BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kegiatan
penelitian selalu bertitik tolak dari pengetahuan yang sudah ada. Pada semua
ilmu pengetahuan, ilmuwan selalu memulai penelitiannya dengan cara menggali
apa-apa yang sudah ditemukan oleh ahli-ahli lain dan memanfaatkan
penemuan-penemuan tersebut untuk kepentingan penelitiannya. Pemecahan dari
sebuah masalah yang telah diteliti tersebut menjadi teori yang dapat digunakan
sebagai dasar untuk memperkuat penelitian kita agar dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya. Dasar teori tersebut dapat dijadikan sebagai kajian pustaka dalam
hasil penelitian yang kita lakukan.
Tinjauan Pustaka mempunyai arti peninjauan kembali
pustaka-pustaka yang terkait (review of related literature). Sesuai
dengan arti tersebut, suatu tinjauan pustaka berfungsi sebagai peninjauan
kembali (review) pustaka (laporan penelitian, dan sebagainya) tentang masalah
yang berkaitan, tidak selalu harus tepat identik dengan bidang permasalahan
yang dihadapi tetapi termasuk pula yang seiring dan berkaitan (collateral).
Fungsi peninjauan kembali pustaka yang
berkaitan merupakan hal yang mendasar dalam penelitian, seperti dinyatakan oleh
Leedy (1997) bahwa semakin banyak seorang peneliti mengetahui, mengenal dan
memahami tentang penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya
(yang berkaitan erat dengan topik penelitiannya),
semakin dapat dipertanggung jawabkan caranya meneliti permasalahan yang
dihadapi.
Walaupun demikian, sebagian
penulis (usulan penelitian atau karya tulis)
menganggap tinjauan pustaka merupakan bagian yang
tidak penting sehingga ditulis “asal ada” saja atau hanya untuk sekedar
membuktikan bahwa penelitian (yang diusulkan) belum pernah dilakukan
sebelumnya. Pembuktian keaslian penelitian tersebut sebenarnya hanyalah salah
satu dari beberapa kegunaan tinjauan pustaka. Kelemahan lain yang sering pula dijumpai
adalah dalam penyusunan, penstrukturan atau pengorganisasian tinjauan pustaka.
Banyak penulisan tinjauan
pustaka yang mirip resensi buku (dibahas buku per buku, tanpa ada kaitan yang bersistem)
atau mirip daftar pustaka (hanya menyebutkan siapa penulisnya dan di pustaka
mana ditulis, tanpa membahas apa yang ditulis). Berdasar kelemahan-kelemahan
yang sering dijumpai di atas, tulisan ini berusaha untuk memberikan kesegaran
pengetahuan tentang cara-cara penulisan tinjauan pustaka yang lazim dilakukan. Mengingat
betapa pentingnya dan tingkat kesulitan yang cukup tinggi dalam penulisan
tinjauan pustaka, untuk itu kelompok kami akan membahas mengenai Tinjauan
Pustaka dan Kerangka Teoritis dalam makalah ini.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apakah
definisi kajian pustaka dan kerangka teoritis?
2.
Apakah
fungsi kajian pustaka bagi sebuah penelitian?
3.
Darimana
sumber-sumber bahan pustaka dapat diperoleh?
4.
Bagaimana
cara menyusun kajian pustaka?
5.
Bagaimana
keterkaitan antara tinjauan pustaka dengan daftar pustaka?
C. Tujuan
1.
Mengetahui
definisi kajian pustaka dan kerangka teoritis.
2.
Mengetahui
fungsi kajian pustaka bagi sebuah penelitian.
3.
Mengetahui
sumber-sumber bahan pustaka dapat diperoleh.
4.
Memahami
cara-cara menyusun kajian pustaka.
5.
Untuk
mengetahui keterkaitan antara tinjauan pustaka dengan daftar pustaka.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Kajian Pustaka dan Kerangka Teoritis
1. Definisi
dan Pentingnya Kajian Pustaka
Penelitian merupakan proses mencari pemecahan masalah
melalui prosedur
ilmiah. Tahap-tahap yang harus dilalui menurut prosedur ilmiah bukan hanya
dilakukan di laboratorium saja tetapi juga di kancah termasuk untuk bidang
pendidikan. Dalam melakukan penelitian langkah-langkah yang harus dilakukan
adalah sebagai berikut.
