PERSEDIAAN
A. PENGERTIAN
(DEFENITION)
Menurut PSAK 14 persediaan
adalah aset :
·
yang
tersedia
untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa
·
dalam proses produksi
untuk penjualan tersebut
·
atau dalam bentuk bahan
atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.
(PSAK 14,Paragraf 05)
Persediaan meliputi
barang yang dibeli dan dimiliki untuk dijual kembali, misalnya, barang dagangan
yang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali, atau pengadaan tanah dan
properti lainnya untuk dijual kembali. Persediaan juga mencakup barang jadi
yang diproduksi, atau barang dalam penyelesaian yang sedang diproduksi, oleh
entitas serta termasuk bahan serta perlengkapan yang akan digunakan dalam
proses produksi. Bagi perusahaan jasa, persediaan meliputi biaya jasa,
di mana entitas belum mengakui pendapatan yang terkait (lihat PSAK 23:
Pendapatan
paragraf 04). (Paragraf 07)
B. PENGAKUAN (RECOGNITION)
Jika persediaan dijual, maka nilai tercatat
persediaan tersebut harus diakui sebagai beban pada periode diakuinya
pendapatan atas penjualan tersebut.Setiap penurunan nilai persediaan di bawah
biaya menjadi nilai realisasi neto dan seluruh kerugian persediaan harus diakui
sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut. Setiap
pemulihan kembali penurunan nilai persediaan karena peningkatan kembali nilai
realisasi neto, harus diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah beban
persediaan pada periode terjadinya pemulihan tersebut. ((PSAK 14,Paragraf 32)
Beberapa persediaan
dialokasikan ke pos aset lainnya,misalnya, persediaan yang digunakan sebagai
komponen aset tetap yang dibangun sendiri. Persediaan yang dialokasikan ke aset
lain dengan cara ini diakui sebagai beban selama masa manfaat aset tersebut. (PSAK 14,Paragraf
33)
Kepemilikan
Persediaan dalam Perjalanan
1. FOB (Free on Board),
shipping point. Kepemilikan barang menjadi milik pembeli pada saat
diserahkan penjual kepada penyelenggara transportasi atau pihak perusahaan
pengirim barang yang independen.
2. FOB (Free on Board)
destination point. Kepemilikan barang masih berada dipenjual sampai
barang tersebut diterima oleh pembeli.
Biaya
konsinyasi
Tidak semua barang yang
ada di gudang atau di toko bisa diakui menjadi milik perusahaan. Misalnya
barang titipan dari pihak lain dengan tujuan akan dijual untuk dan atas nama pihak
lain.
Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang
1. Metode Fisik (Periodik)
Metode pencatatan persediaan secara
fisik biasa disebut juga dengan sistem periodik (periodic inventory system),
karena untuk menentukan nilai atau harga pokok persediaan barang dagangan di
akhir periode akuntansi harus dilakukan penghitungan secara fisik (stock opname) di gudang tempat menyimpan barang yang
bersangkutan untuk mengetahui besarnya persediaan barang dagangan pada akhir
periode. Karena nilai persediaan barang dagangan tidak dapat diketahui melalui
pencatatan, maka harga pokok barang yang terjual juga tidak dapat ditentukan
dengan benar. Oleh karena itu pada akhir periode akuntansi, setelah dihitung
jumlah persediaan akhir barang tersebut secara akuntansi dibuatkan jurnal
penyesuaian atas persediaan barang dagangan tersebut.
Penghitungan persediaan akhir barang
dagangan ini antara lain dengan metode; FIFO (First In First Out),
LIFO (Last In First Out), dan rata-rata. Dalam melakukan
pencatatan persediaan barang dagangan dengan metode fisik ini setiap terjadi
pembelian barang dagangan akan dicatat dalam rekening Pembelian, dan pada saat
terjadi penjualan barang dagangan akan dicatat dalam rekening Penjualan tanpa
mencatat harga pokok barang yang terjual tersebut.
Contoh:
Tanggal 1 Oktober 2006 Toko “Rejeki” membeli dengan kredit barang dagangan dari Toko “Makmur” 5.000 kg beras @ Rp5.000,00 senilai Rp25.000.000,00. Tanggal 5 Oktober 2006 Toko “Rejeki” menjual dengan kredit barang dagangan tersebut 4.000 kg beras @ Rp5.500,00 kepada Toko “Aman” senilai Rp22.000.000,00 dengan syarat (termin) pembayaran 2/10; n/30.
