BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pada
pemilu 2009, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono terpilih kembali menjadi presiden Republik
Indonesia untuk periode kedua 2009-2014, dengan didampingi wakil presiden Prof.
Dr. Boediono, M.Ec. Mereka dilantik pada tanggal 20 Oktober 2009. Kabinet
pemerintahannya disebut Kabinet Indonesia Bersatu II. Mereka mempunyai visi
Indonesia 2014: “Terwujudnya Indonesia yang Sejahtera, Demokratis dan
Berkeadilan”. Pada periode 2009-2014 pemerintah terus berupaya keras untuk mencapai
perbaikan di bidang kesejahteraan rakyat, membangun keadilan, penerapan tata
kelola pemerintahan yang baik, peningkatan kualitas demokrasi, serta menjaga
kesatuan dan keamanan negara. Visi Indonesia 2014 akan dijabarkan dalam misi
pemerintah tahun 2009-2010, yaitu: Melanjutkan pembangunan menuju Indonesia
yang sejahtera, Memperkuat pilar-pilar demokrasi, Memperkuat dimensi keadilan
di semua bidang,
Pada awal pemerintahannya, muncul
tantangan dalam bidang ekonomi yaitu perlemahan ekonomi global akibat krisis
finansial. Tugas pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan
mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran akan semakin sulit akibat
terjadinya krisis ekonomi global tersebut. Namun, pada akhirnya kinerja ekonomi
ini sangat dipengaruhi oleh krisis ekonomi global, meskipun pemerintah telah
berupaya untuk mengurangi dampaknya dengan memacu potensi ekonomi dalam negeri.
Di bidang ekonomi, untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerintah membuat kebijakan-kebijakan yang
dimasukkan dalam program aksi, diantaranya adalah Program aksi penanggulangan
kemiskinan, Program aksi penciptaan lapangan kerja, dan kebijakan-kebijakan
lain yang tentunya sangat mempengaruhi perekonomian Indonesia.
Karena kebijakan-kebijakan yang
dibuat sangat menarik untuk diperhatikan, maka penyusun tertarik untuk menyusun
sebuah makalah yang berjudul “Kebijakan Ekonomi Makro pada Pemerintahan Susilo
Bambang Yudhoyono - Boediono”.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apakah
yang dimaksud dengan ekonomi makro?
2. Apa
sajakah tujuan-tujuan kebijakan ekonomi makro?
3. Kebijakan
apa sajakah yang adssa pada ekonomi makro?
4. Kebijakan
ekonomi makro apa sajakah yang telah dibuat oleh pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono - Boediono?
C.
Tujuan
Tujuan
dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk
mengetahui tentang ekonomi makro.
2. Untuk
mengetahui tujuan-tujuan kebijakan ekonomi makro.
3. Untuk
mengetahui kebijakan yang ada pada ekonomi makro.
4. Untuk
mengetahui kebijakan makro yang dijalankan pada pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono - Boediono.
BAB
II
ISI
A.
Pengertian
Ekonomi Makro
Ilmu
ekonomi adalah studi tentang bagaimana individu dan masyarakat menentukan
pilihan penggunaan sumber daya yang lagka yang telah disediakan oleh alam dan
generasi sebelumnya. Kata kunci dalam defiisi ini adalah pilihan. Ilmu ekonomi
adalah ilmu pengetahuan perilaku, atau sosial. Dalam tataran luas, ilmu ekonomi
adalah studi tentang bagaimana orang menentukan pilihan. Pilihan yang diambil
oleh orang-orang, ketika disatukan, membentuk pilihan masyarakat. Menurut objek
yang dipelajarinya, ilmu ekonomi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: Ekonomi
Mikro dan Ekonomi Makro.
