KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
Hutang jangka panjang adalah pengorbanan
manfaat ekonomi yang sangat mungkin di masa depan akibat kewajiban sekarang
yang tidak dibayarkan dalam satu tahun atau siklus operasi perusahaan. Hutang
jangka panjang terdiri dari Hutang Obligasi, Wesel Bayar Jangka Panjang, Hutang
Hipotik, Kewajiban Pensiun dan Kewajiban Leasing.
A.
OBLIGASI
1.
Penerbitan Obligasi
Obligasi
merupakan surat hutang jangka menengah-panjang yang dapat dipindahtangankan
yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa
bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah
ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut. Obligasi yang timbul dari suatu
kontrak disebut sebagai indenture obligasi dan merupakan janji untuk membayar
(1) sejumlah uang yang harus dibayar pada tanggal jatuh tempo ditambah (2)
bunga periodik pada tingkat tertentu atas jumlah yang jatuh tempo (nilai
nominal). Tujuan utama dari obligasi adalah untuk meminjam dana jangka panjang
apabila jumlah modal yang dibutuhkan terlalu besar untuk disediakan oleh satu
pemberi pinjaman.
2.
Jenis Obligasi
a. Dilihat dari sisi penerbit:
1)
Corporate Bonds: obligasi yang diterbitkan oleh
perusahaan, baik yang berbentuk badan usaha milik negara (BUMN), atau badan
usaha swasta.
2)
Government Bonds: obligasi yang diterbitkan oleh
pemerintah pusat.
3)
Municipal Bond: obligasi yang diterbitkan oleh
pemerintah daerah untut membiayai proyek-proyek yang berkaitan dengan
kepentingan publik (public utility).
b. Dilihat dari sistem pembayaran
bunga:
1)
Zero Coupon Bonds: obligasi yang tidak melakukan
pembayaran bunga secara periodik. Namun, bunga dan pokok dibayarkan sekaligus
pada saat jatuh tempo.
2)
Coupon Bonds: obligasi dengan kupon yang dapat
diuangkan secara periodik sesuai dengan ketentuan penerbitnya.
3)
Fixed Coupon Bonds: obligasi dengan tingkat kupon
bunga yang telah ditetapkan sebelum masa penawaran di pasar perdana dan akan
dibayarkan secara periodik.
4)
Floating Coupon Bonds: obligasi dengan tingkat kupon
bunga yang ditentukan sebelum jangka waktu tersebut, berdasarkan suatu acuan
(benchmark) tertentu seperti average time deposit (ATD) yaitu rata-rata
tertimbang tingkat suku bunga deposito dari bank pemerintah dan swasta.
c. Dilihat dari hak penukaran/opsi:
1)
Convertible Bonds: obligasi yang memberikan hak
kepada pemegang obligasi untuk mengkonversikan obligasi tersebut ke dalam
sejumlah saham milik penerbitnya.
2)
Exchangeable Bonds: obligasi yang memberikan hak
kepada pemegang obligasi untuk menukar saham perusahaan ke dalam sejumlah saham
perusahaan afiliasi milik penerbitnya.
3)
Callable Bonds: obligasi yang memberikan hak
kepada emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur
obligasi tersebut.
4)
Putable Bonds: obligasi yang memberikan hak
kepada investor yang mengharuskan emiten untuk membeli kembali obligasi pada
harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.
d. Dilihat dari segi jaminan atau
kolateralnya:
1) Secured Bonds: obligasi yang dijamin dengan kekayaan tertentu dari
penerbitnya atau dengan jaminan lain dari pihak ketiga. Dalam kelompok ini,
termasuk didalamnya adalah: Guaranteed Bonds, Mortgage Bonds, Collateral Trust
Bonds.
2) Unsecured Bonds: obligasi yang tidak dijaminkan dengan kekayaan tertentu
tetapi dijamin dengan kekayaan penerbitnya secara umum.
a.
Dilihat dari segi nilai nominal:
1)
Konvensional Bonds: obligasi yang lazim
diperjualbelikan dalam satu nominal, Rp 1 miliar per satu lot.
2)
Retail Bonds: obligasi yang diperjual belikan
dalam satuan nilai nominal yang kecil, baik corporate bonds maupun government
bonds.
b.
Dilihat dari segi perhitungan imbal hasil:
1) Konvensional Bonds: obligasi yang diperhitungan dengan menggunakan sistem
kupon bunga.