Berdasarkan transaksi tersebut dapat dicatat dalam jurnal berikut ini.
Tanggal 1 Oktober 2006 Toko “Rejeki” membeli dengan kredit barang dagangan dari Toko “Makmur” 5.000 kg beras @ Rp5.000,00 senilai Rp25.000.000,00. Tanggal 5 Oktober 2006 Toko “Rejeki” menjual dengan kredit barang dagangan tersebut 4.000 kg beras @ Rp5.500,00 kepada Toko “Aman” senilai Rp22.000.000,00 dengan syarat (termin) pembayaran 2/10; n/30.
Berdasarkan transaksi tersebut dapat dicatat dalam jurnal berikut ini.
2. Metode Perpetual
Metode ini disebut perpetual atau
terus-menerus (continue) karena aliran barang dagangan dapat diikuti secara
terusmenerus setiap saat. Di dalam sistem ini, setiap saat dapat diketahui
besarnya nilai atau harga pokok barang yang terjual serta jumlah persediaan
barang dagangan di akhir periode akuntansi. Metode pencatatan atas persediaan
barang dagangan dilakukan secara berkelanjutan, menyangkut perubahan persediaan
yang tercermin dalam rekening persediaan. Pembelian dan penjualan (pengeluaran)
barang dicatat secara langsung di rekening persediaan pada saat terjadinya transaksi.
Konsep pencatatan dengan sistem perpetual:
a. Pembelian barang dagangan untuk dijual akan dicatat dalam
rekening persediaan barang dagangan bukan rekening pembelian
b. Biaya angkut pembelian, retur, dan pengurangan harga
pembelian, serta potongan tunai pembelian dicatat dalam rekening persediaan,
bukan dalam rekening terpisah (rekening tersendiri retur dan pengurangan harga
pembelian).
c. Harga pokok penjualan diakui pada saat penjualan dengan mendebit
rekening harga pokok penjualan dan mengkredit rekening persediaan barang
dagangan.
d. Persediaan merupakan rekening
pengendali yang didukung oleh buku besar pembantu. Buku
pembantu berisi catatan persediaan secara individual (tiap-tiap jenis barang
dibuatkan suatu buku pembantu). Dalam buku pembantu ini memperlihatkan tentang
kualitas dan harga tiap-tiap persediaan.
Dalam melakukan pencatatan
persediaan barang dengan metode perpetual, setiap transaksi pembelian barang
dicatat dalam persediaan barang. Apabila barang tersebut dijual, dicatat dalam
penjualan, serta mencatat pula harga pokok barang yang dijual.
Penghitungan persediaan barang dagangan ini antara lain dengan metode; FIFO (First In First Out), LIFO (Last In First Out) dan rata-rata.
Penghitungan persediaan barang dagangan ini antara lain dengan metode; FIFO (First In First Out), LIFO (Last In First Out) dan rata-rata.
Contoh:
Tanggal 1 Oktober 2006 Toko “Rejeki” membeli dengan kredit barang dagangan dari Toko “Makmur” 5.000 kg beras @ Rp5.000,00 senilai Rp25.000.000,00 dengan syarat (termin) pembayaran 3/10; n/30. Tanggal 5 Oktober 2006 Toko “Rejeki” menjual dengan kredit barang dagangan tersebut 4.000 kg beras @ Rp5.500,00 kepada Toko “Aman” senilai Rp22.000.000,00 dengan syarat (termin) pembayaran 3/10; n/30. Berdasarkan transaksi tersebut dapat dicatat dalam jurnal berikut ini.
Tanggal 1 Oktober 2006 Toko “Rejeki” membeli dengan kredit barang dagangan dari Toko “Makmur” 5.000 kg beras @ Rp5.000,00 senilai Rp25.000.000,00 dengan syarat (termin) pembayaran 3/10; n/30. Tanggal 5 Oktober 2006 Toko “Rejeki” menjual dengan kredit barang dagangan tersebut 4.000 kg beras @ Rp5.500,00 kepada Toko “Aman” senilai Rp22.000.000,00 dengan syarat (termin) pembayaran 3/10; n/30. Berdasarkan transaksi tersebut dapat dicatat dalam jurnal berikut ini.