1.
Menghadapi masalah yang perlu dipecahkan.
2. Membatasi
dan merumuskan masalah dalam bentuk yang spesifik dan dapat dikenali dengan
jelas.
3. Mengembangkan
hipotesis (dugaan) pemecahan masalah.
4. Mengembangkan
teknik dan instrumen untuk mengumpulkan data yang mengarah
pada pembuktian hipotesis.
5. Mengumpulkan
data.
6. Menganalisis
data.
7.
Menarik kesimpulan dari data yang tersedia menuju pada
informasi tentang terbukti ada tidaknya hipotesis.
Kebanyakan para peneliti yang cukup bertindak
hati-hati selalu berusaha
mengikuti langkah-langkah ini. Ketaatan mengikuti langkah-langkah ini bukan
karena sekedar ingin taat pada ketentuan tetapi disebabkan karena rasa tanggung
jawab yang besar agar apa yang diperoleh merupakan sesuatu yang pantas
diperhitungkan sebagai sesuatu yang bermakna bagi orang banyak atas dasar
tanggung jawab yang tinggi.
Kegiatan penelitian selalu bertitik tolak dari
pengetahuan yang sudah ada. Pada semua ilmu pengetahuan, ilmuwan selalu memulai
penelitiannya dengan cara menggali apa-apa yang sudak diketemukan oleh
ahli-ahli lain dan memanfaatkan
penemuan-penemuan tersebut untuk kepentingan penelitiannya. Hasil penelitian
yang sudah berhasil memperkaya khasanah pengetahuan yang ada biasanya
dilaporkan dalam bentuk jurnal-jurnal penelitian. Ketika peneliti mulai membuat
rencana penelitian ia tidak bisa menghindar dan harus mempelajari
penemuan-penemuan tersebut dengan mendalami, mencermati, menelaah, dan
mengidentifikasi hal-hal yang telah ada untuk mengetahui apa yang ada dan yang
belum ada. Kegiatan itu biasa dikenal dengan istilah: mengkaji bahan pustaka
atau hanya disingkat dengan kajian pustaka atau telaah pustaka (literature
review).
Kajian pustaka
adalah kajian hasil penelitian yang relevan dengan pemasalahan. Fungsi kajian
pustaka adalah mengemukakan secara sistematis tentang hasil penelitian yang
diperoleh terdahulu dan ada hubungannya denga penelitian yang dilakukan.
Berdasarkan judul penelitian di atas, maka penulis menemukan
beberapa hasil penelitian yang relevan untuk mendukung penelitian tersebut.
Dengan mengetahui manfaat yang sangat signifikan peneliti akan dapat dengan
lancar dalam menyelesaikan pekerjaannya. Keharusan peneliti mengacu pada
pengetahuan, dalil, konsep atau ketentuan yang sudah ada maka kedudukan
peneliti sebagai ilmuwan menjadi mantap, kokoh, tegar, karena dalam kegiatannya
tersebut ia telah bekerja dengan baik, menggunakan aturan-aturan akademik yang
berlaku.
2.
Definisi Kerangka Teori
Perbedaan paradigma penelitian dapat dilihat paling
tidak pada dua aspek, yaitu: (1) posisi dan peran teori dan (2) cara pandang
terhadap fenomena. Mengingat pentingnya posisi dan peran teori dalam penelitian
kuantitatif, peneliti perlu memahami definisi yang menjelaskan mengenai
elemen-elemen dan fungsi teori.
Menurut Kelinger teori merupakan suatu kumpulan construct atau konsep (consepts), definisi (definitions), dan proposisi (propositions) yang menggambarkan
fenomena secara sistematis melalui penentuan hubungan antar variabel dengan
tujuan untuk menjelaskan (memprediksi) fenomena alam.
Ada
tiga hal pokok yang diungkap dalam definisi teori:
1.
Elemen teori terdiri atas:
construct, konsep, definisi, dan preposisi
2.
Elemen-elemen teori memberikan
gambaran sistematis mengenai fenomena melalui penentuan hubungan antar
variabel.
3.
Tujuan teori adalah untuk
menjelaskan dan memprediksi fenomena alam.
a.