2) Syariah Bonds: obligasi yang perhitungan imbal hasil dengan menggunakan
perhitungan bagi hasil. Dalam perhitungan ini dikenal dua macam obligasi
syariah, yaitu: Obligasi Syariah Mudharabah dan Obligasi Syariah Ijarah.
3.
Penilaian Hutang Obligasi – Diskonto
dan Premi
Harga jual obligasi ditentukan oleh permintaan dan penawaran dari pembeli dan
penjual, risiko relatif, kondisi pasar dan keadaan perekonomian. Investor
menilai obligasi pada nilai sekarang dari arus kas ke masa depan yang
diharapkan, yang terdiri dari bunga dan pokok/nilai nominal. Suku bunga yang
digunakan untuk menghitung nilai sekarang dari arus kas masa depan adalah suku
bunga yang memberikan pengembalian atas investasi yang dapat diterima, yang
sebanding dengan risiko penerbitannya.
Suku bunga yang ditulis dalam persyaratan obligasi disebut suku bunga
ditetapkan/kupon/nominal. Suku bunga ini yang ditetapkan oleh penerbit obligasi
dinyatakan dalam persetase dari nilai nominal yang disebut nilai pari (par value), jumlah pokok (principal amount) atau nilai jatuh
tempo (maturity value). Selisih
antara nilai nominal dengan nilai sekarang menentukan harga aktual yang dibayar
pembeli obligasi. Selisih antara nilai nominal dengan nilai sekarang bisa
berupa premi atau diskonto. Jika obligasi dijual lebih tinggi dari nominalnya
maka dijual dengan premi, sebaliknya
jika obligasi dijual lebih rendah dari nilai nominalnya maka dijual dengan diskonto.
Suku bunga aktual yang dihasilkan
oleh pemegang obligasi disebut hasil efektif (effective yield), atau suku bunga pasar (market rate). Jika obligasi dijual dengan diskonto, maka hasil
efektifnya lebih tinggi dari suku bunga ditetapkan. Sebaliknya, jika obligasi
dijual pada premi, maka hasil efektifnya lebih rendah dari suku bunga
ditetapkan. Pada saat obligasi beredar, harganya dipengaruhi oleh beberapa
variabel, di mana yang sangat berpengaruh adalah suku bunga pasar. Hal ini
merupakan hubungan terbalik antara suku bunga pasar dengan harga obligasi.
Apabila obligasi dijual di bawah nilai nominal maka investor menuntut suku
bunga yang lebih tinggi dari yang ditetapkan. Biasanya ini terjadi karena
investor dapat menghasilkan tingkat yang lebih tinggi pada investasi alternatif
dengan risiko yang sama. Mereka tidak dapat mengubah suku bunga yang ditetapkan
sehingga menolak untuk membayar sebesar nilai nominal obligasi. Jadi, dengan
mengubah jumlah investasi mereka dapat mengubah suku bunga efektif. Karena
investor menerima suku bunga ditetapkan yang dihitung pada nilai nominal, maka
hal ini menghasilkan suku bunga efektif yang lebih tinggi dari pada suku buna
ditetapkan karena mereka membayar lebih kecil dari nilai nominal obligasi.
4.
Metode Bunga Efektif/Amortisasi Nilai Sekarang
Obligasi
diterbitkan dengan diskon: jumlah yang dibayar saat jatuh tempo lebih besar
daripada harga penerbitan obligasi. Obligasi diterbitkan dengan premium: perusahaan
menjual obligasi dengan harga lebih tinggi daripada nilai nominal yang
dibayarkan saat jatuh tempo. Penyesuaian terhadap beban bunga obligasi dicatat
melalui proses yang disebut amortisasi dengan
menggunakan metode suku bunga efektif.
Metode bunga efektif:
1. Beban bunga obligasi dihitung
pertama kali dengan mengalikan nilai buku obligasi pada awal periode dengan
suku bunga efektif.
2. Amortisasi diskonto atau premi
obligasi kemudian ditentukan dengan membandingkan bunga obligasi terhadap bunga
yang dibayarkan.
|
Beban Bunga Obligasi
|
|
Nilai
Tercatat Obligasi Pada Awal Periode x Suku
Bunga Efektif
(-)
|
|
Pembayaran Bunga Obligasi
|
|
Jumlah
Nominal Obligasi x Suku
Bunga Ditetapkan
|
|
=
Jumlah Amortisasi
|
Dengan menggunakan metode suku bunga
efektif, beban bunga periodik dicatat pada persentase konstan atas nilai buku
obligasi. Karena persentasinya adalah suku bunga efektif yang dikeluarkan
peminjam pada waktu penerbitan, maka metode bunga efektif menghasilkan
penandingan beban yang lebih baik terhadap pendapatan dibandinkan metode garis
lurus. Namun, metode bunga efektif dan metode garis lurus menghasilkan jumlah
total beban bunga yang sama selama jangka waktu obligasi.
