam yang akan mengakar dalam jangka waktu yang cukup lama. Selain itu, kita
dianjurkan untuk tidak berdebat dengan siswa. Karena perdebatan yang tak
terelakkan hanya akan menyebabkan salah satu dari anda kehilangan muka di depan
kelas. Omelan yang dilakukan tanpa ribut-ribut lebih efektif daripada teriakan.
Bahkan sejumlah riset menyatakan hardikan yang nyaring merupakan suatu hal yang
harus dihindari, karena para siswa akan lebih banyak mengingat hardikan itu
daripada pesan yang ingin kita sampaikan. Sehingga cara yang efektif untuk
mengingatkan perilaku siswa yang kurang baik adalah kita harus menyampaikannya
dengan menggunakan bahasa tubuh dan kata-kata yang semestinya.
Dari buku ini dapat disimpulkan bahwa menjadi seorang pendidik
yang baik bukanlah hal yang mudah. Seorang guru tidak hanya dituntut untuk
memberikan ilmu pengetahuan saja kepada peserta didik, tetapi juga harus
mendidik mereka menjadi manusia seutuhnya serta menjadi manusia yang siap
menghadapi tantangan di era globalisasi yang penuh dengan persaingan ini.
Pendidik diharapkan dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dalam proses
belajar mengajar agar para siswa mampu menyerap ilmu yang diberikan dan sebisa
mungkin benar-benar menjadi guru yang dapat diteladani oleh para siswa,
sehingga terwujudlah fungsi pendidikan yang sesungguhnya. Buku-buku seperti
inilah yang dapat menuntun kita untuk menjadi tenaga pendidik yang handal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen o yo rek,, *suwun