A. Perencanaan Pekerjaan
1.
Pengertian Perencanaan
Perencanaan
adalah berfikir ke depan mengenai jalannya kegiatan yang akan dilakukan dengan
mempertimbangkan segala faktor yang terkait dan ditujukan kepada sasaran
tertentu dan terukur yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan melakukan
perencanaan secara matang, maka perusahaan akan siap menghadapi berbagai
kendala dan rintangan karena telah diperhitungkan sebelumnya melalui perencaan.
Dengan demikian perencanaan merupakan pemilihan sekumpulan kegiatan dan
pemutusan apa yang harus dilakukan, kapan, di mana, bagaimana dan oleh siapa
kegiatan tersebut dilakukan. Dengan kata lain perencanaan adalah proses
kegiatan untuk menentukan tindakan-tindakan (kebijakan) yang akan dilaksanakan
dalam mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam
melakukan perencanaan terdapat beberapa syarat yang harus diketahui sebelumnya,
yaitu:
a.
Menentukan tujuan, yaitu sasaran
spesifik dan terukur yang akan dicapai pada waktu yang akan datang.
b.
Menetapkan kegiatan yang akan
dilakukan, yaitu dengan menganalisis faktor terkait.
c.
Waktu yang diperlukan untuk
mewujudkannya, apakah dalam jangka panjang atau pendek.
d.
Pengaturan pelaksanaan, yaitu
bagaimana cara melaksanakan perencanaan tersebut.
2.
Prinsip-prinsip Perencanaan
Perencanaan
dilakukan sebelum menjalankan suatu kegiatan. Oleh karenanya agar sesuai
denngan tujuan yang mengharapkan , dalam merencanakan sesuatu perlu berpegangan
kepada beberapa prinsip perencanaan, yaitu sebagai berikut
a.
Kontinuitas
Perencanaan yang baik harus dibuat
dan dipersiapkan untuk tindakan terus-menerus dan berkesinambungan, dan perlu
pemikiran peningkatan dan perbaikan di masa yang akan datang. Hal ini hanya
bisa terwujud melalui perencanaan yang berdasarkan evaluasi dan adaptasi
terhadap segala perubahan yang terjadi.
b.
Berdasarkan fakta hari ini dan
perkiraan situasi di masa yang akan datang
Perencaan tanpa didukung dengan
fakta (data) yang sesuai dengan kebutuhan tidak akan mampu memberikan hasil
yang terbaik. Oleh karena perlu data-data pendukung guna membuat suatu
perencanaan sehingga rencana bisa dilakukan dengan baik.
c.
Futuritas
Perencanaan selalu berkaitan dengan
masa depan. Perencanaan juga harus memperhatikan berbagai sumber, informasi
seputar kinerja perusahaan pada masa lalu dan sekarang, serta prediksi
peristiwa yang mungkin akan menerpa perusahaan, baik berbagai kesempatan untuk
mencapai target perusahaan maupun berbagai rintangan yang bisa menghalangi
terwujudnya target perusahaan.
d.
Fleksibilitas
Fleksibilitas artinya perencanaan
mudah diakomodasikan dengan berbagai kondisi yang baru dan perubahan-perubahan
masa depan yang belum diketahui waktu memulai perencanaan. Perencanaan dibuat
bukan untuk waktu yang relatif singkat, tetapi diproyeksi kan untuk wadah
tertentu (misalnya 1 tahun atau 2 tahun), maka dalam membuat perencanaan perlu
diperkirakan gar mungkin untuk melakukan penyempurnaan dan pengembangan.
e.
Reliabilitas
Perencanaan harus realistis dalam
mencapai target yang ditentukan dengan mempertimbangakan berbagai sarana
pendukung yang ada. Artinya, perencanaan itu disesuaikan dengan kondisi
perusahaan, baik kondisi finansial maupun SDM dan berbagai kondisi internal
lainnya. Perencanaan tidak realistis akan kontraproduktif ketika para staf
tidak mampu menjalankannya. Konsekuensinya, karyawan akan hilang kepercayaan
diri atau tidak percaya kepada kemampuan manajerial pemimpinnya.
3.
Langkah-langkah perencanaan
Dalam merencanakan perlu melalui
beberapa langkah-langkah berikut ini.
a.
Langkah pertama yang perlu dilakukan
adalah menentukan kebutuhan dan tujuan yang akan dicapai dari suatu kegiatan
yang akan dilakukan.
b.