Pada metode perpetual ini setiap jenis
barang harus dibuatkan buku pembantu persediaan yang akan digunakan untuk
mencatat transaksi yang berkaitan dengan keluar masuknya barang dagangan yang
bersangkutan.
C. PENGUKURAN (MEASUREMENT)
Persediaan diukur berdasarkan biaya
perolehan
atau nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah. (PSAK 14,Paragraf 08)
Biaya
persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain
yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. (PSAK
14,Paragraf 09)
Biaya
pembelian persediaan meliputi harga beli,bea impor,pajak lainnya(Kecuali yang
kemudian dapat ditagih kembali oleh entitas kepada otoritas pajak),biaya
pengangkutan,biaya penanganan dan biaya lainnya yang secara langsung dapat
diatribusikan pada perolehan barang jadi,bahan dan jasa.Diskon dagang,rabat dan
hal lain yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian. (PSAK
14,Paragraf 10)
Biaya konversi
persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan unit yang
diproduksi, misalnya biaya tenaga kerja langsung. Termasuk juga alokasi
sistematis overhead produksi
tetap dan variabel yang timbul dalam mengonversi bahan menjadi barang jadi. Overhead produksi tetap adalah biaya
produksi tidak langsung yang relatif konstan,tanpa memerhatikan volume produksi
yang dihasilkan, seperti penyusutan dan pemeliharaan bangunan dan peralatan
pabrik,dan biaya manajemen dan administrasi pabrik. Overhead produksi variabel adalah biaya produksi tidak langsung
yang berubah secara langsung, atau hampir secara langsung,mengikuti perubahan
volume produksi, seperti bahan tidak langsung dan biaya tenaga kerja tidak
langsung. (PSAK
14,Paragraf 11)
Pengalokasian overhead produksi tetap ke biaya
konversi didasarkan pada kapasitas fasilitas produksi normal.Kapasitas normal
adalah produksi rata-rata yang diharapkan akan tercapai selama suatu periode
atau musim dalam keadaan normal, dengan memerhitungkan hilangnya kapasitas
selama pemeliharaan terencana. Tingkat produksi aktual dapat digunakan jika mendekati
kapasitas normal. Pengalokasian jumlah overhead produksi tetap pada setiap unit
produksi tidak bertambah sebagai akibat dari rendahnya produksi atau tidak
terpakainya pabrik. Overhead yang tidak teralokasi diakui sebagai beban pada
periode terjadinya. Overhead produksi variabel dialokasikan pada unit produksi
atas dasar penggunaan actual fasilitas produksi. (PSAK 14,Paragraf 12)
Biaya-biaya lain hanya
dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang biaya tersebut timbul agar
persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Misalnya, dalam
keadaan
tertentu diperkenankan untuk memasukkan overhead
nonproduksi atau biaya perancangan produk untuk pelanggan tertentu
sebagai biaya persediaan. (PSAK 14,Paragraf 14)
Contoh biaya-biaya yang
dikeluarkan dari biaya persediaan dan diakui sebagai beban dalam periode
terjadinya adalah:
1.
jumlah
pemborosan bahan, tenaga kerja, atau biaya produksi lainnya yang tidak normal.
2.
biaya
penyimpanan, kecuali biaya tersebut diperlukan dalam proses produksi sebelum
dilanjutkan pada tahap produksi berikutnya.
3.
biaya
administrasi dan umum yang tidak memberikan kontribusi untuk membuat persediaan
berada dalam kondisi dan lokasi saat ini.
4.