Teori dan Penelitian
Karakteristik penelitian adalah adanya hubungan antara
penelitian dengan ilmu. Hubungan antara penelitian dengan ilmu juga dijelaskan
melalui peran penelitian dalam pemgembangan ilmu. Teori merupakan bagian dari
ilmu yang memberikan penjelasan (memprediksi) fenomena alam. Teori sebagai
bagian dari ilmu, dengan demikian juga mempanyai jalinan erat dengan
penelitian. Penelitian merupakan proses yang sistematis untuk mengembangkan
teori.
b.
Posisi dan Peran Teori
Adanya perbedaan paradigma antara penelitian kuantitatif
dan kualitatif mempengaruhi posisi dan peran teori dalam penelitian. Ditinjau
dari segi tujuan penelitian kedua paradigma tersebut mempunyai perbedaan
prinsip, sehingga masing-masing meletakkan posisi dan peran teori dengan
perlakuan yang berbeda.
Penelitian
kuantitatif yang mempunyai tujuan untuk menguji atau verifikasi teori,
meletakkan teori secara deduktif menjadi landasan dalam penemuan dan pemecahan
masalah penelitian. Teori merupakan kerangka dalam penelitian kuantitatif yang
melandasi perumusan masalah atau pertanyaan, pengembangan hipotesis, pengujian
data, dan pembuatan kesimpulan. Posisi dan peran strategis teori dalam
penelitian kuantitatif direfleksikan dalam hasil penelitian yang berupa
dukungan atau penolakan terhadap teori.
Penelitian kualitatif yang mempunyai tujuan untuk
menyusun teori memandang teori sebagai hasil induksi dari pengamatan terhadap
fakta (pengumpulan informasi). Teori pada dasarnya merupakan kulminasi dari penelitian
kualitatif yang disusun melalui proses pengumpulan data, kategorisasi data dan
pengembangan pola atau susunan (patterns).
Dari penjelasan mengenai teori di atas, yang dimaksud dengan kerangka teori
adalah sekumpulan susunan
konsep, definisi,
dan preposisi mengenai prediksi fenomena alam yang terjadi dengan cara
menentukan hubungan antar variabel.
B.
Fungsi
Kajian Pustaka
Dalam penyusunan sebuah penelitian, sangat diperlukan suatu dasar
teori yang kuat agar sebuah penelitian tidak diragukan kebenarannya. Dasar
teori yang dicantumkan dalam sebuah penelitian biasa disebut sebagai kajian
pustaka dan kerangka teori. Kajian pustaka dan kerangka teori dipaparkan dengan
maksud untuk memberikan gambaran tentang kaitan upaya pengembangan dengan upaya-upaya
lain yang mungkin sudah pernah dilakukan para ahli untuk mendekati permasalahan
yang sama atau relatif sama. Dengan demikian pengembangan yang dilakukan
memiliki landasan empiris yang kuat. (UM, 2005). Berikut ini akan dipaparkan
mengenai fungsi-fungsi dari kajian pustaka.
Amirin (2000) memaparkan bahwa kajian pustaka juga digunakan untuk
menyeleksi masalah-masalah yang akan diangkat menjadi topik penelitian serta
untuk menjelaskan kedudukan masalah dalam tempatnya yang lebih luas. Konstruksi
teoritik yang ada dalam kajian pustaka akan memberikan landasan bagi
penelitian. Sehingga sumbangan kajian pustaka pada penelitian dapat dijelaskan
sebagai berikut;
1.
Konstruksi Teoritik sebagai
Dasar
Penelitian apa pun tidak akan terlepas dari kerangka teori. Penelitian
tidaklah berarti tanpa teori sama sekali. Paling tidak sebagai pegangan atau
pedoman untuk memberikan asumsi atau postulat, prinsip, teori, konsep,
preposisi dan definisi operasional.
2.
Konstruksi
Teoritik sebagai Tolok Ukur
Penelitian tindakan berupaya untuk meningkatkan kinerja pembelajaran
atau proses kegiatan pembelajaran sehingga perlu sarana untuk mengontrol baik
tidaknya prosedur yang digunakan. Kerangka teori dapat membantu sebagai ukuran
patokan (standart atau tolok ukur) yang dimaksud.
3.
Konstruksi Teoritik sebagai
Sumber Hipotesa
Hipotesa pada umumnya dimunculkan
dari kajian teori. Teori-teori yang diragukan akan dicoba dan diuji kembali
sehingga terbentuklah hipotesa. Dasar rasional mengapa harus diuji kembali
karena pembuktian secara teoritis harus diimbangi dengan pembuktian secara
empiris.
