Perkiraan
dan Antisipasi Terhadap Masyarakat Masa Depan
Dalam era globalisasi ini membuat
dunia seakan-akan menjadi sempit dan membuat batas-batas negara menjadi
transparan. Perkembangan iptek yang semakin pesat ini membuat masyarakat di
suatu negara bisa dengan cepat dan mudah untuk berkomunikasi dan mengetahui
peristiwa, gaya hidup, dan kebudayaan lain dari negara di seluruh dunia. Karena
itulah, diperlukan suatu kepribadian bangsa yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila
agar moral bangsa terlindungi dari dampak-dampak negatif globalisasi. Dampak
negatif ini banyak menyerang anak-anak muda bangsa, sehingga di perlukan
pendidikan untuk memberikan tuntunan agar mereka selalu menyaring budaya-budaya
luar terutama dari Barat yang sebagian bertentangan dengan kehidupan
kepribadian bangsa.
Tuntutan pendidikan sekarang dan
masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional,
serta sikap kepribadian dan moral manusia Indonesia yang menjiwai nilai-nilai
Pancasila. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian
diharapkan dapat mendudukkan diri secara bermartabat di masyarakat dunia di era
globalisasi ini. Seorang pendidik harus mengarahkan anak didiknya agar memiliki
visi yang
jelas mengenai masa depan mereka dan memiliki keunggulan kompetitif untuk mampu
bersaing di era global ini.
Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat
berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif,
terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis, dan toleran
dengan mengutamakan persatuan bangsa dan bukannya perpecahan. Untuk mewujudkan
hal tersebut diperlukan partisipasi dan kerja sama antara pelajar, pendidik,
orang tua, lingkungan masyarakat dan pemerintah. Empat pilar pendidikan
sekarang dan masa depan yang dicanangkan oleh UNESCO yang perlu dikembangkan
oleh lembaga pendidikan formal, yaitu: (1) learning to Know (belajar untuk
mengetahui), (2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dalam hal ini
kita dituntut untuk terampil dalam melakukan sesuatu, (3) learning to be
(belajar untuk menjadi seseorang), dan (4) learning to live together (belajar
untuk menjalani kehidupan bersama).
Menurut saya, untuk menciptakan “Learning to know”, pelajar harus
berperan aktif, maksudnya dalam melakukan proses belajar mengajar, pendidik
hanya memberikan suatu gambaran umum, lalu pelajar mengembangkan sendiri
melalui diskusi atau praktek, sehigga pelajar akan lebih mengerti dan memahami pelajaran
yang diajarkan tersebut. “Learning to do”, di sini sekolah harus memfasilitasi
siswa untuk mengembangkan keterampilan, bakat dan minatnya. Keterampilan ini
nanti dapat digunakan sebagai keunggulan kompetitif untuk bersaing demi
keberhasilan masa depannya.
“Learning to be”, bagi anak yang agresif proses pengembangan diri
akan berjalan sendiri bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi, sebaliknya
bagi anak yang pasif pendidik harus mampu mengarahkan dan menjadi fasilitator
untuk pengembangan diri pelajar secara maksimal. “Learning to live together”, kebiasaan
untuk hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima perlu
ditumbuhkembangkan. Ini akan menciptakan suatu hubungan yang harmonis antar
individu. Hal ini juga memungkinkan untuk melakukan kerja sama, jadi individu
tidak perlu melakukan kompetitif, malah mereka bekerja sama untuk mencapai
tujuan yang ingin di capai.
“Dunia Pendidikan” pada akhirnya akan bermuara pada “dunia kerja”.
Untuk itu diperlukan suatu sistem untuk mengarahkan pelajar kepada dunia kerja.
Tapi dalam kenyataan sekarang ini, dunia pendidikan belum sepenuhnya mampu
untuk menyediakan individu yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Masih
banyak para sarjana yang menganggur. Padahal di era globalisasi ini pesaing
kita tidak hanya dalam lingkup negara, tetapi sudah dunia.
Menurut saya, hal itu di sebabkan oleh kesalahan individu yang
kurang memanfaatkan peluang dengan baik. Secara nyata mereka adalah sarjana,
itu saja merupakan keunggulan di bandingkan mereka yang tidak bisa melanjutkan
ke Perguruan Tinggi. Tentunya mereka lebih berwawasan, mereka bisa saling
bekerja sama untuk membuat usaha baru, sehingga mereka tidak usah melamar
kerja, malahan mereka yang membuka lapangan kerja. Sehingga dapat menurunkan angka
pengangguran. Dunia pendidikan seharusnya mampu untuk menciptakan lulusan yang
mampu membuat dunia kerja yang mengembangkan inisiatif, kreatifitas dan
entrepreneurship demi menghadapi era globalisasi ini.
Di desa, seharusnya lebih di kembangkan dalam sektor agraris. Hal ini bisa dikembangkan dengan sistem intenifikasi pertanian dengan iptek yang modern agar hasil pertanian bisa meningkat. Dan di kota bisa mengembangkan sektor swasta dan industri. Sehingga kota dan desa bisa saling melengkapi.
Di desa, seharusnya lebih di kembangkan dalam sektor agraris. Hal ini bisa dikembangkan dengan sistem intenifikasi pertanian dengan iptek yang modern agar hasil pertanian bisa meningkat. Dan di kota bisa mengembangkan sektor swasta dan industri. Sehingga kota dan desa bisa saling melengkapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen o yo rek,, *suwun