biaya
penjualan. (PSAK
14,Paragraf 15)
Biaya Persediaan Pemberi Jasa
Sepanjang pemberi jasa
memiliki persediaan, mereka mengukur persediaan tersebut pada biaya
produksinya. Biaya persediaan tersebut terutama meliputi biaya tenaga kerja dan
biaya personalia lainnya yang secara langsung menangani pemberian jasa,
termasuk personalia penyelia, dan overhead
yang dapat diatribusikan. Biaya tenaga kerja dan biaya lainnya yang terkait dengan
personalia penjualan dan administrasi umum tidak termasuk sebagai biaya
persediaan tetapi diakui sebagai beban pada periode terjadinya. (PSAK 14,Paragraf
18)
Teknik Pengukuran Biaya
Teknik pengukuran biaya
persediaan, seperti metode biaya standar atau metode eceran, demi kemudahan
dapat digunakan jika hasilnya mendekati biaya. Biaya standar
memperhitungkan tingkat normal penggunaan bahan dan perlengkapan, tenaga
kerja, efisiensi dan utilisasi kapasitas. Biaya standar di-review secara reguler dan, jika
diperlukan,direvisi sesuai dengan kondisi terakhir. (PSAK 14,Paragraf 19)
Metode eceran seringkali
digunakan dalam industri eceran untuk menilai persediaan dalam jumlah besar item yang berubah dengan cepat, dan
memiliki marjin yang sama di mana tidak praktis untuk menggunakan metode
penetapan biaya lainnya. Biaya persediaan ditentukan dengan mengurangi nilai
jual persediaan dengan persentase marjin bruto yang sesuai. Persentase tersebut
digunakan dengan memerhatikan persediaan yang telah diturunkan nilainya di
bawah harga jual normal. (PSAK 14,Paragraf 20)
Rumus Menghitung Nilai Persediaan Berdasarkan Harga Pokok
a.
FIFO (First in First
Out), masuk pertama keluar pertama
Metode ini menyatakan
bahwa persediaan dengan nilai perolehan awal (pertama) masuk akan dijual
(digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dengan nilai
perolehan persediaan yang terakhir masuk (dibeli). Metode ini cenderung
menghasilkan persediaan yang nilainya tinggi dan berdampak pada nilai aktiva perusahaan
yang dibeli.
b.
LIFO (Last In First Out), masuk
terakhirkeluar pertama
Metode
ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan terakhir masuk akan
dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dan
dilaporkan berdasarkan nilai perolehan persediaan yang awal (pertama) masuk
atau dibeli. Metode ini cenderung menghasilkan nilai persediaan akhir yang
rendah dan berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang rendah.
c. Metode Rata-rata (average method)
Dengan menggunakan
metode ini nilai persediaan akhir akan menghasilkan nilai antara nilai
persediaan metode FIFO dan nilai persediaan LIFO. Metode ini juga akan
berdampak pada nilai harga pokok penjualan dan laba kotor.
d. Identifikasi Khusus
Biaya persediaan untuk item yang biasanya tidak dapat diganti dengan persediaan lain (not ordinary interchangeable) dan barang atau jasa yang dihasilkan dan
dipisahkan untuk proyek tertentu harus diperhitungkan berdasarkan identifikasi
spesifik terhadap biayanya masing masing. (PSAK 14,Paragraf 21)
CONTOH
Penilaian persediaan
akhir dengan metode FIFO, LIFO, dan Average
|
Tanggal
|
Keterangan
|
Kuantitas
|
harga
|
|
2 Jan
10Maret
5 April
7 Mei
21 Sept
18 Nov
20 Nov
10 Des
|
Persediaan awal
Pembelian
Penjualan
Penjualan
Pembelian
Pembelian
Penjualan
Penjualan
|
200 unit
300 unit
200 unit
100 unit
400 unit
100 unit
200 unit
200 unit
|
Rp9.000
Rp10.000
Rp15.000
Rp15.000
Rp11.000
Rp12.000
Rp17.000
Rp18.000
|
Hitunglah nilai
persediaan akhir (per 31 Desember 2010) dengan metode FIFO, LIFO dan rata-rata
(average), hpp dan laba !
