BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Perkembangan kehidupan dan ilmu
pengetahuan di abad 21 yang begitu cepat mengakibatkan perubahan-perubahan pada
berbagai bidang kehidupan. Dalam bidang pendidikan, pemerintah berupaya
menyikapi perubahan itu dengan mengembangkan kurikulum 2013. Diharapkan dengan
adanya pengembangan kurikulum tersebut dapat mencetak generasi yang siap dalam
menghadapi perubahan di masa depan.
“Tema
pengembangan kurikulum 2013 adalah dapat menghasilkan insan Indonesia yang
produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu
mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang
terintegrasi” (kemdiknas, 2012). Dalam website kemdiknas juga disebutkan bahwa
pengembangan kurikulum tersebut perlu mengedepankan pengalaman personal melalui
proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba untuk meningkatkan kreativitas
peserta didik. Di samping itu, perlu juga dibiasakan bagi peserta didik untuk
bekerja dalam jejaringan melalui collaborative
learning (kemdiknas, 2012).
Collaborative Learning merupakan
pembelajaran dimana peserta didik dibiasakan bekerja sama untuk menyelesaikan
masalah yang ada dalam pembelajaran. Lakey (2010:14) mengungkapkan hal yang
menarik sebagai berikut.
I assume that to
learn, people need to risk: to revise their conceptual framework, try a new
skill, unlearn an old prejudice, admit there’s something they don’t know. To risk, people need safety. To be safe, they
need a group and/or a teacher that supports them.
Jadi
dengan adanya belajar secara kolaboratif, individu dalam kelompok dapat saling
membantu untuk merevisi konsep mereka yang salah, menciptakan kreativitas baru,
melupakan nilai lama yang sudah diperbaharui, dan menambah wawasan tentang
suatu hal yang belum diketahui.
Manifestasi collaborative learning ini dapat diwujudkan dalam suatu bahan ajar
yang digunakan sebagai pegangan dalam proses pembelajaran. Sehingga dalam bahan
ajar tersebut berisi tentang kegiatan-kegiatan pembelajaran yang bersifat
kolaboratif. Buku teks, modul dan lembar kerja siswa adalah bahan ajar yang
banyak digunakan sekarang ini. Namun bahan ajar yang digunakan tersebut hanya
memuat materi bahasan dan latihan soal, sehingga siswa kurang dapat
mengembangkan kreativitasnya. Sedangkan bahan ajar yang diharapkan sekarang ini
adalah buku yang tidak hanya memuat materi dan latihan soal saja, tetapi juga memuat
sistem penilaian dan kompetensi yang ingin dicapai serta berisi proses atau kegiatan-kegiatan dalam pembelajaran.
Dalam minat IPS di Sekolah Menengah Atas
(SMA) terdapat mata pelajaran ekonomi yang memuat materi akuntansi. Materi akuntansi
ini masih dipandang materi yang sulit oleh peserta didik. Sehingga bagi siswa
yang merasa kesulitan dan tidak mau belajar lebih giat ia akan memilih untuk melakukan
hal curang misalnya mencontek (cheating) temannya
yang sudah mengerjakan. Selain itu, pola pembelajaran yang banyak dilakukan
lebih bersifat individual learning, ini
tentunya berbeda dari pandangan kurikulum 2013 yang ingin membiasakan siswa
untuk belajar secara kolaboratif. Maka dari itu perlu adanya pengembangan bahan
ajar yang memuat proses pembelajaran yang dapat membiasakan peserta didik untuk
melakukan collaborative learning.
Dengan adanya bahan ajar berbasis collaborative learning ini, diharapkan
dapat menjadi acuan dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada
siswa (student centered learning).
Belajar secara kolaboratif dapat membuat siswa saling bekerja sama dengan
saling bantu membantu dalam menyelesaikan masalah pembelajaran. Selain itu
dengan dibentuk kolaborasi, maka peserta didik yang kurang berminat belajar
maka secara otomatis akan lebih termotivasi oleh teman satu kelompoknya yang
rajin. Dan jika dibentuk kelompok maka ide akan lebih berkembang, dimana setiap
peserta didik dalam kelompok pasti memiliki ide masing-masing, jika ide tersebut
dipilah dan disatukan tentunya produktivitas dan kreativitas kelompok akan
tinggi. Dengan dibentuk kelompok, mereka juga bisa berlatih untuk bekerjasama
dan saling menghargai pendapat dalam kelompok. Dengan melakukan hal tersebut
maka akan terwujud pembelajaran aktif yang terpusat pada siswa, sehingga guru
hanya menjadi fasilitator dalam pembelajaran.
IFRS (International Financial Reporting Standards) merupakan seperangkat
standar yang disebarluaskan oleh Dewan Standar Akuntansi Internasional (IASB),
yaitu suatu badan penentu standar internasional di London (Ankarath et al, 2012:2).
IFRS ini digunkan untuk menyusun laporan keuangan yang dapat diterima secara
global. Jika suatu negara menerapkan standar tersebut maka sudah barang tentu laporan
yang disajikan dapat diterima, diakui dan dimengerti oleh negara diseluruh
dunia. Indonesia menerapkan IFRS mulai tahun 2012, sehingga banyak perusahaan
yang go public menggunakan standar
tersebut. Untuk itu peserta didik yang belajar akuntansi seharusnya belajar
materi akuntansi yang bermuatan IFRS. Buku pelajaran untuk tingkat SMA masih
banyak materi yang tidak bermuatan IFRS, namun
masih berkiblat pada Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (GAAP), hal ini
tentunya harus diubah agar sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku
sekarang.
Dari paparan di atas dapat
disimpulkan bahwa ada beberapa hal yang melatarbelakangi pengembangan bahan
ajar ini. Yang pertama adalah pembelajaran akuntansi sekarang masih banyak yang
bersifat individual learning, hal ini
tentunya tidak sesuai dengan perubahan paradigma belajar yang mengharapkan
peserta didik melakukan collaborative learning
sehingga dapat membentuk pembelajaran yang berpusat pada siswa. Kedua, bahan
ajar yang banyak digunakan sekarang hanya berisi materi dan latihan soal,
sedangkan seharusnya tidak hanya memuat materi dan latihan soal saja,
tetapi juga memuat sistem penilaian dan kompetensi yang ingin dicapai serta berisi proses atau
kegiatan-kegiatan dalam pembelajaran. Dan yang ketiga
materi akuntansi yang dimuat dalam buku SMA masih berkiblat pada GAAP,
seharusnya materi akuntansi yang disajikan harus disesuaikan dengan standar
yang berlaku yaitu IFRS.