Persamaannya
adalah, kedua-duanya mempelajari ekonomi yaitu bagaimana manusia berusaha untuk
memenuhi kebutuhannya yang sangat banyak dan sangat bervariasi dengan suber
daya yang terbatas. Perbedaannya, Ilmu ekonomi mikro memfokuskan pembahasannya
pada cara kerja suatu pasar dan industri dengan perilaku unit pengambil
keputusan individual: perusahaan bisnis dan rumah tangga. Ilmu ekonomi makro
memfokuskan pembahasannya pada gejala-gejala perekonomian secara keseluruhan,
secara totalitas, atau gejala umumnya. Ilmu ekonomi makro berhubungan dengan
perilaku ekonomi agregat - output nasional, pendapatan nasional, tingkat harga
secara keseluruhan, dan tingkat inflasi umum.
Perhatian utama ilmu ekonomi makro
adalah:
1. Inflasi adalah kenaikan
tingkat harga secara umum dari barang atau komoditas dan jasa selama suatu
periode tertentu.
2. Pertumbuhan keluaran (output) atau konjungtur
bisnis.
3. Pengangguran
B.
Tujuan
Kebijakan-kebijakan Ekonomi Makro
Bentuk-bentuk kebijakan ekonomi yang
akan dilakukan oleh negara sangat tergantung pada tujuan-tujuan yang ingin
dicapainya. Setiap kebijakan ekonomi bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah
ekonomi yang dihadapi. Tujuan-tujuan kebijakan ekonomi makro dapat dibedakan
menjadi empat variabel berikut:
1.
Price Level Stability (Stabilitas
Tingkat Hara Umum)
Hal-hal yang perlu dijelaskan berkaitan dengan
inflasi:
·
Kenapa inflasi perlu dikendalikan
·
Apa penyebab inflasi
·
Bagaimana menghitung inflasi
·
Macam-macam inflasi
·
Dampak inflasi
·
Otoritas moneter dan inflasi
·
Inflation targeting
·
Mekanisme transmisi kebijakan moneter dan inflasi
·
Kurva Phillips dan inflasi
·
Inflasi dan Fisher Equation
·
The cost of inflation
·
Inflasi dan IPM
·
Inflasi dan defisit APBN
·
Pertumbuhan uang beredar, suku bunga dan inflasi
2.
High Employment Level (Tingginya
Tingkat Kesempatan Kerja)
Beberap hal yang perlu dijelaskan berkaitan dengan
kesempatan kerja:
·
Peran pemerintah dalam perluasan kesempatan kerja
·
Pendekatan demand dan supply of labor
dalam perluasan kesempatan kerja
·
Pemberdayaan masyarakat desa dalam upaya perluasan
kesempatan kerja
·
Human capital sebagai upaya efektif perluasan
kerja
·
Keuangan negara dan kesempatan kerja
·
Kebijakan ketenagakerjaan
·
Serikat kerja
·
Hubungan industrial
·
Sistem ekonomi dan kesempatan kerja
·
Distribusi pendapatan fungsional dan kesempatan kerja
·
Laju pertumbuhan penduduk dan kesempatan kerja
·
Pandangan terhadap penduduk
·
Elastisitas kesempatan kerja
3.
Long-Term Economic Growth
Pertumbuhan ekonomi yang ideal
adalah : (1) berlangsung terus menerus, (2) disertai dengan terciptanya
lapangan kerja, (3) tidak merusak lingkungan, (4) lebih tinggi daripada laju
pertumbuhan penduduk, (5) disertai dengan distribusi pendapatan yang adil, (6)
kontribusi sektoral yang merata, (7) tidak meninggalkan sektor pertanian, (8)
kenaikannya riil, (9) penyumbang terbesar PDB adalah warga domestik, bukan
asing, dan lainnya.
Perlu juga dijelaskan hal-hal
sebagai berikut :
·
Kenapa laju pertumbuhan ekonomi menjadi tujuan
kebijakan ekonomi?
·
Apa manfaat dihitungnya pendapatan nasional
·
Makna politis dari pendapatan nasional
·
Kinerja ekonomi dan PDB
·
Income percapita
·
Struktur ekonomi
·
Inflasi dan PDB
·
Aggregate supply dan demand
4.