Sistem
periodik
Persediaan awal (2 Jan 2010)
200 unit
Pembelian 800 unit
Barang tersedia untuk dijual 1.000 unit
Penjualan 700 unit
Persediaan akhir (31 Des 2010) 300 unit
Barang tersedia untuk dijual:
|
Tanggal
|
Keterangan
|
Unit
|
Harga/unit
|
Total harga
|
|
02/01
|
Persediaan awal
|
200
|
9.000
|
1.800.000
|
|
10/03
|
Pembelian
|
300
|
10.000
|
3.000.000
|
|
21/09
|
Pembelian
|
400
|
11.000
|
4.400.000
|
|
18/11
|
Pembelian
|
100
|
12.000
|
1.200.000
|
|
|
|
1.000
|
|
10.400.000
|
Total penjualan
|
Tanggal
|
Keterangan
|
Kuantitas
|
harga
|
|
|
5 April
7 Mei
20 Nov
10 Des
|
Penjualan
Penjualan
Penjualan
Penjualan
|
200 unit
100 unit
200 unit
200 unit
|
Rp15.000
Rp15.000
Rp17.000
Rp18.000
|
3.000.000
1.500.000
3.400.000
3.600.000
|
|
|
|
700
|
|
11.500.000
|
a) FIFO (masuk pertama
keluar pertama)
|
|
Pembelian
|
Penjualan
|
Saldo
akhir
|
||||||
|
Tgl
|
unit
|
harga
|
Total
|
unit
|
Harga
|
total
|
unit
|
harga
|
total
|
|
02/01
|
Persediaan
awal
|
|
|
|
200
|
9000
|
1.800.000
|
||
|
10/03
|
300
|
10.000
|
3.000.000
|
|
|
|
200
300
|
9000
10.000
|
4.800.000
|
|
5/4
|
|
|
|
200
|
9.000
|
1.800.000
|
300
|
10.000
|
3.000.000
|
|
7/5
|
|
|
|
100
|
10.000
|
1.000.000
|
200
|
10.000
|
2.000.000
|
|
21/9
|
400
|
11.000
|
4.400.000
|
|
|
|
200
400
|
10.000
11.000
|
6.400.000
|
|
18/11
|
100
|
12.000
|
1.200.000
|
|
|
|
200
400
100
|
10.000
11.000
12.000
|
7.600.000
|
|
20/11
|
|
|
|
200
|
10.000
|
2.000.000
|
400
100
|
11.000
12.000
|
5.600.000
|
|
10/12
|
|
|
|
200
|
11.000
|
2.200.000
|
200
100
|
11.000
12.000
|
3.400.000
|
Penjualan 11.500.000
Persediaan awal 1.800.000
Pembelian 8.600.000
Tersedia untuk dijual 10.400.000
Persediaan akhir 3.400.000
Hpp 7.000.000
Laba Kotor 4.500.000
b) LIFO (masuk terakhir
keluar pertama)
|
|
Pembelian
|
Penjualan
|
Saldo
akhir
|
||||||
|
Tgl
|
unit
|
harga
|
Total
|
unit
|
Harga
|
Total
|
unit
|
harga
|
total
|
|
02/01
|
Persediaan
awal
|
|
|
|
200
|
9000
|
1.800.000
|
||
|
10/03
|
300
|
10.000
|
3.000.000
|
|
|
|
200
300
|
9000
10.000
|
4.800.000
|
|
5/4
|
|
|
|
200
|
10.000
|
2.000.000
|
200
100
|
9.000
10.000
|
2.800.000
|
|
7/5
|
|
|
|
100
|
10.000
|
1.000.000
|
200
|
9.000
|
1.800.000
|
|
21/9
|
400
|
11.000
|
4.400.000
|
|
|
|
200
400
|
9.000
11.000
|
6.200.000
|
|
18/11
|
100
|
12.000
|
1.200.000
|
|
|
|
200
400
100
|
9.000
11.000
12.000
|
7.400.000
|
|
20/11
|
|
|
|
100
100
|
12.000
11.000
|
2.300.000
|
200
300
|
9.000
11.000
|
5.100.000
|
|
10/12
|
|
|
|
200
|
11.000
|
2.200.000
|
200
100
|
9.000
11.000
|
2.900.000
|
Penjualan 11.500.000
Persediaan awal 1.800.000
Pembelian 8.600.000
Tersedia untuk dijual 10.400.000
Persediaan akhir 2.900.000
Hpp 7.500.000
Laba kotor 4.000.000
c) Rata-rata (average)
|
|
Pembelian
|
Penjualan
|
Saldo
akhir
|
||||||
|
Tgl
|
unit
|
Harga
|
Total
|
unit
|
Harga
|
Total
|
unit
|
harga
|
total
|
|
02/01
|
Persediaan
awal
|
|
|
|
200
|
9.000
|
1.800.000
|
||
|
10/03
|
300
|
10.000
|
3.000.000
|
|
|
|
500
|
9.600
|
4.800.000
|
|
5/4
|
|
|
|
200
|
9600
|
1.920.000
|
300
|
9.600
|
2.880.000
|
|
7/5
|
|
|
|
100
|
9.600
|
960.000
|
200
|
9.600
|
1.920.000
|
|
21/9
|
400
|
11.000
|
4.400.000
|
|
|
|
600
|
10.533