Penelitian terdahulu tentang
pengembangan bahan ajar ini pernah dilakukan oleh Handayani (2011) dengan judul
Pengembangan Bahan Ajar Akuntansi untuk SMK Berbasis Pembelajaran Kontekstual
dan Kooperatif. Hasil pengembangan tersebut secara keseluruhan mendapatkan skor
79,8 % dari ahli materi, ahli media dan uji pengguna terbatas. Sehingga
disimpulkan bahwa modul akuntansi tersebut layak digunakan sebagai bahan ajar
untuk SMK.
Perbedaan penelitian yang dilakukan
oleh Handayani (2011) dengan penelitian ini adalah ia mengembangkan bahan ajar
berupa modul sedangkan pada penelitian ini bahan ajar yang dikembangkan berupa
buku ajar. Satuan sekolahnya juga berbeda, di penelitian ini bahan ajar
dikembangkan untuk SMA. Selain itu penelitian ini mengacu pada kurikulum
terbaru yang mengharapkan pembelajaran dilakukan secara kolaboratif serta
materi akuntansi yang dimuat disesuaikan dengan IFRS (International Financial Reporting Standards).
SMA Negeri 1 Balen adalah salah satu
sekolah menengah atas yang ada di kota Bojonegoro, pembelajaran akuntansi di
sana masih bersifat individual learning yang
menyebabkan siswa kurang aktif dalam belajar. Bahan ajar yang digunakan adalah
LKS dan buku pelajaran yang hanya berisi materi dan latihan soal. Untuk itu
perlu sekali dikembangkan bahan ajar di sekolah tersebut agar dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran akuntansi yang dilakukan.
Dari berbagai hal di atas, peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian pengembangan dengan judul “Pengembangan Bahan Ajar Akuntansi Berbasis
Collaborative Learning dengan Muatan
IFRS di SMA Negeri 1 Balen Bojonegoro.”
B.
Tujuan
Penelitian dan Pengembangan
Tujuan
dari penelitian dan pengembangan ini adalah:
1. Mengembangkan
bahan ajar akuntansi SMA berbasis collaborative
learning dengan muatan IFRS.
2. Untuk
menguji apakah bahan ajar yang telah dikembangkan tersebut layak untuk digunakan
dalam pembelajaran.
C.
Spesifikasi
Produk yang Diharapkan
Spesifikasi
produk yang diharapkan dari pengembangan ini adalah:
1. Bahan
ajar yang dikembangkan merupakan bahan ajar yang berbasis collaborative learning. Maksudnya dalam bahan ajar ini sebagian
besar aktivitas atau kegiatan pembelajarannya dilakukan secara kolaboratif
sehingga tercipta kerja sama yang baik antar siswa.
2. Bahan
ajar yang dikembangkan adalah bahan ajar cetak berbentuk buku ajar yang memuat materi dan proses pembelajaran, sistem penilaian serta
kompetensi yang diharapkan.
3. Bahan
ajar tersebut berisi materi akuntansi untuk siswa SMA kelas XI IPS, dimana bahan
ajar dibuat dengan tampilan lebih atraktif dan memuat kegiatan pembelajaran
yang berbasis collaborative learning
serta bermuatan IFRS.
D.
Pentingnya
Penelitian dan Pengembangan
Pentingnya
penelitian dan pengembangan ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi
Siswa
Siswa diharapkan lebih tertarik untuk mempelajari
akuntansi, dapat lebih aktif dalam pembelajaran serta untuk melatih mereka
bekerjasama dalam kelompok.
2. Bagi
Guru Akuntansi
Guru dapat menggunakan hasil pengembangan ini sebagai
alternatif bahan ajar yang menarik untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
3. Bagi
Peneliti
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti tentang
bagaimana mengembangkan suatu bahan ajar.
4. Bagi
Peneliti Lain
Peneliti lain dapat menggunakannya sebagai rujukan
dalam mengembangkan bahan ajar yang sejenis.
E.
Asumsi
dan Keterbatasan Pengembangan
Asumsi
yang digunakan peneliti dalam pengembangan ini adalah:
1. Validator
sebagai ahli materi dan pembelajaran akuntansi memiliki pengalaman dan kompeten
dalam mengajarkan materi akuntansi.
2. Validator
sebagai ahli desain penyusunan buku ajar memiliki pengalaman dan kompeten dalam
bidang media bahan ajar.
3. Butir-butir
penilaian dalam angket validasi menggambarkan penilaian yang menyeluruh
(komprehensif).
4. Validasi
yang dilakukan mencerminkan keadaan sebenar-benarnya dan tanpa rekayasa,
paksaan atau pengaruh dari siapapun.
Pada
pengembangan ini, peneliti hanya membatasi pada:
1. Materi
akuntansi yang dimuat dalam produk pengembangan adalah untuk siswa SMA kelas XI
IPS.
2. Karena
bahan ajar akuntansi ini ditujukan untuk siswa SMA, maka muatan IFRS pada bahan
ajar yang dikembangkan terbatas pada pemutakhiran istilah akuntansi dan pemasukan
beberapa materi IFRS yang sesuai dengan kompetensi akuntansi SMA. Selain itu,
transaksi akuntansi yang dibahas adalah transaksi pada perusahaan perseorangan.
3. Model
pengembangan produk yang digunakan adalah model pengembangan
Borg & Gall yang telah dimodifikasi
untuk disesuaikan dengan
pengembangan
yang akan dilakukan.
4. Mengingat
keterbatasan waktu yang dimiliki peneliti, uji validasi yang dilakukan hanya
validasi formatif atau validasi logis, yaitu menguji kesesuaian isi bahan ajar yang
dikembangkan dengan materi yang tercakup dalam kurikulum dan kemenarikan bahan
ajar secara umum. Validitas produk yang dihasilkan terbatas pada uji ahli
materi dan pembelajaran akuntansi, uji ahli desain penyusunan buku ajar dan uji
coba pengguna terbatas.
F.
Definisi
Operasional
Istilah-istilah yang perlu didefinisikan
secara operasional dalam pengembangan ini dapat dijelaskan sebgai berikut:
1. Pengembangan
bahan ajar akuntansi adalah proses pengembangan bahan ajar yang dikhususkan
pada mata pelajaran akuntansi dengan menggunakan model pengembangan Borg & Gall yang telah dimodifikasi
untuk disesuaikan dengan pengembangan yang akan dilakukan.
2. Bahan
ajar adalah buku ajar yang digunakan oleh guru dan siswa sebagai sarana atau
media pembelajaran yang memuat materi dan proses pembelajaran, sistem penilaian serta kompetensi yang diharapkan.
3. Collaborative Learning adalah
pembelajaran dimana peserta didik dibiasakan bekerja sama untuk menyelesaikan
masalah yang ada dalam pembelajaran.
4. Mata
Pelajaran Akuntansi adalah mata pelajaran untuk siswa IPS SMA, di mana dalam
pengembangan ini hanya dibatasi pada kelas XI.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
A.