Sedangkan
menurut Leedy (1997:71) menerangkan bahwa suatu tinjauan pustaka mempunyai
kegunaan untuk:
1. Mengungkapkan
penelitian-penelitian yang serupa dengan penelitian yang (akan) kita lakukan; dalam hal ini,
diperlihatkan pula cara penelitian-penelitian tersebut menjawab permasalahan dan merancang metode penelitiannya.
2. Membantu
memberi gambaran tentang metoda dan teknik yang dipakai dalam penelitian yang
mempunyai permasalahan serupa atau mirip penelitian yang kita hadapi.
3. Mengungkapkan
sumber-sumber data (atau judul-judul pustaka yang berkaitan)
yang mungkin belum kita ketahui sebelumnya.
4. Mengenal
peneliti-peneliti yang karyanya penting dalam permasalahan yang kita hadapi
(yang mungkin dapat dijadikan nara sumber atau dapat ditelusuri karya -karya
tulisnya yang lain yang
mungkin terkait).
5. Memperlihatkan
kedudukan penelitian yang (akan) kita lakukan dalam sejarah perkembangan dan
konteks ilmu pengetahuan atau teori tempat penelitian ini berada.
6. Mengungkapkan
ide-ide dan pendekatan-pendekatan yang mungkin belum kita kenal sebelumya.
7. Membuktikan
keaslian penelitian (bahwa penelitian yang kita lakukan berbeda dengan penelitian-penelitian
sebelumnya).
8. Mampu
menambah percaya diri kita pada topik yang kita pilih karena telah ada pihak-pihak lain yang sebelumnya juga
tertarik pada topik tersebut dan mereka telah mencurahkan tenaga, waktu dan biaya untuk meneliti
topik tersebut.
Dalam
penjelasan yang hampir serupa, Castetter dan Heisler (1984:38-43) menerangkan bahwa tinjauan
pustaka mempunyai enam kegunaan, yaitu:
1. mengkaji
sejarah permasalahan;
2. membantu
pemilihan prosedur penelitian;
3. mendalami
landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan;
4. mengkaji
kelebihan dan kekurangan hasil penelitian terdahulu;
5. menghindari
duplikasi penelitian; dan
6. menunjang
perumusan permasalahan.
Satu persatu kegunaan (yang saling kait mengkait)
tersebut dibahas dalam bagian berikut ini.
Kegunaan
1: Mengkaji sejarah permasalahan
Sejarah
permasalahan meliputi perkembangan permasalahan dan perkembangan penelitian
atas permasalahan tersebut. Pengkajian terhadap perkembangan permasalahan
secara kronologis sejak permasalahan tersebut timbul sampai pada keadaan yang
dilihat kini akan member gambaran yang lebih jelas tentang perkembangan materi
permasalahan (tinjauan dari waktu ke waktu: berkurang atau bertambah parah; apa
penyebabnya). Mungkin saja, tinjauan seperti ini mirip dengan bagian “Latar
belakang permasalahan” yang biasanya ditulis di bagian depan suatu usulan
penelitian. Bedanya: dalam tinjauan pustaka, kajian selalu mengacu pada pustaka
yang ada. Pengkajian kronologis atas penelitian-penelitian yang pernah dilakukan
atas permasalahan akan membantu memberi
gambaran tentang apa yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti lain dalam
permasalahan tersebut. Gambaran bermanfaat terutama tentang pendekatan yang dipakai dan hasil
yang didapat.
Kegunaan
2: Membantu pemilihan prosedur penelitian
Dalam
merancang prosedur penelitian (research design), banyak untungnya untuk
mengkaji prosedur-prosedur (atau pendekatan) yang pernah dipakai oleh
peneliti-peneliti terdahulu dalam meneliti permasalahan yang hampir serupa.
Pengkajian meliputi kelebihan dan kelemahan prosedur-prosedur yang dipakai
dalam menjawab permasalahan. Dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan
prosedur-prosedur tersebut, kemudian dapat dipilih, diadakan penyesuaian, dan
dirancang suatu prosedur yang cocok untuk penelitian yang dihadapi.
