TUGAS AKUNTANSI KEUANGAN KONTEMPORER
Chapter
10
SMALL
AND MEDIUM-SIZED ENTITIES
Definisi SME
Small and Medium-Sized
Entities (SMEs) atau Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan entitas yang tidak
memiliki akuntabilitas public dan tidak menerbitkan laporan keunangan bertujuan
umum untuk pengguna eksternal. Definisi SME ini sangat beragam antara negara
satu dengan negara lain. Meskipun adanya keragaman, peneliti umumnya mengakui
bahwa definisi yang efektif dari usaha kecil harus memiliki tiga fitur dasar
(Osteryoung, Constand & Nast 1992):
·
Dapat diukur dan tampak atau dapat
dilihat.
·
Harus kongruen (sejalan) dengan persepsi
pasar keuangan
·
Harus bermakna
Definisi Kualitatif
Karakteristik
kualitatif ini terkait dengan: (1) Sebuah perusahaan kecil memiliki pangsa
pasar relatif kecil, sehingga tidak memiliki kapasitas untuk mempengaruhi harga
pasar atau kuantitas produk. (2) Sebuah SME dikelola oleh pemilik atau sebagian
pemiliknya dengan cara pribadi, dan tidak melalui media struktur manajemen
formal. (3) SME juga independen, tidak merupakan bagian dari perusahaan besar
dan manajer pemilik harus bebas dari kontrol luar dalam mengambil keputusan.
Definisi Kuantitatif
Beberapa
pengukuran yang umum digunakan adalah: (1) Jumlah tenaga kerja, (2) Total aset,
(3) Perputaran Penjualan. Di Australia, bisnis kecil memiliki lima atau lebih
tenaga kerja, sedangkan di UK dan di US, bisnis kecil memuliki 20 tenaga kerja
atau lebih.
Karakteristik sektor
SME
1.
Signifikansi
Ekonomi
SME memberikan kontribusi penting bagi sebagian
besar ekonomi nasional dengan memberikan kesempatan kerja, pertumbuhan bisnis
regional, munculnya aktivitas kewirausahaan dan inovasidan mensuport perempuan
dan orang-orang yang kurang mampu.
2.
Karakteristik
Industri
SME secara umum dapat digolongkan dalam dua kategori
yang luas, SME di industri tradisional dan SME di industri-industri baru. SME
tradisional bisa dilihat sebagai small-enterprise: perusahaan keluarga, enitities
substitusi pendapatan dan yang operasinya dikerjakan sendiri. Namun, pada dekade
terakhir, telah terjadi pertumbuhan di industri-industri baru termasuk teknologi
dan bidang keuangan. Indutri baru telah memulai generasi baru SME yang cenderung
tumbuh lebih cepat ukurannya dibandingkan dengan SME yang tradisional, didorong
oleh inovasi dan kewirausahaan.
SME
umumnya memiliki 1-200 tenaga kerja, dan biasanya tidak terdaftar dalam pasar
modal. Mayoritas SME merupakan pedagang tunggal dan partnership kecil, termasuk
bisnis keluarga.
Pengguna Laporan
Keuangan SME
Sifat dari sektor SME berarti
pemilik sebagai manajer yang bertanggung jawab secara pribadi untuk menyiapkan
semua informasi keuangan untuk perusahaan. Pengguna laporan keuangan SME hanya
terbatas pada pemilik atau manajer, untuk keperluan pelaporan pajak, atau
tujuan pengarsipan untuk ketentuan perusahaan yang tidak memperdagangkan surat
berharga. Hal ini membuat tujuan laporan keuangan untuk SME lebih ke special
purpose daripada general purpose. Informasi yang dibutuhkan lebih spesifik,
seperti : arus kas jangka pendek, likuiditas, ulasan kekuatan pada neraca dan
interest, ulasan tren historis dari earnings dan interest.
Pengembangan Standar
Akuntansi Internasional untuk SME
Konteks SME sangat luas, sehingga membuat
one-size-fits-all approach menjadi kurang sesuai untuk diterapkan di semua
negara di dunia. Isu ini terkait dengan perbedaan kebutuhan untuk industri yang
berbeda, termasuk manufaktur, jasa, agrikultur, dan yang lain seperti industri
kerajinan tangan dan tradisional.
International
Convergence
Dilema dalam nondifferential
reporting adalah tidak semestinya menimbulkan kesulitan dalam pembuatannya,
tidak seimbangnya cost, serta kurangnya relevansi dari laporan keuangan untuk
penggunanya. Differential reporting merupakan gagasan bahwa katagori perusahaan
yang berbeda akan membutuhkan ketentuan akuntansi dan pelaporan yang berbeda,
dengan tujuan untuk tercapainya keterbandingan, reliabilitas, termasuk tentang
persepsi bahwa laporan keuangan akan memenuhi kebutuhan informasi, dan
menyediakan perlindungan bagi pemegang saham. Tujuan pelaporan, strategi, dan
akuntabilitas SME sangat berbeda dengan perusahaan berskala besar, sehingga
IFRS mungkin tidak sesuai untuk pedoman pelaporan SME.
Sebagai respon atas perhatian yang
diungkapkan oleh sebagian besar kelompok lobby yang terkait, IASB membentuk
diskusi dan proyek penelitian terkait pengembangan perangkat spesifik dari
standar akuntansi internasional untuk SME, yang bertujuan untuk mengurangi cost
burden dari pelaporan keuangan untuk perusahaan kecil. Masalah yang sedang
didiskusikan adalah terkait dengan klasifikasi instrument keuangan, kriteria
pengakuan, hedge accounting dan pajak penghasilan.
Perbedaan dalam
Standar untuk SME
Standar
spesifik yang dibutuhkan SME berbeda dengan Full IFRS, meliputi:
1. IAS
14 Segment Reporting: Perusahaan SME tidak perlu menyajikan segment
information.
2. IAS
27 Consolidated And Separate Financial Statements: Laporan keuangan dari
kumpulan perusahaan, yang terdiri dari induk dan anak perusahaan.
3. IAS
28 Investments In Associates: Asosiasi dikaitkan dengan perusahaan, termasuk
perusahaan yang tidak terkait, yang memiliki pengaruh cukup besar pada anak
perusahaan dan interest pada sebuat join venture, namun tidak memiliki hak
untuk ikut mengendalikan.
4. IAS
33 Earnings Per Share: mengatur tentang penyajian data earnings per share bagi
perusahaan dengan saham biasa maupun saham biasa potensial yang diperdagangkan
secara pubik.
5. IAS
40 Investment Property: Asset akan diakui sebagai investment property jika: (1)
Memiliki manfaat ekonomi dimasa datang yang terkait dengan investment property
yang dijalankan perusahaan. (2) Cost untuk melakukannya dapat diukur
reliabilitasnya.
6. IAS
41 Specialized Industries, terkait agricultural, extractive, dan perusahaan
asuransi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen o yo rek,, *suwun