Exchange Rate Stability
Nilai tukar merupakan nilai uang secara eksternal, yang tinggi rendahnya
berdampak pada berbagai aspek ekonomi dan sosial lainnya, misalnya : (1) impor
dan ekspor, (2) APBN dan APBD, (3) kesehatan dan pendidikan, (4) transportasi,
(5) industri dalam negeri, (6) politik, (7) daya beli masyarakat, (8) dunia
perbankan, (9) sektor pertanian, kelautan, peternakan dst, (10) sektor properti
, dan sebagainya.
Perlu dijelaskan pula hal-hal sebagai berikut :
v
Nilai tukar nominal dan riil
v
Devaluasi, apresiasi dan depresiasi mata uang domestik
terhadap mata uang asing
v
Determinan nilai tukar
v
Cadangan devisa dan nilai tukar
v
Kebijakan nilai tukar
v
Sistem nilai tukar
v
Faktor politik, keamanan dan nilai tukar
v
Mekanisme transmisi kebijakan moneter dan nilai tukar
(pass through effect)
v
dll
C.
Kebijakan-kebijakan
Ekonomi Makro
Bentuk-bentuk Kebijakan Ekonomi
Makro. Kebijakan dari segi/aspek permintaan / pengeluaran, meliputi:
1.
Kebijakan Fiskal
Yaitu
kebijakan pemerintah yang dilakukan dengan cara mengubah penerimaan dan
pengeluaran negara. Atau kebijakan pemerintah yang membuat perubahan dalam
bidang per-pajakan (T) dan pengeluaran pemerintah (G) dengan tujuan untuk
mempengaruhi pengeluaran /permintaan agregat dalam perekonomian Kebijakan ini
diambil untuk menstabilkan ekonomi, memperluas kesempatan kerja, mempertinggi
pertumbuhan ekonomi, dan keadilan dalam pemerataan pendapatan. Caranya dengan :
menambah atau mengurangi PAJAK dan SUBSIDI.
Instrumen
kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang berhubungan
erat dengan pajak. Dari sisi pajak jelas jika mengubah tarif pajak yang berlaku
akan berpengaruh pada ekonomi. Jika pajak diturunkan maka kemampuan daya beli
masyarakat akan meningkat dan industri akan dapat meningkatkan jumlah output.
Dan sebaliknya kenaikan pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta
menurunkan output industri secara umum.
Kebijakan
Anggaran / Politik Anggaran :
a.
Anggaran Defisit (Defisit Budget) / Kebijakan Fiskal
Ekspansif
Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran
lebih besar dari pemasukan negara guna memberi stimulus pada perekonomian.
Umumnya sangat baik digunakan jika keaadaan ekonomi sedang resesif.
b.
Anggaran Surplus (Surplus Budget) / Kebijakan Fiskal
Kontraktif
Anggaran surplus adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pemasukannya
lebih besar daripada pengeluarannya. Baiknya politik anggaran surplus
dilaksanakan ketika perekonomian pada kondisi yang ekspansi yang mulai memanas
(overheating) untuk menurunkan tekanan permintaan.
c.
Anggaran Berimbang (Balanced Budget)
Anggaran berimbang terjadi ketika pemerintah menetapkan pengeluaran sama
besar dengan pemasukan. Tujuan politik anggaran berimbang yakni terjadinya
kepastian anggaran serta meningkatkan disiplin.
Menurut pandangan Keynes, kebijakan
fiskal (Fiscal Policy) adalah sangat penting untuk mengatasi pengangguran.
Prosesnya adalah;
a.
Pengurangan pajak penghasilan → akan menambah daya
beli masyarakat dan akan meningkatkan pengeluaran agregat.
b.
Peningkatan pengeluaran agregat dengan cara menaikkan
pengeluaran pemerintah untuk pembelian barang dan jasa maupun untuk menambah
investasi.
c.
