BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Lesson study
merupakan salah satu masalah atau topik pendidikan yang belakangan ini menarik
untuk diperbincangkan. Lesson
study ini sesungguhnya bukanlah program baru sebab sesungguhnya program
kerjasama meningkatan pembelajaran ini merupakan kelanjutan dari kegiatan
sebelumnya yang disebut “piloting”. Lesson study merupakan sebuah adaptasi
program peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di Jepang. Prinsip
utama lesson study adalah peningkatan
kualitas pembelajaran secara bertahap dengan cara belajar dari pengalaman
sendiri dan orang lain dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
Lesson study muncul
sebagai salah satu alternatif yang
berguna
untuk mengatasi
masalah praktik pembelajaran yang selama ini dipandang kurang efektif. Sekarang
ini masih banyak praktik pembelajaran di Indonesia yang cenderung melakukan pembelajaran
secara konvensional. Praktik pembelajaran konvesional semacam ini lebih
cenderung menekankan pada bagaimana guru mengajar (teacher-centered)
dari pada bagaimana siswa belajar (student-centered), dan secara
keseluruhan hasilnya tidak banyak memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu
proses dan hasil pembelajaran siswa. Dalam hal ini, Lesson Study dapat
dijadikan sebagai salah satu alternatif guna mendorong terjadinya perubahan
dalam praktik pembelajaran di Indonesia menuju ke arah yang jauh lebih efektif.
LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) baik negeri
maupun swasta terus berlomba-lomba mencetak calon guru. LPTK selalu terus berupaya
meningkatkan mutu lulusan calon guru dengan berbagai cara. Mulai dari
meningkatkan kualifikasi dosen LPTK, memperbaiki kualitas perkuliahan melalui
berbagai penelitian pendidikan dan juga pelatihan. Keberhasilan tersebut
seharusnya diindikasikan oleh semakin meningkatnya kemampuan dan
profesionalisme guru dan dosen, semakin meningkatnya kualitas proses dan
prestasi belajar siswa.
Dalam rangka mewujudkan keinginan-keinginan tersebut,
khususnya upaya untuk meningkatkan kemampuan calon guru.
Universitas Negeri Malang menggagas suatu
bentuk pelaksanaan PPL yang berbasis Lesson Study bagi mahasiswanya.
Dengan demikian, penyusun melaksanakan Lesson
Study di SMK negeri 1 Malang sebagaimana ketentuan dari Universitas.
B. Tujuan Lesson Study
Penerapan lesson
study sebagai salah satu alternatif pengembangan
profesionalitas guru dalam mengajar memiliki beberapa
tujuan. Tujuan utama Lesson Study yaitu untuk: (1)
memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru
mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru
lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara
sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan
pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya
(Sudrajat:2008).
Selain itu, tujuan Lesson Study diantaranya:
1. Meningkatnya pengetahuan
tentang pembelajaran.
2. Meningkatnya kemampuan
mengobservasi aktivitas belajar.
3. Semakin kuatnya hubungan
antara pelaksanaan pembelajaran sehari-hari dengan tujuan jangka panjang
(perbaikan mutu pembelajaran terus-menerus); Meningkatnya kualitas rencana
pembelajaran (termasuk kompetensi pedagogik).
4. Meningkatnya pengetahuan
tentang materi pengajaran (termasuk kompetensi profesional).
5. Semakin meningkatnya
motivasi untuk selalu berkembang (termasuk kompetensi kepribadian).
6. Semakin kuatnya hubungan
rekan sekerja (termasuk kompetensi sosial).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa lesson
study sangat diperlukan dalam pembelajaran untuk dapat terus meningkatkan mutu
serta kualitas dari pembelajaran saat ini.
Sedangkan
tujuan khusus yang ingin dicapai dalam Lesson
Study ini adalah:
1. Mengetahui
pelaksanaan Lesson Study di SMK
Negeri 1 Malang pada saat pelaksanaan Lesson
Study PPL semester Ganjil tahun pelajaran 2012/2013.