Kegunaan
3: Mendalami landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan
Salah
satu karakteristik penelitian adalah kegiatan yang dilakukan haruslah berada
pada konteks ilmu pengetahuan atau teori yang ada. Pengkajian pustaka, dalam
hal ini, akan berguna bagi pendalaman pengetahuan seutuhnya (unified
explanation) tentang teori atau bidang ilmu pengetahuan yang berkaitan
dengan permasalahan. Pengenalan teori-teori yang tercakup dalam bidang atau
area permasalahan diperlukan untuk merumuskan landasan teori sebagai basis
perumusan hipotesa atau keterangan empiris yang diharapkan.
Kegunaan
4: Mengkaji kelebihan dan kekurangan hasil penelitian terdahulu
Di
bagian awal tulisan ini disebutkan bahwa kegunaan tinjauan pustaka yang dikenal
umum adalah untuk membuktikan bahwa penelitian (yang diusulkan) belum pernah
dilakukan sebelumnya. Pembuktian keaslian penelitian ini bersumber pada
pengkajian terhadap penelitian-penelitian yang pernah dilakukan. Bukti yang
dicari bisa saja berupa kenyataan bahwa belum pernah ada penelitian yang
dilakukan dalam permasalahan itu, atau hasil penelitian yang pernah ada belum
mantap atau masih mengandung kesalahan atau kekurangan dalam beberapa hal dan
perlu diulangi atau dilengkapi.
Dalam
penelitian yang akan dihadapi sering diperlukan pengacuan terhadap prosedur dan
hasil penelitian yang pernah ada (lihat kegunaan 2). Kehati-hatian perlu ada
dalam pengacuan tersebut. Suatu penelitian mempunyai lingkup keterbatasan serta
kelebihan dan kekurangan. Evaluasi yang tajam terhadap kelebihan dan kelemahan
tersebut akan berguna terutama dalam memahami tingkat kepercayaan (level of
significance) hal-hal yang diacu. Perlu dikaji dalam penelitian yang
dievaluasi apakah temuan dan kesimpulan berada di luar lingkup penelitian atau
temuan tersebut mempunyai dasar yang sangat lemah. Evaluasi ini menghasilkan
penggolongan pustaka ke dalam dua kelompok:
a. Kelompok
Pustaka Utama (Significant literature);
b. Kelompok
Pustaka Penunjang (Collateral Literature).
Kegunaan
5: Menghindari duplikasi penelitian
Kegunaan
yang kelima ini, agar tidak terjadi duplikasi penelitian, sangat jelas
maksudnya. Masalahanya, tidak semua hasil penelitian dilaporkan secara luas.
Dengan demikian, publikasi atau seminar atau jaringan informasi tentang
hasil-hasil penelitian sangat penting. Dalam hal ini, peneliti perlu mengetahui
sumber-sumber informasi pustaka dan mempunyai hubungan (access) dengan
sumber-sumber tersebut. Tinjauan pustaka, berkaitan dengan hal ini, berguna
untuk membeberkan seluruh pengetahuan yang ada sampai saat ini berkaitan dengan
permasalahan yang dihadapi (sehingga dapat menyakinkan bahwa tidak terjadi
duplikasi).
Kegunaan 6: Menunjang perumusan permasalahan
Kegunaan yang keenam dan taktis ini
berkaitan dengan perumusan permasalahan. Pengkajian pustaka yang meluas (tapi
tajam), komprehe nsif dan bersistem, pada akhirnya harus diakhiri dengan suatu
kesimpulan yang memuat permasalahan apa yang tersisa, yang memerlukan
penelitian; yang membedakan penelitian yang diusulkan dengan
penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Dalam kesimpulan
tersebut, rumusan permasalahan ditunjang kemantapannya (justified). Pada
beberapa formulir usulan penelitian (seperti misalnya pada formulir Usulan
Penelitian DPP FT UGM), bagian kesimpulan ini sengaja dipisahkan tersendiri
(agar lebih jelas menonjol) dan ditempatkan sesudah tinjauan pustaka serta
diberi judul “Keaslian Penelitian”.
Dari berbagai pendapat yang mencoba
untuk memaparkan mengenai fungsi dan kegunaan dari sebuah kajian pustaka, dapat
diketahui bersama bahwa kajian pustaka dan kerangka teori sangat diperlukan
dalam sebuah penelitian. Tanpa adanya kajian pustaka, sebuah penelitian dapat
diragukan keaslian dan kebenarannya. Hal ini disebabkan kajian pustaka
merupakan alat pembuktian bahwa sebuah penelitian belum pernah dilakukan
sebelumnya.