Langkah selanjutnya akan melakukan
observasi dan penelitian terhadap informasi yang sudah dikumpulkan. Kemudian
lakukan analisis dari berbagai informasi tersebut dan juga analisis terhadap
hasil kerja masa lalu kalau tersedia. Dari hasil analisis tersebut di atas maka tentukan juga perencanaan
alternatif yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
c.
Identifikasi kondisi lingkungan yang
berkaitan dengan pekerjaan, baik kondisi finansial maupun SDM, serta
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dari berbagai kondisi yang ada kemudian
pelajari.
d.
Buatlah hubungan di antara semua hal
tersebut di atas dan sinergikanlah sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan
akan menjadi landasan operasional kerja.
e.
Berdasarkan perbandingan terhadap
alternatif yang dipilih, selanjutnya lakukan penilaian apakah sudah sesuai
dengan tuntutan yang diinginkan. Kalau memang sudah sesuai maka langkah
berikutnya adalah melaksanakan perencanaan.
Cara menyusun perencanaan juga bisa
menggunakan formula 5W+1H, yaitu sebagai berikut:
a.
W1 (What/Apa)
Artinya rencana apa yang akan
disusun. Biasanya hal ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan, misalnya apa
tujuan yang akan dicapai. Umpamanya bila tujuan yang akan dicapai adalah
mendirikan usaha, maka pertanyaanya adalah apa produk yang laku dijual di pasar
atau apa yang dibutuhkan konsumen saat ini.
b.
W2 (When/Kapan)
Maksudnya, kapan suatu rencana
dilaksanakan. Untuk melaksanakan suatu rencana perlu disusun jadwal waktu yang
tepat dari setiap jenis pekerjaan yang akan dilakukan, umpamanya:
1)
Kapan saat yang tepat untuk memulai?
Jawaban dari pertanyaan ini akan
mengarahkan kepada saat yang tepat untuk memulai suatu usaha dengan berbagai
pertimbangan, baik kemampuan yang dimiliki (tempat usaha/modal usaha) maupun
kemungkinan persaingan.
2)
Kapan saat untuk melakukan promosi?
Melakukan promosi juga perlu
dipikirkan kapan saat yang tepat sehingga promosi yang
dilakukan tidak sia-sia.
3)
Kapan saat menyelesaikan pekerjaan?
Waktu saat menyelesaikan setiap
pekerjaan perlu ditentukan kapan setiap agar pekerjaan berikutnya tidak
terganggu.
4)
Kapan saat untuk membeli bahan?
Bahan juga dapat mengakibatkan
pekerjaan tertunda. Oleh karenanya/penjadwalan kapan saat yang tepat membeli
bahan perlu ditetapkan sedemikian rupa agar tidak terjadi penyimpangan dan
memperlambat pekerjaan.
c.
W3 (Where/Dimana)
Dengan kata where kita dapat
menganalisis aspek-aspek yang dibutuhkan agar perencanaan yang disusun lebih
sempurna, umpamanya:
1)
Di mana lokasi usaha didirikan?
Menentukan lokasi usaha diperlukan
berbagai informasi/misalnya di mana saingan mendirikan usahanya atau dimana
tempat yang strategis untuk mendirikan usaha/agar lebih dekat dengan konsumen.
2)
Di mana membeli bahan yang
dibutuhkan?
Tempat membeli bahan dibutuhkan
perlu ditentukan/selain dekat dengan lokasi perusahaan/juga harganya murah
dibanding tempat lain.
3)
Di mana promosi dilakukan?
Promosi yang dilakukan dapat
mencapai sasaran yang dituju apabila promosi yang dilakukan pada tempat yang
tepat.
4)
Di mana pesaing menjual produknya?
Tempat pesaing menjual produknya
perlu diketahui karena dengan mengetahui-nya sangat bermanfaat bagi pemasaran
produk.
d.
W4 (Why/mengapa)
Selanjutnya, penyusun rencana harus
mengetahui mengapa dibutuhkannya suatu produk tertentu, mengapa membuka usaha
tersebut, dan mengapa memilih lokasi di suatu tempat tertentu.
e.
W5 (Who/siapa)
Kata who terkait dengan siapa yang
akan melaksanakan rencana tersebut. Seberapa banyak karyawan digunakan untuk
mencapai tujuan yang tentu saja harus disesuaikan dengan besarnya pekerjaan
yang akan dilaksanakan.
f.