Pelunasan Hutang Lebih Awal
Jika obligasi dipegang hingga jatuh tempo, maka tidak ada keuntungan atau
kerugian yang dihitung. Setiap premi atau diskonto dan setiap biaya penerbitan
akan diamortisasi sepenuhnya pada tanggal obligasi jatuh tempo. Akibatnya,
jumlah tercatat akan sama dengan nilai jatuh tempo (nominal) obligasi tersebut.
Karena nilai nominal sama dengan nilai pasar obligasi maka tidak ada keuntungan
atau kerugian.
Dalam beberapa kasus, hutang dilunasi lebih awal sebelum tanggal jatuh tempo.
Jumlah yang dibayarkan atas pelunasan lebih awal sebelum jatuh tempo mencakup
premi penarikan dan beban reakuisisi yang disebut harga reakusisi. Pada tanggal
tertentu, jumlah tercatat bersih dari obligasi adalah jumlah yang akan
dibayarkan pada jatuh tempo yang disesuaikan dengan premi atau diskonto yang
belum diamortisasi dan biaya penerbitan. Setiap kelebihan dari jumlah bersih
yang tercatat di atas harga reakusisi merupakan keuntungan dari pelunasan lebih
awal dan sebaliknya.
E14-14 (Ayat
Jurnal untuk Penarikan Obligasi, Biaya Penerbitan Obligasi)
Pada tanggal 2 Januari 2012,
Prebish Corporation menerbitkan $1.500.000 dari obligasi 10% untuk menghasilkan
11% yang jatuh tempo tanggal 31 Desember
2021. Bunga obligasi dibayarkan setiap tahun tanggal 31 Desember. Obligasi ini
dapat ditebus pada 101(yaitu pada 101% dari nilai nominal), dan pada tanggal 2 Januari
2015 Prebish menebus $1.000.000 dari obligasi tersebut dan menariknya.
a. Tentukan
harga obligasi Prebish ketika diterbitkan tanggal 2 Januari 2012.
Nilai sekarang dari pokok:
$1.500.000
x 0,35218 $
528.270
Nilai sekarang dari pembayaran bunga:
($1.500.000 x 10%) x 5,88923 883,385
Nilai
sekarang (harga jual) obligasi $1.411.655
b. Buatlah
skedul amortisasi obligasi tahun 2012-2016.
Skedul
Amortisasi (Obligasi 10 tahun, 10%, dijual untuk hasil 11%)
|
Tanggal
|
Kas Dibayarkan
|
Beban
Bunga
|
Amortisasi Diskonto
|
Jumlah Tercatat Obligasi
|
|
2 Jan 2012
|
|
|
|
$1.411.655
|
|
31 Des 2012
|
$150.000
|
$155.282
|
$5.282
|
1.416.937
|
|
31 Des 2013
|
150.000
|
155.863
|
5.863
|
1.422.800
|
|
31 Des 2014
|
150.000
|
156.508
|
6.508
|
1.429.308
|
|
31 Des 2015
|
150.000
|
157.224
|
7.224
|
1.436.532
|
|
31 Des 2016
|
150.000
|
158.019
|
8.019
|
1.444.551
|
c. Dengan
mengabaikan pajak, hitunglah jumlah kerugian, jika ada, yang harus diakui oleh
Prebish sebagai akibat penarikan obligasi senilai $1.000.000 pada 2015 dan
buatlah ayat jurnal untuk mencatat penarikan tersebut.
Jurnal
untuk mencatat penarikan obligasi tanggal 2 Januari 2015:
Hutang
Obligasi ($1.429.308
x $1.000.000 / $1.500.000) 952.872
Kerugian
atas penarikan obligasi 57.128
Kas ($1.000.000 x 101%) 1.010.000
B.
WESEL BAYAR JANGKA PANJANG
Akuntansi untuk wesel dan obligasi
sangat mirip. Seperti obligasi, wesel juga dinilai pada nilai sekarang dari
arus kas bunga masa depan, dimana setiap premi dan diskonto diamortisasi dengan cara yang sama
selama umur wesel tersebut.