2. Mengetahui
pola pembelajaran yang dilakukan guru model ketika melaksanakan pembelajaran di
kelas.
3. Mengetahui
hasil observasi yang dilakukan observer saat pembelajaran berlangsung.
4. Mengetahui
refleksi yang muncul untuk perbaikan Lesson
Study di SMK Negeri 1 Malang.
C. Manfaat
Leson Study
1. Guru
a.
Memperbaiki
dan meningkatkan cara/model pembelajaran.
b.
Terbuka
atau melakukan sharing secara kolaboratif dengan koleganya.
c.
Meningkatkan pengetahuan tentang cara
mengobservasi aktivitas belajar siswa.
d.
Meningkatkan motivasi untuk senantiasa
berkembang.
e.
Meningkatkan kualitas rencana
pembelajaran.
2. Siswa
a.
Meningkatkan aktivitas belajar.
b.
Meningkatkan motivasi belajar.
c.
Meningkatkan hasil belajar.
3.
Sekolah
Dengan
adanya Lesson Study ini dapat
berpengaruh kepada semua guru untuk memperbaiki model pembelajarannya sehingga
kesulitan dan permasalahan yang dihadapi di sekolah pada waktu kegiatan belajar
mengajar dapat diatasi.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Pengertian
Lesson Study
Lesson Study
(jugyokenyu) adalah suatu proses
sistematis yang digunakan oleh guru-guru untuk menguji keefektifan
pengajarannya dalam rangka meningkatkan keefektifan pengajarannya dalam rangka
meningkatkan hasil pembelajaran (Garfield, dalam Syamsuri 2010). Proses
sistematis yang dimaksud adalah kerja guru secara kolaboratif untuk
mengembangkan rencana dan perangkat pembelajaran, melakukan observasi, refleksi
dan revisi rencana dan perangkat pembelajaran, melakukan observasi, refleksi
dan revisi rencana pembelajaran secara bersiklus dan terus menerus. Menurut
Walker dalam Syamsuri (2010), Lesson
Study adalah suatu metode pengembangan profesionalitas guru. Menurut Lewis
dalam Syamsuri (2010), ide yang dikandung didalam Lesson Study sebenarnya singkat dan sederhana, yakni seorang guru
ingin melakukan kolaborasi dengan guru lain untuk merancang, mengamati dan
melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan. Namun demikian dalam
praktiknya ada beberapa variasi atau penyesuaian cara melaksanakan Lesson Study.
Secara
lebih sederhana Lesson Study adalah
suatu kegiatan pengkajian pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh
sekelompok guru guna meningkatkan kualitas pembelajarannya. Tim pengembangan Lesson Study yang bekerja untuk Program
SISTEMS JICA di Indonesia mengartikan Lesson
Study
sebagai suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian
pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip
kolegalitas dan mutual learning untuk
membangun learning community
(Hedrayana,dkk.2006).
B. Hakekat Lesson
Study
Lesson
Study bukanlah suatu strategi atau metode
dalam pembelajaran, tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk
meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara
kolaboratif dan berkesinambungan dalam merencanakan, melaksanakan,
mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Lesson Study bukan
sebuah proyek sesaat, tetapi merupakan kegiatan terus-menerus yang tiada henti
dan merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam Total
Quality Management (TQM),
yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus,
berdasarkan data. Lesson Study merupakan kegiatan yang dapat mendorong
terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning society) yang secara
konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tataran individual
maupun manajerial. Mulyana (2007) memberikan rumusan tentang Lesson Study
sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian
pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada
prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas
belajar.
Bill
Cerbin & Bryan Kopp mengemukakan bahwa Lesson Study memiliki 4
(empat) tujuan utama, yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik
tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil
tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh para guru lainnya, di luar peserta Lesson Study; (3) meningkatkan
pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun
sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan
dari guru lainnya.
