INVENTORIES
/ PERSEDIAAN
Ø Persediaan
adalah aset:
·
Tersedia untuk dijual dalam kegiatan
usaha normal
·
Dalam proses produksi dan atau dalam
perjalanan
·
Atau dalam bentuk bahan atau
perlengkapan / supplies untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian
jasa
Ø Persediaan
diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi bersih mana yang lebih rendah (the
lower of the cost and net realizable value)
Ø Biaya
persediaan meliputi :
·
Biaya pembelian
·
Biaya konversi
·
Biaya lain yang timbul sampai persediaan
berada dalam kondisi dan tempat yagn siap untuk dijual atau dipakai (present
location and condition)
Ø Untuk
barang yang tidak dapat diganti dengan barang lain (not interchangeable) serta
jasa yang dihasilkan dan dipisahkan untuk proyek khusus à
identifikasi khusus terhadap biaya masing-masing.
Ø Untuk
barang lain dihitung dengan menggunakan rumus biaya :Masuk pertama keluar
pertama / FIFO dan Rata-rata / Weighted Average
Ø Entitas harus menggunakan rumus biaya yang
sama terhadap semua persediaan yang memiliki sifat dan kegunaan yang sama.
Untuk persediaan yang memiliki sifat
dan kegunaan yang berbeda, rumusan biaya yang berbeda
diperkenankan.
Ø Nilai
realisasi neto adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian
dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan.
Ø Estimasi
nilai realisasi bersih:
·
Berdasarkan bukti yang paling andal yang
tersedia
·
Mempertimbangkan fluktuasi harga atau
biaya yang langsung terkait
·
Mempertimbangkan tujuan persediaan
Ø Sistem untuk menyelenggarakan
catatan persediaan: (1) Sitem Perpetual; (2) Sistem Periodik (fisik)
Penilaian Persediaan LCOM (Lower of Cost or Market)
Ø Penyajian
nilai persediaan berdasar harga pasar yang lebih rendah dari harga pokoknya
berarti mengakui adanya suatu kerugian yaitu sebesar selisih antara harga pokok
dengan harga pasar dari barang yang bersangkutan. Tergantung dari keadaannya,
pengertian harga pasar (market) untuk tujuan penilaian persediaan dapat berupa
salah satu dari ketiga pngertian berikut ini:
1.
Harga
beli atau harga pokok pengganti
Semua
biaya/pengorbanan yang terjadi untuk mendapatkan barang-barang tersebut pada
tanggal neraca.
2.
Harga/nilai
reproduksi
Semua
biaya (bahan baku, tenaga kerja, overhead pabrik) yang digunakan untuk mengolah
atau memproduksi suatu barang.
3. Harga/nilai realisasi yaitu
taksiran harga jual dikurangi dengan taksiran biaya (b.reparasi,b.penjualan)
dan taksiran laba (kotor) yang diharapkan. Biasanya nilai realisasi ini
digunakan untuk jenis persediaan tertentu, misalnya barang-barang yang berasal
dari pemilikan kembali dari transaksi penjualan angsuran, barang-barang
rusak/cacat yang tidak dapat ditentukan harga beli / nilai pengganti / nilai
reproduksinya.
Ø Prosedur Penilaian Persediaan LCOM
1. Tahap
pengumpulan data
q harga
pokok
q harga/nilai
pengganti
q taksiran
harga jual
q taksiran
biaya penjualan
q laba
normal yang diharapkan
2. Tahap
penentuan batas atas / tertinggi (ceiling) dan batas bawah / terendah (floor)
q Batas
Atas à
Harga Jual – Biaya Penjualan
q Batas
Bawah à Batas Atas – Laba Normal yang
Diharapkan
Ketentuan:
a. Batas
Atas > Nilai
Pengganti > Batas Bawah à Nilai
Pengganti
b. Batas
Atas < Nilai Pengganti à Batas
Atas
c. Batas
Bawah >Nilai Pengganti à Batas Bawah
3. Tahap
pemilihan berdasar LOCOM
First
In First Out (FIFO)
Ø
Metode FIFO menganggap bahwa harga pokok dari
barang-barang yang pertama kali dibeli akan merupakan barang yang dijual
pertama kali. Dalam metode ini persediaan akhir dinilai dengan harga pokok
pembelian yang paling akhir.
Ø Metode
ini juga mengasumsikan bahwa barang yang terjual karena pesanan adalah barang
yang mereka beli. Oleh karenanya, barang-barang yang dibeli pertama kali adalah
barang-barang pertama yang dijual dan barang-barang sisa di tangan (persediaan
akhir) diasumsikan untuk biaya akhir. Karenanya, untuk penentuan pendapatan,
biaya-biaya sebelumnya dicocokkan dengan pendapatan dan biaya-biaya yang baru
digunakan untuk penilaian laporan neraca.