1. Wesel yang Diterbitkan Pada Nilai
Nominal
Karena
nilai sekarang wesel sama dengan nominalnya, maka tidak ada premi atau diskonto
yang diakui.
2. Wesel yang Tidak Diterbitkan Pada
Nilai Nominal
a. Wesel Dengan Bunga Nol
Perusahaan penerbit mencatat perbedaan antara nilai nominal
dengan present value (harga jual) sebagai diskon yang diamortisasi
sebagai beban bunga selama umur wesel.
b. Wesel Berbunga
Akuntansi pada wesel bayar dengan kupon/bunga serupa dengan
akuntansi pada obligasi. Jika terdapat diskon atau premi, maka jumlah tersebut
diamortisasi selama umur wesel bayar dengan menggunakan metode suku bunga
efektif.
3. Wesel Bayar dalam Situasi Khusus
Wesel Diterbitkan untuk Properti,
Barang dan Jasa. Ketika melakukan penukaran instrumen liabilitas dengan
properti, barang, atau jasa di dalam transaksi tawar-menawar, maka suku bunga
tercantum dianggap wajar, kecuali:
1) Tidak dicantumkan suku bunga, atau
2) Suku bunga tercantum tidak masuk
akal, atau
3) Nilai nominal berbeda secara
material dengan harga kas saat transaksi untuk item serupa atau dari nilai
wajar instrumen liabilitas saat transaksi.
4. Wesel Bayar Hipotik
Wesel
bayar Hipotik merupakan
wesel dengan jaminan dokumen yang yang menjanjikan hak untuk properti sebagai
pengaman pinjaman. Wesel bayar hipotik sering digunakan oleh perusahaan dan
persekutuan daripada korporasi. Peminjam biasanya menerima kas dalam jumlah
nominal wesel hipotik, dimana jumlah nominal wesel itu merupakan kewajiban yang
sebenarnya dan tidak ada diskonto atau premi yang terlibat. Namun, apabila
dikenakan penilaian “poin” oleh pemberi pinjaman, maka jumlah total yang
diterima oleh peminjam kurang dari jumlah nilai nominal wesel. Poin menaikkan
suku bunga efektif diatas yang ditetapkan suku bunga dalam wesel. Satu poin
adalah 1% dari nilai nominal wesel.
Pilihan Suku Bunga
Dalam
transaksi wesel, suku bunga pasar atau suku bunga efektif itu nyata atau dapat
ditentukan oleh faktor lain yang terlibat dalam pertukaran, seperti nilai pasae
wajar dari apa yang diberikan atau diterima. Namun, jika sebuah perusahaan
tidak dapat menentukan nilai wajar property, barang dan jasa dan jika wesel
tersebut tidak mempunyai pasar yang siap menampungnya, masalah penentuan nilai
sekarang wesel tersebut lebih sulit. Untuk memperkirakan nilai sekarang dari
wesel dalam kondisi seperti itu, perusahaan harus memperkirakan suku
bunga penerapan yang mungkin berbeda dengan suku bunga yang ditetapkan. Proses
penaksiran ini disebut Pengaitan, dan suku bunga yang dihasilkan disebut Suku
Bunga Terkait.
Suku bunga yang berlaku untuk instrumen yang serupa dari dari para lembaga
penerbit wesel yang mempunyai peringkat kredit yang serupa akan mempengaruhi
pilihan suku bunganya. Faktor lain yang berpengruh lainnya adalah perjanjian
pembatasan, jaminan, jadwal pembayaran, dan suku bunga utama yang berlaku.
Perusahaan menentukan suku bunga terkait letika mereka menerbitkan wesel,
perubahan yang terjadi sesudahnya pada suku bunga yang ada akan diabaikan.
C.
SPESIAL ISU TERKAIT KEWAJIBAN JANGKA
PANJANG
1.
Pelunasan Kewajiban Jangka Panjang
a. Pelunasan dengan kas belum jatuh
tempo
·
Harga reakuisisi > Nilai buku bersih = Rugi
·
Harga reakuisisi < Nilai buku bersih = Untung
·
Pada saat reakuisisi, premium atau diskon harus diamortisasi
sampai tanggal rekuisisi.
b. Pelunasan dengan aset atau sekuritas
·
Kreditur harus mencatat aset non-kas atau bunga ekuitas yang
diterima pada nilai wajar.