Kurikulum
Kurikulum
berasal dari bahasa latin yaitu curere yang
berarti jalur pacu, sehingga sering diartikan sebagai jarak yang harus
ditempuh. Pandangan lama merumuskan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata
pelajaran yang harus ditempuh murid untuk memperoleh ijazah (Hamalik, 2008:3).
Pandangan seperti itu akan membuat pembelajaran berpusat pada guru yang harus
memberikan seluruh materi pelajaran agar peserta didik dapat memperoleh ijazah.
Sedangkan dalam pandangan baru kurikulum mengarahkan agar pembelajaran lebih
berpusat pada siswa, dimana kurikulum bukan hanya terdiri dari mata pelajaran
saja tetapi juga kegiatan dan pengalaman pembelajaran yang dilaksanakan.
Dalam
UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa:
“Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.”
Untuk
meningkatkan dan menyempurnakan penyelenggaraan pendidikan nasional perlu
adanya pengembangan kurikulum untuk disesuaikan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, perkembangan masyarakat, serta untuk menghadapi
tantangan global. Hamalik (2008:183) menyebutkan
pengembangan kurikulum adalah
proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan
spesifik. Pemerintah selalu berupaya untuk mengembangkan kurikulum untuk
meningkatkan mutu pendidikan nasional. Kemdiknas (2012) mengungkapkan tahap
perkembangan kurikulum di Indonesia sebagai berikut.
Gambar 2.1 Perkembangan
Kurikulum di Indonesia
Kurikulum
yang terbaru adalah kurikulum 2013, pengembangan kurikulum 2013 ini memiliki
tema “dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan
afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana),
dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi.” Kurikulum 2013 ini dikembangkan
untuk menyesuaikan pada pergesaran paradigma belajar abad 21. Pergeseran
paradigma belajar yang berdasarkan ciri abad 21 dan model pembelajaran yang
dilakukan dapat dilihat pada skema berikut ini (Kemdiknas, 2012).
Gambar 2.2 Skema Pergeseran paradigma belajar Abad
21
Dengan adanya perubahan tersebut
perlu adanya perubahan dalam beberapa elemen diantaranya adalah proses belajar,
penilaian hasil belajar dan bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran.
Proses pembelajaran lebih diarahkan pada pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered active learning), hal tersebut
penting dalam mewujudkan cita-cita untuk menjadikan peserta didik lebih
produktif, kreatif, inovatif, dan afektif.
Proses pembelajaran yang diharapkan dalam kurikulum
baru ini
perlu mengedepankan pengalaman personal siswa melalui proses mengamati,
menanya, menalar, dan mencoba untuk meningkatkan kreativitas mereka. Di samping
itu, kurikulum baru ini mengharapkan agar siswa dapat bekerja dalam jejaringan
melalui collaborative learning.
B.
Pembelajaran
Kolaboratif (Collaborative Learning)
Kata pembelajaran berasal dari kata instruction yang dalam UU RI No. 20
Tahun 2003 diartikan sebagai “proses interaksi peserta didik dengan pendidik
dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.” Istilah pembelajaran ini
banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi Kognitif-Wholistik,
yang menempatkan siswa sebagai sumber dari kegiatan belajar (Sanjaya, 2008:78).
Jadi guru tidak berperan sebagai sumber belajar, tetapi berperan sebagai orang
yang membimbing dan memfasilitasi agar siswa mau dan mampu untuk belajar. Siswa
tidak ditempatkan sebagai obyek belajar yang diatur oleh seorang guru,
melainkan sebagai subyek yang belajar menurut minat, bakat dan kemampuan yang
dimilikinya.
Dalam suatu proses pembelajaran di
kelas perlu adanya kegiatan atau interaksi antara guru dengan siswa, serta
siswa dengan siswa. Namun saat ini sebagian besar interaksi dalam proses
pembelajaran masih terpokok pada siswa dengan guru, interaksi antar siswa
kurang dapat terjalin dengan baik saat kegiatan belajar. Padahal dengan adanya interaksi
yang baik antar siswa maka mereka dapat saling bekerjasama dalam suatu kelompok
untuk menyatukan kreativitas mereka sehingga produktivitas mereka akan lebih
meningkat. Selain itu mereka akan lebih inovatif dengan adanya masukan-masukan
dari teman kelompoknya. Dengan menjalin komunikasi antar siswa juga akan
melatih keterampilan afektif atau sikap mereka dalam berhubungan baik dengan
kelompok.
Lakey (2010:39) mengungkapkan
keuntungan dari pembentukan kelompok belajar, yaitu dapat meningkatkan semangat
berkelompok sehingga siswa dapat belajar dari siswa lain, dapat meningkatkan
rasa keingintahuan, menciptakan kekompakan kelompok, dan membantu menciptakan
hubungan antara kelompok dengan konten yang ada dalam kurikulum.
UTS (University Teaching Services)
dari University of Manitoba menyusun sebuah artikel tentang Collaborative Learning Activities, di
situ disebutkan bahwa karakteristik dari belajar secara kolaboratif adalah kegiatan
belajar yang dapat membentuk ketergantungan positif antar anggota kelompok,
pembelajaran kolaboratif memelihara tanggung jawab individu dalam keompok, dan
aktivitas belajar didesain untuk meningkatkan kemampuan bekerjasama.
Pembelajaran kolaboratif hampir sama
dengan pembelajaran kooperatif (cooperative
learning), sehingga banyak pihak yang menyamakan pengertian istilah
tersebut. Namun ada juga yang membedakan antar keduanya. Panitz (1996)
menyimpulkan pengertian dari keduanya, yaitu:
“Collaboration is a philosophy of interaction and
personal lifestyle where individuals are responsible for their actions,
including learning and respect the abilities and contributions of their peers.
Cooperation is a structure of interaction designed to facilitate the
accomplishment of a specific end product or goal through people working together
in groups.”
Rockwood (1995) menggambarkan
kedua konsep atau pendekatan ini secara lebih praktis. Kedua konsep sama yang
menegaskan pada pendekatan pembelajaran melalui kerja sama kelompok. Keduanya
menetapkan pekerjaan yang spesifik, dan keduanya menegaskan pentingnya curah
pendapat dan membandingkan prosedur dan kesimpulan dalam akhir pertemauan. Yang
membedakan keduanya dalan fakta bahwa istilah cooperative lebih
mencerminkan ilmu pengetahuan yang populer dalam jaman kolonial sedangkan collaborative lebih menegaskan
keterkaitannya dengan gerakan konstruktivisme sosial sebagai dampak dari
perubahan ilmu pengetahuan yang dramatis dalam abad ini. Persamaan pembelajaran
kooperatif dan kolaboratif adalah siswa sama-sama belajar dalam
kelompok-kelompok kecil dengan struktur aktivitas yang spesifik dan setiap
individu mencurahkan potensinya untuk berkontribusi pada prestasi kelompok.