C. Langkah-Langkah Melaksanakan Lesson Study
Ada beberapa cara
orang melakukan Lesson Study. Hal ini tentunya disesuaikan dengan
kondisi dan situasi dalam praktiknya. Menurut Lewis (2002) menyarankan ada 6
tahapan dalam mengimplementasikan Lesson Study di sekolah antara lain:
·
Tahap
1: Membentuk kelompok Lesson Study, yang antara lain berupa kegiatan
merekrut anggota kelompok, menyusun komitmen waktu khusus, menyusun jadwal
pertemuan dan menyetujui aturan kelompok.
·
Tahap
2: Memfokuskan Lesson Study dengan 3 kegiatan antara lain yakni: (a)
menyepakati tema penelitian (recearchtrime)
tujuan jangka panjang bagi murid; (b) memilih cakupan materi; (c) memilih unit
pembelajaran dan tujuan yang disepakati.
·
Tahap
3: Merencanakan pembelajaran (recearchlessen), yang meliputi kegiatan
melakukan pengkajian pembelajaran yang telah ada, mengembangkan petunjuk
pembelajaran, meminta masukan dari ahli dalam bidang studi dari luar
(Dosen/guru lain yang berpengalaman).
·
Tahap
4: Melaksanakan pembelajaran di kelas dan mengamatinya (Observasi). Dalam hal
ini pembelajaran dilakukan oleh salah seorang guru anggota kelompok dan anggota
yang lain menjadi observer. Observer tidak diperkenankan melakukan
introduksi terhadap jalannya pembelajaran baik kepada guru maupun siswa.
·
Tahap
5: Mendiskusikan dan menganalisis pembelajaran yang telah dilaksanakan. Diskusi
dan analisis sebaiknya mencakup butir-butir: Refleksi oleh instruktur,
informasi latar belakang anggota kelompok, presentasi dan diskusi data data
dari hasil observasi pembelajaran, diskusi umum, komentar dari ahli luar,
ucapan terima kasih.
·
Tahap
6: Merefleksikan pembelajaran dan merencanakan tahap-tahap selanjutnya. Pada
tahap ini anggota kelompok diharapkan berpikir tentang apa yang harus dilakukan
selanjutnya. Apakah berkeinginan untuk membuat peningkatan agar pembelajaran
ini menjadi lebih baik?, apakah akan mengujicobakan dikelas masing-masing?, dan
anggota kelompok sudah puas dengan tujuan-tujuan Lesson Study dan cara
kerja kelompok.
Untuk lebih jelasnya,
dengan merujuk pada pemikiran Mulyana (2007) dan konsep Plan-Do-Check-Act
(PDCA), di bawah ini akan diuraikan secara ringkas tentang empat tahapan dalam
penyelengggaraan Lesson Study:
1.
Tahapan
Perencanaan (Plan)
Dalam
tahap perencanaan, para guru yang menjadi model dalam Lesson Study
menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan
yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti: kompetensi dasar, cara membelajarkan
siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan sebagainya, sehingga
dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan
pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk
memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis
kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam
penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah
perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang didalamnya sanggup
mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan
pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap
akhir pembelajaran.
2.
Tahapan
Pelaksanaan (Do)
Pada
tahapan yang kedua, terdapat dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan pelaksanaan
pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru model yang disepakati atau
atas permintaan sendiri untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun bersama, dan
(2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau
komunitas Lesson Study yang lainnya (baca: guru, kepala sekolah, atau
pengawas sekolah, atau undangan lainnya yang bertindak sebagai pengamat/ observer). Beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, diantaranya:
·
Guru
melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama.
·
Siswa
diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan
natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program Lesson
Study.
·
Selama
kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu
jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa.
·
Pengamat
melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi siswa-siswa, siswa-bahan
ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen
pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.
·
Pengamat
harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk
mengevalusi guru.
·
Pengamat
dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo digital untuk
keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman
tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran.
·
Pengamat
melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran
berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat
mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi
pemahaman siswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan
pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum dalam RPP.
3.