Selanjutnya dalam masa inflasi atau ketika kegiatan
ekonomi telah full employment, langkah sebaliknya harus dilakukan yaitu ; pajak
dinaikkan dan pengeluaran pemerintah akan dikurangi.
d.
Langkah ini akan menurunkan pengeluaran/permintaan
agregat dan mengurangi tekanan Inflasi.
Demikian pula perubahan-perubahan
sebaliknya. Pemerintah seringkali menghadapi masalah defisit anggaran. Ada
beberapa sumber pembiayaan defisit anggaran:
a.
Pajak.
b.
Mencetak Uang Baru.
c.
Pinjaman Masyarakat Dalam Negeri.
d.
Pinjaman Masyarakat Luar Negeri.
2.
Kebijakan Moneter
Kebijakan yang diambil oleh Bank
Sentral untuk menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat.
Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah
atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan
menjadi dua, yaitu:
a.
Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive
Policy. Adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar.
b.
Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive
Policy. Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang
beredar. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy).
Kebijakan moneter dapat dilakukan
dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu antara lain :
a.
Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation). Operasi
pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau
membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin menambah
jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun,
bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual
surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara
lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan
SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang.
b.
Fasilitas Diskonto (Discount Rate). Fasilitas diskonto
adalah pengaturan jumlah uang yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank
sentral pada bank umum. Bank umum terkadang mengalami kekurangan uang sehingga
harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah
menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga
demi membuat uang yang beredar berkurang.
c.
Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio). Rasio
cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah
dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah
jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan
jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio cadangan wajib.
d.
Himbauan Moral (Moral Persuasion). Himbauan moral
adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan
memberi himbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan
pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi
jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank
sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian.
3.
Kebijakan Segi Penawaran
Merupakan kebijakan pendapatan
(incomes policy), yaitu langkah pemerintah yang bertujuan mengendalikan
tuntutan kenaikan pendapatan kerja. Tujuan ini dilaksanakan dengan berusaha
mencegah kenaikan pendapatan yang berlebihan. Pemerintah akan melarang tuntutan
kenaikan upah yang melebihi kenaikan produktivitas pekerja. Kebijakan seperti
itu akan menghindari kenaikan biaya produksi yang berlebihan.
Kebijakan segi penawaran lebih
menekankan kepada:
a.
Meningkatkan kegairahan tenaga kerja untuk bekerja
b.
Meningkatkan usaha para pengusaha untuk mempertinggi
efisiensi kegiatan produksinya.
D.
Kebijakan-kebijakan
Ekonomi Makro Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono
1. Kebijakan
Ekonomi yang Ditetapkan dalam Visi, Misi, dan Program Aksi 2009-2014
Pada
pemilu 2009, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono terpilih kembali menjadi presiden Republik
Indonesia periode kedua 2009-2014 dengan didampingi wakil presiden Prof. Dr.
Boediono, M.Ec. Mereka dilantik pada tanggal 20 Oktober 2009. Kabinet
pemerintahannya disebut Kabinet Indonesia Bersatu II. Pemerintah telah
menetapkan visi, misi, dan 5 agenda pembangunan nasional yang akan dijelaskan
sebagai berikut.
Visi
Indonesia 2014: “Terwujudnya Indonesia yang Sejahtera, Demokratis dan
Berkeadilan”. Visi Indonesia 2014 tersebutakan dijabarkan dalam misi pemerintah
tahun 2009-2010, yaitu: Melanjutkan pembangunan menuju Indonesia yang
sejahtera, Memperkuat pilar-pilar demokrasi, Memperkuat dimensi keadilan di
semua bidang,
Dalam
mewujudkan visi dan misi pembangunan nasional 2009-2014, ditetapkan lima agenda
utama pembangunan nasional tahun2009-2014, yaitu:
1.