|
6.320.000
|
|
18/11
|
100
|
12.000
|
1.200.000
|
|
|
|
700
|
10.742
|
7.520.000
|
|
20/11
|
|
|
|
200
|
10.742
|
2.148.400
|
500
|
10.742
|
5.371.600
|
|
10/12
|
|
|
|
200
|
10.742
|
2.148.400
|
300
|
10.742
|
3.223.200
|
Penjualan 11.500.000
Persediaan awal 1.800.000
Pembelian 8.600.000
Tersedia untuk dijual 10.400.000
Persediaan akhir 3.223.200
Hpp 7.176.800
Laba kotor 4.323.200
Rumus
Menghitung Nilai Persediaan Selain Harga Pokok
Diperlukan apabila nilai persediaan
menjadi berkurang manfaatnya karena beberapa faktor seperti kadaluwarsa (rusak,
cacat, susut), ketinggalan zaman (out of date) atau terjadi penurunan tingkat
harga pada umumnya. Keadaan tersebut berakibat harga pokok persediaan tidak
lagi mencerminkan manfaat potensial persediaan. Dengan demikian maka sudah
tentu perusahaan akan rugi apabila persediaan itu kelak dijual kembali.
Sehingga disarankan untuk menilai persediaan menyimpang dari harga pokoknya.
Salah satu prosedur penilaian persediaan selain berdasar harga pokok yaitu
a. Penilaian berdasar harga
terendah antara harga pokok dan harga pasar (Lower of Cost or Market / LOCOM).
Penyajian nilai persediaan dilaporkan
kurang dari harga pokok persediaan atau kemungkinan sebaliknya, harga pasar
lebih besar dibandingkan dengan harga pokok persediaan, sehingga persediaan
dilaporkan sebesar harga pokok. Jika harga pasar yang lebih rendah dari harga
pokoknya berarti mengakui adanya suatu kerugian yaitu sebesar selisih antara
harga pokok dengan harga pasar dari barang yang bersangkutan.
Prosedur Penilaian Persediaan LOCOM
1.
Tahap pengumpulan data
·
Harga pokok
·
Harga/nilai pengganti
·
Taksiran harga jual
·
Taksiran biaya penjualan
·
Laba normal yang diharapkan
2.
Tahap penentuan batas atas /
tertinggi (ceiling) dan batas bawah / terendah (floor)
·
Batas Atas à Harga Jual – Biaya Penjualan
·
Batas Bawah à Batas Atas – Laba Normal yang Diharapkan
3.
Tahap pemilihan berdasar LOCOM
Contoh :
UD SYIFA memperjual belikan 6 macam barang, dengan
memperhitungkan rata-rata biaya penjualan sebesar Rp 400,- per unit dan Laba
normal yang diharapkan sebesar Rp 300,- per unit.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan pada akhir tahun
buku, maka nilai persediaan dapat ditentukan dengan cara sbb :
|
Jenis
Persediaan
|
Harga Pokok
|
Harga
Jual
|
Harga Pasar
|
Harga Pasar yg digunakan
|
LOCOM
|
||
|
Batas Atas
|
Batas Bawah
|
N. Penggt
|
|||||
|
A
|
1.050,-
|
1.500,-
|
1.100,-
|
800,-
|
1.200,-
|
1.100,-
|
1.050,-
|
|
B
|
1.050,-
|
1.500,-
|
1.100,-
|
800,-
|
950,-
|
950,-
|
950,-
|
|
C
|
1.050,-
|
1.500,-
|
1.100,-
|
800,-
|
750,-
|
800,-
|
800,-
|
|
D
|
1.050,-
|
1.350,-
|
950,-
|
650,-
|
1.000,-
|
950,-
|
950,-
|
|
E
|
1.050,-
|
1.350,-
|
950,-
|
650,-
|
850,-
|
850,-
|
850,-
|
|
F
|
1.050,-
|
1.350,-
|
950,-
|
650,-
|
600,-
|
650,-
|
650,-
|
b. Metode Persediaan taksiran Laba kotor
Merupakan suatu
prosedur yang digunakan untuk menentukan taksiran nilai persediaan tanpa
dilakukannya perhitungan fisik persediaan (stock opname) dan untuk menguji
ketelitian data akuntansi apabila sistem permanen digunakan. Metode ini
didasarkan pada suatu anggapan bahwa dalam jangka pendek tingkat laba kotor