Tahapan
Refleksi (Check)
Tahapan
ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya perbaikan proses
pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para perserta
berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah
dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti
seluruh peserta Lesson Study yang
dipandu oleh guru pamong atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai
dari penyampaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikkan pembelajaran, dengan
menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses
pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan
yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun.
Selanjutnya,
semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses
pembelajaran yang telah dilaksanakan (bukan
terhadap guru yang bersangkutan). Dalam menyampaikan saran-saranya,
pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan opininya. Berbagai pembicaraan
yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta
untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena
itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang
berlangsung dalam diskusi.
D. Alasan Pemilihan Lesson Study
Alasan
pemilihan Lesson Lesson Study sebagai
pengembang profesionalitas guru antara lain adalah:
1. Lesson Study
merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas mengajar guru dan
aktivitas belajar siswa. a) Lesson Study
dilakukan sebagai hasil sharing pengetahuan secara profesional yang
berlandaskan pada praktek dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru; b)
Penekanan mendasar suatu Lesson Study
adalah para siswa memikiki kualitas belajar; c) Tujuan pembelajaran dijadikan
fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran di kelas; d) Berdasarkan
pengalaman real dikelas Lesson Study
mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran; dan e) Lesson Study akan menempatkan peran guru
sebagai peneliti pembelajaran. (Lewiss, dalam Syamsuri 2010).
2. Lesson Study
yang didesain dengan baik akan menghasilkan guru yang profesional dan inovatif.
Dengan melaksanakan Lesson Study para
guru dapat a) Menentukan tujuan pembelajaran, satuan pelajaran, metode
pelajaran yang efektif; b) Mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat
bagi siswa; c) Memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan para
guru; d) Menentukan tujuan jangka panjang yang akan dicapai para siswa; e)
Merencanakan pelajaran secara kolaboratif; f) Mengkaji secara teliti belajar
dan perilaku siswa; g). Mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang diandalkan
dan melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan
pandangan siswa dan koleganya (Lewiss, dalam Syamsuri 2010)
Jadi Lesson
Study sebenarnya merupakan sarabna unuk membangun komunitas belajar (learning community) di sekolah.
Komunitas belajar yang dimaksud adalah sekelompok orang yang saling
membelajarkan, dalam hal ini adalah antara siswa dengan siswa, siswa dengan
guru, guru dengan guru, guru dengan kepala sekolah, dan civitas sekolah dengan masyarakat.
E. PPL Berbasis Lesson Study
Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan
mata kuliah sentral di Lembaga Pendidikan dan Tenaga kependidikan (LPTK) karena
program ini merupakan jembatan bagi mahasiswa LPTK sebelum menjadi guru yang
sebenarnya. PPL merupakan ajang latihan mahasiswa untuk menjadi guru dan
merupakan ajang untuk mempertemukan antara teori di perguruan tinggi dan
praktik lapangan (yang terkadang tidak berjalan harmonis).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model
proses pembimbingan dan evaluasi PPL berbasis lesson study dapat
meningkatkan profesionalisme calon guru baik yang berkaitan dengan kompetensi
pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian guru dan kelima praktikan yang
menggunakan PPL lesson study
menyatakan lebih siap dibanding dengan praktikan yang tidak menggunakan lesson study.
Aspek yang dilihat dari keaktifan mahasiswa
sejak merencanakan PBM, penyusunan Rencana Pembelajaran/skenario pembelajaran,
penguasaan materi dan kelas, penggunaan media dan ketepatan evaluasi semuanya
bisa terlihat ketika plan-do-see. Dengan kehadiran dan diskusi yang
dihadiri observer dan juga guru pamong, guru model mampu meningkatkan kualitas
proses dan hasil PPL sekaligus mengefektifkan sistem evaluasi.