Agenda pertama, pembangunan ekonomi dan
peningkatan kesejahteraan rakyat
2.
Agenda kedua, perbaikan tata kelola
pemerintahan
3.
Agenda ketiga, penegakan pilar
demokrasi.
4.
Agenda keempat, penegakkan hukum dan
pemberantasan korupsi.
5.
Agenda kelima, pembangunan yang Inklusif
dan berkeadilan
Sasaran
Pembangunan Ekonomi
Sesuai dengan persoalan utama yang
dihadapi oleh bangsa
Indonesia,
pemerintah yang akan datang bertekad untuk melanjutkan proses percepatan
pembangunan ekonomi selama lima tahun ke depan. Diharapkan dengan pulihnya
perekonomian global dalam 1-2 tahun mendatang, capaian tertinggi yang pernah
dicapai oleh laju pertumbuhan perekonomian Indonesia sebelum krisis sekitar 7
persen sudah dapat dipenuhi sebelum tahun terakhir masa 2009-2014 ini.
Percepatan laju pertumbuhan ekonomi ini diharapkan mampu menurunkan tingkat pengangguran
terbuka hingga di sekitar 5-6 persen pada akhir tahun 2014. Kombinasi antara
percepatan pertumbuhan ekonomi dengan berbagai kebijakan intervensi pemerintah
yang terarah diharapkan dapat mempercepat penurunan tingkat kemiskinan absolut
menjadi sekitar 8-10 persen pada akhir 2014. Untuk memenuhi sasaran percepatan
pertumbuhan ekonomi tersebut, pemerintah yang akan datang bertekad untuk
melanjutkan kebijakan makroekonomi yang terukur dan bijaksana, sehingga inflasi
dapat dikendalikan pada tingkat rendah yang sebanding dengan negara-negara
setaraf dengan Indonesia yaitu sekitar 3-5 persen per tahun. Inflasi yang
terkendali memungkinkan nilai tukar dan suku bunga yang kompetitif sehingga
mendorong sektor riil bergerak dan berkembang dengan sehat.
13 program aksi sebagai berikut:
(1) Program aksi
bidang pendidikan; (2) Program aksi bidang kesehatan; (3) Program aksi
penanggulangan kemiskinan; (4) Program aksi Penciptaan Lapangan Kerja; (5)
Program aksi pembangunan infrastruktur dasar; (6) Program aksi ketahanan
pangan; (7) Program aksi ketahanan dan kemandirian energi; (8) Program aksi
perbaikan dan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik; (9) Program aksi
penegakan pilar demokrasi; (10) Program aksi penegakan hukum; (11) Program aksi
pembangunan yang inklusif dan berkeadilan; (12) Program aksi bidang lingkungan
hidup; (13) Program aksi pengembangan kebudayan
Kebijakan
ekonomi makro yang telah direncanakan sebagai berikut:
·
Kebijakan
moneter akan secara konsisten dilakukan dengan mengacu kepada Inflation
Targeting Framework (ITF). Meskipun demikian, pelaksanaan dari ITF tersebut
akan dilakukan dengan tetap mengupayakan keseimbangan yang optimal antara
mempertahankan kestabilan harga, menjaga ketenangan pasar keuangan, mengawal
integritas sistem, dan menggairahkan sektor riil. Guna mendukung implementasi
ITF, maka langkah-langkah penyempurnaan kebijakan moneter di tingkat
operasional juga akan terus dilakukan.
·
Sementara
itu, di bidang perbankan, belajar dari krisis finansial global yang terjadi, maka
langkah-langkah memperkuat manajemen risiko dan prinsip good governance di
lembaga-lembaga keuangan bank dan nonbank perlu makin diperkuat. Selain itu,
mitigasi risiko di sektor keuangan juga perlu dilakukan dengan memperkuat
surveillance, baik di tingkat makro maupun mikro. Pengawasan dini yang
diterapkan Bank Indonesia dengan mengembangkan model deteksi dini antara lain
stress tests, financial stability index, dan analisis probability of default,
perlu terus disempurnakan.