dari penjualan akan relatif sama. Metode Laba Kotor Digunakan untuk menaksir
besarnya jumlah atau nilai persediaan akhir periode dalam hal-hal sbb :
·
Sebagai Salah satu cara menguji
ketelitian catatan akuntansi
Contoh :
Dari catatan pembukuan yang diperiksa,
diperoleh informasi yang berhubungan dengan persediaan sbb : Persediaan awal (1
Januari) Rp 75.000,- ; Pembelian 705.000,- ; Penjualan 930.000,-. Atas dasar
tingkat laba kotor sebesar 25 % dari hasil penjualan, seperti kebijaksanaan
perusahaan dalam beberapa tahun terakhir ini, maka besarnya nilai persediaan
akhir (31 Desember) dapat ditentukan sbb :
Persediaan Awal Rp 75.000,-
Pembelian 705.000,-
Barang Tersedia
Untuk Dijual Rp
780.000,-
Hasil Penjualan Rp
930.000,-
Laba Kotor 232.500,-
Taksiran Harga Pokok
Penjualan Rp
697.500,-
Persediaan Akhir
(Taksiran) Rp
82.500,-
·
Menaksir besarnya kerugian atas
persediaan sebagai akibat terjadinya musibah (kebakaran, bencana alam, pencurian)
Contoh :
Pada tanggal 10/11/2000 Gudang sebuah
perusahaan terbakar. Berikut ini adalah informasi yang berhubungan dengan
persediaan yang berhasil dikumpulkan dari awal bulan s.d kebakaran terjadi:
Persediaan 1 November 2000 Rp
1.000.000,-; Pembelian Bersih 7.500.000,-; Penjualan Bersih 8.000.000,-;
Perusahaan menetapkan Laba Kotor sebesar 25 % dari Penjualan .
Barang yang masih ada setelah kebakaran
diperkirakan dapat dijual dengan harga Rp 500.000,-
Berdasarkan informasi di atas maka
dapat dihitung (ditaksir) nilai persediaan yang terbakar sbb :
Persediaan 1
November 2000 Rp 1.000.000,-
Pembelian Bersih 7.500.000,-
Barang Tersedia
Untuk Dijual Rp 8.500.000,-
Harga Pokok
Penjualan 6.000.000,-
Persediaan Akhir Rp 2.500.000,-
Persediaan yang
masih ada 375.000,-
Persediaan yang
terbakar Rp 2.125.000,-
Apabila perusahaan menetapkan laba
kotor sebesar 25 % dari Harga Pokok Penjualan, maka nilai persediaan yang
terbakar dihitung sbb :
Persediaan 1
November 2000 Rp 1.000.000,-
Pembelian Bersih 7.500.000,-
Barang Tersedia
Untuk Dijual Rp 8.500.000,-
Harga Pokok
Penjualan 6.400.000,-
Persediaan Akhir Rp 2.100.000,-
Persediaan yang
masih ada 400.000,-
Persediaan yang
terbakar Rp 1.700.000,-
D. PENGELOMPOKKAN (CLASIFICATION)
Bagi perusahaan manufaktur
yang di dalam usahanya mengubah bentuk atau menambah nilai kegunaan barang,
pada umumnya mengklasifikasikan jenis-jenis persediaan ke dalam berbagai kelompok sebagi berikut:
1.
persediaan bahanbaku,
untuk menyatakan barang-barang yang dibeli atau diperoleh dari sumber-sumber
alam yang dimiliki dengan tujuan untuk diolah menjadi produk jadi. Dalam hal
bahanbakuyang digunakan di dalam proses produksi berupa suku cadang dan harus
dibeli dari pihak lain, maka barang-barang demikian sering disebut sebagaipersediaan suku
cadang.
2.
persediaan produk dalam proses,
meliputi barang-barang yang masih dalam pengerjaan yang memerlukan pengerjaan
lebih lanjut sebelum barang itu dijual. Produk dalam proses, pada umumnya
dinilai berdasarkan jumlah harga pokok bahanbaku, biaya tenaga kerja langsung
dan biaya overhead pabrik yang telah dikeluarkan atau terjadi sampai dengan
tanggal tertentu.