F. Jenis Lesson
Study yang Dikembangkan di Indonesia
Pengembangan kegiatan Lesson Study
di Indonesia dilakukan dalam rangka implementasi program kerjasama teknis (Technical Assistant) dengan JICA (Japan Internasional Cooperatioon Agency)
yang disebut program SISTTEMS. Program SISTEMS mulai dillaksanakan pada bulan
Mei 2006-Oktober 2008. Program ini dilaksanakan di tiga daerah rintisan (Piloting), yakni: Kab. Sumedang/Jabar di
dampingi oleh UPI Bandung, Kab. Bantul/Yogyakarta di dampingi oleh UNY
Yogyakarta, dan Kab Pasuruan/Jatim didampingi oleh UM Malang. Sebelum program
sistem, Lesson Study telah dicoba
kembangkan dalam program IMSTEP. Tahap lanjutan, yakni tahun 2004/2005, di tiga
Daerah (Malang, Yogyakarta, dan Bandung). Dua bentuk kegiatan Lesson Study yang dilaksanakan di
Kabupaten Pasuruan:
a) Lesson
Study berbasis MGMP, yakni Lesson Study yang dilaksanakan pada
setiap hari pertemuan MGMP yang telah ditetapkan (Kamis untuk Matematika, dan
Sabtu untuk Sains). Kegiatan yang dilakukan meliputi Plan pada minggu pertama diikuti Do dan See pada minggu
ketiga.
b) Lesson
Study Berbasis sekolah (LSBS) atau Entire School Lesson Study
(ESLS), yakni Lesson Study yang
dilakukan di suatu sekolah dengan kegiatan utama berupa open lesson atau open class
oleh setiap guru secara bergiliran pada hari tertentu. Pada saat ada salah
seorang guru “membuka kelas” (Open Class) guru-guru yang lain di sekolah
tersebut bertindak sebagai observer. Setelah itu semua guru, baik guru model
atau observer malakukan diskusi refleksi untuk membahas berbagai hal yang
terkait dengan fakta atau fenomena proses belajar siswa yang ditemukan dalam
pembelajaran tersebut.
Lesson Study
yang akan dilaksanakan dalam konteks sebagai basis pelaksanaan PPL, lebih dekat
dengan LSBS. Sehingga dalam Open Class atau pelaksanaan pembelajaran oleh
calon guru di kelas dapat diobservasi oleh mahasiswa lainnya, guru pamong
maupun Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang berasal dari berbagai bidang studi,
yang saat itu bertugas atau melaksanakan kegiatan disekolah tempat PPL.
BAB III
IMPLEMENTASI LESSON STUDY DI SMK NEGERI 1 MALANG
Bab III ini berisi
mengenai hasil kegiatan pembelajaran berbasis Lesson Study yang telah dilaksanakan selama PPL II di SMK Negeri 1
Malang. Hasil kegiatan pembelajaran yang kami lakukan disajikan dalam format
portofolio yang berisi jurnal kegiatan LS,
lampiran RPP, lembar observasi, lembar refleksi, dan foto kegiatan lesson study yang terdiri atas plan, do, dan see.
Berikut identitas
kegiatan lesson study yang telah
dilakukan:
No.
