PEMANFAATAN KEKAYAAN LAUT INDONESIA
UNTUK MEWUJUDKAN
KETAHANAN EKONOMI NASIONAL
MAKALAH
Untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pendidikan Kewarganegaraan
yang dibina oleh Bapak
Oleh
109421
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
Januari 2010
BAB
I
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
Sejak dahulu kala Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan
terbesar di dunia. Dengan luasnya lautan yang dimiliki banyak potensi kekayaan
laut yang dapat kita manfaatkan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.
Indonesia memiliki potensi sumber daya laut
yang sangat besar. Selain ikan, berbagai sumber daya lain terdapat di sini,
seperti pertambangan, rumput laut, terumbu karang, dan sebagainya.
Semuanya memiliki nilai ekonomi yang sangat besar untuk kesejahterakan rakyat,
terutama kaum nelayan. Nelayan memiliki posisi yang cukup strategis
mengingat dua pertiga wilayah Nusantara adalah laut. Namun seringkali
nelayan tidak berdaya secara ekonomi dan terjerat kemiskinan. Karena itu
perlu upaya untuk memberdayakan nelayan demi meningkatkan kesejahterannya. Sumber
daya laut yang ada di Indonesia memang sangat besar, jika
dikelola dengan baik, maka bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat, khususnya
nelayan dan
masyarakat pesisir. Sehingga
ketahanan ekonomi akan terwujud.
Laut Indonensia memiliki kekayaan sumber
daya berlimpah. Namun pengelolaan dan regulasi yang mengatur penggunaan
kekayaan laut tersebut dinilai masih kurang memberi keuntungan bagi negara. Sehingga perlu upaya-upaya dari berbagai pihak untuk
bekerjasama dalam pemanfaatan kekayaan laut secara optimal dan terarah. Karena
itulah saya tertarik untuk membuat makalah berjudul “Pemanfaatan Kekayaan Laut
Indonesia untuk Mewujudkan Ketahanan Ekonomi Nasional.”
2. Rumusan
Masalah
1.
Bagaimanakah
profil laut Indonesia?
2.
Seperti
apakah kekayaan laut yang dimiliki oleh Indonesia?
3.
Bagaimana
masalah yang dihadapi dalam pemanfaatan kekayaan laut Indonesia?
4.
Bagaimana
upaya untuk meningkatkan pemanfaatan laut Indonesia?
5.
Bagaimanakah
pemanfaatan kekayaan laut untuk meningkatkan ketahanan ekonomi nasional?
3. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.
Untuk
mengetahui tentang profil laut Indonesia.
2.
Untuk
mengetahui kekayaan laut yang dimiliki oleh Indonesia.
3.
Untuk
mengetahui masalah yang dihadapi dalam pemanfaatan kekayaan laut Indonesia.
4.
Untuk
mengetahui upaya untuk meningkatkan pemanfaatan laut Indonesia.
5.
Untuk
mengetahui pemanfaatan kekayaan laut untuk meningkatkan ketahanan ekonomi
nasional.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
1. Profil
Laut Indonesia
Laut Indonesia memiliki luas lebih
kurang 5,6 juta km 2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, dengan potensi
sumberdaya, terutama perikanan laut yang cukup besar, baik dari segi kuantitas
maupun diversitasnya. Selain itu Indonesia tetap berhak untuk berpartisipasi
dalam pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan alam di laut lepas di luar batas 200
mil laut ZEE, serta pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan alam dasar laut
perairan internasional di luar batas landas kontinen.Nampak bahwa kepentingan
pembangunan ekonomi di Indonesia lebih memanfaatkan potensi sumberdaya daratan
daripada potensi sumberdaya perairan laut.
Memperhatikan konfigurasi Kepulauan
Indonesia serta letaknya pada posisi silang yang sangat strategis, juga dilihat
dari kondisi lingkungan serta kondisi geologinya, Indonesia memiliki 5 (lima)
keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, yaitu:
•
Marine Mega Biodiversity; wilayah perairan Indonesia memiliki keragaman hayati yang tidak ternilai
baik dari segi komersial maupun saintifiknya yang harus dikelola dengan
bijaksana.
•
Plate Tectonic; Indonesia merupakan tempat pertemuan tiga lempeng tektonik,
sehingga wilayah tersebut kaya akan kandungan sumberdaya alam dasar laut, namun
juga merupakan wilayah yang relatif rawan terhadap terjadinya bencana alam.