·
Kebijakan
fiskal secara umum akan tetap diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara tetap
memberikan stimulus keperekonomian dan mempertahankan kesinambungan fiskal.
Dalam jangka pendek, rencana stimulus fiskal sebagai bagian dari kebijakan
publik yang bersifat countercyclical guna menahan pelemahan ekonomi yang lebih
dalam, diharapkan dapat berjalan optimal dan tepat waktu. Dalam jangka
menengah, langkah-langkah optimalisasi penerimaan negara perlu terus dilakukan
dengan tetap memperhatikan perlunya insentif fiskal untuk sektor-sektor
prioritas guna tetap memacu investasi di dalam negeri. Dari sisi pengeluaran,
perlu adanya suatu mekanisme kebijakan yang yang menekankan pencapaian hasil
tertentu atas alokasi anggaran yang telah disediakan. Selain itu, berdasarkan
pengamatan terhadap perkembangan realisasi APBD beberapa tahun terakhir, perlu
diciptakan suatu mekanisme untuk mengoptimalkan pemanfaatan surplus di
pemerintah daerah guna meningkatkan stimulus fiskal di daerah.
·
Koordinasi
fiskal dan moneter mutlak diperlukan demi terciptanya konsistensi dan
keselarasan kebijakan yang diambil. Kemitraan strategis dan koordinasi yang
selama ini telah terjalin antara Pemerintah dan Bank Indonesia perlu terus
dipererat.Dalam penetapan sasaran inflasi misalnya, koordinasi yang baik dan
harmonisasi kebijakan antara Bank Indonesia dan Pemerintah akan menjadikan
sasaran inflasi lebih kredibel. Dalam hal pengendalian inflasi, langkah-langkah
koordinasi kebijakan yang selama ini telah berlangsung melalui Forum Koordinasi
Pengendalian Inflasi, Tim Pengendalian Inflasi dan Tim Koordinasi Stabilisasi
Pangan Pokok akan terus diperkuat dan ditingkatkan. Selain itu, upaya
pengendalian inflasi di tingkat daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah
yang merupakan koordinasi antara instansi terkait di daerah dengan Kantor Bank
Indonesia akan terus diintensifkan.
2.
Kebijakan
Ekonomi Makro yang dilaksanakan
Kebijakan
ekonomi makro yang dilaksanakan sebagai berikut:
1)
Kebijakan
Fiskal
·
Subsidi:
Ø Subsidi Energi: BBM (Pertamina) dan
Listrik (PLN)
Ø Subsidi non energi
·
Pajak
Ø Pajak Dalam Negeri
-
Pajak
Penghasilan: PPh Migas dan PPh Non Migas
-
Pajak
pertambahan nilai
-
Pajak
bumi dan bangunan
-
BPHTP
-
Cukai
-
Pajak
lainnya
Ø Pajak Perdagangan Internasional
-
Bea
Masuk
-
Bea
Keluar
·
Pinjaman
Luar Negeri
2)
Kebijakan
Moneter
·
Kebijakan
moneter mengenai lima aspek penting:
kebijakan penguatan stabilitas moneter, kebijakan mendorong peran
intermediasi perbankan, kebijakan meningkatkan ketahanan perbankan, penguatan
kebijakan makroprudensial, dan penguatan fungsi pengawasan.
3)
Kebijakan
Segi Penawaran
·
Membuat
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri
·
Peningkatan
investasi melalui perbaikan ilkim investasi di pusat dan daerah sehingga
kesempatan kerja baru dapat tercipta.