·
Debitur mengakui keuntungan sebesar kelebihan nilai buku
terutang terhadap nilai wajar aset atau ekuitas yang ditransfer.
c. Pelunasan dengan persyaratan
modifikasi
Kreditur dapat menawarkan satu atau
kombinasi dari modifikasi berikut:
·
Pengurangan suku bunga nominal.
·
Perpanjangan jatuh tempo pembayaran nilai nominal utang.
·
Pengurangan nilai nominal utang.
·
Pengurangan atau penangguhan accrued interest.
2.
Opsi Nilai Wajar
Umumnya kewajiban jangka panjang
seperti obligasi dan wesel diukur berdasarkan biaya amortisasi (nilai nominal
hutang disesuaikan untuk pembayaran dan amortisasi dari premi atau diskonto).
Namun, perusahaan memiliki opsi untuk menilai aset dan kewajiban berdasarkan
nilai wajar (fair value). IASB yakin
bahwa pengukuran instrumen keuangan pada nilai wajar, termasuk kewajiban
keuangan, memberikan informasi yang lebih relevan dan dapat dipahami dari pada
biaya amortisasi. Penggunaan nilai wajar lebih relevan karena merefleksikan
nilai ekuivalen kas saat ini dari instrumen keuangan.
Jika perusahaan memilih menggunakan
opsi nilai wajar, maka kewajiban jangka panjang seperti obligasi dan wesel
dicatat pada nilai wajarnya, dengan laba atau rugi yang belum direalisasi
dilaporkan menjadi bagian dari laba/rugi bersih. Laba atau rugi yang belum
direalisasi adalah perubahan bersih dari nilai wajar kewajiban dari satu
periode ke periode lain, beban bunga terdeteksi tapi tidak dicatat. Perusahaan
melaporkan kewajiban pada nilai wajar pada setiap tanggal pelaporan. Perusahaan
melaporkan perubahan nilai wajarnya sebagai bagian dari laba/rugi bersih.
Contoh: PT. ABC menerbitkan obligasi
dengan nilai nominal Rp 500.000.000 dan kupon 6% pada tanggal 1 Mei 2015. PT.
ABC menggunakan opsi nilai wajar di dalam pencatatan obligasi. Pada tanggal 31
Desember 2015, nilai obligasi menjadi Rp 480.000.000 akibat peningkatan suku
bunga pasar menjadi 8%. Nilai dari obliasi ini menurun karena suku bunga
obligasi lebih kecil dibandingkan dengan
suku bunga pasar untuk sekuritas sejenis. Maka, PT. ABC akan membuat jurnal
berikut:
Hutang Obligasi
(Rp500.000.000-Rp480.000.000) Rp20.000.000
Laba/Rugi yang Belum Direalisasi –
Pendapatan Rp20.000.000
Jurnal
tersebut mengindikasikan bahwa nilai dari obligasi menurun. Penurunan ini
menyebabkan pengurangan dari hutang obligasi dan menghasilkan laba yang belum
direalisasi, yang akan dilaporkan pada bagian laba/rugi bersih. Penurunan nilai
obligasi ini disebabkan karena tingkat suku bunga naik. Hal ini menyebabkan PT.
ABC harus melanjutkan penilaian hutang obligasi dengan menggunakan nilai wajar
pada periode berikutnya.
Kontroversi Nilai Wajar
Pada obligasi PT. ABC di atas,
diasumsikan bahwa penurunan nilai obligasi karena suku bunga yang meningkat. Di
situasi lain, penurunan mungkin saja terjadi karena obligasi mengalami
kegagalan. Jika kelayakan kredit (creditworthiness)
menurun, maka nilai dari obligasi juga menurun. Jika kelayakan kredit menurun,
investor obligasi menerima tingkat suku bunga relatif yang lebih rendah
dibandingkan investor yang memiliki investasi dengan risiko yang sama. Jika PT.
ABC menggunakan opsi nilai wajar, perubahan nilai wajar dari hutang obligasi
untuk penurunan kelayakan kredit dimasukkan dalam bagian laba/rugi.
Pertanyaanya adalah bagaimana PT. ABC mencatat gain/laba ketika kelayakan
kreditnya menurun. IASB menyatakan bahwa kerugian pemegang hutang adalah
keuntungan pemegang saham. Pemegang saham mengklaim aset perusahaan bertambah
ketika nilai pemegang hutang menurun. Sebagai tambahan, penurunan posisi kredit
mungkin mengindikasikan bahwa aset perusahaan juga ikut menurun. Jadi,
perusahaan dapat melaporkan kerugian pada sisi aset, yang akan saling hapus
dengan keuntungan pada sisi kewajiban.