•
Dynamic Oceanographic and Climate
Variability , perairan Indonesia merupakan tempat melintasnya aliran arus
lintas antara samudera Pasifik dan samudera Indonesia, sehingga merupakan
wilayah yang memegang peranan penting dalam sistem arus global yang menentukan
variabilitas iklim nasional, regional dan global dan berpengaruh terhadap
distibusi dan kelimpahan sumberdaya hayati.
Indonesia dengan konsep Wawasan
Nusantara, sebagaimana diakui dunia internasional sesuai dengan hukum laut
internasional (UNCLOS 82), memberikan konsekuensi kepada negara dan rakyat
Indonesia untuk mampu mengelola dan memanfaatkannya secara optimal dengan tetap
memperhatikan hak-hak tradisional dan internasional.
Indonesia sebagai negara kepulauan
telah menetapkan alur perlintasan pelayaran internasional, yaitu yang dikenal
dengan Alur Lintas Kepulauan Indonesia (ALKI), hal ini mengharuskan kita untuk
mengembangkan kemampuan teknik pemantauannya serta kemampuan untuk menjaga
kelestarian lingkungan sekitarnya.
Pembangunan
kelautan dan perikanan dimasa datang diharapkan menjadi sektor andalan dalam
menopang perekonomian negara dalam pemberdayaan masyarakat yang bergerak di
sektor kelautan dan perikanan. Menyadari hal tersebut, maka peran ilmu
pengetahuan dan teknologi kelautan dan perikanan menjadi sangat penting dan
perlu dioptimalkan serta diarahkan agar mampu melaksanakan riset yang bersifat
strategis yang dapat diaplikasikan oleh masyarakat luas terutama oleh para pelaku
industri dan masyarakat pesisir pada umumnya.
2. Kekayaan Laut Indonesia
Tiga per empat dari keseluruhan wilayah Indonesia adalah lautan. Di
dalamnya terdapat lebih dari 17.500 pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000
km yang merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Banyak
sekali kekayaan laut yang dimiliki negara kita.
Laut kita mengandung banyak sumber daya yang beragam baik yang dapat diperbaharui seperti perikanan, terumbu karang, hutan mangrove, rumput laut, dan plasma nutfah lainnya atau pun sumber daya yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak dan gas bumi, barang tambang, mineral, serta energi kelautan seperti gelombang, angin, dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) yang sedang giat dikembangkan saat ini.
Terdapat 7,5% (6,4 juta ton/tahun) dari potensi lestari total ikan laut dunia berada di Indonesia. Kurang lebih 24 juta hektar perairan laut dangkal Indonesia cocok untuk usaha budi daya laut (marine culture) ikan kerapu, kakap, baronang, kerang mutiara, dan biota laut lainnya yang bernilai ekonomis tinggi dengan potensi produksi 47 ton/tahun.
Laut kita mengandung banyak sumber daya yang beragam baik yang dapat diperbaharui seperti perikanan, terumbu karang, hutan mangrove, rumput laut, dan plasma nutfah lainnya atau pun sumber daya yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak dan gas bumi, barang tambang, mineral, serta energi kelautan seperti gelombang, angin, dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) yang sedang giat dikembangkan saat ini.
Terdapat 7,5% (6,4 juta ton/tahun) dari potensi lestari total ikan laut dunia berada di Indonesia. Kurang lebih 24 juta hektar perairan laut dangkal Indonesia cocok untuk usaha budi daya laut (marine culture) ikan kerapu, kakap, baronang, kerang mutiara, dan biota laut lainnya yang bernilai ekonomis tinggi dengan potensi produksi 47 ton/tahun.
Selain itu lahan pesisir (coastal
land) yang sesuai untuk usaha budidaya tambak udang, bandeng, kerapu, kepiting,
rajungan, rumput laut, dan biota perairan lainnya diperkirakan 1,2 juta hektar
dengan potensi produksi sebesar 5 juta per tahun. Hampir 70% produksi minyak
dan gas bumi Indonesia berasal dari kawasan pesisir dan laut.
Selain itu, Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati laut pada tingkatan genetik, spesies, maupun ekosistem tertinggi di dunia. Akan tetapi, saat ini baru 4 juta ton kekayaan laut Indonesia yang dimanfaatkan. Jika kita telusuri kembali sebenarnya masih banyak potensi kekayaan laut yang dimiliki Indonesia.