C.
Jenis-Jenis
Sumber Bahan Pustaka
Seiring dengan perkembangan zaman, dewasa ini bahan-bahan
pustaka tidak hanya terbatas pada buku saja. Perkembangan media juga sangat pesat mengikuti
perkembangan intelektual manusia yang selalu haus akan informasi-informasi yang
terjadi baik di lingkungan hidup mereka maupun lingkungan dengan cakupan yang
lebih luas. Keluasan informasi ini mengakibatkan penulis
dapat menggunakan bahan pustaka yang berasal dari berbagai media. Hal ini tentu
saja akan memudahkan penulis, sehingga kajian pustaka akan semakin luas dan
tentu saja menarik. Untuk itu, penulis perlu mengenal beberapa jenis bahan
pustaka berikut:
1.
Fiksi
Bahan pustaka fiksi adalah bahan
pustaka yang dapat berupa khayalan yang bertujuan untuk menarik minat, daya
imajinasi dan kreativitas pembacanya. Bahan pustaka fiksi terdiri dari beberapa
macam, yaitu:
a. Buku
Bergambar
b.
Buku Cerita Bergambar
c.
Buku Cerita Rakyat
d.
Buku Fabel
e.
Buku Fiksi Pengetahuan
f.
Novel dan Cerpen
2.
Buku
Teks
Buku teks adalah adalah buku yang
berisi materi sebuah disiplin bidang ilmu tertentu yang disusun secara
sistematis. Contohnya buku pelajaran geografi, biologi, maupun sejarah.
3.
Bukan
Buku
Yang termasuk bahan pustaka bukan
buku adalah
a. CD-ROM, adalah media elektronik yang dapat
digunakan untuk menyimpan informasi tertentu.
b.
Kaset Suara, dapat digunakan untuk merekam hasil
wawancara dengan narasumber.
c.
Video, video-video mengenai sebuah
informasi imiah dapat digunakan sebagai bahan pustaka.
d. Mikrofilm, film yg memuat rekaman foto bahan
tertulis, tercetak, dan
lain sebagainya dalam ukuran yg sangat kecil.
4.
Terbitan
Berkala
Terdapat beberapa macam bahan
pustaka yang terbit secara berkala, diantaranya adalah:
a. Artikel
adalah gagasan yang disertai dengan penguatan yang bersifat ilmiah maupun teoritis dari beberapa ahli.
a.
Jurnal, adalah hasil pemikiran dan
penelitian dari aktivitas akademik sebuah lembaga.
b.
Majalah dan Koran adalah sebuah kumpulan berita
terkini yang terbitnya dapat secara harian, mingguan, maupun bulanan.
c.
Buku Tahunan adalah buku yang diterbitkan oleh
sebuah lembaga tertentu yang terbitnya hanya setahun sekali.
5.
Bahan
Vertikal File
Bahan vertikal file adalah bahan
pustaka yang memuat informasi penting tentang suatu subjek atau bidang
informasi dan berkaitan dengan kepentingan sebuah lembaga atau organisasi
tertentu. Misalnya brosur, pamflet, dan laeflet.
6.
Bahan
Bibliografi
Bibliografi digunakan untuk
mengetahui adanya suatu buku/pustaka atau sejumlah buku/pustaka yang pernah
diterbitkan. Bahan bibliografi yang bisa dipakai adalah abstrak dan indeks.
7.
Bahan
Referensi Lainnya
a. Dokumen
Pemerintah
Dokumen pemerintah adalah semua
dokumen yang diterbitkan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah.
Contohnya undang-undang, peraturan pemerintah, dan lain-lain.
b. Ensiklopedi
Ensiklopedi adalah buku yang berisi
penjelasan yang menyimpan informasi secara komprehensif dan cepat dipahami
serta dimengerti mengenai keseluruhan cabang ilmu pengetahuan atau khusus dalam
sebuah bidang ilmu tertentu dan biasanya disusun berdasarkan abjad atau volume.
c. Kamus
Kamus adalah buku yang berisi
daftar kumpulan kata yang memuat arti, persamaan, dan ejaan yang disempurnakan.
d. Direktori
atau Buku Pentunjuk
Direktori adalah buku yang memuat
informasi beberapa pentunjuk
e. Skripsi,
Tesis, dan Disertasi
Skripsi, tesis dan disertasi adalah
karya tulis ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa jenjang S1, S2, dan S3 untuk
tujuan pemenuhan tugas akhir.