|
Nama
Praktikan
|
Kelas
|
Lampiran
Kegiatan
|
1
|
B
|
X Ak 1
|
-
Jurnal kegiatan LS
-
Daftar Pengamat (observer)
-
Lembar Observasi
-
Lembar Refleksi
-
RPP
-
Foto Kegiatan Lesson Study
|
2
|
D
|
XI Ak 2
|
-
Jurnal kegiatan LS
-
Daftar Pengamat (observer)
-
Lembar Observasi
-
Lembar Refleksi
-
RPP
-
Foto Kegiatan Lesson Study
|
3
|
E
|
X Ak 2
|
-
Jurnal kegiatan LS
-
Daftar Pengamat (observer)
-
Lembar Observasi
-
Lembar Refleksi
-
RPP
-
Foto Kegiatan Lesson Study
|
4
|
F
|
XII Ak 3
|
-
Jurnal kegiatan LS
-
Daftar Pengamat (observer)
-
Lembar Observasi
-
Lembar Refleksi
-
RPP
-
Foto Kegiatan Lesson Study
|
5
|
S
|
X Ak 3
|
-
Jurnal kegiatan LS
-
Daftar Pengamat (observer)
-
Lembar Observasi
-
Lembar Refleksi
-
RPP
-
Foto Kegiatan Lesson Study
|
6
|
Si
|
XII Ak 1
|
-
Jurnal kegiatan LS
-
Daftar Pengamat (observer)
-
Lembar Observasi
-
Lembar Refleksi
-
RPP
-
Foto Kegiatan Lesson Study
|
BAB IV
REFLEKSI IMPLEMENTASI LESSON STUDY
DI SMK NEGERI 1 MALANG
Kegiatan lesson study yang dilakukan di SMK Negeri
1 Malang ini dilaksanakan oleh tiap praktikan. Dari hasil pelaksanaan lesson study terdapat banyak pengalaman
yang didapatkan baik ketika sebagai guru model ataupun sebagai observer.
Sebagai guru model, dapat mengetahui bagaimana kelebihan dan kekurangan ketika
mengajar serta dapat mengetahui bagaimana kesuksesan hasil pembelajaran yang
kita lakukan.
Setelah beberapa
kali menjadi observer hal yang menjadi kekurangan kami dalam pelaksanaan atau do
Lesson Study adalah proses mengamati yang kami rasa masih kurang spesifik
terhadap tingkah laku dan antusiasme siswa yang cenderung naik turun sesuai
dengan motivasi yang terbangun dalam diri siswa. Kami kadang merasa sulit saat harus
menjelaskan keadaan siswa pada saat apakah siswa dinyatakan mengalami motivasi
dan tidak termotivasi. Karena selama pengalaman kami menjadi observer motivasi
itu tampak naik turun. Pada setiap tahap siswa akan mengalami gejolak motivasi
dan keaktifan. Sehingga saat telah dicatat siswa tersebut tidak berkonsentrasi
tapi ternyata meskipun mereka diam dan tidak berdiskusi, ternyata mereka
belajar. Dari mimik dan gerak-gerik keaktifan saja menurut kami masih kurang menunjukkan
bahwa siswa benar-benar belajar. Tetapi pendekatan yang lebih mendalam mengenai
karakter cara belajar siswa dan disesuaikan dengan kegiatan belajar siswa dalam
kelas maka dapat diamati lebih baik apakah siswa dapat belajar atau tidak.
Karakter belajar siswa memiliki banyak keunikan, sehingga saat menjadi observer
ini merupakan suatu pandangan kami untuk dapat menyatakan siswa tersebut telah
belajar atau belum.
Karakter kelas
yang berbeda juga menjadikan standar penilaian terhadap proses belajar siswa
menjadi bersifat flekibel dan dapat berubah.
Sehingga
standar penilian harus dirubah disesuaikan dengan keadaan kelas yang diamati.
Selain itu keadaan siswa yang cenderung beranekaragam, ada yang aktif dan pasif
menjadikan observer harus mencatat secara lebih baik dan tepat mengenai
perubahan yang terjadi setelah proses pembelajaran.
Sebagai observer yang
kami amati adalah kegiatan siswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh
guru model, mengenai konsentrasi, motivasi, perhatian, tanggung jawab,
ketepatan menjawab, keaktifan meskipun tidak berani mengutarakan pada guru
setidaknya pada teman dalam kelompok.
Observer adalah
individu yang mengamati proses pembelajaran dalam kelas yang dilakukan oleh
guru model, secara bersama-sama dengan teman sejawat. Observer mengamati proses
pembelajaran yang terjadi terutama dari segi siswa bukan dari segi guru model.