Selain itu, Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati laut pada tingkatan genetik, spesies, maupun ekosistem tertinggi di dunia. Akan tetapi, saat ini baru 4 juta ton kekayaan laut Indonesia yang dimanfaatkan. Jika kita telusuri kembali sebenarnya masih banyak potensi kekayaan laut yang dimiliki Indonesia.
Prakiraan nilai ekonomi potensi dan
kekayaan laut Indonesia yang telah dihitung para pakar dan lembaga terkait
dalam setahun mencapai 149,94 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14.994
triliun.
Potensi ekonomi kekayaan laut tersebut meliputi perikanan senilai 31,94 miliar dollar AS, wilayah pesisir lestari 56 miliar dollar AS, bioteknologi laut total 40 miliar dollar AS, wisata bahari 2 miliar dollar AS, minyak bumi sebesar 6,64 miliar dollar AS dan transportasi laut sebesar 20 miliar dollar AS.
Potensi ekonomi kekayaan laut tersebut meliputi perikanan senilai 31,94 miliar dollar AS, wilayah pesisir lestari 56 miliar dollar AS, bioteknologi laut total 40 miliar dollar AS, wisata bahari 2 miliar dollar AS, minyak bumi sebesar 6,64 miliar dollar AS dan transportasi laut sebesar 20 miliar dollar AS.
3.
Masalah-masalah yang di hadapi dalam Pemanfaatan Kekayaan Laut
Dengan kekayaan laut yang melimpah
ini, sayangnya belum termanfaatkan secara optimal. Sumber daya kelautan yang
begitu melimpah ini hanya dipandang “sebelah mata”, Kalaupun ada kegiataan
pemanfaatan sumber daya kelautan, maka dilakukan kurang profesional dan
ekstraktif, kurang mengindahakan aspek kelestariannya. Bangsa Indonesia kurang
siap dalam menghadapi segala konsekuensi jati dirinya sebagai bangsa nusantara
atau negara kepulauan terbesar di dunia karena tidak disertai dengan kesadaran
dan kapasitas yang sepadan dalam mengelola kekayaannya.
Di satu sisi Indonesia memposisikan diri sebagai negara kepulauan
dengan kekayaan lautnya yang melimpah, tetapi di sisi lain Indonesia juga
memposisikan diri secara kultural sebagai bangsa agraris dengan puluhan juta
petani yang masih berada di bawah garis kemiskinan, sedangkan dalam industri
modern, negara kita kalah bersaing dengan negara lain. Semua ini berdampak juga
terhadap sektor industri kelautan sehingga menimbulkan banyak masalah berkaitan
dengan pemanfaatan kekayaan laut. Diantaranya para nelayan Indonesia masih
miskin dan tertinggal dalam perkembangan teknologi kelautan. Kemiskinan dan
kemiskinan yang menyelimuti mereka karena sistem yang sangat menekan seperti
pembelian perlengkapan untuk menangkap ikan yang masih harus lewat rentenir
karena jika melalui Bank, prosesnya yang berbelit-belit dan terlalu birokrasi.
Juga dengan produksi industri kelautan yang keadaannya setali tiga uang,
terlihat dari rendahnya peranan industri domestik seperti nelayan.
Selain itu, banyak nelayan asing yang mencuri ikan di wilayah
perairan kita, tiap tahunnya jutaan ton ikan di perairan kita dicuri oleh
nelayan asing yang rata-rata peralatan tangkapan ikan mereka jauh lebih canggih
dibandingkan para nelayan tradisional kita. Kerugian yang diderita negara kita
mencapai Rp 18 trilyun-Rp36 trilyun tiap tahunnya. Hal ini memang kurang bisa
dicegah oleh TNI AL sebagai lembaga yang berwenang dalam mengamankan wilayah
laut Indonesia, karena seperti kita ketahui keadaan alut sista (alat utama
sistem senjata) seperti kapal perang yang dimiliki TNI AL jauh dari mencukupi.
Untuk mengamankan seluruh wilayah perairan Indonesia yang mencapai 5,8 km2,
TNI AL setidaknya harus memiliki 500 unit kapal perang berbagai jenis. Memang jika kita menengok kembali sejarah, di
zaman Presiden Soekarno Angkatan Laut kita pernah menjadi keempat terbesar di
dunia setelah Amerika Serikat, Uni Soviet,dan Iran. Akan tetapi semuanya hanya
bersifat sementara karena tidak dibangun atas kemampuan sendiri, namun karena
bantuan Uni Soviet dalam rangka permainan geopolitik.