IASB tampaknya setuju dengan
pernyataan tersebut, akibat dari perubahan risiko kredit perusahaan, tidak
harus mempengaruhi laba/rugi kecuali kalau liability tersebut diadakan untuk
trading. Karena itu, perubahan nilai dari kewajiban yang disebabkan oleh
perubahan risiko kredit maka harus
dilaporkan dalam laba/rugi komprehensif lainnya (OCI: Other Comprehensive Income).
Contoh:
asumsikan perubahan suku bunga pada obligasi PT. ABC yang dijelaskan
sebelumnya, berubah dari 6% ke 8% disebabkan oleh penurunan kualitas kredit obligasi.
Dengan menggunakan opsi nilai wajar, PT. ABC membuat jurnal:
Hutang Obligasi
(Rp500.000.000-Rp480.000.000) Rp20.000.000
Laba/Rugi yang Belum Direalisasi –
Pendapatan Rp20.000.000
Jurnal
ini menjelaskan bahwa penurunan dari nilai wajar kewajiban dan menghasilkan
laba yang belum direalisasi, ini kan dilaporkan dalam laba/rugi komprehensif
lainnya. Nilai obligasi PT. ABC menurun karena perubahan risiko kredit, tidak
karena kondisi pasar secara umum. PT. ABC melanjutkan untuk mengukur hutang
obligasi dengan menggunakan nilai wajar pada periode selanjutnya
E14-21 (Opsi
Nilai Wajar)
Fallen Company menerbikan wesel
jangka panjang untuk para pemberi pinjaman. Fallen memiliki tingkat kredit yang
cukup baik sehingga tingkat suku bunga pinjaman relatif rendah (kurang dari 8%
per tahun). Fallen memilih untuk menggunakan opsi nilai wajar untuk wesel
jangka panjang yang diterbitkan untuk Barclay’s Bank dan berikut ini data
tentang nilai tercatat dan nilai wajar dari wesel. (Asumsikan perubahan nilai
wajar adalah karena perubahan suku bunga
pasar secara umum)
|
|
Nilai Tercatat
|
Nilai Wajar
|
|
31 Desember
2015
|
€54.000
|
€54.000
|
|
31 Desember
2016
|
44.000
|
42.500
|
|
31 Desember
2017
|
36.000
|
38.000
|
a. Buatlah
ayat jurnal pada tanggal 31 Desember (akhir tahun) untuk tahun 2015, 2016 dan
2017 untuk mencatat nilai wajar opsi dari wesel.
31 Desember 2015
Tidak
dibuat jurnal, karena nilai tercatat sama dengan nilai wajar dari wesel.
31 Desember 2016
Hutang Wesel 1.500
Laba/Rugi
yang Belum Direalisasi - Pendapatan 1.500
31 Desember 2017
Laba/Rugi yang Belum Direalisasi -
Pendapatan 3.500
Hutang
Wesel [(38.000 - 36.000) + 1.500] 3.500
b. Berapakah
jumlah wesel yang harus dilaporkan pada laporan posisi keuangan Fallen pada
tahun 2016?
Jumlah wesel yang akan
dilaporkan pada laporan posisi keuangan tahun 2016 sebesar €42.500
c. Apa
akibatnya jika melakukan pencatatan opsi nilai wajar dari wesel pada pendapatan
Fallen tahun 2017?
Pendapatan Fallen tahun
2017 lebih rendah €3.500 karena perubahan nilai wajar dilaporkan pada bagian
laba/rugi komprehensif lainnya (OCI)
d. Dengan
asumsi bahwa tingkat suku bunga pasar secara umum stabil selama periode, apakah
data nilai wajar dari wesel mengindikasikan bahwa kelayakan kredit Fallen
meningkat atau menurun di tahun 2017? Jelaskan.
Kelayakan kredit Fallen
tahun 2017 meningkat karena nilai wajar dari wesel juga meningkat dibandingkan
nilai pasarnya. “Jika kelayakan kredit
menurun maka nilai dari wesel akan menurun.”
e. Dengan
asumsi kondisi yang ada pada poin (d), apa akibat dari mencatat wesel pada
nilai wajar di laporan laba rugi Fallen tahun 2015, 2016 dan 2017?