3.
persediaan produk jadi,
meliputi semua barang yang diselesaikan dari proses produksi dan siap untuk
dijual. Seperti halnya produk dalam proses, produk jadi pada umumnya dinilai
sebesar jumlah harga pokok bahanbaku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya
overhead pabrik yang diperlukan untuk menghasilkan produk tersebut.
4.
persediaan bahan penolong,
meliputi semua barang-barang yang dimiliki untuk keperluan produksi, akan
tetapi tidak merupakan bahanbakuyang membentuk produk jadi, yang termasuk dalam
kelompok persediaan ini antara lain minyak pelumas untuk mesin-mesin pabrik,
lem, benang untuk menjilid dan buku-buku pada perusahaan percetakan.
E. PENGUNGKAPAN (DISCLOSURE)
Laporan keuangan harus mengungkapkan:
1.
kebijakan akuntansi yang
digunakan dalam pengukuran persediaan, termasuk rumus biaya yang digunakan.
2.
total jumlah tercatat
persediaan dan jumlah nilai tercatat menurut klasifikasi yang sesuai bagi
entitas.
3.
jumlah tercatat
persediaan yang dicatat dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual.
4.
jumlah persediaan yang
diakui sebagai beban selama periode berjalan.
5.
jumlah setiap penurunan
nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban
dalam periode berjalan.
6.
jumlah dari setiap
pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah
persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan.
7.
kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya
pemulihan nilai persediaan yang diturunkan. nilai tercatat persediaan yang
diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban. (PSAK 14,Paragraf 34)
Informasi tentang jumlah tercatat yang
disajikan dalam berbagai klasifikasi persediaan dan tingkat perubahannya
masing-masing berguna bagi pemakai laporan keuangan.Klasifikasi persediaan yang
biasa digunakan adalah barang dagangan, perlengkapan produksi, bahan, barang
dalam penyelesaian, dan barang jadi. Persediaan dalam pemberi jasa biasanya
disebut pekerjaan dalam penyelesaian. (PSAK 14,Paragraf 35)
Biaya persediaan yang
diakui sebagai beban selama periode, seringkali disebut sebagai beban pokok
penjualan, meliputi biaya-biaya yang sebelumnya diperhitungkan dalam pengukuran
persediaan yang saat ini telah dijual, overhead
produksi yang tidak teralokasi, dan jumlah biaya produksi persediaan yang tidak
normal. Kondisi tertentu dari entitas juga memungkinkan untuk memasukkan biaya
lainnya, seperti biaya distribusi. (PSAK 14,Paragraf
36)
Beberapa entitas
mengadopsi suatu format laporan laba rugi yang mengakibatkan jumlah yang
diungkapkan adalah selain biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama
periode yang bersangkutan. Dalam format ini, entitas menyajikan analisa beban
menggunakan klasifikasi berdasarkan sifat dari beban. (PSAK 14,Paragraf 37)
KESIMPULAN
·
Persediaan harus diukur
berdasarkan biaya atau nilai realisasi bersih yang lebih rendah.
·
Biaya persediaan harus
meliputi semua biaya pembelian,biaya konversi dan biaya lain-lain yang timbul
sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau
dipakai.
·
Biaya persediaan harus
dihitung dengan menggunakan rumus biaya masuk pertama keluar pertama (FIFO)
atau rumus rata-rata tertimbang.
·
Estimasi
nilai realisasi neto didasarkan pada bukti paling andal yang tersedia pada saat
estimasi dilakukan terhadap jumlah persediaan yang diharapkan dapat
direalisasi. Estimasi ini memertimbangkan fluktuasi harga atau biaya yang
langsung terkait dengan peristiwa yang terjadi setelah akhir periode sepanjang
peristiwa tersebut menegaskan kondisi yang ada pada akhir periode.
Jika persediaan dijual,
maka nilai tercatat persediaan tersebut harus diakui sebagai beban pada periode
diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut. Setiap penurunan nilai persediaan
di bawah biaya menjadi nilai realisasi neto dan seluruh kerugian persediaan
harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau kerugian
tersebut.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen o yo rek,, *suwun