Sebenarnya apa yang salah dari
pengelolaan laut Indonesia.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan pemanfaatan laut sebagai potensi bangsa
yang dahsyat itu terabaikan di antaranya yaitu lemah pengamanan, lemah
pengawasan, dan lemah koordinasi dari negara. Sebenarnya Indonesia memiliki
Maritime Surveillance System (sistem pengamatan maritim) pada sebuah institusi
militer yang domainnya memang laut.
Maritime Surveillance System dititikberatkan pada pembangunan stasiun radar pantai dan pemasangan peralatan surveillance di kapal patroli, untuk kemudian data-data hasil pengamatan dari peralatan yang terpasang tersebut dikirim ke pusat data melalui media komunikasi data tertentu untuk ditampilkan sebagai monitoring dan untuk diolah lebih lanjut. Karena itu, sistem ini lebih cenderung berlaku sebagai alat bantu penegakan keamanan di laut, meski sangat mungkin dikembangkan lebih lanjut sebagai alat bantu pertahanan.
Maritime Surveillance System dititikberatkan pada pembangunan stasiun radar pantai dan pemasangan peralatan surveillance di kapal patroli, untuk kemudian data-data hasil pengamatan dari peralatan yang terpasang tersebut dikirim ke pusat data melalui media komunikasi data tertentu untuk ditampilkan sebagai monitoring dan untuk diolah lebih lanjut. Karena itu, sistem ini lebih cenderung berlaku sebagai alat bantu penegakan keamanan di laut, meski sangat mungkin dikembangkan lebih lanjut sebagai alat bantu pertahanan.
4. Upaya Pemanfaatan kekayaan Laut Indonesia
Pemerintah hendaknya harus bekerja
lebih keras dalam mencari penyelesaian masalah ini agar eksplorasi serta
pemanfaatan kekayaan laut kita dapat dilaksanakan secara optimal dan terarah.
Negara kita perlu mempunyai kebijakan kelautan yang jelas dan bervisi ke depan
karena menyangkut geopolitik dan kebijakan-kebijakan dasar tentang pengelolaan
sumber daya kelautan. Kebijakan mengenai berbagai terobosan untuk
mendayagunakan sumber daya kelautan secara optimal dan lestari sebagai
keunggulan kompetitif bangsa.
Mengingat potensi sumber daya laut yang kita miliki sangat besar,
maka kekayaan laut ini harus menjadi keunggualan kompetitif Indonesia, yang
dapat menghantarkan bangsa kita menuju bangsa yang adil, makmur, dan mandiri.
Memang untuk mewujudkan cita-cita tersebut perlu adanya koordinasi berbagai
pihak dan dukungan dari masyarakat. Seyogyanya harus ada perubahan paradigma
pembangunan nasional di masyarakat kita dari land-based development menjadi
ocen-based development. Pembangunan di darat harus disinergikan dan
diintegrasikan secara proporsional dengan pembangunan sosial-ekonomi di laut.
Perlu adanya peningkatan produksi kelautan kita dengan cara memberikan
penyuluhan kepada para nelayan, pemberian kredit ringan guna membeli
perlengkapan untuk menangkap ikan yang lebih memadai, serta pembangunan
pelabuhan laut yang besar guna bersandarnya kapal-kapal ikan yang lebih besar.
Peningkatan produksi juga meliputi sektor bioteknologi perairan,
mulai dari proses produksi (penangkapan ikan dan budidaya), penanganan dan
pengolahan hasil, serta pemasarannya. Selain itu, harus ada perhatian terhadap
sektor wisata bahari dengan adanya perbaikan mencakup penguatan dan
pengembangan obyek wisata bahari dan pantai, pelayanan, pengemasan serta
promosi yang gencar dan efektif.
Dengan berbagai kebijakan kelautan yang ditempuh ini, diharapkan
adanya pembangunan kelautan yang sinergis dan terarah serta menyeluruh,
sehingga tidak mustahil dengan pemanfaatan kekayan laut yang optimal akan
menumbuhkan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan guna meningkatkan
kesejahteraan rakyat Indonesia menuju Indonesia yang adil, makmur, dan mandiri.
Dibutuhkan
kesinergisan dari banyak pihak (institusi) yang memiliki kewajiban dan tanggung
jawab dalam pengembangan kelautan. Baik secara langsung maupun tidak langsung,
agar manajemen pengelolaan laut ini dapat berhasil dengan optimal.