Sehingga saat kami menjadi observer yang kami amati adalah ketepatan metode
pangajaran yang telah direncanakan oleh guru model, apakah semua siswa telah
dapat belajar dengan metode yang telah dilaksanakan tersebut. Siswa yang menjadi
tanggung jawab kami, kami amati mulai dari kegiatan awal mereka menerima
pembelajaran saat apersepsi. Pengamatan ini kami lakukan pada aspek perhatian
siswa saat awal pembelajaran. Kemudian saat masuk kedalam inti pembelajaran,
kami semakin mendekati kelompok yang kami amati sehingga dengan lebih jelas
kami dapat mengamati dan memahami kesulitan belajar mereka. Semakin banyak
mereka bertanya tentang sesuatu yang tidak dipahami kepada guru model, kami
semakin memahami jika mereka sebenarnya belajar dimana mereka ingin memahami
hal yang mereka kurang paham.
Selain metode
yang kami amati juga adalah ketepatan media pembelajaran mereka, apakah sudah
jelas, sudah dapat membantu siswa belajar dengan baik, sudah cukup baikkah
tatanan konsep yang akan di bangun dalam otak siswa. Saat media yang digunakan
tidak sesuai maka biasanya siswa akan cenderung merasa kesulitan dan bosan,
sehingga siswa tidak dapat belajar dengan baik. Tugas berupa analisis menurut
kami masih teralu sulit dilakukan oleh siswa kelas X ataupun kelas XI. Sehingga
soal-soal yang cenderung hanya pengembangan C1 dan C2 ini menjadi favorit
siswa. Saat jawaban soal tidak ditemukan di buku, mereka
sudah merasa tidak percaya diri tidak dapat mengerjakan soal tersebut. Sehingga
saat observasi kami biasanya memberikan masukan bahwa soal jangan hanya
analisis saja atau
jangan hanya C1 dan C2 saja tetapi seharusnya merupakan penggabungan.
Diharapkan agar siswa dapat belajar dengan lebih baik lagi.
Jika jumlah yang
menjadi tanggung jawab kami lebih dari 6 orang kami mengalami kesulitan untuk
dapat mengamati satu per satu siswa. Karena dalam beberapa kali menjadi
observer tidak jarang kami bertanggung jawab untuk memegang 2-3 kelompok
sekaligus, sehingga proses pengamatan tidak dapat begitu detail kami lakukan.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Lesson
study merupakan kegiatan
pembelajaran yang dilakukan dalam satu ruangan kelas, di mana terdapat sejumlah
guru dan pakar pembelajaran. Dalam kegiatan lesson study terdapat guru model
dan observer dalam proses pembelajaran berlangsung. Terdapat 3 tahap dalam
pelaksanaan Lesson Study, yaitu
perencanaan (Plan), Pelaksanaan (Do), dan Refleksi (See).
Kesimpulan dari pelaksanaan Lesson Study yang telah dilaksanakan di SMK
Negeri 1 Malang diantaranya:
1.
Lesson Study yang dilaksanakan di SMK Negeri 1 Malang
berlangsung dengan baik, dimana guru model dan observer bisa bersama-sama
belajar dan bisa memperbaiki kegiatan pembelajaran dari hasil pengamatan para
observer supaya untuk pembelajaran yang
berikutnya bisa lebih baik sesuai dengan yang diharapkan.
2.
Pola
pembelajaran yang diterapkan oleh guru sudah baik, sehingga siswa bisa aktif
dalam kegiatan proses pembelajaran berlangsung.
3.
Hasil
observasi yang intensif dapat mengukur tingkat pemahaman siswa, begitu juga
dengan angket yang telah disebarkan pada saat Lesson Study guru bisa memahami apa yang diinginkan siswa pada saat
proses pembelajaran.
4.
Refleksi
yang dilakukan pada akhir Lesson Study
ini sangat membangun guru model maupun para observer yang ikut dalam kegiatan Lesson Study, dengan adanya refleksi ini
guru bisa memperbaiki cara mengajarnya dari saran dan kritik yang disampaikan
para observer.
B.
Saran
Dari
uraian yang dipaparkan pada Bab I sampai Bab IV serta adanya kesimpulan di
atas, maka di sini penulis memberikan saran-saran sebagai berikut:
1.