H (How/bagaimana)
Pertanyaan tentang bagaimana, sangat
membantu bagi penyusunan rencana untuk mengetahui cara menyelesaikan pekerjaan,
misalnya bagaimana cara membeli bahan baku, bagaimana cara mengangkut hasil
produksi, dan bagaimana menjual hasil produksi.
Perencanaan sangat penting bagi
perusahaan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan adanya perencanaan,
tujuan yang hendak dicapai akan diraih dengan cara yang lebih baik, lebih
terarah dan efektif. Dengan demikian, perencanaan memiliki beberapa keuntungan,
antara lain sebagai berikut.
- Dengan adanya perencanaan perusahaan terhindar dari sikap tergesa-gesa dan pengambilan keputusan secara emosional. Selain itu, perusahaan juga bisa menghindarkan diri dari berbagai kesalahan dan menghemat tenaga serta biaya saat menghadapi ketidakpastian pada masa mendatang.
- Mendorong adanya komunikasi antar individu dan antar berbagai lini agar bisa bekerja sama dalam mengejar target sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
- Mencerminkan sikap ekonomis karena dalam menentukan target serta biaya yang dikeluarkan, akan disesuaikan dengan sikap hemat, baik hemat biaya maupun SDM.
- Membantu perusahaan agar lebih siap menghadapi berbagai perubahan.
- Menjauhi berbagai masalah yang mungkin terjadi pada masa mendatang.
- Menentukan tujuan secara realistis sesuai dengan berbagai perubahan yang mungkin terjadi.
B. EFISIENSI DALAM PEKERJAAN
1.
Pengertian Efisiensi
Efisiensi berkaitan dengan
menghasilkan sesuatu/produksi yang optimal dengan tidak membuang sumber daya
dalam proses pengerjaannya. Bekerja dengan efisien adalah bekerja dengan
gerakan, usaha, waktu dan tenaga yang sedikit mungkin dengan hasil yang tetap
sama. Cara bekerja yang efisien dapat diterapkan oleh semua karyawan untuk
semua pekerjaan yang kecil maupun yang besar. Sehingga dapat membantu
mempercepat penyelesaian tugas dengan menghemat tenaga, waktu, biaya, bahan dan
lainnya.
Bila
seorang karyawan harus segera menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu yang
singkat, maka karyawan tersebut harus dapat meningkatkan kecepatan dalam
bekerja, tetapi harus tetap menjaga mutu hasil kerjanya. Oleh karenanya,
karyawan yang tidak efisien akan kekurangan waktu dalam menyelesaikan
pekerjaannya, sedangkan karyawan yang efisien akan kekurangan pekerjaan untuk
menghabiskan waktunya.
Dengan
demikian, efisiensi kerja merupakan pelaksanaan kerja dengan cara tertentu,
tanpa mengurangi tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Cara pelaksanaan
kerja tersebut merupakan cara termudah untuk mengerjakannya, termurah biayanya,
tersingkat waktunya, teringan bebannya dan terpendek jaraknya.
Karyawan
yang efisien tidak akan mengeluh walaupun banyak yang harus dikerjakannya,
tetapi karyawan yang tidak efisien akan mengeluh walopun sedikit yang harus
dikerjakannya. Cara kerja yang efisien hendaknya perlu diterapkan secara terus
menerus agar jiwa efisiensi dapat dimiliki dan diterapkan dalam melaksanakan
pekerjaan.
2.
Azas-azas Efisiensi Kerja
Untuk
menerapkan efisiensi dalam bekerja ini karyawan perlu mengetahui asas-asas
efisiensi bagi pekerjaan yaitu sebagai berikut.
a.
Azas Perencanaan
Perencanaan berarti menggambarkan
suatu tindakan yang akan dilaksanakan dalam rangka
mencapai suatu tujuan. Perencanaan
ini sangat penting agar efisiensi dapat dilakukan karena tindakan yang akan
dilakukan telah direncanakan sebelumnya.
b.
Azas Penyederhanaan
Menyederhanakan berarti membuat
suatu sistem yang rumit atau pekerjaan yang sukar menjadi lebih mudah atau
ringan.
c.
Azas penghematan
Menghemat berarti mencegah pemakaian
benda/bahan secara berlebihan sehingga biaya pekerjaan menjadi lebih minim.
d.
Azas Penghapusan
Menghapuskan berarti meniadakan
kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan
pekerjaan yang dianggap kurang perlu, atau
yang tidak berhubungan dengan hasil kerja yang ingin dicapai.
e.