Institusi tersebut di
antaranya DKP, Departemen Perhubungan khususnya Dirjen Perhubungan Laut, Badan
Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla), Departemen Tenaga Kerja, Departemen
Kehutanan, Departemen Pariwisata dan Budaya, Departemen Perdagangan, Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral, Ditjen Bea Cukai, Pelindo, TNI AL, Kepolisian Republik Indonesia, Kejaksaaan, dan
sebagainya.
5. Pemanfaatan
Kekayaan Laut Untuk Ketahanan Ekonomi Indonesia
Ketahanan ekonomi adalah merupakan suatu kondisi dinamis kehidupan
perekonomian bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan, kekuatan nasional
dalam meghadapi serta mengatasi segala tantangan dan dinamika perekonomian baik
yang datang dari dalam maupun luar negara Indonesia, dan secara langsung maupun
tidak langsung menjamin kelangsungan dan penigkatan perekonomian bangsa dan
negara republik Indonesia yang telah diatur berdasarkan UUD 1945.
Wujud ketahanan ekonomi tercermin
dalam kondisi kehidupan perekonomian bangsa yang mampu memelihara stabilitas
ekonomi yang sehat dan dinamis, menciptakan kemandirian ekonomi nasional yang
berdaya saing tinggi, dan mewujudkan perekonomian rakyat yang secara adil dan
merata. Dengan demikian, pembangunan ekonomi diarahkan kepada mantapnya
ketahanan ekonomi melalui suatu iklim
usaha yang sehat serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, tersedianya
barang dan jasa, terpeliharanya fungsi lingkungan hidup serta menigkatnya daya
saing dalam lingkup perekonomian global.
Ketahanan ekonomi hakikatnya
merupakan suatu kondisi kehidupan perekonomian bangsa berlandaskan UUD 1945 dan
dasar filosofi Pancasila, yang menekankan kesejahteraan bersama, dan mampu
memelihara stabilitas ekonomi yang sehat dan dinamis serta menciptakan
kemandirian perekonomian nasional dengan daya saing yang tinggi.
Potensi bidang kelautan cukup
besar meliputi sektor perikanan, pelayaran, pariwisata bahari,
perkapalan, jasa pelabuhan serta sumberdaya mineral bawah laut. Potensi
ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi kelautan akan tetapi
diperlukan keterpaduan kebijakan publik di bidang kelautan. Karena sektor
kelautan menjadi potensi yang sangat strategis untuk didorong sebagai mainstream
pembangunan perekonomian nasional.
Kekayaan sumberdaya pesisir dikuasai
oleh Negara untuk dikelola sedemikian rupa guna mewujudkan kesejahteraan
masyarakat, memberikan manfaat bagi generasi sekarang tanpa mengorbankan
kebutuhan generasi yang akan datang. Ironisnya, sebagian besar tingkat
kesejahteraan masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir justru menempati
strata ekonomi yang paling rendah bila dibandingkan dengan masyarakat darat
lainnya. Dengan upaya peningkatan SDM masyarakat pesisir (nelayan) maka
perekonomian akan meningkat, sehingga ketahanan ekonomi akan semakin baik.
Melihat semakin besarnya peran
ekonomi kelautan (marine economy) dalam pembangunan nasional maka
diperlukan adanya agenda kebijakan bidang kelautan dalam upaya menjadikan
Indonesia sebagai negara kepulauan bercirikan nusantara yang sejalan dengan
amanat Undang-Undang No.17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang (RPJP) 2005- 2025, yakni misi mewujudkan Indonesia sebagai negara
kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan makmur yang berbasis kepentingan
nasional sebagaimana tersirat dalam misi ketujuh undang-undang tersebut.
Misi tersebut setidaknya memiliki 3
(tiga) agenda ke depan yang harus segera dilakukan: Pertama,
membuat payung hukum Kebijakan Kelautan Nasional (National Ocean Policy)
untuk arah pembangunan nasional sektor kelautan; Kedua,
menyiapkan roadmap penggunaan dan pemanfaatan (sumberdaya kelautan)
yang didedikasikan untuk kepentingan nasional dan bermuara pada peningkatan
kesejahteraan rakyat dalam Kebijakan Ekonomi Kelautan Nasional (National
Ocean Economic Policy); dan ketiga, adalah Tata Kelola
kelautan yang baik (Ocean Governance) sebagai panduan atau code of
conduct dalam pengelolaan kelautan secara holistik.