Mengembangkan
sosialisasi Lesson Study agar lebih
dikenal oleh berbagai lembaga pendidikan.
2.
Sikap
membuka diri dari peserta Lesson Study
untuk diobservasi dan direfleksi, perlu dipertahankan agar proses perbaikan dan
peningkatan mutu pembelajaran bisa maju dan bersaing dengan negara lain.
DAFTAR PUSTAKA
BSNP, 2006. Panduan
Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Jenjang Pendidikan
Dasar dan Menengah, Jakarta : BSNP.
Depdiknas.
2005. Rencana Strategis Departemen
Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009 Menuju Pembangunan Pendidikan Nasional
Jangka Panjang. Jakarta: Depdiknas.
Garfield,
J. 2006. Exploring the Impact of Lesson
study on Developing Effective Statistics Curriculum. (Online),
(www.stat.auckland.ac.nz/-iase/ publications/11/- Garfield.doc, diakses tanggal
11 Oktober 2012.
Hendayana.
2006. Lesson Study Meningkatkan Profesionalisme Guru. (Online), http://mgmppknbondowosodeskripsi.blogspot.com/2012/04/lesson-study-meningkatkan.html, diakses 10 Oktober 2012.
Ibrohim.
2010. Paduan Pelaksanaan Lesson Study Di
Kkg. Malang:Universitas Negeri Malang.
Lewis,
C.C. 2002. Lesson study: A Handbook of Teacher-Led Instructional Change.
Philadelphia: Reseach For better School .Inc.
Mulyana. 2007. FKIP: Jurusan PMIPA Laksanakan Pembelajaran Berbasis
Lesson Study. (Online), http://keguruan.umm.ac.id/id/umm-news-1881-fkip-jurusan-pmipa-laksanakan-pembelajaran-berbasis-lesson-study.html,diakses 11 Oktober 2012.
Rahayu.
2005. Apa Itu Lesson Study. (Online), http://mudifalahhidha.blogspot.com/2012/10/apa-itu-lesson-study.html,
diakses 10 Oktober 2012.
Soenarto, 2000. Model Pelatihan Demand Driven: Peninkatan
Kualitas Pendidikan Berbasis Sekolah. Proceeding Seminar Nasional Pengembangan
Pendidikan MIPA di Era Globalisasi.22 Agustus 2000. Yugyakarta : FMIPA UNY
Sudrajat. 2008. Lesson Study untuk
Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran. (Online), http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/22/
lesson-study-untuk-meningkatkan-pembelajaran/,diakses 11 Oktober 2012.
Syamsuri, I dan
Ibrohim, 2008. Studi Pembelajaran (Lesson
Study): Model Pembinaan Pendidikan Secara Kolaboratif dan Berkelanjutan,
Dipetik dari Program SISTEMS JICA di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Malang:
FMIPA UM
Syamsuri, I dan
Ibrohim. 2010. Workshop Leson Study untuk
Mahasiswa, Guru, Dosen FMIPA Universitas Negeri Malang Semester Genap 2010/2011
dengan Judul Lesson Study: Sebagai Pola Alternatif untuk Meningkatkan
Efektivitas Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Mahasiswa calon Guru. Malang:
FMIPA UM
UPT PPL
Universitas Negeri Malang. 2012. Buku Petunjuk Pelaksanaan PraktikPengalaman
Lapangan (PPL) Keguruan Universitas Negeri Malang, Malang: UPT PPL UM.
Walker,
J.S. 2005. UWEC Math Dept. Journal of Lesson Studies. (Online),
www.uwec.edu/walkerjs/Lesson_Study/Statement_of_Purpose.pdf., diakses 11
Oktober 2012.
LAMPIRAN
Lampiran Berisi laporan masing-masing individu dalam kelompok tentang perangkat pelaksanaan Lesson Study
mba boleh minta contoh RPPnya gak??
BalasHapusmkch,,,
izin kopas , , ,smga kebaikan slu bersma anda, Aamiin , , ,
BalasHapus