Untuk menjadikan pembelajaran
menjadi collaborative, Johnson et al.
(2012:60) mengungkapkan bahwa kelompok belajar harus memiliki interdependensi
positif yang jelas, para anggotanya harus saling mendorong pembelajaran serta
keberhasilan dari anggotanya pada saat kegiatan tatap muka, bertanggung jawab
secara individual untuk melakukan porsi kerja yang wajar, dan memproses
seberapa efektif mereka telah bekerja sama. Penerapan pembelajaran kolaboratif
ini dapat menggunakan beberapa model pembelajaran yang sudah ada. UTS
(University Teaching Services) menyampaikan beberapa contoh model pembelajaran
kolaboratif yang dapat digunakan yaitu jigsaw, pair and share, dan debate.
Sedangkan Johnson et al. (2012:76-78) memberikan contoh yaitu model investigasi
kelompok, Teams Games Tournament (TGT), Student Team Achievement Divisions
Learning (STAD), dan Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC).
Penelitian
tentang penerapan collaborative learning untuk
meningkatkan pencapaian siswa pernah dilakukan oleh Terenzini et al. (2001), ia
menyimpulkan bahwa belajar secara aktif dan kolaboratif lebih efektif
dibandingkan belajar dengan pendekatan tradisional dalam meningkatkan keahlian
dan pencapaian belajar siswa. Penelitian oleh Sudarman (2008) juga mendapatkan
hasil yang serupa, yaitu collaborative
learning memiliki kontribusi yang lebih tinggi dalam meningkatkan perolehan
belajar dari pada pembelajaran konvensional.
Karena
itulah pembelajaran secara kolaboratif perlu dilakukan agar siswa dapat mencapai kompetensi yang diharapkan. Dapat disimpulkan
bahwa collaborative learning merupakan
pembelajaran yang menempatkan siswa bekerja berkelompok, berdiskusi,
bereksplorasi, memecahkan masalah mengembangkan kreasi dalam menyelenggarakan
proyek, mempresentasikan, berdebat serta kegiatan lain yang memungkinkan siswa
bekerja sama sehingga setiap individu dapat berkembang optimal dalam kerja
kelompok. Dengan adanya kolaboratif ini diharapkan individu dapat mengembangankan
keterampilan yang mereka miliki, dapat memahami pentingnya kerja sama dalam
mencapai tujuan dan juga dapat memahami bagaimana menyelesaikan masalah dalam
suatu pembelajaran.
Manifestasi
collaborative learning dapat
diwujudkan dalam suatu bahan ajar yang digunakan sebagai pegangan dalam proses
pembelajaran. Dengan penyusunan bahan ajar yang berbasis collaborative learning diharapkan dapat tercipta pembelajaran yang
berpusat pada siswa. Sehingga guru hanya berperan sebagai fasilitator yang
bertugas membimbing siswa dalam proses pembelajaran.
C.
Bahan
Ajar
Interaksi yang terjadi antara guru
dan siswa dalam kelas lebih efektif jika tersedia media pendukung. Keberadaan
media ini akan dapat membantu guru dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan
siswa saat proses pembelajaran berlangsung. Arsyad (2010:7) menjelaskan bahwa media
pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari
guru kepada siswa sehingga dapat meningkatkan minat dan merangsang
pikiran, perasaan,
dan perhatian siswa sehingga proses pembelajaran dapat tercapai.
Bahan ajar (learning materials) berbentuk buku merupakan salah satu media yang
ada dalam proses belajar mengajar. Mbulu dan Suhartono (2004:87) mengartikan
bahan ajar sebagai isi pembelajaran yang ditulis oleh pengajar atau penulis
lain untuk kepentingan pembelajaran yang di dalamnya memuat materi yang
bertujuan untuk mempermudah proses belajar siswa. Sedangkan Prastowo (2012:17)
menyimpulkan “bahan ajar merupakan segala bahan (baik informasi, alat, maupun
teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari
kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dan digunakan dalam proses
pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan implementasi
pembelajaran.”
Berdasarkan pendapat dari ahli
tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar adalah seperangkat alat
pembelajaran yang dibuat oleh pengajar ataupun penulis lain yang berisi materi
pembelajaran, kegiatan pembelajaran, soal latihan dan cara mengevaluasi yang
didesain secara sistematis sesuai standar kompetensi yang bertujuan mempermudah
proses pembelajaran.
Departemen Pendidikan Nasional (2006)
mengelompokkan bahan ajar berdasarkan teknologi yang digunakan menjadi empat
kategori, yaitu bahan cetak (printed),
bahan ajar dengar (audio), bahan ajar
pandang dengar (audio visual), dan
bahan ajar multimedia interaktif (interactive
teaching material). Bahan ajar cetak contohnya antara lain handout, buku,
modul, dan lembar kerja siswa. Bahan ajar audio contohnya radio, kaset dan compack disk audio. Bahan ajar audio
visual contohnya antara lain video
compack disk dan film, sedangkan bahan ajar multimedia interaktif contohnya
antara lain power point, CD multimedia pembelajaran interaktif, dan
bahan ajar berbasis web.
Kurniawan (2006:2) menjelaskan bahwa
buku ajar adalah jenis dari buku yang diperuntukkan untuk siswa sebagai bekal
pengetahuan dasar, dan digunakan sebagai sarana belajar serta dipakai untuk
menyertai pembelajaran. Dia juga menyampaikan bahwa alih bahasa buku teks
menjadi textbook tidak cocok untuk
memenuhi jenis buku semacam ini, sebab seluruh buku untuk dibaca isinya adalah
teks. Oleh karena itu, istilah buku ajar dipakai padanan atas istilah textbook.
Buku
ajar ini memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan buku umum. Menurut Muslich
(2009:51) ciri-ciri buku yang digunakan dalam pembelajaran yaitu disusun
berdasarkan pada mata pelajaran tertentu dan berisi bahan yang sudah diseleksi
untuk digunkan dalam kegiatan pembelajaran, ditulis dengan suatu tujuan
instruksional tertentu, disusun secara sistematis mengikuti strategi
pembelajaran tertentu, serta digunakan dalam menunjang program pembelajaran.
Lestari (2013:7) mengungkapkan bahwa
ketika sebuah bahan ajar telah dibuat dengan kaidah yang tepat, guru akan
dengan mudah mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, di
dalamnya akan ada beberapa kompetensi yang harus diajarkan atau dilatihkan
kepada siswa. Melalui bahan ajar juga siswa lebih tahu kompetensi dan skenario
pembelajaran yang dilakukan, sehingga siswa dapat melakukan persiapan sebelum
kegiatan pembelajaran.