Azas Penggabungan
Menggabungkan berarti menyatukan
pekerjaan yang memiliki persamaan kegiatan atau bahan yang mungkin dapat
dikerjakan sekaligus dalam satu langkah sehingga dapat menghemat waktu kerja.
3.
Syarat Efisiensi Kerja
Untuk mencapai efisiensi kerja
tersebut diperlukan beberapa syarat berikut ini:
a.
Berhasil guna/efektif
Syarat ini menyatakan bahwa kegiatan
telah dilaksanakan dengan tepat, dalam tercapai sesuai dengan waktu yang
ditetapkan.
b.
Ekonomis
Syarat ekonomis menyatakan bahwa
dalam usaha mencapai sesuatu yang efektif biaya, tenaga kerja, material,
peralatan, waktu dan ruangan telah dimanfaatkan dengan tepat.
c.
Pelaksanaan Kerja yang dapat
dipertanggungjawabkan
Syarat ini untuk membuktikan bahwa
dalam pelaksanaan kerja sumber-sumber yang ada telah dimanfaatkan dengan tepat
dan dapat dipertanggungjawabkan.
d.
Pembagian Kerja yang Nyata
Manusia mempunyai kemampuan yang
terbatas sehingga tidak mungkin mengerjakan segala macam pekerjaan dengan baik.
Hendaknya ada pembagian kerja yang nyata berdasarkan beban kerja, ukuran
kemampuan kerja dan waktu yang tersedia.
e.
Rasionalisasi Wewenang dan Tanggung
jawab
Wewenang harus seimbang dengan
tanggung jawab seseorang, artinya jangan sampai terjadi seseorang mempunyai
wewenang yang lebih besar dari tanggung jawabnya, atau sebaliknya jangan sampai
terjadi lebih kecil tanggung jawabnya.
f.
Prosedur Kerja yang Praktis
Artinya bahwa pelaksanaan kerja
harus merupakan kegiatan operasional yang dapat dilaksanakan dengan lancar, dapat
dipertanggungjawabkan serta pelayanan kerja memuaskan.
4.
Sumber Efisiensi kerja
Sumber
efisiensi kerja adalah manusia karena dengan alat pikiran dan pengetahuan yang
ada, manusia mampu menciptakan cara kerja yang efisien. Sumber efisiensi kerja
yang melekat pada manusia adalah kesadaran, keahlian dan disiplin.
a.
Kesadaran
Kesadaran terhadap arti dan makna
efisiensi sangat membantu usaha ke arah efisiensi kerja. Kesadaran mendorong
seseorang berkeinginan membangkitkan kehendak guna melakukan sesuatu. Efisiensi
kerja erat kaitannya dengan tingkah laku dan sikap hidup seseorang. Artinya
bahwa tingkah laku dan sikap hidup seseorang dapat mengarah kepada perbutan
yang efisien atau sebaliknya. Oleh karena itu, penerapan efisiensi kerja tidak
dapat diharapkan timbul ketika pada seseorang, melainkan merupakan hasil dari
proses yang panjang. Kesadaran sebagai salah satu sumber efisiensi perlu secara
terus-menerus dipupuk agar usaha dapat berhasil tanpa pemborosan tenaga, biaya
dan waktu.
b.
Keahlian
Suatu pekerjaan yang dilakukan oleh
seorang ahli hasilnya akan lebih baik dan lebih cepat daripada apabila
pekerjaan tersebut dilakukan oleh orang yang bukan ahlinya. Unsur keahlian
dalam efisiensi kerja melekat pada manusia, sama halnya dengan unsur kesadaran.
Keahlian manusia di bidang tertentu perlu ditunjang denga peralatan, agar
efisiensi kerja yang akan dicapai dapat lebih tinggi daripada tanpa menggunakan
alat. Sebab keahlian tanpa ditunjang oleh fasilitas yang memadai tidak mungkin
diterapkan untuk dapat menghasilkan yang terbaik. Tetapi keahlian itu
sendiri sudah merupakan jaminan akan
didapatkannya hasil yang efisien.