D. Menyusun
Kajian Pustaka
Dalam menyusun kajian pustaka perlu usaha untuk mengumpulkan sumber
sebanyak-banyaknya. Sumber tersebut harus relevan dengan masalah yang diangkat
dalam penelitian. Kajian pustaka dapat digunakan dengan dua pola; yaitu deduktif
dan induktif. Dengan deduktif kita mulai
dari proposisi yang berlaku umum dan memberlakukannya pada keadaan khusus,
serta berlaku sebaliknya untuk induktif.
Dalam
pembuatan kajian pustaka sebaiknya mengikuti langkah awal, sebagai berikut :
1. Menyiapkan
butir-butir yang perlu dalam mencatat informasi dari pustaka, meliputi
kelengkapan sumber informasi, kriteria informasi, cara mencatat sumber informsi
dari internet, dan sebagainya.
2.
Menyiapkan kartu atau buku untuk mengumpulkan
informasi yang relevan.
3.
Menyiapkan sistematika pengumpulan
informasi.
4. Mencari
informasi dari bahan kepustakaan atau internet.
Penulisan
kajian pustaka sebaiknya mengikuti saran sebagai berikut:
1. Pertahankan
fokus perhatian pada masalah penelitian yang akan dilaksanakan, agar penulisan
kajian pustaka tetap relevan dengan masalah yang akan diteliti.
2.
Buatlah rencana struktur penulisan
kajian pustaka dengan baik (jangan menulis menurut urutan ditemukannya pustaka
itu).
3. Tekankan
keterkaitan antara pustaka dengan masalah penelitian yang (akan, sedang, atau
baru saja) dipecahkan oleh peneliti.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam
mengorganisasi kajian pustaka sebagai berikut:
1. Mulai
dari materi hasil penelitian harus diperhatikan dari yang paling relevan,
relevan dan cukup relevan.
2. Membaca
abstrak lebih dahulu dari setiap penelitian untuk memberikan penelitian apakah
permasalahan yang dibahas itu sesuai dengan yang akan dipecahkan dalam
penelitian.
3. Mencatat
bagian-bagian penting dan relevan dengan permasalahan penelitian. Hal ini untuk
menjaga agar tidak terjebak dalam unsur plagiat, para peneliti hendaknya juga
mencatat sumber-sumber informasi dan mencantumkannya dalam daftar pustaka, jika
memang informasi banyak dari ide atau hasil penelitian orang lain.
4. Buatlah
catatan, salinan atau kutipan informasi dan susun secara rapi dan mudah
didapatkan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
E.
Keterkaitan
Tinjauan Pustaka dengan Daftar Pustaka
Di bagian awal tulisan in
telah disebutkan bahwa sering terdapat penulisan tinjauan pustaka yang mirip
daftar pustaka. Misal: “Tentang hal A dibahas oleh si H dalam buku . . .si B
dalam buku . . . . ; sedangkan tentang hal J diterangkan oleh si P dalam buku .
. . “. Peninjauan seperti ini biasanya tidak menyebutkan apa yang dijelaskan
oleh masing-masing pustaka secara rinci (hanya menyebutkan siapa dan dimana
ditulis). Penyebutan judul buku, yang seringkali tidak hanya sekali, tidak
efisien dan menyaingi tugas daftar pustaka. Sehingga cara peninjauan seperti
itu tidak disarankan.
Pengacuan pustaka dalam
tinjauan pustaka dapat dilakukan dengan cara yang bermacam-macam, antara lain:
penulisan catatan kaki, dan penulisan nama pengarang dan tahun saja. Setiap
cara mempunyai kelebihan dan kekurangan, tapi peninjauan tentang kelebihan dan
kekurangan tersebut di luar lingkup tulisan ini. Dalam tulisan ini hanya akan dibahas
pemakaian cara penulisan nama akhir pengarang dan tahun penerbitan (dan sering ditambah
dengan nomor halaman). Misal: Dalam hal organisasi tinjauan pustaka, Castetter
dah Heisler (1984, hal. 43-45) menyarankan tentang bagian-bagian tinjauan
pustaka, yang meliputi: (1)
pendahuluan, (2) pembahasan, dan (3) kesimpulan.