Untuk menyusun buku ajar terdapat
langkah-langkah yang harus dilakukan (Prastowo, 2012:176) yaitu: (1) memperhatikan
kurikulum dengan cara menganalisinya, (2) menentukan judul buku yang akan
ditulis sesuai dengan standar kompetensi yang akan dikembangkan, (3) merancang
outline buku agar isi buku lengkap mencakup seluruh aspek yang diperlukan untuk
mencapai suatu kompetensi, (4) mengumpulkan referensi sebagai bahan penulisan,
(5) menulis buku dilakukan dengan memperhatikan penyajian kalimat yang
disesuaikan dengan usia dan pengalaman pembacanya, (6) mengevaluasi hasil
tulisan dengan membaca ulang, (7) memperbaiki tulisan menjadi menonjol, serta
(8) memberikan ilustrasi gambar, tabel, diagram dan sejenisnya secara
proporsional.
Pengembangan bahan ajar ini
dirasakan penting guna menyesuaikan dengan kurikulum dan kondisi lingkungan
peserta didik. Dari berbagai hal tersebut dapat disimpulkan bahwa buku ajar
merupakan media yang digunakan oleh guru dan siswa sebagai sarana atau media dalam kegiatan pembelajaran. Bahan ajar yang
diharapkan pada kurikulum yang baru adalah buku yang tidak hanya memuat materi
dan latihan soal saja, tetapi memuat materi pembelajaran yang bersifat
kontekstual, kegiatan atau proses pembelajaran, sistem penilaian serta
kompetensi yang diharapkan.
D.
Mata
Pelajaran Akuntansi
Pada satuan pendidikan Sekolah
Menengah Atas mata pelajaran Akuntansi diajarkan kepada siswa kelas XI dan XII
IPS. Akuntansi merupakan bagian dari mata pelajaran Ekonomi. Yang dapat dilihat
pada ruang lingkup mata pelajaran bahwa mata pelajaran Ekonomi mencakup
perilaku ekonomi dan kesejahteraan yang berkaitan dengan masalah ekonomi yang
terjadi di lingkungan kehidupan terdekat hingga lingkungan terjauh, meliputi
aspek-aspek sebagai berikut: (1) Perekonomian, (2) Ketergantungan, (3)
Spesialisasi dan pembagian kerja, (4) Perkoperasian, (5) Kewirausahaan (6)
Akuntansi dan manajemen (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006). Dalam
standar isi juga disebutkan bahwa akuntansi difokuskan pada perilaku akuntansi
jasa dan dagang. Peserta didik dituntut memahami transaksi keuangan perusahaan
jasa dan dagang serta mencatatnya dalam suatu sistem akuntansi untuk disusun
dalam laporan keuangan. Pemahaman pencatatan ini berguna untuk memahami
manajemen keuangan perusahaan jasa dan dagang.
Tujuan umum pembelajaran Akuntansi di SMA secara
garis besar tercantum pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus
dicapai oleh siswa, ditunjukkan pada tabel berikut.
|
Tabel 2.1 Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas XI IPS
|
|
|
Standar
Kompetensi
|
Kompetensi
Dasar
|
|
Memahami
penyusunan siklus akuntansi perusahaan jasa
|
§ Mendeskripsikan akuntansi sebagai sistem informasi
§ Menafsirkan persamaan akuntansi
§
Mencatat
transaksi berdasarkan mekanisme debit dan kredit
§
Mencatat
transaksi/dokumen ke dalam jurnal umum
§
Melakukan posting dari jurnal ke buku besar
§
Membuat ikhtisar
siklus akuntansi perusahaan jasa
§
Menyusun laporan
keuangan perusahaan jasa
|
|
Tabel 2.2 Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas XII IPS
|
|
|
Standar
Kompetensi
|
Kompetensi
Dasar
|
|
Memahami penyusunan siklus akuntansi perusahaan dagang
|
§ Mencatat
transaksi/dokumen ke dalam jurnal khusus
§ Melakukan posting dari jurnal khusus ke buku
besar
§
Menghitung harga pokok penjualan
§
Membuat ikhtisar siklus akuntansi perusahaan dagang
§
Menyusun laporan keuangan perusahaan dagang
|
|
Mamahami penutupan siklus akuntansi perusahaan dagang
|
§
Membuat jurnal
penutupan
§
Melakukan posting
jurnal penutup ke buku besar
§ Membuat neraca saldo setelah penutupan
|
Sumber:
Badan Standar Nasional Pendidikan (2006)
Materi yang dimuat dalam buku
akuntansi pada jenjang SMA kebanyakan masih berdasarkan kepada standar yang
lama yaitu Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (GAAP), padahal Indonesia sejak
tahun 2012 sudah menerapkan standar akuntansi yang baru yaitu IFRS (International Financial Principle Standards)
yang tercermin dalam Standar Akuntansi Keuangan terkonvergensi IFRS. IFRS
merupakan seperangkat standar yang disebarluaskan oleh Dewan Standar Akuntansi
Internasional (IASB), yaitu suatu badan penentu standar internasional di London
(Ankarath et al, 2012:2).
Pemuatan IFRS dalam bahan ajar
akuntansi SMA ini terkait pada pemutakhiran istilah akuntansi dan pemasukan
beberapa materi IFRS yang sesuai dengan kompetensi akuntansi SMA. Dengan adanya
bahan ajar akuntansi yang bermuatan IFRS ini, maka diharapkan akan memberikan wawasan pada siswa tentang ilmu akuntansi yang
sesuai standar saat ini.
Indarto (2006:4) menjelaskan bahwa
proses pengajaran akuntansi ditekankan pada pemahaman umum akuntansi, sedangkan
pemahaman spesifik industri atau perusahaan dipelajari ketika seseorang mulai
bekerja atau dalam bentuk training-training singkat atau dalam sekolah yang
khusus diarahkan pada pekerjaan tertentu.
Pengajaran akuntansi mulai dikenalkan
pada siswa SMA dan siswa di sekolah kejuruan akuntansi, kemudian pengajaran
lengkap akuntansi diperoleh di pendidikan tinggi dalam program studi akuntansi
(Indarto, 2006:4). Karena siswa SMA merupakan awal dari pembelajaran akuntansi,
maka pemahaman umum akuntansi yang diberikan adalah yang paling dasar dan paling
sederhana yaitu akuntansi pada perusahaan perseorangan. Salah satu buktinya
adalah pada Buku Sekolah Elektronik pelajaran Ekonomi (Akuntansi) SMA yang
diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Dalam buku-buku tersebut
siklus akuntansi yang dibahas adalah hanya untuk perusahaan perseorangan.
Dengan demikian, bahan ajar akuntansi yang dikembangkan dalam penelitian ini
juga hanya membahas akuntansi untuk perusahaan perseorangan.
BAB III
METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
A.