Masalah keahlian di dalam suatu
kegiatan/pekerjaan dewasa ini, telah berkembang sehingga menrut adanya keahlian
untuk masing-masing bidang pekerjaan. Perkembangan pekerjaan yang menjurus ke
arah spesialisasi mensyaratkan adanya tenaga ahli. Semakin banyak spesialisasi
diciptakan dan semakin banyak pula keahlian yang diperlukan sesuai tuntutan
yang ada. Seorang pakar dalam bidang tertentu, akan mampu memperkirakan dengan
tepat kerusakan pada sebuah mesin hanya karena mendengar suara mesinnya, tetapi
seorang yang bukan pakarnya tidak dapat memperkirakan tanpa membongkar lebih
dahulu mesin tersebut. Dari contoh tersebut, dapat kita lihat perbedaan dalam
efisiensi kerja. Sehubungan dengan hal tersebut maka faktor yang sangat erat
hubungannya dengan keahlian adalah penempatan orang yang tepat pada suatu
pekerjaan.
c.
Disiplin
Disiplin erat hubungannya dengan
kesadaran, sebab disiplin timbul dari kesadaran. Kesadaran belum memerlukan
waktu lama dan agak sulit dilaksanakan, tetapi disiplin dapat ditumbuhkan dalam
waktu yang singkat dan pada awalnya dapat dipaksakan dengan suatu aturan. Di
tempat kerja terdapat berbagai aturan yang menuntut adanya disiplin pegawai
dengan berbagai sanksinya. Usaha untuk menciptakan disiplin pada organisasi
antara lain dilakukan melalui penyebaran tugas dan wewenang yang jelas, tata
cara atau tata kerja (prosedur) yang sederhana tetapi memadai yang dapat
diketahui dan dipahami oleh tiap karyawan sehingga mereka bisa melaksanakan
disiplin tersebut.
Upaya lain yang perlu dilaksanakan
adalah menciptakan keseimbangan antara kepentingan organisasi dengan
kepentingan pribadi karyawan. Untuk dapat menciptakan keseimbangan kepentingan
tersebut, banyak hal yang perlu diperhatikan, misalnya gaji/pendapatan,
penghargaan, pendidikan dan latihan, fasilitas, rekreasi, dan hal-hal yang
menyangkut segi kemanusiaan karyawan. Apabila upaya tersebut dapat diwujudkan
dengan baik, maka disiplin organisasi dapat ditegakkan dan dipelihara sehingga
semua pekerjaan dapat dilaksanakan dengan efisien.
5.
Pedoman Efisiensi Kerja
Dalam rangka membantu menciptakan
cara kerja yang efisien, diperlukan beberapa pedoman sebagai berikut.
a.
Mengubah pekerjaan rutin atau
pekerjaan otak menjadi pekerjaan otomatis.
b.
Menggunakan tangan untuk bekerja
dengan tanpa bantuan mata.
c.
Memiliki tempat tertentu untuk benda
atau catatan
d.
Menyimpan benda yang benar-benar
penting saja.
e.
Bekerjalah menurut rencana untuk
mencapai hasil.
f.
Menyusun pekerjaan menurut rangkaian
kerja yang tepat.
g.
Membiasakan mengambil keputusan
seketika.
h.
Membiasakan memulai dan
menyelesaikan pekerjaan seketika.
i.
Menggunakan catatan untuk membantu
ingatan.
j.
Menggunakan tenaga lain atau
pembantu untuk membantu menyelesaikan pekerjaan.
6.
Efisiensi Kerja di Kantor
Dalam
menciptakan efisiensi kerja, sebaiknya diteliti dan ditemukan tempat atau
bagian-bagian yang sering mengalami inefisiensi terlebih dahulu sehingga
efisiensi dapat diterapkan pada bagian-bagian yang mengalami inefisiensi
tersebut. Dalam pekerjaan sehari-hari di kantor, umumnya inefisiensi terjadi
dalam pemakaian alat tulis kantor dan pemeliharaan serta pemakaian barang
kantor. Oleh karena itu, pada kedua bagian ini perlu diterapkan efisiensi.
a.
Efisiensi dalam Pemakaian Alat Tulis
Kantor
1)
Jangan mudah membuang bahan, kecuali
benar-benar tidak dapat digunaan lagi. Contoh: kertas yang terbuang percuma
setiap hari karena kebiasaan membuang kertas padahal kertas masih bisa
digunakan untuk keperluan lain.
2)
Memelihara alat kerja seperti
komputer sesuai dengan kemampuan, misalnya dengan cara memakai alat kerja
tersebut sesuai dengan tujuannya.
3)
Pakailah kertas konsep secara timbal
balik.
4)
Pergunakan karbon dengan cermat.
5)
Hindarkan membuat tembusan surat dan
lainnya yang berlebihan.
6)
Menggandakan surat secukupnya saja.
b.