Pengacuan cara di atas
mempunyai kaitan erat dengan cara penulisan daftar pustaka. Penulisan daftar
pustaka umumnya tersusun menurut abjad nama akhir penulis, dengan format: nama
penulis, tahun penerbitan dan seterusnya. Susunan dan format daftar pustaka tersebut
memudahkan untuk membaca informasi yang lengkap tentang yang diacu dalam tinjauan
pustaka. Misal, dalam tinjauan pustaka: “. . . . . . Mittra (1986) . . . . . .”
Dalam daftar pustaka, tertulis:
Mittra, S. S., 1996, Decision Support System: Tools
and Techniques, John Wiley & Sons, New York, N. Y.
Sering terjadi, seorang
penulis (usulan penelitian atau karya tulis) ingin menunjukan bahwa bahan
bacaannya banyak; meskipun tidak dibahas dan tidak diacu dalam tulisannya, semuanya
ditulis dalam daftar pustaka. Maksud yang baik ini sebaiknya ditunjukan dengan membahas
dan mengemukakan secara jelas (menurut aturan pengacuan) apa yang diacu dari
pustaka-pustaka tersebut dalam tulisannya. Tentunya hal yang sebaliknya, yaitu menyebut
nama pengarang yang diacu dalam tinjauan pustaka tanpa menuliskannya dalam daftar
pustaka (karena lupa) tidak perlu terjadi.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Kajian
pustaka adalah kajian hasil penelitian yang relevan dengan pemasalahan. Fungsi
kajian pustaka adalah mengemukakan secara sistematis tentang hasil penelitian
yang diperoleh terdahulu dan ada hubungannya dengan penelitian yang dilakukan.
2.
Fungsi-fungsi
dari kajian penelitian bagi sebuah penelitian anatar lain, mengkaji sejarah
permasalahan, membantu memilih prosedur penelitian, mendalami landasan teori
yang berkaitan dengan permasalahan, mengkaji kelebihan dan kelemahan hasil
penelitian terdahulu, menghindari duplikasi penelitian, menunjang perumusan
masalah.
3.
Beberapa
jenis bahan pustaka adalah fiksi, buku teks, bukan buku, terbitan berkala,
bahan vertical file, bahan bibliografi, dokumen pemerintah, ensiklopedi, dan
lain sebagainya.
4.
Cara
menyusun kajian pustaka yang baik adalah, mempertahankan fokus pada maslah
penelitian yang akan dilaksanakan, membuat rencana struktur penulisan kajian
pustaka dengan baik, dan menekankan keterkaitan antara pustaka dengan masalah
yang akan dipecahkan oleh peneliti.
5.
Pengacuan
cara pustaka mempunyai kaitan erat dengan cara penulisan daftar pustaka.
Penulisan nama pengarang dan tahun, pada akhirnya akan dicantumkan juga pada
daftar pustaka.
B. Saran
1.
Dalam
membuat karya tulis hasil penelitian seperti skripsi, thesis, atau disertasi
harus disertakan kajian pustaka agar tulisan tersebut dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya.
2.
Penulisan
Kajian pustaka harus dilakukan dengan baik dan benar sesuai dengan pedoman
penulisan karya ilmiah yang berlaku.
3.
Sebaiknya
daftar pustaka harus sesuai dengan acuan yang dicantumkan dalam kajian pustaka.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,
Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Nazir,
Moh. 2009. Metode Penelitian. Bogor:
PT. Ghalia Indonesia.
________. 2009. Mengenal Jenis-jenis Bahan Pustaka, (Online), http://perpustakaanilmu.blogspot.com/2009/10/mengenal-jenis-jenis-bahan-pustaka.html,
diakses tanggal 22 Februari 2012.
Ardhana. 2008. Kajian Pustaka dan Kerangka Teori, (Online), http://ardhana12.wordpress.com/2008/02/08/kajian-pustaka-dan-kerangka-teori-syarat-mutlak-dalam-sebuah-penelitian/,
diakses tanggal 22 Februari 2012.
Handoyo, Eko. 2010. Penulisan Kajian Pustaka, (Online), http://ekohandoyo.blog.undip.ac.id/2010/10/06/penulisan-kajian-pustaka/,
diakses tanggal 22 Februari 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen o yo rek,, *suwun