Model
Penelitian dan
Pengembangan
Model penelitian dan pengembangan
merupakan cara yang digunakan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji suatu
produk berdasarkan prosedur yang sistematis, sehingga produk yang dihasilkan
memiliki nilai ilmiah yang tinggi dan dapat dipercaya. Sugiyono (2010:297)
menyatakan bahwa metode penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian
yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan
produk tersebut. Sedangkan Borg & Gall
(1983:772) menyatakan “Educational research and development
(R&D) is a process used to develop and validate educational products.” Dalam
model penelitian dan pengembangan Borg & Gall (1983:775) terdiri dari 10
langkah sebagai berikut.
1.
Research and
information collecting, yaitu mengkaji
literatur dan melakukan observasi guna mengetahui kebutuhan yang diperlukan
dalam pendidikan.
2. Planning, yaitu merumuskan kecakapan dan keahlian yang berkaitan dengan permasalahan,
menentukan tujuan yang akan dicapai pada setiap tahapan, dan jika diperlukan
melaksanakan studi kelayakan secara terbatas.
3. Develop preliminary form of product, yaitu mengembangkan bentuk awal dari produk yang akan dihasilkan. Dalam
langkah ini perlu melihat buku pedoman, serta melakukan evaluasi terhadap
kelayakan alat-alat pendukung.
4. Preliminary field testing, yaitu
melakukan uji coba lapangan awal dalam skala terbatas dengan melibatkan subjek
sebanyak 6-12 subjek. Pada langkah ini pengumpulan dan analisis data dapat
dilakukan dengan cara wawancara, observasi atau angket.
5. Main product revision, yaitu
melakukan perbaikan terhadap produk awal yang dihasilkan berdasarkan hasil
ujicoba awal.
6. Main field testing, yaitu uji
coba utama yang melibatkan subyek dengan jumlah yang lebih besar.
7. Operational product revision, yaitu
melakukan perbaikan terhadap hasil uji coba lebih besar, sehingga produk yang
dikembangkan sudah merupakan desain model operasional yang siap divalidasi.
8. Operational field testing, yaitu langkah
uji validasi terhadap model operasional yang telah dihasilkan.
9. Final product revision, yaitu melakukan perbaikan
akhir terhadap model yang dikembangkan guna menghasilkan produk akhir (final).
10. Dissemination and implementation, yaitu langkah menyebarluaskan produk atau model yang dikembangkan.
Model pengembangan yang digunakan
dalam mengembangkan bahan ajar akuntansi ini diadaptasi dari model penelitian
dan pengembangan Borg & Gall.
Namun karena keterbatasan waktu dan biaya, maka model Borg & Gall tersebut dimodifikasi untuk disesuaikan dengan
pengembangan yang akan dilakukan. Rancangan model pengembangan yang akan
digunakan dalam penelitian ini ditunjukkan pada gambar berikut:
|
Ya
|
|
Tidak
|
|
Analisis Kebutuhan
|
|
1
|
|
Pengembangan produk
|
|
2
|
|
Apakah perlu revisi?
|
|
Revisi Produk ke-1
|
|
4
|
|
Uji Pengguna Terbatas
|
|
5
|
|
Apakah perlu revisi?
|
|
Ya
|
|
Tidak
|
|
Revisi Produk ke-2
|
|
6
|
|
Produk Akhir
|
|
7
|
|
Uji Validitas Produk
|
|
3
|
Gambar 3.1 Bagan Langkah Model
Pengembangan Borg & Gall yang Dimodifikasi
B.
Prosedur
Penelitian dan Pengembangan
Prosedur penelitian dan
pengembangan bahan ajar akuntansi diadaptasi dari Borg & Gall, langkah-langkah yang dilaksanakan adalah sebagai
berikut.
1.
Analisis
Kebutuhan
Langkah awal yang dilakukan oleh peneliti dalam proses pengembangan
adalah dengan mengumpulkan berbagai informasi tentang kebutuhan bahan ajar yang
diperlukan siswa dalam pembelajaran. Pengumpulan informasi awal dilakukan
dengan melakukan wawancara kepada siswa dan guru akuntansi SMA untuk mengetahui
kondisi pembelajaran akuntansi yang dilakukan dan bahan ajar seperti apa yang
dibutuhkan agar dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu, peneliti juga
melakukan pengumpulan referensi dari media cetak maupun internet untuk menambah
informasi tentang kebutuhan bahan ajar. Dengan melakukan analisis kebutuhan ini
diharapkan bahan ajar yang dikembangkan dapat sesuai dengan kebutuhan pengguna
saat ini.
2.
Pengembangan
Produk
Dalam
mengembangkan produk ada dua langkah yang akan ditempuh, yaitu penyusunan
produk dan penyelesaian produk. Yang dimaksud penyusunan produk pada tahap ini
adalah pelaksanaan pembuatan buku ajar. Kerangka buku ajar yang semula berupa
naskah kemudian dikembangkan hingga menjadi buku ajar yang diinginkan.
Sebelum
melakukan penyusunan produk ada beberapa tahap yang harus dilalui. Tahapan
tersebut adalah sebagai berikut.
a. Analisis
mata pelajaran yang meliputi: nama mata pelajaran, jenjang pendidikan dan
kelas.
b.
Melakukan pengkajian terhadap mata
pelajaran yang akan dikembangkan buku ajarnya,
hal ini untuk mengetahui kompetensi apa saja yang akan digunakan dasar
dalam mengembangkan produk.
c. Menentukan
bagian-bagian yang harus dikembangkan dalam sebuah buku ajar sehingga tersusun
buku ajar yang utuh.
Setelah
melakukan penyusunan produk sehingga produk tersusun, maka yang dilakukan selanjutnya
adalah menyelesaikan produk berupa buku ajar akuntansi yang telah dicetak rapi agar
siap untuk divalidasi.
3.
Uji
Validitas Produk
Uji validitas adalah salah satu
proses pengembangan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kelayakan produk
sebelum tahap uji coba oleh pengguna. Validasi dilakukan oleh ahli materi dan
pembelajaran akuntansi serta ahli desain penyusunan buku ajar dengan
menggunakan angket.
4.
Revisi
Produk ke-1
Tahapan ini
dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan bahan ajar akuntansi yang
valid. Revisi dilakukan bilamana bahan ajar belum mencapai tingakatan valid
atau untuk memenuhi saran dari validator untuk menyempurnakan produk. Pihak
yang berperan penting pada tahap ini adalah ahli materi dan pembelajaran
akuntansi serta ahli desain penyusunan buku ajar yang menentukan apakah produk
perlu direvisi ataukah sudah sesuai.
5.
Uji
Pengguna Terbatas
Setelah
produk dinilai layak oleh validator maka selanjutnya dilakukan uji pengguna
terbatas yaitu kepada siswa yang merupakan pengguna dari produk yang
dikembangkan.
6.