Beberapa
agenda yang belum tuntas dilaksanakan selama 1 tahun pemerintahan SBY:
Pertama, penurunan tingkat
kemiskinan yang belum mencapai target. Tingkat kemiskinan memang menurun dari
17,7 persen pada tahun 2006 menjadi 15,4 persen tahun 2008, bahkan menjadi
sekitar 13 persen tahun 2010. Jika angka ini dapat dipercaya, rekor kemiskinan
tersebut adalah paling rendah, baik besaran maupun persentasenya selama 12
tahun terakhir. Kendati demikian, angka itu masih jauh dari target kemiskinan
awal yang hanya 8,2 persen tahun ini.
Kedua, perlunya peningkatan
”kualitas” pertumbuhan ekonomi. Pascakrisis 1998, Indonesia mengalami masa pertumbuhan
ekonomi yang relatif rendah, rata-rata hanya sekitar 4,5 persen per tahun.
Tabel 1 menunjukkan perbandingan kinerja pertumbuhan ekonomi pada era Presiden
Megawati dan SBY. Tahun 2008
perekonomian Indonesia mampu mencapai tingkat pertumbuhan 6,1 persen. Bahkan
pada saat krisis keuangan global, Indonesia tetap mampu tumbuh 4,5 persen tahun
2009. Terbukti krisis keuangan global 2008 berdampak tidak sehebat krisis Asia
1998. Ketahanan ekonomi Indonesia kini jauh lebih kuat dibanding 12 tahun lalu
dilihat dari berbagai indikator ekonomi kunci. Hanya tiga pasar yang terguncang
akibat krisis 2008, yaitu pasar modal, pasar valas, dan ekspor. Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) sempat menembus di atas 2.800, tetapi anjlok drastis
hingga 1.111. Penyebabnya adalah 67 persen Bursa Efek Indonesia dikuasai oleh
para pemain asing. Kurs rupiah yang stabil di level Rp 9.000-Rp 10.000 era SBY
sempat melemah terhadap dollar AS hingga hampir mencapai Rp 13.000. Ekspor juga
merosot hingga 30 persen selama Januari-April 2009 dibanding tahun sebelumnya.
Ketiga, dampak krisis ekonomi
terhadap pengangguran baru terasa pada tahun-tahun pascakrisis 1998. Ini
terlihat dari tingkat pengangguran akibat PHK besar-besaran dan banyaknya
penutupan usaha yang terus meningkat. Tahun 1998, pengangguran di Indonesia
meningkat menjadi sebesar 5,5 persen. Pada tahun-tahun berikutnya pengangguran
terus meningkat sampai menyentuh 10,28 persen pada 2006, turun menjadi 9,9
persen pada 2007, 8,5 persen pada 2008, 7,87 persen pada 2009, dan akhirnya 7,4
persen pada Februari 2010. Relatif tingginya angka pengangguran mengindikasikan
bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang di bawah 6 persen pascakrisis belum
mampu menyerap
tambahan
tenaga kerja baru dan mengurangi kemiskinan secara substansial. Inilah fenomena
jobless growth.
Keempat, perlunya komitmen zero
tolerance on corruption diterapkan dari pejabat pusat hingga daerah. Tanda
tangan pakta integritas bagi para menteri perlu diperluas untuk semua pejabat Indonesia.
Perbaikan tata kelola birokrasi/pemerintahan, reformasi birokrasi, perbaikan
sistem pengawasan dan audit, beserta tindakan tegas bagi koruptor harus menjadi
prioritas untuk memerangi korupsi yang sudah ”berjemaah dan ber-shaf-shaf”.
Kelima, akselerasi pembangunan
infrastruktur. Hasil survei yang dilakukan Forum Ekonomi Dunia yang berjudul Global
Competitiveness Report 2009-2010 menunjukkan bahwa tidak memadainya
kualitas infrastruktur di Indonesia menempati masalah mendasar ”Doing Business
in Indonesia 2010” setelah birokrasi pemerintah yang tidak efisien. Kendati
agak membaik dibanding tahun sebelumnya, Indonesia masih merupakan yang paling
lemah dibanding negara lain di Asia Tenggara dalam hal ketersediaan
infrastruktur. Padahal, peningkatan infrastruktur merupakan program pilihan
kedelapan yang ditetapkan Presiden SBY dari 15 program pilihan yang wajib
diimplementasikan dalam jangka waktu 100 hari pertama Kabinet Indonesia Bersatu
II. Namun, setelah satu tahun berlalu, pembangunan infrastruktur relatif
berjalan lambat di Indonesia.