Jika Indonesia berhasil memanfaatkan
kekayaan laut yang dimilikinya dengan optimal dan terarah, maka keadaan ekonomi
indoesia akan semakin baik, sehingga ketahanan ekonomi nasional akan terwujud.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Indonesia memiliki 5 (lima)
keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, yaitu: Marine
Mega Biodiversity, Plate Tectonic, dan
Dynamic
Oceanographic and Climate Variability.
Laut kita mengandung banyak sumber daya
yang beragam baik yang dapat diperbaharui seperti perikanan, terumbu karang,
hutan mangrove, rumput laut, dan plasma nutfah lainnya atau pun sumber daya
yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak dan gas bumi, barang tambang,
mineral, serta energi kelautan seperti gelombang, angin, dan OTEC (Ocean
Thermal Energy Conversion) yang sedang giat dikembangkan saat ini.
Ada beberapa faktor yang
menyebabkan pemanfaatan laut sebagai potensi bangsa yang dahsyat itu terabaikan
di antaranya yaitu lemah pengamanan, lemah pengawasan, dan lemah koordinasi
dari negara. Sebenarnya Indonesia memiliki Maritime Surveillance System (sistem
pengamatan maritim) pada sebuah institusi militer yang domainnya memang laut.
Negara kita perlu mempunyai kebijakan kelautan yang jelas dan bervisi ke depan karena menyangkut geopolitik dan kebijakan-kebijakan dasar tentang pengelolaan sumber daya kelautan. Kebijakan mengenai berbagai terobosan untuk mendayagunakan sumber daya kelautan secara optimal dan lestari sebagai keunggulan kompetitif bangsa.
Negara kita perlu mempunyai kebijakan kelautan yang jelas dan bervisi ke depan karena menyangkut geopolitik dan kebijakan-kebijakan dasar tentang pengelolaan sumber daya kelautan. Kebijakan mengenai berbagai terobosan untuk mendayagunakan sumber daya kelautan secara optimal dan lestari sebagai keunggulan kompetitif bangsa.
Sektor kelautan menjadi potensi yang sangat strategis untuk didorong
sebagai mainstream pembangunan perekonomian nasional
2. Saran
Pemerintah dan masyarakat harus selalu bekerjasama agar dapat
memanfaatkan kekayaan laut secara optimal dan terarah. Sehingga dapat
meningkatkan ekonomi kelautan, yang juga akan meningkatkan ketahanan ekonomi
nasional.
DAFTAR PUSTAKA
antaranews. 28 Desember 2009. Hari Nusantara
bangkitkan Kesadaran Membangun Laut.
(Online), (http://www.antaranews.com/berita/1260252821/hari-nusantara- bangkitkan-kesadaran-membangun-laut, diakses
27 Desember 2009).
Gunawan, Sandi.
2009. Optimalisasi Pemanfaatan Kekayaan
Laut Indonesia Guna Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat, (Online), ( http://www.gc.ukm.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&view=art icle&id=80:optimalisasi-pemanfaatan-kekayaan-laut-indonesia-guna- meningkatkan-kesejahteraan-rakyat&catid=38:publication&Itemid=29, diakses 27 Desember 2009).
Kaelan. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta:
Paradigma.
Kompas.com, 6
November 2009. Potensi Kekayaan Laut Indonesia Capai Rp.14.994 triliun. (Online), (http://www.kompas.com/read/xml/2009/11/06/15004486/potensi.kekayaa n.laut.indonesia.capai.rp.14.994.triliun, diakses
27 Desember 2009).
Nuha, Uta Ulin.
2009. Optimalisasi
Potensi Laut Melalui Sistem Informasi. (Online), (http://www.harian- global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=20814:opti malisasi-potensi-laut-melalui-sistem- informasi&catid=57:gagasan&Itemid=65, diakses
27 Desember 2009).
Soesilo, Indroyono. 2007. Profil Laut
Indonesia, (Online), (www.dkp.go.id, di akses 27
Desember 2009).
MANTAP
BalasHapusmbak izin make yo, aku tmbahin dikit. btw aku anak UM ekp '12. :)
BalasHapusmba izin buat jadi referensi ya
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusnegara kita, indonesia. memiliki sumber daya alam berupa laut yang begitu luas membentang. turut bangga dengan kearifan loka. nice article
BalasHapus