Revisi
Produk ke-2
Setelah
dilakukan uji coba pada pengguna terbatas maka dapat diketahui tanggapan dari
siswa sebagai pengguna dan diketahui pula hasil observasi langsung peneliti
terhadap pengguna. Hal ini dilakukan untuk membuat produk lebih baik lagi.
7.
Produk
Akhir
Setelah
mendapatkan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan sekolah, maka bahan ajar
tersebut telah siap dipakai. Bahan ajar akuntansi SMA berbasis collaborative learning dengan muatan
IFRS ini layak digunakan sebagai media dalam kegiatan pembelajaran siswa kelas
XI IPS.
C. Uji Coba Produk
Uji coba produk
merupakan bagian penting dalam penelitian pengembangan yang dilakukan setelah
rancangan produk selesai. Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data
yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat efektifitas,
efisiensi, dan atau daya tarik dari produk yang dihasilkan. Uji produk
pengembangan biasanya dilakukan dalam dua tahap yaitu uji validasi oleh ahli
dan uji coba lapangan. Oleh karena keterbatasan waktu dan biaya maka dalam penelitian
ini hanya dilakukan sampai tahap validasi isi dengan menggunakan uji oleh ahli
dan pengguna terbatas.
Dalam bagian ini secara berurutan dikemukakan
tetang desain uji coba, subjek validasi, jenis data, instrumen pengumpulan data
dan teknik analisis data.
1.
Desain
Uji Coba
Uji coba produk pengembangan menggunakan desain
validasi logis dengan tipe validasi isi (content
validity). Validasi isi dilakukan oleh para ahli dengan cara mengisi
instrumen berupa angket serta memberi komentar dan saran terhadap produk
pengembangan. Hal ini bertujuan agar dapat diketahui apakah produk pengembangan
layak atau tidak untuk dilakukan validasi selanjutnya yaitu validasi empiris.
Menurut Sugiyono (2010:129) validasi empiris dilakukan dengan cara
membandingkan kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta-fakta empiris yang
terjadi di lapangan. Arikunto (2009:66) menguatkan bahwa validitas empiris
tidak dapat diperoleh hanya dengan menyusun instrumen berdasarkan ketentuan
seperti halnya validitas logis, tetapi juga harus dibuktikan melalui
pengalaman. Namun pada penelitian pengembangan ini tidak dilakukan validitas
empiris karena terbatasnya waktu dan biaya. Sehingga penelitian hanya dilakukan
sampai validasi isi oleh ahli (uji ahli) dan kelompok kecil (uji pengguna
terbatas).
2.
Subjek
Coba
Subjek coba atau validator pada penelitian
pengembangan bahan ajar akuntansi merupakan kelompok ahli dan kelompok pengguna
untuk uji pengguna terbatas. Kelompok ahli yaitu ahli materi dan pembelajaran akuntansi
serta ahli desain penyusunan buku ajar. Sedangkan untuk uji pengguna terbatas
dilakukan pada siswa kelas XI IPS SMA. Ketentuan subjek coba adalah sebagai
berikut.
a.
Ahli
Ahli materi dan pembelajaran
akuntansi yang menjadi validator produk pengembangan
merupakan Pendidik bidang akuntansi. Dalam penelitian ini yang menjadi ahli
materi dan pembelajaran akuntansi adalah guru akuntansi SMA yang telah menempuh
pendidikan minimal S1 dan berpengalaman mengajar materi akuntansi di SMA.
Ahli desain penyusunan buku ajar
yang menjadi validator produk pengembangan merupakan dosen sastra indonesia yang
menguasai bidang media bahan ajar, telah menempuh minimal S2 dan berpengalaman
dalam menyusun buku pelajaran.
b. Pengguna Terbatas
Pengguna
terbatas yang menilai merupakan pengguna bahan ajar akuntansi hasil
pengembangan, yaitu siswa SMA Negeri 1 Balen Bojonegoro kelas XI IPS yang
berjumlah 10 orang.
3.
Jenis
Data
Pada dasarnya data yang diperoleh bersifat
kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa angka yang diperoleh dari
angket penilaian produk pengembangan yang disusun dengan skala Likert (skala
bertingkat). Data kualitatif berupa komentar dan saran yang dituangkan dalam
angket. Data yang dihasilkan berkaitan dengan kelayakan atau kesesuaian atas
produk pengambangan yang dibuat.
4.
Instrumen
Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan untuk
mengetahui validitas produk pengembangan yaitu metode kuesioner atau angket.
Sehingga instrumen yang digunakan adalah kuesioner atau angket dengan bentuk check list (Arikunto, 2010:194). Angket
validasi produk yaitu angket untuk penilaian produk pengembangan bahan ajar
akuntansi yang menentukan layak tidaknya bahan ajar digunakan dalam
pembelajaran. Angket disusun berdasarkan pada instrumen penilaian buku teks
yang dibuat oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan). Menurut BSNP dalam
Muslich (2010:291-292), buku teks yang berkualitas wajib memenuhi empat unsur
kelayakan, yaitu kelayakan isi, kelayakan penyajian, kelayakan kegrafikan dan
kelayakan kebahasaan.
Angket yang digunakan terdiri dari dua bagian,
yaitu kolom check list meliputi
daftar penilaian dan skala penilaiannya serta lembar komentar dan saran dari
validator. Skala pengukuran pada angket validasi produk pengembangan
menggunakan skala Likert yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan
persepsi seseorang. Variabel penelitian yang diukur dengan skala Likert
dijabarkan menjadi indikator variabel yang kemudian dijadikan sebagai titik
tolak penyusun item-item instrumen, bisa berbentuk pernyataan atau pertanyaan.
Jawaban dari setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai
gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Untuk keperluan analisis
kuantitatif maka jawaban diberi skor (Sugiyono, 2010:134-135). Kriteria dari
masing-masing skala penilaian sebagai berikut.
Tabel 3.1 Kriteria dari Skala Penilaian
|
Nilai
|
Keterangan
|
|
1
|
tidak baik/tidak sesuai/tidak layak/tidak menarik
|
|
2
|
kurang baik/kurang
sesuai/kurang layak/kurang menarik
|
|
3
|
baik/sesuai/layak/menarik
|
|
4
|
sangat baik/sangat sesuai/sangat layak/sangat menarik
|
5.
Teknik
Analisis Data
Untuk data kualitatif, yang dilakukan merupakan
analisis isi dari komentar dan saran dari validator. Sedangkan
data kuantitatif dianalisa dengan menggunakan
teknik analisis persentase . Teknik analisis persentase dihitung dengan rumus
sebagai berikut:
Keterangan:
P :
Persentase
Sx : Jumlah jawaban seluruh responden dalam 1
item
Sxi : Jumlah jawaban ideal dalam 1 item
Setelah melakukan
analisis dan memperoleh data hasil analisis, maka diperlukan skala persentase
penilaian untuk menentukan kesimpulan dari tiap item yang divalidasikan. Skala tersebut dapat dilihat dalam tabel
berikut.