·
Tahun 2015: nilai
tercatat sama dengan nilai wajar jadi tidak berpenaruh terhadap pendapatan
Fallen
·
Tahun 2016: nilai wajar
lebih rendah dari pada nilai tercatat, sehingga akan menimbulkan laba yang
belum direalisasi pada sisi kredit, yang akan dilaporkan pada laba/rugi komprehensif lainnya (OCI)
·
Tahun 2017: nilai wajar
lebih tinggi dari pada nilai tercatat, sehingga akan menimbulkan rugi yang
belum direalisasi pada sisi debit, yang akan dilaporkan pada laba/rugi
komprehensif lainnya (OCI).
3.
Pembiayaan Di Luar Neraca
Pembiayaan di luar neraca
merepresentasikan pinjaman yang tidak dicatat. Tujuannya untuk meningkatkan
rasio keuangan tertentu seperti rasio hutang terhadap ekuitas. Jenis-jenisnnya
antara lain:
a. Anak perusahaan yang tidak
terkonsolidasi
Perusahaan induk tidak perlu melaporkan aktiva dan kewajiban
anak perusahaannya, yang dilaporkan perusahaan dalam neraca hanyalah investasi
dalam anak perushaan.
b. Entitas dengan Tujuan Khusus atau
Special Purpose Entity
Perusahaan dengan tujuan khusus ini biasanya merupakan
perusahaan yang menjalankan sebuah proyek.
c. Lease Operasi
Cara lain agar perusahaan tidak perlu mencantumkan hutang di
neraca adalah dengan leasing. Daripada memiliki sebuah aktiva, perusahaan lebih
memilih untuk menyewanya.
Dasar Pemikiran
Mengapa perusahaan berusaha mengadakan perjanjian pembiayaan di luar neraca?. Alasan
utamanya adalah banyak yang berpendapat bahwa peniadaan hutang akan
mempertinggi mutu neraca dan memungkinkan kredit diperoleh dengan lebih cepat
serta dengan biaya lebih ringan.
Kedua, ketentuan pinjaman seringkali menetapkan pembatasan atas jumlah hutang
yang dapat dimiliki. Akibatnya, pemmbiayaan di luar neraca digunakan karena
komitmen jenis ini mungkin tidak diikutkan dalam menghitung pembatasan kredit
atau hutang. Ketiga, dikemukakan oleh beberapa pihak bahwa sisi aktiva dari
neraca dinyatakan terlalu rendah.
4.
Penyajian dan Analisis Hutang Jangka Panjang
Perusahaan yang mempunyai banyak terbitan hutang jangka panjang dalam jumlah
besar sering kali hanya melaporkan satu akun dalam neraca dan mendukungnya
dengan penjelasan dalam catatan yang menyertainya. Hutag jangka panjang yang
jatuh tempo dalam satu tahun harus dilaporkan sebagai hutang lancar, kecuali
kalau penarikan itu dipenuhi dengan aktiva selain aktiva lancar. Jika hutang
itu didanai kembali, dikonversi menjadi saham, atau ditarik dari dana pelunasan
obligasi, maka hal itu harus terus dilaporkan sebagai pos tidak lancar.
Pengungkapan catatan umumnya berisi sifat dari kewajiban, tanggal jatuh tempo,
suku bunga, provisi penarikan, konversi, pembatasan yang dikenakan oleh
kreditor dan aktiva yang disepakati sebagai jaminan.
Analisis Hutang Jangka Panjang
Pemegang saham dan kreditor jangka panjang berkepentingan dengan solvensi
jangka panjang perusahaan terutama kemampuannya membayar bunga yang akan jatuh
tempo dan melunasi nilai nominal hutangnya saat jatuh tempo.
1) Rasio Hutang Terhadap Total Aset (Debt to Total Assets Ratio): Total Hutang/Total Aset
Mengukur
persentase total aktiva yang disediakan oleh kreditor. Semakin tinggi
persentase hutang terhadap aktiva, maka semakin tinggi risiko perusahaan
mungkin tidak dapat memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo.
2) Rasio Berapa Kali Bunga Dihasilkan (Times Interest Earned Ratio): Laba Sebelum Pajak & Beban Bunga / Beban Bunga
Menunjukkan
kemampuan perusahaan untuk membayar bunga ketika jatuh tempo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen o yo rek,, *suwun