Efisiensi dalam Pemeliharaan serta
Pemakaian Barang Kantor
Pemeliharaan
adalah merawat benda/barang agar benda/barang tetap berada dalam kondisi yang
terbaik dalam hal pemakaian atau dalam hal pemanfaatannya sehingga diperoleh
hasil sesuai dengan fungsinya.
Memelihara
barang tidak bergerak, baik bergerak di tempat (berupa mesin) maupun bergerak
dengan menempuh suatu jarak (mobil, motor, sepeda dan lain-lain). Pemeliharaan
barang bergerak membutuhkan keahlian khusus dan frekuensi pemeliharaannya
melebihi frekuensi pemeliharaan terhadap barang tidak bergerak. Artinya,
frekuensi pemeliharaan barang yang bergerak lebih banyak dibandingkan barang
tidak bergerak sehingga berpengaruh terhadap besarnya biaya pemeliharaan. Untuk
menanggulangi besarnya biaya pemeliharaan tersebut, perlu diketahui beberapa
hal yang menyebabkan terjadinya pemborosan dalam pemeliharaan barang sehingga
meningkatkan jumlah biaya pemeliharaan, yaitu:
1)
Kelengahan pengelolaan bahan atau
alat dalam proses produksi.
2)
Kelengahan dalam perlindungan barang
terhadap udara, panas, debu, cairan dan lain-lain.
3)
Cara penggunaan atau pengoperasian
mesin/alat yang tidak tepat.
4)
Pemakaian mesin atau barang yang
tidak sesuai dengan tujuan.
5)
Pemakaian barang yang berlebihan dan
kelebihan itu tidak dikembalikan atau dilaporkan.
6)
Pemakaian yang kasar dan ceroboh.
7)
Kesalahan dalam batas kecepatan atau
kemampuan.
8)
Beban yang berlebih pada alat angkut
yang menyebabkan alat cepat rusak.
9)
Kelalaian pengurusan barang atau
mesin yang tidak dipakai.
10) Kelalaian
terhadap perbaikan kecil yang sebenarnya dapat dilakukan sendiri.
11) Penghapusan
barang sebelum waktunya.
12) Hilangnya
alat-alat kecil.
13) Kelambatan
dalam sistem laporan jika terjadi kerusakan pada mesin.
7.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Efisiensi Kerja
Dalam
mewujudkan efisiensi dalam bekerja terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhinya. Menurut Ralph M. Barnes terhadap 3 faktor yang mempengaruhi
efisiensi kerja, yaitu gerakan tubuh pengaturan tempat kerja, dan penggunaan
alat kerja. Menurut The Liang Gie juga terdapat 3 faktor yang mempengaruhi
efisiensi kerja, yaitu kemauan, kemampuan dan kemahiran.
Secara
lebih terperinci, faktor yang memengaruhi seseorang untuk dapat bekerja dengan
efisien, di antaranya adalah sebagai berikut.
a.
Bentuk dan susunan serta permukaan
meja kerja perlu dirancang dengan baik, agar dapat menghemat tenaga, usaha dan
waktu. Contoh meja yang berbentuk L dan U dengan tempat mesin ketik atau
komputer di sebelah kiri. Selain itu, permukaan meja harus halus agar karyawan
bisa bekerja dengan nyaman.
b.
Kursi
Kursi hendaknya yang dapat berputar dan mempunyai
sandaran tegak, agar karyawan dapat duduk dan mudah berputar apabila harus
mengetik, mengangkat telepon atau menulis diatas meja tulisnya.
c.
Posisi Benda/Barang
Posisi benda atau barang yang sering digunakan
diatas meja dan segera simpan semua peralatan atau berkas yang tidak diperlukan
lagi agar meja tetap rapi dan dapat digunakan untuk mengerjakan pekerjaan
lainnya dengan efisien.
d.
Laci
Barang atau benda
yang ada di dalam laci hendaknya disusun dengan penuh pertimbangan, disesuaikan
dengan kepentingan masing-masing peralatan agar dapat dipergunakan secara
efisien.
minta sumber buku dari artikel ini dong..kan ngk benar juga posting tanpa referensi nya juga di posting..
BalasHapusmksh
Mengubah pekerjaan rutin atau pekerjaan otak menjadi pekerjaan rutin
BalasHapusDan mengerjakan tangan untuk bekerja dengan tanpa bantuan mata
Itu maksudnya apaan ya??
Terimakasih informasinya
BalasHapus