Tabel 3.2 Skala Persentase Penilaian
|
Persentase
|
Penilaian Interpretasi
|
|
80-100%
|
Valid/Layak
|
|
60-79%
|
Cukup Valid/Cukup Layak
|
|
50-59%
|
Kurang Valid/Kurang Layak
|
|
<49 span="">49>
|
Tidak Valid/Tidak Layak
|
Sumber: Sudjana (1990:45)
Hasil >
Abstrak:
Pengembangan
Bahan Ajar Akuntansi Berbasis Collaborative
Learning dengan Muatan IFRS di SMA Negeri 1 Balen Bojonegoro. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi,
Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1)
Kata Kunci: pengembangan, bahan
ajar, akuntansi, collaborative learning
Collaborative
Learning merupakan
jenis pembelajaran masa kini yang dapat menjadikan siswa lebih produktif,
kreatif, inovatif, dan afektif. Penerapan pembelajaran kolaboratif sangat
penting dilakukan guna mengubah pola pembelajaran konvensional yang sekarang
masih banyak dilakukan dalam pembelajaran akuntansi SMA. Manifestasi collaborative learning ini dapat diwujudkan
dalam suatu bahan ajar, sehingga dalam bahan ajar tersebut berisi tentang kegiatan-kegiatan
pembelajaran yang bersifat kolaboratif. Materi pada bahan ajar akuntansi yang
dikembangkan juga perlu disesuaikan dengan standar akuntansi saat ini yaitu Standar
Akuntansi Keuangan terkonvergensi IFRS.
Berkaitan dengan hal di atas, maka diperlukan
pengembangan bahan ajar akuntansi SMA berbasis collaborative learning dengan muatan IFRS. Tujuan pengembangan ini adalah
untuk menghasilkan bahan ajar akuntansi SMA berbasis collaborative lerning dengan muatan IFRS yang layak untuk digunakan
dalam kegiatan pembelajaran akuntansi.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian
pengembangan dengan prosedur pengembangan Borg & Gall yang telah dimodifikasi untuk disesuaikan dengan pengembangan yang akan dilakukan. Teknik pengumpulan data
dalam penelitian ini menggunakan angket. Data yang diperoleh adalah data
kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif adalah data yang berupa angka
yang akan dianalisis menggunakan teknik analisis persentase. Sedangkan data
kualitatif adalah berupa komentar dan saran yang digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam melakukan revisi produk.
Dari hasil analisis data validasi oleh ahli materi
dan pembelajaran akuntansi, ahli desain penyusunan buku ajar, serta dari hasil
uji pengguna terbatas, secara keseluruhan memperoleh rata-rata persentase
sebesar 91,58%. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa hasil pengembangan berupa bahan ajar akuntansi berbasis collaborative learning dengan muatan
IFRS ini valid atau layak digunakan dalam kegiatan pembelajaran akuntansi siswa
SMA.
Daftar Rujukannya kelupaan.
BalasHapusThis is it..
DAFTAR RUJUKAN
Ankarath et al. 2012. Memahami IFRS. Jakarta: PT. Indeks.
Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Arsyad, A. 2010. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMA/MA. (Online), (http://bsnp-indonesia.org), diakses 23 April 2012.
Borg, Walter R. & Gall, Meredith D. 1983. Educational Research. an
Introduction. New York: Longman Inc.
Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Pengembangan Bahan Ajar. (Online), (www.dikti.go.id/files/atur/KTSP-SMK/11.ppt), diakses tanggal 23 April 2012.
Hamalik, Oemar. 2008. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Handayani, Nurul. 2011. Pengembangan Bahan Ajar Akuntansi untuk SMK Berbasis Pembelajaran Kontekstual dan Kooperatif. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Indarto, Dwi Martani. 2006. Rancangan Peta Konsep Akuntansi. (Online),
(http://staff.ui.ac.id/internal/0600500045/material/RANCANGANPETA KONSEPAKUNTANSI28nop06.pdf), diakses tanggal 11 Juni 2013.
Johnson ae al. 2012. Collaborative Learning. Bandung: Nusamedia.
Kemdiknas (Kementerian Pendidikan Nasional). 2012. Draft Kurikulum 2013. (Online), (http://dikmen.kemdiknas.go.id), diakses tanggal 20 Januari 2013.
Kurniawan, Khaerudin. 2006. Handout Mata Kuliah Menulis Bahan Ajar/Ilmiah. UPI: FPBS, (Online), (http://file.upi.edu/Direktori/FPBS), diakses 3 Februari 2013.
Lakey, George. 2010. Facilitating Group Learning. San Francisco: Jossey Bass.
Lestari, Ika. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi. Padang: @kademia.
Mbulu, J dan Suhartono. 2004. Pengembangan Bahan Ajar. Malang: Penerbit Elang Mas.
Muslich, Mansur. 2010. Text Book Writing. Yogyakarta: Ar_Ruzz Media.
Panitz, Teodore. 1996. A Definition of Collaborative Versus Cooperative Learning. (Online), (http://www.eric.ed.gov/PDFS/ED448443.pdf), diakses tanggal 7 Februari 2013.
Prastowo, Andi. 2012. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogakarta: Diva Press.
Rockwood, R. 1995. Cooperative and collaborative learning. National Teaching and Learning Forum Volume 4. (Online), (http://onlinelibrary.wiley.com /doi/10.1002/ntlf.1995.4.issue-6/issuetoc), diakses tanggal 7 Februari 2013.
Sanjaya, Wina. 2008. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sudarman. 2010. Penerapan Metode Collaborative Learning untuk Meningkatkan Pemahaman Materi Mata Kuliah Metodologi Penelitian. Jurnal pendidikan Inovatif Volume 3, Nomor 2, Maret 2008, (Online), (http;//jurnaljpi.files.wordpress.com), daikses tanggal 13 Januari 2013.
Sudjana. 2002. Metoda Statistika. Bandung: PT. Trasito Bandung.
Sudjana, N. 1990. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R &D. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Terenzini et al. 2001. Collaborative Learning vs Lecture: students’ reported learning gains. Journal of Enginering education, (Online), (http://barnard.edu), diakses 13 Januari 2013.
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jaringan Dokumentasi dan Informasi Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. (Online), (http://www.jdih.bpk.go.id), diakses 12 Januari 2012.
University Teaching Services. Collaborative Learning Activities. (Online), (www.umanitoba.ca), diakses tanggal 13 Januari 2013.
berantakan sekali ya kalo copy paste dari ms.word langsung ke blog, gambarnya pun gak mau muncul.
BalasHapusBagaimana ya biar posingannya bisa rapi, *gaptek