Tabel 1 Kinerja Presiden SBY
Dibanding Era Megawati, 2002-2010
|
(rata-rata
per tahun) Indikator ekonomi & sosial
|
Megawati-Hamzah
Haz
|
SBY-JK
|
SBY-Boediono
|
|
Tahun
2002-2004
|
Tahun
2004-2009
|
Tahun
2009-2010
|
|
|
Pertumbuhan
PDB (%)
|
4,77
|
5,51
|
5,2
|
|
Kemiskinan
(%)
|
17,43
|
16,09
|
13,74
|
|
Pengangguran
(%)
|
9,53
|
9,46
|
7,64
|
Sumber: Sumber: BPS (2010); Kuncoro
(2009)
Indikator-indikator
makroekonomi menunjukkan pencapaian target yang cukup baik. Diharapkan di
tahun-tahun selanjutnya pertumbuhan ekonomi akan semakin baik demi mewujudkan
visi dan misi Indonesia 2014.
BAB III
PENUTUP
B. Kesimpulan
·
Ilmu ekonomi makro memfokuskan
pembahasannya pada gejala-gejala perekonomian secara keseluruhan, secara
totalitas, atau gejala umumnya. Ilmu ekonomi makro berhubungan dengan perilaku
ekonomi agregat - output nasional, pendapatan nasional, tingkat harga secara
keseluruhan, dan tingkat inflasi umum.
·
Perhatian utama ilmu ekonomi makro
adalah: Inflasi, Pertumbuhan keluaran
(output) atau konjungtur bisnis, dan Pengangguran.
·
Kebijakan
ekonomi makro terdiri dari: Kebijakan Fiskal, Kebijakan Moneter, dan Kebijakan
Sisi Penawaran.
·
Indikator-indikator
makroekonomi menunjukkan pencapaian target yang cukup baik.
B. Saran
·
Sebagai
warga negara Indonesia, kita harus turut serta mendukung pelaksanakan
kebijakan-kebijakan ekonomi makro yang telah dibuat.
·
Kita
juga bisa menyampaikan saran atau kritikan kepada pemerintah melalui kotak
suara yang telah disediakan atau melalui media lain.
·
Pemerintah
seharusnya tidak melihat dari pertumbuhan ekonomi makro saja, tetapi juga harus
memperhatikan pemerataan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Case,
K. & Fair, R. 2007. Prinsip-prinsip
Ekonomi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Direktorat
Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter. 2009. Outlook
Ekonomi Indonesia 2009-2011. Jakarta:
Bank Indonesia.
Kuncoro, Mudrajat. 21 Oktober, 2010. Satu Tahun SBY-nomics. Compas.com. (Online),(http://cetak.kompas.com/read/2010/10/21/03040298/satu.
tahun.sby-nomics , diakses 23 April
2011).
Sukirno,
Sadono. 2004. MAKROEKONOMI. Jakarta:
Rajawali Pers.
Yudhoyono,
S. & Boediono. 2009. Membangun
Indonesia yang Sejahtera, Demokratis, dan Berkeadilan. Visi,
Misi dan Program Aksi. Jakarta:____.
______,
2010. Kebijakan Ekonomi Makro. (Online),
(http://roroadityanovi.blogspot.com/2010/05/kebijakan-ekonomi- makro.html, diakses 23 April 2011).
______, 2010. Memahami Makroekonomi. (Online),
(http://awalilrizky.blogspot.com/2010/03/memahami-makroekonomi-1- pengenalan-awal.html, diakses 23 April
2011).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen o yo rek,, *suwun