Ø Metode
ini konsisten dengan arus biaya aktual, sejak pemilik barang dagang mencoba
untuk menjual persediaan lama pertama kali. FIFO merupakan metode yang paling
luas digunakan dalam penilaian persediaan.
Last
In First Out (LIFO)
Ø Metode
FIFO adalah membebankan biaya dari pembelian terakhir dan memberikan biaya yang
paling dtua di akun persediaan. Ada beberapa cara untuk menerapkan Metode LIFO.
Karena setiap variasi menghasilkan, angka yang berbeda untuk biaya bahan baku
yang dikeluarkan, biaya persediaan akhir, dan laba, maka penting untuk
mengikuti prosedur yang dipilih secara konsisten.
Ø Kelebihan:
(1) Mudah menandingakan kos
sekarang dengan pendapatan sekarang; (2) Jika harga naik, harga barang konservatif;
(3) laba operasi tidak tercemar oleh untung/rugi fluktuasi harga; (4) Jika
harga berfluktuasi , dapat meratakan laba tahunan.
Ø Kelemahan:
(1) bertentangan dengan
aliran fisik sesungguhnya; (2) Tidak menunjukkan potensi jasa yang sesungguhnya
cost yang sudah using.
Estimasi Persediaan
Ø Metode
Laba Kotor
Metode laba kotor
menggunakan estimasi laba kotor untuk mengestimasi besarnya persediaan pada
akhir periode. Metode laba kotor ini berdasarkan observasi bahwa hubungan
antara penjualan bersih dengan harga pokok penjualan biasanya relative cukup
stabil dasi satu period eke periode berikutnya. Jadi, besarnya persentase laba
kotor untuk periode berjalan di asumsikan sama dengan besarnya persentase laba
kotor yang dihasilkan dalam periode-periode sebelumnya.
Ø Persentase
laba kotor periode lalu sebesar 40 % akan digunakan untuk menentukan besarnya
estimasi laba kotor bulan januari, vang kemudian selanjutnya memungkinkan untuk
melakukan penghitungan atas besarnya estimasi harga pokok penjualan dan
persediaan akhir.
Penjualan bersih (aktual)
Rp. 500.000.000 100 %
Harga pokok penjualan (estimasi)
(Rp.
300.000.000) ( 60 %)
Laba kotor (estimasi)
Rp. 200.000.000 40%
Setelah besarnya estimasi
harga pokok penjualan diperoleh, estimasi persediaan akhir dapat dihitung
dengan cara:
Persediaan awal
(aktual)
Rp.250.000.000
Harga pokok barang yang dibeli
(aktual) Rp.400.000.000
Harga pokok barang yang tersedia untuk dijual (aktual)
Rp. 650.000.000
Harga pokok penjualan
(estimasi) (Rp300.000.000)
Persediaan akhir (estimasi)
Rp.350.000.000
Besarnya estimasi
persediaan akhir ini sekarang dapat digunakan dalam laporan keuangan 31 Januari
atau dapat dibandingkan dengan catatan persediaan perpetual (jika ada), atau
juga dapat digunakan sebagai dasar dalam perhitungan klaim asuransi jika
seandainya saja musibah terjadi atas persediaan.
Ø Metode
Harga Ecer (Harga Jual)
Metode harga jual banyak
dipakai oleh perusahaan pengecer untuk menghitung nilai persedian akhir menurut
estimasi harga pokoknya (harga perolehan). Sama seperti metode laba kotor,
metode harga ecer ini dapat digunakan untuk menentukan besarnya estimasi.
persediaan kapanpun diinginkan, dan memungkinkan untuk mengestimasi nilai
persediaan tanpa memerlukan waktu dan biaya untuk melakukan penghitungan fisik
atas persediaan atau untuk menyelenggarakan catatan persediaan perpetual.
Metode
harga ecer akan tetapi lebih fleksibel dibanding dengan metode laba kotor,
karena dengan metode harga ecer memungkinkan perusahaan untuk mengestimasi
nilai persediaan berdasarkan metode penilaian FIFO, LIFO, rata-rata, dan bahkan
metode harga yang terendah antara harga perolehan dengan harga pasar. Ketika
teknik estimasi dengan metode harga ecer digunakan, catatan atas barang yang
dibeli haruslah diselenggarakan dalam dua jumlah, yaitu sebesar harga perolehan
dan harga ecer (harga jual). Untuk menghitung besarnya nilai persediaan akhir
menurut estimasi harga pokok (harga perolehan), persentase harga pokok (harga
perolehan) tersebut akan dikalikan dengan nilai persediaan akhir menurut harga
ecer. Nilai persediaan akhir menurut harga ecer ini dihitung dengan cara
mengurangkan besarnya harga pokok dari barang yang tersedia untuk dijual
menurut harga ecer dengan jumlah penjualan bersih sepanjang periode.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen o yo rek,, *suwun